Selasa, 17 April 2018

CERSIL TERHEBAT HINA KELANA BAB 106-108

Bab 106. Lenghou Tiong Ikut Menyerang ke Markas Mo-kau
Ing-ing menjadi geli sendiri dan menutup mulutnya supaya tidak mengeluarkan suara tertawa.
“Bagaimana pendapatmu agar kita dapat naik ke Hek-bok-keh dengan lancar?” tanya Yim Ngo-heng.
“Tentu Kaucu sudah punya rencana dan perhitungan yang bagus, di hadapan Kaucu mana hamba berani ikut
bicara?” jawab Siangkoan In.
“Apakah di waktu Tonghong Put-pay mengadakan perundingan urusan penting juga tiada seorang pun yang
berani angkat bicara?” tanya Yim Ngo-heng.
“Ayah,” Ing-ing menyela pula, “Tonghong Put-pay memang seorang mahacerdik, orang lain sukar menandingi
kepandaiannya. Maka biasanya memang tiada seorang pun yang berani sembarangan mengemukakan
pendapat untuk menghindari bencana yang tak terduga.”
“O, kiranya demikian,” kata Yim Ngo-heng. “Siangkoan-hengte, ketika Tonghong Put-pay menyuruh kau pergi
menangkap Lenghou Tiong, petunjuk apa yang dia berikan padamu.”
“Dia mengatakan disediakan hadiah besar bila Lenghou-tayhiap dapat ditangkap, bila tidak dapat
menangkapnya hidup-hidup, bawa kembali kepalanya juga boleh,” tutur Siangkoan In.
“Baik, sekarang juga boleh kau ringkus Lenghou Tiong untuk menerima hadiahnya nanti,” kata Yim Ngo-heng
dengan tertawa.
Siangkoan In tergetar mundur, katanya, “Lenghou-tayhiap adalah menantu kesayangan Kaucu, beliau berjasa
besar pula bagi agama kita, mana hamba berani sembrono kepada beliau.”
“Bukankah tempat kediaman Tonghong Put-pay sangat sukar didatangi, dengan meringkus Lenghou Tiong,
tentunya dia akan menerima kedatanganmu,” ujar Yim Ngo-heng.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Akal ini sangat bagus,” seru Ing-ing tertawa girang. “Nanti kita menyamar sebagai anak buah Siangkoansioksiok
untuk menemui Tonghong Put-pay. Asalkan berhadapan dengan dia serentak kita mengerubutnya,
peduli apakah dia sudah berhasil meyakinkan Kui-hoa-po-tian atau belum, yang pasti dia tentu sulit
menandingi keroyokan empat orang.”
“Paling baik kalau Lenghou-hiante pura-pura terluka parah dengan tangan kaki dibalut, dinodai pula dengan
darah, lalu kita menggotongnya dengan usungan, dengan demikian Tonghong Put-pay pasti tidak berjaga-jaga,
di dalam usungan dapat pula kita sembunyikan senjata,” kata Hiang Bun-thian.
“Bagus, bagus!” seru Yim Ngo-heng setuju.
Dalam pada itu dari ujung jalan raya sana terdengar suara ramai orang berseru, “Hong-lui-tongcu sudah
tertangkap! Hong-lui-tongcu sudah tertangkap!”
Ing-ing mengajak Lenghou Tiong keluar hotel, terlihatlah beberapa puluh penunggang kuda dengan obor
menggiring seorang tua sedang lewat dengan cepat. Orang tua itu sudah ubanan seluruhnya rambut dan
jenggotnya, mukanya berlepotan darah, agaknya sebelum tertangkap telah terjadi pertarungan sengit lebih
dulu.
Kedua tangan si kakek tampak terikat di belakang badan tapi sorot matanya berapi, agaknya tidak kepalang
rasa murkanya.
Dengan suara perlahan Ing-ing membisiki Lenghou Tiong, “Beberapa tahun yang lalu bila ketemu si kakek,
biasanya Tonghong Put-pay suka memanggilnya dengan sangat mesra, siapa duga sekarang dia sudah
melupakan hubungan baik di masa lalu.”
Tidak lama Siangkoan In telah menyediakan kerangka usungan dan sebagainya. Ing-ing membalut lengan
Lenghou Tiong dengan kain putih dan digantungkan di depan dadanya, disembelihkan pula seekor kambing,
darah kambing dipakai melumuri badan Lenghou Tiong.
Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian lantas ganti pakaian sebagai anggota biasa, Ing-ing juga menyamar
sebagai lelaki, mukanya dicoreng hitam-hitam, setelah makan kenyang, lalu bersama anak buah Siangkoan In
berangkat ke Hek-bok-keh.
Kira-kira 40 li di barat laut Kota Pengting terdapat sebuah teluk yang panjang dan dangkal, batu tebing kedua
tepi teluk berwarna merah darah, air mengalir sangat deras, itulah teluk yang terkenal dengan nama Sing-singtan.
Lebih ke utara lagi dari teluk panjang itu hampir kedua tepinya adalah tebing-tebing yang licin melulu, di
situ hanya ada sebuah jalanan batu selebar satu meteran. Sepanjang jalan dijaga dengan keras oleh anggota
Tiau-yang-sin-kau. Tapi setiap kali melihat Siangkoan In para penjaga itu sangat segan padanya dan sama
memberi hormat.
Setelah menyusuri tiga tempat jalan pegunungan, akhirnya mereka sampai pula di tepi teluk. Siangkoan In
melepaskan panah bersuara, lalu dari seberang muncul tiga buah sampan untuk menyambut mereka ke
seberang sana.
Diam-diam Lenghou Tiong mengagumi betapa hebat fondasi yang telah dipupuk oleh Tiau-yang-sin-kau selama
beberapa ratus tahun ini. Coba kalau bukan Siangkoan In telah bergabung kepada mereka, jangan harap orang
luar mampu masuk ke wilayah kekuasaan Sin-kau yang penting itu.
Sampai di seberang, jalanan di situ tambah curam lagi. Ing-ing selalu berjaga di samping usungan, senjata siap
di tangan.
Ketika rombongan mereka sampai di tempat pusat pimpinan Tiau-yang-sin-kau hari masih sangat dini, belum
lagi terang tanah. Siangkoan In mengirim orang melaporkan secara kilat bahwa perintah sang kaucu telah
dilaksanakan dengan baik. Tidak lama kemudian terdengarlah suara kelenengan yang nyaring di udara,
serentak Siangkoan In berdiri tegak penuh hormat.
Ing-ing menjawil ayahnya dan membisikinya, “Lekas berdiri tegak, ada perintah sang kaucu.”
Yim Ngo-heng merasa heran, tapi ia pun menurut dan berdiri. Dilihatnya segenap anggota juga mendadak
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
berdiri tegak. Suara kelenengan tadi terus bergema dari atas menuju ke bawah dengan sangat cepat. Ketika
suara kelenengan berhenti sejenak barulah semua orang berani bergerak. Seorang anggota yang berbaju
kuning tampak masuk ke ruangan tunggu itu dan membentangkan sepotong kain kuning, lalu membaca,
“Tonghong-kaucu Tiau-yang-sin-kau yang mahabijaksana dan mahaagung memberikan titah sebagai berikut:
Kah Po dan Siangkoan In telah melaksanakan perintah dan pulang dengan hasil yang baik, jasa mereka harus
dipuji, diperintahkan sekarang juga boleh menghadap ke atas tebing dengan membawa serta tawanan.”
Siangkoan In membungkuk dengan penuh hormat, lalu mengiakan disertai dengan istilah-istilah sanjung puja
yang tetap itu.
Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli karena kelakuan mereka itu seperti permainan sandiwara di atas
panggung.
Sementara itu Siangkoan In lantas membentak, “Kesudian Kaucu menerima hamba, budi kebaikan mahabesar
ini takkan hamba lupakan selama hidup.”
Serentak anak buahnya juga berseru menirukan ucapan Siangkoan In itu. Sudah tentu Yim Ngo-heng dan
Hiang Bun-thian tidak sudi menirukan kata-kata itu, mereka hanya komat-kamit saja bibirnya, tapi menggerutu
di dalam batin.
Begitulah rombongan mereka lantas naik ke atas tebing melalui undak-undakan batu, setelah melintasi tiga
buah pintu terali besi yang setiap kali mereka selalu ditegur oleh penjaga dengan kode-kode rahasia, akhirnya
mereka sampai di depan sebuah pintu batu yang besar, kedua samping pintu tampak terpahat tulisan-tulisan
besar yang artinya mengagungkan penghuninya di situ.
Sesudah melewati pintu batu itu, terlihat di atas tanah ada sebuah keranjang bambu yang besar, begitu besar
keranjang bambu itu sehingga cukup untuk memuat belasan orang sekaligus.
“Angkat tawanan ke dalam situ,” bentak Siangkoan In.
Lenghou Tiong segera digotong oleh Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan Ing-ing bertiga ke dalam keranjang
raksasa itu. Ketika terdengar bunyi kelenengan, keranjang itu mulai mengapung ke atas. Rupanya di atas ada
kerekan bertali sehingga keranjang itu dapat dikerek ke atas.
Keranjang besar itu mumbul terus ke atas, waktu Lenghou Tiong memandang ke atas, terlihat di atas sana ada
beberapa titik-titik sinar, nyata Hek-bok-keh (karang kayu hitam) luar biasa tingginya.
Ing-ing genggam tangan Lenghou Tiong. Dalam kegelapan tertampak juga gumpalan-gumpalan mega yang
melayang lewat di atas kepala mereka. Selang sejenak pula seluruhnya mereka sudah ditelan oleh lautan
mega, dasar keranjang hitam gelap, sedikit pun tidak kelihatan lagi titik-titik sinar tadi.
Agak lama pula barulah keranjang raksasa itu berhenti. Lenghou Tiong diusung ke luar dan dipindahkan lagi ke
sebuah keranjang lain yang terletak belasan meter di sebelah sana.
Rupanya puncak karang Hek-bok-keh itu terlalu tinggi sehingga kerekan-kerekan yang dipasang itu terbagi
dalam tiga tingkat, empat kali mereka harus dikerek barulah mencapai puncak karang itu.
“Begini tinggi tempat tinggal Tonghong Put-pay, pantas sukar sekali bawahannya hendak menemui dia,” pikir
Lenghou Tiong.
Akhirnya sampai juga di puncak karang, sementara itu sang surya sudah menongol di ujung timur dan
memancarkan sinarnya yang gemilang. Sebuah gapura batu marmer yang megah gemilapan tertingkah oleh
cahaya matahari.
Terdengar Siangkoan In berteriak, “Hamba Kong-beng-yusu Siangkoan In mohon bertemu sesuai perintah
Kaucu.”
Dari sebuah rumah batu kecil di sebelah kiri sana muncul empat orang, semuanya berjubah ungu, seorang di
antaranya berkata, “Selamat atas jasa besar yang telah dicapai Siangkoan-yusu. Mengapa Kah-cosu tidak ikut
datang?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Kah-cosu telah gugur ketika melabrak musuh sebagai pengabdiannya atas budi kebaikan Kaucu,” jawab
Siangkoan In.
“O, kiranya demikian,” kata orang itu. “Jika begitu segera Siangkoan-yusu tentu akan naik tingkat.”
“Bila mendapat anugerah Kaucu tentu takkan kulupakan kebaikan Saudara,” ujar Siangkoan In.
Mendengar ucapan Siangkoan In yang menjanjikan akan memberi sogokan padanya, orang itu tampak sangat
senang, katanya pula, “Terima kasih sebelumnya.”
Lalu ia melirik sekejap kepada Lenghou Tiong yang telentang di atas usungan, katanya dengan tertawa,
“Apakah bocah ini yang dipenujui Yim-siocia? Kukira pemuda yang ditaksir Yim-siocia tentunya secakap Phoa
An dan sebagus Song Giok (kedua nama ini adalah jejaka-jejaka cakap menurut dongeng), tak tahunya juga
cuma begini saja. Siangkoan-cosu, silakan ikut padaku.”
“Kaucu belum lagi mengangkat derajatku, janganlah Saudara buru-buru memanggil cosu padaku, kalau
didengar oleh Kaucu mungkin bisa celaka,” ujar Siangkoan In.
Orang itu melelet-lelet lidahnya dan tidak bicara lagi. Segera ia mendahului jalan di depan sebagai pengantar.
Dari gapura itu menuju ke pintu gerbang harus melalui sebuah jalan balok batu yang lurus. Setelah memasuki
pintu gerbang, dua orang berjubah ungu yang lain mengantar mereka ke ruangan belakang. Katanya kepada
Siangkoan In, “Nyo-koankeh hendak menemui kau, silakan tunggu di sini.”
Siangkoan In mengiakan dan berdiri tegak dengan tangan lurus ke bawah.
Cukup lama mereka menunggu, tapi apa yang dikatakan “Nyo-koankeh” (kepala rumah tangga she Nyo) masih
belum tampak muncul. Selama itu Siangkoan In tetap berdiri tegak dan tidak berani mengambil tempat duduk.
Dalam hati Lenghou Tiong membatin, “Kedudukan Siangkoan-yusu ini di dalam Mo-kau boleh dikata hanya
satu-dua tingkat di bawah sang kaucu, tapi di atas Hek-bok-keh ini ternyata hampir setiap orang tidak
menghargainya, seakan-akan seorang pelayan juga lebih kereng dari dia. Lalu siapa lagi Nyo-koankeh yang
dikatakan itu? Besar kemungkinan adalah Nyo Lian-ting. Kiranya, dia hanya seorang ‘koankeh’ saja, akan tetapi
Kong-beng-yusu yang termasyhur ternyata harus berdiri menunggunya dengan penuh hormat, peraturan
demikian sungguh keterlaluan?”
Lewat agak lama pula barulah terdengar suara langkah orang mendatangi, dari suara kakinya yang cepat tapi
enteng ini jelas orangnya tidak memiliki lwekang yang kuat. Terdengar suara orang berdehem satu kali, lalu
dari pintu angin muncul seorang.
Ketika Lenghou Tiong melirik ke sana, dilihatnya umur orang itu antara 30-an, berjubah satin merah gelap,
perawakannya kekar, mukanya penuh berewok, sikapnya sangat gagah.
Kembali Lenghou Tiong membatin, “Menurut cerita Ing-ing, katanya orang ini sangat disayang oleh Tonghong
Put-pay, katanya di antara kedua orang mempunyai hubungan yang istimewa. Maka tadinya kukira dia pasti
seorang laki-laki secantik nona jelita, siapa tahu dia adalah seorang laki-laki kekar. Sungguh sama sekali di luar
dugaan.”
Maka terdengar orang itu sedang berkata, “Siangkoan-yusu, engkau telah berjasa besar dengan berhasil
menangkap Lenghou Tiong, untuk ini Kaucu merasa sangat senang.”
Suara seorang laki-laki gagah ternyata sangat merdu dan enak didengar.
Siangkoan In membungkuk tubuh dan menjawab, “Semua itu adalah berkat Kaucu yang mahaagung dan
berkat bimbingan Nyo-koankeh yang bijaksana, hamba hanya sebagai pelaksana saja menurut perintah
Kaucu.”
Nyo Lian-ting itu mendekati usungan dan memandangi Lenghou Tiong. Dengan sengaja Lenghou Tiong
membikin mulutnya setengah melongo dan sorot mata yang guram sehingga mirip benar orang yang terluka
parah.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Orang ini tampaknya sudah setengah sekarat, apakah benar dia ini Lenghou Tiong? Kau tidak keliru?” tanya
Nyo Lian-ting.
“Tidak mungkin keliru, hamba menyaksikan sendiri dia diangkat sebagai ketua Hing-san-pay,” jawab Siangkoan
In. “Cuma dia telah kena ditutuk tiga kali oleh Kah-cosu, kena dua kali pukulanku pula, lukanya memang
parah, dalam waktu setahun kiranya belum bisa pulih.”
“Bagus, bagus!” puji Nyo Lian-ting. “Jasamu ini tentu akan kulaporkan kepada Kaucu dan kau akan
mendapatkan ganjaran semestinya. Hong-lui-tongcu telah mengkhianati Kaucu apakah kau sudah mengetahui
urusan ini?”
“Hamba tidak jelas duduk persoalannya mohon diberi penjelasan,” jawab Siangkoan In.
Nyo Lian-ting terus duduk sendiri di atas kursi sambil menghela napas, lalu berkata, “Si tua Tong Pek-him ini
makin tua makin tidak genah, dia suka jual lagak sebagai orang kepercayaan Kaucu dan memandang sebelah
mata kepada orang lain. Akhir-akhir ini dia bahkan bersekongkol dan berkomplotan dengan maksud
memberontak. Memang sudah lama kulihat tingkahnya yang mencurigakan itu, siapa tahu dia malahan tambah
berani lagi, akhir-akhir bahkan bersekongkol dengan pengkhianat besar Yim Ngo-heng.”
“Dia... dia berkomplot dengan... dengan orang she Yim itu?” Siangkoan In menegas dengan suara rada
gemetar.
“Siangkoan-yusu, kenapa kau menjadi ketakutan begini?” tanya Nyo Lian-ting. “Yim Ngo-heng itu toh bukan
manusia yang bertangan enam dan berkepala tiga, dahulu Kaucu sudah pernah membikin dia mati kutu, kalau
sekarang dia berani datang lagi ke Hek-bok-keh sini, hm, masakah dia takkan disembelih sebagaimana Kaucu
menyembelih ayam.”
“Ya, ya. Entah cara bagaimana Tong Pek-him itu bersekongkol dengan dia?” tanya Siangkoan In dengan
tergagap-gagap.
“Tong Pek-him telah mengadakan pertemuan rahasia dengan Yim Ngo-heng, selain mereka dihadiri pula
seorang pengkhianat lain, yaitu Hiang Bun-thian. Ketika dia kembali ke sini dan kutanyakan perbuatannya itu,
ternyata Tong Pek-him terus mengaku dengan terus terang.”
“Dia mengaku terus terang, jelas tuduhan padanya bukanlah fitnah,” ujar Siangkoan In.
“Kutegur dia mengapa tidak memberi laporan kepada Kaucu tentang pertemuannya dengan Yim Ngo-heng dan
Hiang Bun-thian, dia menjawab katanya mereka hanya mengadakan pertemuan persahabatan saja. Kukatakan
munculnya Yim Ngo-heng jelas hendak memusuhi Kaucu, hal ini tentu cukup diketahuinya, mengapa kau
anggap musuh sebagai sahabat. Dia menjawab, ‘Mungkin Kaucu yang salah dan bukan orang lain yang salah
terhadap Kaucu!’.”
“Kurang ajar!” gerutu Siangkoan In. “Budi luhur Kaucu setinggi langit, beliau paling baik terhadap sesama
kawan, mana bisa berbuat salah kepada orang lain?”
Bagi pendengaran Nyo Lian-ting, ucapan Siangkoan In ini sudah tentu ditujukan kepada Tonghong Put-pay, tapi
bagi Lenghou Tiong dan lain-lain, mereka tahu Siangkoan In sengaja hendak mengambil hati Yim Ngo-heng.
Terdengar Siangkoan In melanjutkan pula, “Hamba sudah bertekad akan mengabdi sepenuh jiwa raga kepada
Kaucu, bila ada orang yang berani kurang ajar kepada Kaucu baik dalam kata maupun dalam tindakan, maka
aku Siangkoan In yang pertama-tama akan menghadapinya.”
Kata-kata Siangkoan In itu jelas ditujukan kepada Nyo Lian-ting, sudah tentu dia tidak tahu sama sekali,
sebaliknya dia malah menanggapi dengan tertawa, “Bagus, bila semua saudara dalam agama bisa mengikuti
tekad Siangkoan-yusu ini tentu tiada hal yang tak bisa diatasi. Tentunya Siangkoan-yusu sudah lelah, silakan
pergi istirahat saja.”
“Tapi, tapi hamba ingin menghadap Kaucu,” kata Siangkoan In dengan bingung.
“Kaucu sangat sibuk, mungkin tiada tempo buat menerima kau,” ujar Nyo Lian-ting.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dari sakunya Siangkoan In lantas merogoh keluar belasan butir mutiara, Nyo Lian-ting didekati dan dibisiki,
“Nyo-congkoan, belasan biji mutiara ini adalah hasil sambilanku dalam dinas luar kali ini, keseluruhannya
sekarang kupersembahkan kepada Nyo-congkoan dengan harapan sudilah Nyo-congkoan menghadapkan
hamba kepada Kaucu. Bila Kaucu senang hati, bisa jadi beliau akan menaikkan pangkat hamba, bila demikian
tentu takkan kulupakan pula bantuan Nyo-congkoan.”
“Ah, orang sendiri, mengapa sungkan-sungkan begini,” ujar Nyo Lian-ting dengan menyengir. “Baiklah
kuterima. Terima kasih ya.”
Tiba-tiba ia pun membisiki Siangkoan In, “Di hadapan Kaucu nanti tentu akan kubujuk agar kau diangkat
menjadi Kong-beng-cosu.”
Berulang-ulang Siangkoan In lantas memberi hormat, katanya, “Bila jadi, selama hidupku takkan lupa atas budi
kebaikan Kaucu dan Nyo-congkoan.”
“Silakan kau tunggu sebentar di sini, bila Kaucu sudah longgar temponya segera kau akan dipanggil,” kata Nyo
Lian-ting kemudian sambil memasukkan mutiara-mutiara tadi ke sakunya.
Siangkoan In mengiakan beberapa kali, lalu munduk-munduk beberapa langkah ke belakang. Nyo Lian-ting
sendiri lantas berbangkit dan masuk ke dalam dengan lagak tuan besar.
Selang agak lama pula, seorang dayang baju ungu tampak keluar, lalu berseru lantang, “Kaucu mahaagung,
mahabijaksana, memerintahkan Siangkoan In menghadap dengan membawa tawanannya.”
Siangkoan In mengucapkan terima kasih dengan istilah-istilah sanjung puji pula. Lalu mengikuti dayang itu ke
ruangan dalam dengan disusul oleh Yim Ngo-heng bertiga yang mengusung Lenghou Tiong.
Sepanjang jalan di serambi samping penuh berbaris busu-busu berseragam dan bersenjata tombak, seluruhnya
mereka melintasi tiga buah pintu besi, kemudian menyusuri lagi sebuah serambi panjang yang dijaga oleh
beberapa ratus busu-busu yang berbaris di kanan-kiri dengan senjata golok mengilat dan disilangkan ke atas.
Rombongan Siangkoan In menerobos lewat di bawah barisan golok itu dengan perasaan kebat-kebit.
Tokoh-tokoh yang sudah kenyang asam garam Kangouw seperti Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan lain-lain
itu sudah tentu memandang sebelah mata terhadap barisan busu begitu. Hanya saja mereka sangat
mendongkol karena merendahkan diri hanya untuk bisa berhadapan dengan Tonghong Put-pay.
Habis menerobos barisan golok itu, sampailah di depan sebuah pintu yang bertirai tebal. Siangkoan In
menyingkap tirai tebal itu terus melangkah ke dalam. Sekonyong-konyong sinar putih gemerdep, delapan buah
tombak dari kanan-kiri menusuk ke arahnya.
Lenghou Tiong terkejut, segera ia meraba pedang yang tersembunyi di bawahnya. Tapi dilihatnya Siangkoan In
berdiri diam saja tanpa melawan. Sebaliknya lantas berseru lantang, “Hamba Kong-beng-yusu Siangkoan In
mohon bertemu Kaucu yang mahaagung dan mahabijaksana!”
Terdengar di dalam istana itu ada orang berseru, “Masuk!”
Serentak kedelapan busu bertombak itu lantas menyingkir.
Baru sekarang Lenghou Tiong paham, rupanya tusukan tombak-tombak tadi hanya untuk menakut-nakuti saja,
bila yang datang memang orang bermaksud jahat tentunya akan terus menangkis tusukan-tusukan itu dan
terbukalah kedoknya.
Setelah masuk balairung itu, Lenghou Tiong terkesiap oleh panjangnya balairung yang luar biasa itu. Lebar
balairung itu paling-paling cuma sepuluh meter, tapi panjangnya adalah ratusan meter. Di ujung balairung sana
terbangun sebuah podium dan di atasnya berduduk seorang tua berjenggot. Tentunya dia Tonghong Put-pay
adanya.
Balairung itu tidak berjendela, hanya pada pojok depan dipasang lilin besar, tapi di samping mimbar yang
diduduki Tonghong Put-pay itu ternyata dua onggok api unggun yang sebentar terang sebentar gelap, karena
jaraknya cukup jauh, cahaya yang gelap-gelap terang itu membikin orang sukar melihat jelas wajah sang
kaucu.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Tidak jauh di bawah podium itu Siangkoan In lantas berlutut dan menyembah dengan kata-kata sanjung puji
yang seram-seram.
Mendadak dayang di samping Tonghong Put-pay membentak, “Di hadapan Kaucu mengapa anak buahmu yang
keroco itu tidak berlutut?”
Yim Ngo-heng adalah seorang yang tahan uji, ia pikir belum tiba saat yang menguntungkan, kalau untuk
sementara ini aku berlutut padamu apa halangannya? Sebentar lagi aku yang akan membeset kulitmu dan
membetot tulangmu. Karena itu segera ia berlutut dan menunduk. Melihat kepalanya sudah berlutut, dengan
sendirinya Hiang Bun-thian dan Ing-ing lantas ikut saja.
“Mungkin anak buah hamba ini menjadi lupa daratan karena diberi kesempatan melihat wajah emas Kaucu
sehingga tidak segera berlutut, harap Kaucu memberi ampun,” kata Siangkoan In.
Saat itu Nyo Lian-ting berdiri di samping Tonghong Put-pay, terdengar ia berkata, “Cara bagaimana Kah-cosu
bertempur dengan musuh dan akhirnya gugur, coba ceritakan.”
“Kah-cosu dan hamba merasa utang budi kepada Kaucu, kini kami diberi tugas penting, betapa pun kami telah
bertekad akan melaksanakannya dengan baik....”
Mendengar ocehan Siangkoan In yang memuakkan itu, diam-diam Lenghou Tiong menggerutu.
Pada saat itulah tiba-tiba di belakangnya ada orang berteriak keras, “Tonghong-hengte, apakah benar kau
memerintahkan orang-orang ini untuk merangkap diriku?”
Suara orang ini serak-serak tua, tapi penuh kekuatan lwekang sehingga suaranya berkumandang dan
memekak telinga. Lenghou Tiong menduga orang ini tentulah Hong-lui-tongcu Tong Pek-him adanya.
Benar juga, segera terdengar Nyo Lian-ting menanggapi, “Tong Pek-him, di balairung Seng-tek-tong ini mana
boleh kau gembar-gembor sesukamu? Di hadapan Kaucu mengapa pula kau berdiri tanpa berlutut? Berani pula
kau tidak menyebutkan keagungan Kaucu?”
Tong Pek-him mendongak dan bergelak tertawa, katanya, “Waktu aku bersahabat dengan Tonghong-hengte
mana ada seorang macam kau? Ketika aku dan Tonghong-hengte sama-sama merasakan pahit getir dalam
perjuangan mungkin orang macam kau belum lagi dilahirkan, masakan kau ada hak untuk bicara dengan aku?”
Lenghou Tiong coba melirik ke sana, dilihatnya orang tua itu mendelik dengan beringas, sikapnya menakutkan.
Kaki dan tangannya diborgol semua dengan rantai yang sangat panjang. Rupanya saking gusarnya dia bicara
sehingga kedua tangannya ikut bergerak, maka menerbitkan suara gemerencing dari rantai yang diseretnya
itu.
Tadinya Yim Ngo-heng hanya berlutut di tempatnya tanpa bergerak, kini demi mendengar suara
gemerencingnya rantai, seketika terbayang kembali pengalaman sendiri ketika disiksa di kamar tahanan di
bawah danau di Hangciu dahulu. Darahnya bergolak hebat, badannya sampai gemetar, segera ia bermaksud
mengambil tindakan.
Namun lantas terdengar Nyo Lian-ting lagi bicara pula, “Di hadapan Kaucu juga berani berkata demikian, kau
benar-benar terlalu kurang ajar. Secara diam-diam kau bersekongkol dengan pengkhianat besar Yim Ngo-heng,
apakah kau masih tidak menyadari dosamu ini?”
“Yim-kaucu adalah ketua agama kita yang lampau, beliau mendapat penyakit berat sehingga terpaksa harus
mengundurkan diri dan segala tugas pimpinannya telah diserahkan kepada Tonghong-hengte, mana boleh kau
mengatakan Yim-kaucu adalah pengkhianat besar?” bantah Tong Pek-him. “Tonghong-hengte, coba kau
katakan sendiri yang tegas, benarkah Yim-kaucu mengkhianati agama kita? Apa dasarnya?”
“Setelah penyakit Yim Ngo-heng sembuh, seharusnya dia cepat kembali ke dalam agama, tapi dia malah
mendatangi tokoh-tokoh Siau-lim, Bu-tong, Ko-san, dan lain-lain untuk berkomplotan dengan mereka, apalagi
perbuatannya ini kalau bukan pengkhianatan?” jawab Nyo Lian-ting. “Lebih jauh kenapa dia tidak lantas
menghadap Kaucu serta menerima petunjuk-petunjuknya?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Hahahaha!” Tong Pek-him terbahak-bahak. “Yim-kaucu adalah bekas atasan Tonghong-hengte, baik ilmu
silatnya maupun pengetahuannya belum tentu di bawah Tonghong-hengte, betul tidak Tonghong-hengte?”
Tapi Nyo Lian-ting lantas membentak, “Jangan kau berlagak lebih tua di sini, jika kau mau mengakui dosamu,
besok di hadapan sidang terbuka pimpinan mungkin Kaucu masih mau mengampuni dosamu. Kalau tidak, hm,
bagaimana akibatnya tentu kau tahu sendiri.”
“Haha, orang she Tong sudah mendekati 80 tahun, memangnya aku sudah bosan hidup, mengapa aku mesti
takut akibat apa segala?” jawab Tong Pek-him dengan tertawa.
“Bawa maju orang-orangnya!” mendadak Nyo Lian-ting berteriak.
Dayang baju ungu mengiakan, lalu terdengarlah suara gemerencing yang ramai, belasan orang digiring ke
dalam balairung, ada laki-laki ada perempuan, ada orang tua, ada anak-anak pula.
Begitu melihat orang-orang itu, seketika air muka Tong Pek-him berubah hebat, bentaknya dengan murka,
“Nyo Lian-ting, kenapa kau menangkap anak-cucuku?”
Suaranya yang keras menggelegar anak telinga semua orang sehingga mendengung-dengung.
“Coba sebut Tong Pek-him, bagaimana bunyi pasal ketiga petuah Kaucu?” kata Nyo Lian-ting.
“Fui!” Tong Pek-him meludah, tapi tidak menjawab.
“Coba siapa di antara anggota keluarga Tong yang mengetahui pasal ketiga petuah Kaucu, coba uraikan!” seru
Nyo Lian-ting.
Seorang anak laki-laki lantas berkata, “Pasal ketiga petuah Kaucu mahaagung berbunyi: Terhadap musuh
harus kejam, babat rumput harus bersama akar-akarnya, laki-perempuan tua-muda, tidak seorang pun
ditinggalkan hidup.”
“Bagus, bagus! Anak manis, apakah kesepuluh pasal petuah Kaucu dapat kau hafalkan di luar kepala?” tanya
Nyo Lian-ting.
“Dapat!” jawab anak kecil itu. “Satu hari tidak menghafalkan petuah Kaucu rasanya tidak dapat tidur dan tidak
dapat makan. Setelah baca petuah Kaucu seketika bersemangat dan giat belajar.”
“Bagus. Siapa yang mengajarkan hal-hal demikian padamu?”
“Ayah!” jawab si anak.
“Siapa dia?” tanya Lian-ting pula sambil menunjuk Tong Pek-him.
“Kakek!”
“Kakekmu tidak mau membaca petuah Kaucu, tidak mau menurut perintah Kaucu, malahan membangkang
pada Kaucu, bagaimana menurut kau?”
“Kakek bersalah,” jawab bocah itu. “Setiap orang harus memahami ajaran Kaucu dan menurut segala perintah
Kaucu.”
“Nah, kau dengar sendiri,” kata Nyo Lian-ting terhadap Tong Pek-him, “cucumu sekecil itu saja bilang begitu,
sebaliknya kau sudah tua bangka, mengapa kau malah berbuat tidak senonoh?”
“Aku hanya bicara sebentar dengan orang she Yim dan she Hiang, mereka minta aku melawan Kaucu, tapi aku
menolak ajakan mereka,” kata Tong Pek-him. “Selamanya Tong Pek-him bicara apa adanya dan tidak pernah
berbuat sesuatu yang merugikan orang lain.”
Rupanya dia menyaksikan belasan anggota keluarganya akan ikut menjadi korban, maka nada bicaranya
menjadi agak lunak.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Jika sejak tadi-tadi kau bicara demikian tentu urusan menjadi lebih mudah diselesaikan,” ujar Nyo Lian-ting.
“Dan sekarang kau sudah mengakui kesalahanmu?”
“Aku tidak bersalah, aku tidak antiagama kita, lebih-lebih tidak anti-Kaucu,” jawab Tong Pek-him.
“Kalau kau tetap tidak mau mengaku salah, terpaksa aku tak bisa menolong kau,” ujar Nyo Lian-ting dengan
menghela napas. “Penjaga, bawalah anggota keluarganya ke tempat tahanan, mulai sekarang dilarang
memberikan makanan dan minuman sedikit pun juga.”
“Nanti dulu!” teriak Tong Pek-him keras-keras. Lalu katanya kepada Nyo Lian-ting, “Baik, aku mengaku salah.
Untuk itu aku mohon Kaucu memberi ampun.”
“Hm, tadi kau bilang apa? Kau bilang pernah sehidup-semati dengan Kaucu, saat mana aku saja belum
dilahirkan. Betul tidak?” tanya Nyo Lian-ting.
Dengan menahan perasaannya Tong Pek-him menjawab, “Ya, aku salah omong.”
“Kau salah omong? Hanya begini saja persoalannya?” kata Nyo Lian-ting dengan menjengek. “Di hadapan
Kaucu mengapa kau tidak berlutut?”
“Kaucu dan aku adalah saudara angkat, selama puluhan tahun kami berdiri dan berduduk sama tingginya,”
jawab Tong Pek-him. Mendadak ia berseru pula, “Tonghong-hengte, kau menyaksikan sendiri Laukoko (saudara
tua) disiksa orang habis-habisan, mengapa kau tidak buka mulut, tidak bicara sepatah kata pun? Jika kau ingin
Laukoko berlutut padamu, soalnya sangat gampang asalkan bicara sepatah kata saja, biarpun mati bagimu
sedikit pun Laukoko takkan mengernyitkan kening.”
Tapi Tonghong Put-pay masih terus duduk tak bergerak, seketika suasana di balairung menjadi sunyi senyap,
pandangan semua orang dialihkan kepada Tonghong Put-pay untuk mendengarkan apa yang akan
dikatakannya. Akan tetapi sampai sekian lamanya dia tetap diam saja.
“Tonghong-hengte,” Tong Pek-him berteriak pula, “selama beberapa tahun ini betapa sukarnya aku ingin
menemui kau. Kau telah mengasingkan diri untuk meyakinkan ‘Kui-hoa-po-tian’, tapi apakah kau tahu para
kawan lama di dalam agama telah banyak meninggalkan kita, bencana besar sedang mengancam agama kita?”
Tetap Tonghong Put-pay diam saja. Maka Tong Pek-him berseru lagi, “Asal kau sendiri yang omong, segera aku
akan berlutut padamu. Tidak menjadi soal kau menyiksa aku, bahkan membunuh aku sekalipun, tapi Tiauyang-
sin-kau yang namanya mengguncangkan Kangouw selama beratus-ratus tahun segera akan hancur,
untuk ini kau harus bertanggung jawab dan akan berdosa besar. Mengapa kau diam saja? Apakah kau kena
penyakit dalam meyakinkan ilmu sehingga tak bisa bicara?”
Bab 107. Rahasia Pribadi Tonghong Put-pay
“Ngaco-belo!” bentak Nyo Lian-ting. “Berlututlah kau!”
Dua dayang segera menendang belakang dengkul Tong Pek-him untuk memaksanya tekuk lutut. Tapi
mendadak terdengar suara jeritan dua kali, kedua dayang itu terpental sendiri ke belakang dengan tulang kaki
patah dan muntah darah. Sungguh hebat lwekang Tong Pek-him itu.
“Tonghong-hengte, aku ingin mendengar satu patah katamu saja, habis itu mati pun aku rela,” seru Tong Pekhim
pula. “Sudah lebih tiga tahunan kau tidak pernah bersua, para saudara dalam agama sudah sama curiga.”
Nyo Lian-ting menjadi gusar, dampratnya, “Curiga apa?”
“Mencurigai kemungkinan Kaucu telah dikerjai orang, dibikin bisu,” jawab Tong Pek-him dengan suara keras.
“Sebab apa dia tidak bicara? Ya, sebab apa dia tidak bicara?”
“Mulut emas Kaucu masakah sembarangan digunakan bagi kaum pengkhianat macam kau?” jengek Nyo Lianting.
“Bawa pergi dia, penjaga!”
Delapan dayang baju ungu serentak mengiakan dan berlari maju.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Mendadak Tong Pek-him berteriak-teriak, “Tonghong-hengte, ingin kulihat siapakah yang membikin kau tak
bisa bicara?”
Berbareng ia terus memburu ke arah Tonghong Put-pay sambil menyeret rantai borgol di kaki dan tangannya.
Melihat sikap Tong Pek-him yang gagah berwibawa itu, para penjaga menjadi takut untuk mendekati dia.
“Bekuk dia! Bekuk dia!” teriak Nyo Lian-ting.
Tapi para busu hanya berteriak-teriak saja di ambang pintu dan tidak berani masuk ke balairung. Maklum,
menurut peraturan tiada seorang pun anggota Tiau-yang-sin-kau diperbolehkan masuk ke balairung itu dengan
membawa senjata, yang melanggar dihukum mati.
Melihat gelagat kurang baik itu, tertampak Tonghong Put-pay berdiri dan bermaksud masuk ke ruang belakang.
“Jangan pergi dulu, Tonghong-hengte, jangan pergi!” seru Tong Pek-him sambil memburu maju lebih cepat.
Namun kedua kakinya terborgol, gerak-geriknya tidak leluasa, saking nafsunya dia memburu maju, mendadak
ia kesandung dan jatuh terguling. Tapi sekaligus ia berjumpalitan terus menubruk pula ke depan sehingga
jaraknya dengan Tonghong Put-pay sekarang tinggal belasan meter saja.
Nyo Lian-ting menjadi khawatir, teriaknya, “Pengkhianat! Kurang ajar! Berani kau mencelakai Kaucu?”
Melihat gerak-gerik Tonghong Put-pay yang rada aneh dan serbamencurigakan itu, Yim Ngo-heng tidak tinggal
diam, ketika melihat Tong Pek-him tidak mampu memburu ke depan lagi, segera ia merogoh keluar tiga buah
mata uang terus disambitkan ke arah Tonghong Put-pay.
Segera Lenghou Tiong lantas melompat bangun, dari dalam kain pembalutnya pedang lantas dilolos keluar.
Hiang Bun-thian juga lantas mengeluarkan senjata yang disembunyikan di atas usungan dan dibagikan kepada
Ing-ing serta Yim Ngo-heng. Menyusul ia menarik sekuatnya, rupanya tali yang dipakai mengikat rangka
usungan adalah sebuah cambuk. Dengan ginkang yang tinggi mereka berempat lantas menyerbu maju.
Dalam pada itu terdengar Tonghong Put-pay menjerit, rupanya dahinya terkena sebuah mata uang yang
disambitkan Yim Ngo-heng tadi sehingga mengucurkan darah. Untung baginya karena jaraknya cukup jauh
sehingga sambitan Yim Ngo-heng itu tidak keras, hanya membikin kulit kepalanya terkupas sedikit. Namun
Tonghong Put-pay terkenal ilmu silatnya tak terkalahkan, masakah sebuah mata uang saja tidak mampu
menghindarkan diri, hal ini sungguh tidak masuk di akal.
“Hahaha! Tonghong Put-pay ini adalah palsu!” teriak Yim Ngo-heng.
Pada saat yang sama cambuk Hiang Bun-thian lantas menyabet, “tarrr”, kedua kaki Nyo Lian-ting terlibat oleh
cambuknya, sekali ditarik tanpa ampun lagi orang she Nyo itu lantas terguling.
Tampak Tonghong Put-pay masih terus lari ke depan sambil mendekap dahinya yang luka, dengan cepat
Lenghou Tiong melompat ke depannya sambil menodongkan ujung pedang dan membentak, “Berhenti!”
Siapa duga Tonghong Put-pay yang sedang lari cepat itu tak sempat menahan tubuhnya, bahkan terus
menerjang ke ujung pedang malah. Namun Lenghou Tiong keburu menarik kembali pedangnya. Sedangkan Yim
Ngo-heng sudah menubruk tiba, sekali cengkeram kuduk Tonghong Put-pay terus diseretnya ke tengah
balairung.
“Dengarkan semua orang!” teriak Yim Ngo-heng. “Keparat ini memalsukan Tonghong Put-pay dan merusak
Tiau-yang-sin-kau kita, hendaknya kalian semua memeriksa jelas cecongor keparat ini.”
Ternyata tampang orang itu memang sangat mirip dengan Tonghong Put-pay asli. Keruan para busu saling
pandang dengan melongo.
“Siapa kau? Kalau tidak mengaku terus terang biar kugecek kepalamu hingga hancur,” bentak Yim Ngo-heng.
Orang itu gemetar seluruh badannya, giginya berkeriutan saking takutnya, jawabnya dengan terputus-putus,
“Ham... ham... ba... ber... na... ma....” tapi sampai sekian lamanya tetap tidak mampu menyambung
ucapannya.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sementara itu Hiang Bun-thian telah menutuk beberapa tempat hiat-to di tubuh Nyo Lian-ting dan
menyeretnya pula ke tengah balairung, lalu membentaknya, “Sebenarnya siapa nama orang ini?”
Tapi dengan angkuh Nyo Lian-ting menjawab, “Hm, kau ini kutu apa, kau ada hak buat tanya padaku? Aku
kenal kau sebagai pengkhianat besar Hiang Bun-thian. Sudah lama kau dipecat, berdasarkan hak apa kau
berani pulang lagi ke Hek-bok-keh sini?”
“Tujuanku ke Hek-bok-keh ini justru hendak membereskan kau keparat ini!” jengek Hiang Bun-thian,
berbareng sebelah tangannya terus menebas, “krak”, kontan tulang betis kiri Nyo Lian-ting dipatahkan.
Tak terduga, biarpun ilmu silat Nyo Lian-ting tidak tinggi, ternyata orangnya sangat kepala batu, ia tidak
menjerit kesakitan, sebaliknya malah membentak, “Jika berani, hayolah kau bunuh aku saja, main siksa begini
terhitung orang gagah macam apa?”
“Membunuh kau? Hm, masakah begitu enak?” jengek Hiang Bun-thian pula, “krek”, kembali ia pukul patah
tulang betis kaki Nyo Lian-ting yang lain. Menyusul Hiang Bun-thian menurunkan tubuh Nyo Lian-ting sehingga
berdiri tegak.
Dengan tulang betis yang sudah patah, dengan sendirinya waktu berdiri tulang kaki yang patah itu lantas
menusuk ke atas sehingga berbunyi keriang-keriut, sakitnya tentu bukan buatan. Namun Nyo Lian-ting sama
sekali tidak bersuara meski mukanya pucat pasi.
“Laki-laki hebat! Aku takkan menyiksa kau lagi,” kata Hiang Bun-thian sambil acungkan jempolnya ke muka
Nyo Lian-ting. Sebagai gantinya ia terus menonjok perut Tonghong Put-pay palsu sambil bertanya, “Siapa
namamu?”
Orang itu menjerit kesakitan, jawabnya dengan gemetar, “Hamba... hamba ber... bernama Pau... Pau...
Pau....” tapi Pau siapa tak dapat dilanjutkannya.
“Jadi kau she Pau?” Hiang Bun-thian menegas.
“Iy... ya! Hamba she... she... Pau... Pau....” namun tetap dia tidak sanggup mengatakan namanya sampai
sekian lamanya.
Dalam pada itu Lenghou Tiong dan lain-lain lantas mengendus bau busuk, ternyata dari bawah celana orang itu
mengalirkan air kekuning-kuningan, rupanya saking ketakutan orang itu menjadi terkencing-kencing dan
tercirit-cirit.
“Urusan jangan terlambat, paling penting kita mencari saja Tonghong Put-pay yang tulen,” kata Yim Ngo-heng.
Segera ia angkat orang she Pau itu dan berseru pula, “Kalian sudah menyaksikan sendiri, orang ini adalah
Tonghong Put-pay palsu, dia telah merusak agama kita, sekarang juga kita harus menyelidiki duduknya
perkara hingga jelas. Aku adalah kaucu kalian yang dulu, apakah kalian masih kenal padaku?”
Para busu yang berada di situ adalah pemuda-pemuda berumur 20-an, selamanya mereka belum melihat Yim
Ngo-heng, sudah tentu tidak kenal. Sejak Tonghong Put-pay menjabat kaucu, orang-orang kepercayaannya
dapat meraba isi hati kaucu baru ini, maka masing-masing saling memperingatkan agar jangan mengungkatungkat
urusan Yim-kaucu, sebab itulah nama Yim Ngo-heng saja tidak pernah didengar oleh para busu. Kini
mereka menjadi melongo dan saling pandang mendengar ucapan Yim Ngo-heng, tiada seorang pun yang berani
menjawab.
Siangkoan In lantas berseru, “Besar kemungkinan Tonghong Put-pay sudah dibinasakan mereka. Yim-kaucu ini
adalah kaucu kita. Sejak kini kita harus setia mengabdi kepada Yim-kaucu.”
Habis berkata segera ia mendahului menyembah kepada Yim Ngo-heng, serunya, “Terimalah sembah bakti
hamba, semoga Kaucu panjang umur dan merajai jagat!”
Para busu kenal Siangkoan In sebagai Kong-beng-yusu yang terhormat di dalam agama, melihat tokoh setinggi
itu saja menyembah kepada Yim Ngo-heng, pula menyaksikan ada orang memalsukan Tonghong Put-pay,
malahan Nyo Lian-ting yang biasanya berkuasa itu sekarang juga menggeletak tak bisa berkutik dengan kedua
kaki patah, maka tanpa ragu-ragu lagi para busu itu serentak berlutut kepada Yim Ngo-heng dan menyorakkan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
istilah-istilah puja-puji, “Semoga Kaucu panjang umur dan merajai jagat!”
Yim Ngo-heng terbahak-bahak senang dan puas, katanya kemudian, “Kalian harus menjaga rapat setiap jalan
di sekeliling Hek-bok-keh ini, siapa pun dilarang naik-turun.”
Busu-busu itu mengiakan dengan gemuruh. Dalam pada itu Hiang Bun-thian sudah memerintahkan kawanan
dayang baju ungu untuk membuka borgol Tong Pek-him.
Tong Pek-him sangat mengkhawatirkan keselamatan Tonghong Put-pay, begitu sudah bebas segera ia
cengkeram kuduk Nyo Lian-ting dan membentak, “Tentu kau telah membinasakan Tong... Tonghong-hengte,
kau... kau....” saking nafsunya sampai tenggorokannya seperti tersumbat, air mata pun berlinang-linang.
Nyo Lian-ting benar-benar kepala batu, ia malahan pejamkan mata tak pedulikan pertanyaan orang. Keruan
Tong Pek-him menjadi murka, kontan ia beri tempelengan keras ke pelipis orang she Nyo itu sambil
membentak, “Di manakah Tonghong-hengte?”
“Perlahan sedikit!” cepat Hiang Bun-thian mengingatkan Tong Pek-him.
Namun sudah terlambat, padahal tempelengan itu pun tidak terlalu keras, namun Nyo Lian-ting tidak tahan,
kontan ia kelengar. Tong Pek-him entak-entakkan badan Nyo Lian-ting, namun kedua matanya tampak
mendelik seperti orang mampus.
“Coba siapa di antara kalian yang tahu di mana beradanya Tonghong Put-pay? Siapa yang memberi laporan
lebih dulu akan diberi hadiah besar!” tanya Yim Ngo-heng kepada para dayang baju ungu. Tapi meski ia ulangi
pertanyaan itu tetap tiada seorang pun yang dapat memberi keterangan. Seketika dingin juga perasaannya.
Maklumlah, dia dikurung selama belasan tahun di bawah danau Barat (Se-ouw) di Hangciu, di situ siang dan
malam ia tekun meyakinkan ilmu dengan tujuan bila kelak dapat meloloskan diri dari tahanan itu ia pun akan
balas menyiksa Tonghong Put-pay sejadi-jadinya. Siapa duga sesudah berada di Hek-bok-keh sekarang
ternyata Tonghong Put-pay yang telah dibekuknya ini adalah palsu, agaknya Tonghong Put-pay yang tulen
sudah tidak hidup lagi di dunia fana ini, kalau tidak, dengan kecerdasan Tonghong Put-pay yang lain daripada
yang lain itu masakah sudi membiarkan Nyo Lian-ting berbuat sesukanya dan bahkan menggunakan seorang
lain sebagai duplikatnya?
Ia coba memandang kawanan dayang baju ungu yang berdiri di seputar balairung itu, kelihatan sebagian di
antaranya mengunjuk sikap ketakutan, ada pula yang gelisah, tapi ada juga yang kelihatan culas. Dalam
keadaan kecewa, perasaan Yim Ngo-heng menjadi sangat berangasan, mendadak ia membentak, “Kalian ini
sudah tahu Tonghong Put-pay ini palsu, tapi kalian toh sengaja sekongkol dengan Nyo Lian-ting untuk menipu
saudara-saudara lain dalam agama, dosa kalian tidak bisa diampuni!”
Tiba-tiba ia melompat maju, “plak-plok” empat kali, di mana tangannya tiba, kontan empat dayang seragam
ungu itu lantas binasa. Keruan dayang-dayang yang lain menjadi ketakutan, sambil menjerit mereka
menyingkir ke belakang.
“Kalian hendak lari? Mau lari ke mana?” bentak Yim Ngo-heng dengan menyeringai seram, dijemputnya rantai
borgol yang baru dilepaskan dari tubuh Tong Pek-him tadi, sekuatnya ia lemparkan rantai itu ke sana. Kontan
saja darah mencurat, kembali ada beberapa orang dibinasakan pula.
Yim Ngo-heng terbahak-bahak, teriaknya, “Pengikut-pengikut Tonghong Put-pay satu pun takkan dibiarkan
hidup!”
Melihat kelakuan ayahnya rada kurang waras, cepat-cepat Ing-ing memburu maju untuk memegang tangannya
sambil memanggil, “Sabar, Ayah!”
Tiba-tiba di antara kawanan dayang seragam ungu itu tampil seorang dan berlutut memberi laporan, “Lapor
Kaucu, sebenarnya Tonghong... Tonghong Put-pay itu tidak mati!”
Tidak kepalang senangnya Yim Ngo-heng mendengar itu, ia memburu maju dan memegang bahu dayang itu
sambil menegas, “Betul Tonghong Put-pay belum mati?”
“Iya... Ahuuh!” orang itu berteriak terus roboh tak sadarkan diri.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Rupanya saking terguncang oleh perasaannya, Yim Ngo-heng terlalu keras mencengkeram bahu dayang itu,
namun sukar membuatnya siuman kembali.
Terpaksa Yim Ngo-heng berpaling kepada dayang-dayang lain dan bertanya, “Berada di mana Tonghong Putpay?
Lekas tunjukkan jalannya, sedikit terlambat saja kalian semua akan kubunuh!”
Seorang dayang lain lantas menyembah dan berkata, “Lapor Kaucu, tempat tinggal Tonghong Put-pay sangat
dirahasiakan, yang tahu hanya Nyo Lian-ting seorang. Sebaiknya kita sadarkan keparat she Nyo itu, tentu dia
dapat membawa Kaucu ke sana.”
“Lekas ambilkan air dingin,” bentak Yim Ngo-heng.
Kawanan dayang itu memang sudah terlatih dan sangat cekatan, dalam sekejap saja air dingin yang diminta
sudah datang terus disiram ke muka Nyo Lian-ting. Perlahan-lahan orang she Nyo itu membuka matanya, dia
telah siuman.
“Orang she Nyo, aku menghargai kau sebagai seorang laki-laki berhati keras, maka takkan kusiksa lagi dirimu,”
kata Hiang Bun-thian. “Saat ini semua jalan masuk-keluar Hek-bok-keh sudah ditutup, betapa pun Put-pay
takkan bisa lolos dari sini kecuali dia punya sayap. Maka ada lebih baik kau membawa kami pergi mencarinya.
Seorang laki-laki sejati buat apa mesti main sembunyi? Kan lebih baik kalau kita bikin pemberesan secara
blakblakan saja.”
“Hm, Tonghong-kaucu kini sudah punya badan yang kebal, masakah beliau gentar terhadap keroco-keroco
macam kalian?” jawab Nyo Lian-ting dengan menjengek “Tapi kata-katamu barusan rada cocok juga dengan
seleraku. Baik, akan kubawa kalian untuk menemuinya.”
Segera Hiang Bun-thian berkata kepada Siangkoan In, “Siangkoan-heng, biarlah sementara ini kita menjadi kuli
sambilan, mari kita gotong keparat ini untuk menemui Tonghong Put-pay.”
Berbareng ia terus angkat Nyo Lian-ting dan ditaruh di atas usungan.
Siangkoan In mengiakan. Bersama Hiang Bun-thian mereka lantas mengangkat usungan itu.
“Jalan ke dalam!” kata Nyo Lian-ting.
Hiang Bun-thian dan Siangkoan In lantas mendahului jalan di depan dengan menggotong Nyo Lian-ting. Yim
Ngo-heng, Lenghou Tiong, Ing-ing, dan Tong Pek-him berempat mengikuti mereka dari belakang.
Setelah rombongan masuk ke belakang balairung dan melalui sebuah serambi yang panjang, kemudian sampai
di sebuah taman bunga dan memasuki sebuah rumah batu kecil di ujung kiri.
“Dorong dinding sebelah kanan!” seru Nyo Lian-ting.
Ketika Tong Pek-him menolak dengan tangannya, ternyata dinding itu bisa bergerak sehingga berwujud sebuah
daun pintu. Di dalamnya terdapat pula sebuah pintu besi. Dari bajunya Nyo Lian-ting mengeluarkan segandeng
anak kunci dan diserahkan kepada Tong Pek-him, pintu besi itu dibuka, di dalamnya ternyata ada sebuah
lorong di bawah tanah.
Lorong itu terus menurun ke bawah. Dalam hati Yim Ngo-heng membatin, “Tonghong Put-pay telah mengurung
aku di dasar danau, siapa duga dia pun kualat sehingga kena dikurung pula di bawah tanah. Tampaknya lorong
ini pun tidak lebih baik daripada tempat kurunganku dahulu.”
Tidak nyana, setelah membelok beberapa tikungan, tiba-tiba bagian depan terbeliak terang. Sekonyongkonyong
semua orang mengendus bau harum bunga semerbak, seketika napas mereka terasa segar.
Keluar dari lorong di bawah tanah itu ternyata mereka sudah berada di dalam sebuah taman bunga yang kecil
dan sangat indah. Bunga mekar beraneka warna, pepohonan tumbuh menghijau segar, di tengah taman ada
sebuah kolam dengan beberapa pasang belibis sedang berenang kian-kemari dan beberapa ekor bangau putih
bersaba di tepi kolam.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Tiada seorang pun yang menyangka bahwa di balik lorong yang gelap tadi ternyata ada kediaman seindah ini,
sungguh mereka tak habis heran. Setelah mengitari sebuah gunung-gunungan, tertampak di depan terbentang
sebidang kebun bunga, seluruhnya adalah bunga mawar berwarna merah tua dan jambon yang sedang mekar
dan seakan-akan berlomba memamerkan kecantikan masing-masing.
Ing-ing melirik ke arah Lenghou Tiong, dilihatnya pemuda itu tersenyum simpul, tampaknya sangat senang.
“Bagus tidak tempat ini?” tanya Ing-ing dengan suara tertahan.
“Setelah kita usir Tonghong Put-pay, lalu kita tinggal beberapa bulan di sini, nanti kau mengajarkan aku
memetik kecapi, alangkah bahagianya kehidupan demikian!” ujar Lenghou Tiong.
“Apakah ucapanmu ini sungguh-sungguh?” tanya Ing-ing.
“Tentu saja sungguh-sungguh,” jawab Lenghou Tiong. “Cuma kukhawatir tidak dapat menerima ajaran
kecapimu sehingga membikin nenek marah-marah nanti.”
Maka mengikik tawalah Ing-ing teringat kepada masa lampau ketika Lenghou Tiong mengira dia adalah
seorang tua renta dan selalu memanggilnya sebagai nenek.
Sementara itu tertampak Hiang Bun-thian dan Siangkoan In sedang mengusung Nyo Lian-ting ke dalam sebuah
pondok kecil yang indah, cepat Lenghou Tiong dan Ing-ing ikut masuk ke situ. Begitu melangkah masuk,
seketika mereka mengendus bau harum bunga yang menusuk hidung, dilihatnya dinding kamar tergantung
sebuah lukisan yang menggambarkan kaum wanita sedang menyulam. Lenghou Tiong menjadi heran apakah
Tonghong Put-pay tinggal di kamar ini? Apakah tempat tinggal gendak kesayangannya sehingga dia senantiasa
tenggelam di tempat demikian dan lupa mengurusi pekerjaan.
Tiba-tiba terdengar seorang di dalam kamar bertanya, “Adik Lian, siapakah yang kau bawa kemari?”
Suaranya nyaring tajam, seperti suara kaum lelaki, tapi mirip juga suara wanita, mendirikan bulu roma rasanya
bagi orang yang mendengarnya.
Maka Nyo Lian-ting telah menjawab, “Kubawa serta sobat lamamu, dia ingin bertemu dengan kau.”
“Mengapa kau membawanya kemari?” ujar suara di dalam itu. “Tempat ini hanya boleh didatangi seorang saja,
selain kau, siapa pun takkan kutemui.”
Beberapa kata-kata terakhir ini diucapkan dengan manja seperti nada kaum wanita, namun jelas suaranya
adalah suara orang laki-laki.
Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, Ing-ing, Tong Pek-him, dan Siangkoan In sudah sangat kenal Tonghong Putpay,
dari suara tadi jelas adalah suara sang kaucu itu, hanya saja nadanya sangat aneh, seakan-akan pemain
sandiwara wanita yang diperankan oleh kaum lelaki dengan suara yang dibikin-bikin. Keruan mereka saling
pandang dengan melongo.
Maka terdengar Nyo Lian-ting menjawab dengan menghela napas, “Ya, apa daya, kalau aku tidak membawanya
kemari, aku akan dibunuh olehnya. Sebelum mati bila aku tidak melihat kau lebih dulu, hal ini akan merupakan
penyesalan besar selama hidupku.”
“Hah, siapakah yang begitu berani mati membikin susah padamu? Coba suruh dia masuk kemari,” seru orang
di dalam itu dengan suara melengking.
Yim Ngo-heng memberi tanda agar semua orang ikut masuk ke dalam. Lebih dulu Siangkoan In menyingkap
tirai pintu yang bersulam bunga yang indah, Nyo Lian-ting lantas digotong ke dalam, lalu semua orang ikut
masuk ke situ. Ternyata di dalam kamar sebelah dalam itu terpajang sangat rajin dan indah dengan hiasan
yang warna-warni, pada ujung kanan sana ada sebuah meja rias, di sampingnya duduk seorang dengan baju
warna jambon, tangan kiri memegang sebuah bingkai sulaman, tangan kanan memegang sebuah jarum sulam,
melihat masuknya orang-orang sebanyak itu, ia angkat kepalanya dengan rada heran.
Namun betapa herannya orang itu toh masih kalah besar herannya Yim Ngo-heng dan lain-lain terhadap orang
di dalam kamar itu. Semua orang jelas mengenali orang berbaju jambon itu tak-lain tak-bukan Tonghong Putpay
yang selama belasan tahun ini menduduki jabatan kaucu Tiau-yang-sin-kau dengan gelar “jago silat nomor
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
satu di dunia”. Hanya saja sekarang kumis jenggotnya telah dicukur bersih, yang luar biasa adalah mukanya
pakai pupur dan bibir digincu segala, baju yang dipakainya itu bentuknya tidak laki tidak perempuan, warnanya
juga terlalu mencolok sekalipun dipakai oleh gadis jelita sebagai Ing-ing.
Sungguh sukar untuk dipercaya oleh siapa pun juga bahwa kesatria yang namanya mengguncangkan Kangouw,
seorang tokoh mahaagung, ternyata hidupnya sembunyi di dalam kamar wanita dan kerjanya menyulam.
Benar-benar luar biasa kalau tidak menyaksikannya sendiri.
Tadinya Yim Ngo-heng penuh dendam dengan hati seperti terbakar, tapi demi melihat keadaan Tonghong Putpay
itu, merasa geli juga. Bentaknya segera, “Tonghong Put-pay, apa kau pura-pura gila?”
“O, Yim-kaucu kiranya!” jawab Tonghong Put-pay dengan suara melengking. “Memang sudah kuduga yang
datang tentulah dirimu. Eh, Adik Lian, ken... kenapakah kau? Apa dia yang melukai kau?”
Cepat ia menubruk ke samping Nyo Lian-ting terus memondongnya dan perlahan-lahan dibaringkan di atas
tempat tidurnya.
Seprai tempat tidurnya yang bersulam itu berbau sangat wangi. Dengan wajah yang penuh kasih sayang tak
terhingga Tonghong Put-pay bertanya, “Ah, kau sangat kesakitan tentunya? O, cuma tulang kaki yang patah,
tidak apa-apa, jangan khawatir, segera akan kusambungkan bagimu.”
Dengan hati-hati ia terus membukakan sepatu Nyo Lian-ting, lalu mencopot kaus kakinya, kemudian
menyelimutinya pula, mirip sekali seorang istri setia melayani sang suami.
Pemandangan aneh itu membuat semua orang melongo heran dan geli, semuanya ingin tertawa, tapi
pemandangan yang teramat lucu dan seram itu membuat mereka urung tertawa.
Dalam pada itu tertampak Tonghong Put-pay telah mengeluarkan sepotong saputangan sutra hijau, perlahanlahan
ia mengusap keringat dan kotoran di dahi dan muka Nyo Lian-ting.
Dilayani semanis itu, bukannya Nyo Lian-ting berterima kasih, sebaliknya ia menjadi marah dan mendamprat,
“Musuh besar di hadapan mata, buat apa kau mengurusi aku segala? Kalau kau sudah membereskan musuh
barulah nanti kita bermesra-mesraan.”
Tonghong Put-pay hanya tersenyum dan menjawab, “Baik, baik! Kau jangan marah, tentu kakimu terlalu sakit
bukan? Ai, hatiku pun ikut pedih!”
Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan lain-lain terhitung tokoh-tokoh kelas wahid yang sudah kenyang asam
garam kehidupan, namun pemandangan aneh yang mereka hadapi sekarang sungguh sukar dimengerti. Di
dunia ini memang banyak terjadi hubungan-hubungan kelamin yang tidak sehat karena perubahan kejiwaan,
misalnya laki-laki yang suka meniduri anak laki-laki tanggung, hubungan seks antara sejenis, dan macammacam
kelainan, namun seorang kaucu mahaagung sebagai Tonghong Put-pay ternyata rela berdandan
sebagai wanita, jelas dia tentu sudah gila. Bahkan Nyo Lian-ting menghardik dan mengolok-oloknya secara
menyakitkan hati, namun dia tetap sangat halus budi dan kasih sayang sebagaimana layaknya seorang istri
setia. Keruan hal ini membuat semua orang terheran-heran dan merasa mual pula.
Tong Pek-him tidak tahan, ia melangkah maju dan berseru, “Tonghong-hengte, kau... sesungguhnya kau lagi
apa-apaan ini?”
Tiba-tiba Tonghong Put-pay mengangkat kepalanya dan bertanya dengan wajah cemberut, “Apakah orang yang
mencelakai Adik Lian juga termasuk kau ya?”
“Tonghong-hengte, mengapa kau terima dipermainkan orang she Nyo ini? Dia telah menyuruh seorang untuk
memalsukan dirimu dan memberi perintah serta main kuasa sesukanya, apakah kau sudah mengetahui hal-hal
itu?”
“Sudah tentu aku mengetahui,” jawab Tonghong Put-pay. “Demi kebaikankulah maka Adik Lian sedemikian
rajin padaku. Dia tahu aku sungkan mengurusi pekerjaan-pekerjaan yang membosankan itu, maka dia yang
mengerjakannya bagiku, apa sih jeleknya?”
“Orang ini hendak membunuh aku, apakah kau pun tahu?” tanya Tong Pek-him sambil menuding Nyo Lian-ting.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Aku tidak tahu,” sahut Tonghong Put-pay sambil menggeleng perlahan. “Tapi kalau Adik Lian mau membunuh
kau tentu kaulah yang bersalah. Lalu mengapa kau tidak membiarkan dibunuh olehnya?”
Tong Pek-him melengak bingung. Tapi ia lantas mendongak dan bergelak tertawa, suara tertawa yang penuh
rasa penasaran dan sedih. Katanya kemudian, “Jadi dia ingin bunuh aku dan kau lantas membiarkan dia
membunuh sesukanya, begitu?”
“Ya, apa yang suka dilakukan oleh Adik Lian tentu akan kuusahakan agar keinginannya tercapai. Di dunia ini
hanya dia seorang yang benar-benar baik padaku, maka aku pun akan berbuat baik baginya,” kata Tonghong
Put-pay. “Tong-toako, kita pernah hidup bersama senasib dan setanggungan, selamanya kita bersahabat
dengan akrab. Cuma tidak seharusnya kau membikin susah kepada Adik Lian.”
Dengan wajah merah padam Tong Pek-him berteriak, “Tadinya kukira kau kurang waras, rupanya kau pun
cukup sadar dan masih ingat kita adalah sahabat karib dan punya hubungan akrab di masa lampau.”
“Ya. Jika kau bersalah padaku takkan menjadi soal, tapi kau bersalah pada Adik Lian, inilah tidak boleh,” kata
Tonghong Put-pay.
“Dan sekarang aku sudah menyalahi dia, kau mau apa?” teriak Tong Pek-him pula. “Keparat ini hendak
membunuh aku, hm, kukira tidaklah mudah memenuhi keinginannya itu.”
Perlahan-lahan Tonghong Put-pay membelai rambut Nyo Lian-ting dan bertanya dengan suara halus, “Adik
Lian, apakah kau ingin membunuh dia?”
Nyo Lian-ting menjadi marah, omelnya, “Lekas kerjakan, kelemak-kelemek, bikin sebal saja?”
“Baik,” sahut Tonghong Put-pay dengan tertawa. Lalu ia berpaling kepada Tong Pek-him, katanya, “Tong-heng,
mulai hari ini kita putus hubungan dan rantas persaudaraan, jangan kau salahkan tindakanku ini.”
Ketika berangkat dari balairung tadi Tong Pek-him telah rampas sebuah golok dari seorang busu. Kini
mendengar ucapan Tonghong Put-pay itu, tanpa terasa ia mundur dua tindak dan siap siaga. Ia cukup kenal
betapa lihainya sang kaucu, meski sekarang tampaknya aneh, tapi tidak boleh dipandang ringan.
Tonghong Put-pay menyeringai, katanya dengan gegetun, “Hal ini sungguh serbasusah bagiku. Tong-heng, aku
menjadi teringat kepada kejadian dahulu ketika kau menyelamatkan diriku dari kerubutan musuh-musuhku di
Soatang, waktu itu aku sudah terluka parah, bila kau tidak membantu tentu aku takkan hidup lagi sampai saat
ini.”
“Hm, rupanya kau belum lupa akan peristiwa lama itu,” jengek Tong Pek-him.
“Mana bisa lupa? Bahkan hal-hal lain pun aku ingat dengan baik,” ujar Tonghong Put-pay. “Umpamanya ketika
dahulu aku merobohkan Yim-kaucu dengan obat tidur, perbuatanku kepergok Hwe-tong-tongcu Lo Ko-tek,
syukur engkau telah membinasakan orang she Lo itu sehingga usahaku dapat terlaksana dengan lancar. Kau
benar-benar saudaraku yang paling baik.”
Dengan air muka yang berubah Tong Pek-him melirik sekejap ke arah Yim Ngo-heng, jawabnya, “Memang
salahku, pada waktu itu mungkin aku sudah pikun.”
“Kau tidak salah, kau pun tidak pikun, tapi kau memang sangat baik padaku,” kata Tonghong Put-pay. “Ketika
berumur 11 aku sudah kenal kau. Waktu itu keluargaku sangat miskin, engkaulah yang selalu membantu
kehidupan kami. Bahkan engkau pula yang mengongkosi penguburan-penguburan ayah-bundaku ketika
mereka kemudian meninggal berturut-turut.”
“Urusan-urusan yang sudah lalu buat apa dibicarakan lagi?” ujar Tong Pek-him.
“Ai, Tong-toako, bukannya aku tidak punya liangsim (hati nurani) dan melupakan kebaikanmu di masa lampau,
soalnya kau telah bersalah pada Adik Lian. Dia ingin membinasakan kau, ya, terpaksa aku tak punya jalan
lain.”
“Sudahlah, sudahlah!” seru Tong Pek-him.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sekonyong-konyong sesosok bayangan merah berkelebat, tubuh Tonghong Put-pay seperti bergerak sedikit.
Menyusul terdengar “trang” satu kali, golok yang dipegang Tong Pek-him jatuh ke lantai, lalu tubuh orang tua
itu pun terhuyung-huyung, mulutnya tampak terbuka lebar, tapi tak mampu bersuara. Sekonyong-konyong
tubuhnya jatuh ke depan untuk seterusnya tidak bergerak lagi.
Meski jatuhnya Tong Pek-him terjadi dengan cepat, namun Yim Ngo-heng dan jago-jago kelas tinggi lain sudah
dapat melihat jelas pada hiat-to bagian-bagian tengah kedua alis, kedua pelipis, dan jin-tiong-hiat di bawah
hidung (di atas bibir) ada suatu titik merah kecil dan merembes sedikit darah. Nyata tempat-tempat itu telah
kena ditusuk oleh jarum sulam yang dipegang Tonghong Put-pay.
Menyaksikan kejadian luar biasa itu, mau tak mau tokoh-tokoh sebagai Yim Ngo-heng dan lain-lain tanpa
terasa mundur dua-tiga tindak. Lenghou Tiong pegang tangan Ing-ing dan disembunyikan di belakangnya.
Seketika suasana menjadi sunyi dan bernapas pun tidak berani keras-keras. Semua orang tahu ilmu silat
Tonghong Put-pay teramat tinggi, tapi sama sekali orang tidak mengira sedemikian hebatnya, hanya dengan
sebatang jarum kecil saja dengan kecepatan luar biasa dapat menusuk empat hiat-to mematikan di atas kepala
Tong Pek-him. Padahal baru saja dia menguraikan macam-macam kebaikan orang tua itu, tapi dalam sekejap
sahabat dan penolongnya di masa lampau itu sudah dibinasakan olehnya, betapa culas dan kejamnya sungguh
membuat orang mengirik.
Perlahan-lahan Yim Ngo-heng melolos pedangnya dan berkata, “Tonghong Put-pay, aku mengucapkan selamat
karena kau telah berhasil meyakinkan ilmu silat dalam Kui-hoa-po-tian.”
“Terima kasih Yim-kaucu. Kui-hoa-po-tian itu adalah pemberianmu, senantiasa aku ingat pada kebaikanmu,”
jawab Tonghong Put-pay.
“Apa betul? Makanya kau mengurung aku di bawah Danau Se-ouw supaya aku tidak pernah melihat cahaya
matahari lagi.”
“Aku kan tidak membinasakan kau toh? Coba kalau aku suruh Bwe-cheng-si-yu tidak mengantar air dan
makanan padamu, dapatkah kau hidup sepuluh hari atau setengah bulan, apalagi hidup sampai sekarang?”
“O, jadi caramu memperlakukan diriku masih lumayan ya?”
“Memang,” sahut Tonghong Put-pay. “Aku sengaja mengatur pensiunmu di Hangciu dengan danaunya yang
indah sebagai surga menurut kata orang.”
“O, kiranya kau memberi pensiun padaku di dalam penjara dasar danau yang gelap gulita itu. Wah, malahan
aku harus berterima kasih padamu. Haha!!”
Bab 108. Yim Ngo-heng Menjadi Kaucu Lagi
“Yim-kaucu,” kata Tonghong Put-pay pula, “segala macam kebaikanmu padaku selamanya takkan kulupakan.
Tadinya aku cuma seorang hiangcu, termasuk bawahan Tong-toako, tapi engkau menaruh perhatian padaku
dan berulang-ulang memberi kenaikan pangkat padaku, sampai-sampai pusaka kita seperti Kui-hoa-po-tian
juga kau wariskan padaku dan menunjuk diriku sebagai penggantimu kelak. Semua budi kebaikan ini takkan
kulupakan selama hidup.”
Lenghou Tiong melirik sekejap ke arah mayat Tong Pek-him, pikirnya, “Tadi kau terus-menerus memuji
kebaikan orang tua ini padamu, tapi mendadak kau membinasakannya. Sekarang kau hendak mengulangi
kelicikanmu pada Yim-kaucu, masakah beliau dapat kau tipu?”
Namun cara turun tangan Tonghong Put-pay memang benar-benar terlalu cepat, sebelumnya juga tiada tandatanda
sehingga sukar untuk menjaga diri. Terpaksa Lenghou Tiong siapkan pedangnya dengan ujung mengarah
ke dada musuh, asal musuh sedikit bergerak saja segera ia akan mendahului menusuk, kalau sampai musuh
mendahului lagi tentu di dalam kamar ini akan jatuh korban lagi.
Merasakan suasana yang gawat itu, Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, Siangkoan In, dan Ing-ing juga
mencurahkan seluruh perhatian terhadap Tonghong Put-pay untuk menghadapi serangan yang mendadak.
Terdengar Tonghong Put-pay berkata lagi, “Semula hasratku hanya ingin menjadi kaucu, ingin panjang umur
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
dan merajai jagat, sehingga selalu aku memeras otak untuk memikirkan cara merebut kedudukanmu dan
menumpas begundalmu. Hiang-hengte, rencanaku ini rasanya sukar mengelabui kau, di dalam Tiau-yang-sinkau,
selain aku dan Yim-kaucu, kau adalah tokoh pilihan pula.”
Dengan memegang cambuknya Hiang Bun-thian menahan napas dengan tegang sehingga tidak berani
menanggapi ucapan Tonghong Put-pay itu.
Tonghong Put-pay menghela napas, lalu berkata pula, “Ketika mulai menjadi kaucu, tadinya aku pun merasa
syur dan ingin berbuat sesuatu yang berguna, kemudian aku meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian, lambat
laun dapatlah kurasakan artinya orang hidup, aku meramu dan minum obat, akhirnya aku memahami
kenikmatan orang hidup dan jalan penting menuju kehidupan abadi.”
Mendengarkan uraian Tonghong Put-pay dengan suaranya yang melengking itu, apa yang dikatakan juga
masuk di akal, jelas otaknya cukup jernih, namun potongannya yang aneh, tidak laki tidak perempuan,
keanehan inilah yang membikin orang mengirik.
Perlahan-lahan sinar mata Tonghong Put-pay beralih ke arah Ing-ing, tiba-tiba ia bertanya, “Yim-toasiocia,
selama ini cara bagaimana aku terhadap dirimu?”
“Kau sangat baik padaku,” jawab Ing-ing.
“Sangat baik kukira juga tidak, hanya saja aku senantiasa sangat mengagumi dirimu,” ujar Tonghong Put-pay
dengan menghela napas gegetun. “Seorang dilahirkan sebagai wanita sudah beratus kali lebih beruntung
daripada kaum lelaki busuk, apalagi kau begini cantik, begini molek, muda dan lincah. Bila aku dapat bertukar
tempat dengan kau, hah, jangankan sebagai Kaucu Tiau-yang-sin-kau, sekalipun menjadi raja juga aku tidak
mau.”
“Bila kau bertukar tempat dengan Yim-toasiocia dan suruh aku menyukai siluman tua macam kau, wah, aku
mesti pikir-pikir dua belas kali lebih dulu,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
Yim Ngo-heng dan lain-lain terkejut oleh ucapan Lenghou Tiong itu. Tertampak Tonghong Put-pay
memandanginya dengan mata melotot, alisnya semakin menegak dengan wajah geram, katanya, “Siapa kau?
Berani kau bicara begitu padaku, besar amat nyalimu ya?”
Dasar Lenghou Tiong memang pemberani, terhadap segala urusan apa pun biasanya juga suka acuh tak acuh,
meski sudah tahu keadaan sangat berbahaya juga tak terpikir olehnya, dengan tertawa ia malah mengolok-olok
lagi, “Apakah dia seorang laki-laki gagah atau dia seorang perempuan cantik, tapi yang paling menjemukan
aku adalah teledek (ronggeng) laki-laki yang menyamar sebagai perempuan.”
“Aku tanya kau, siapa kau?” jerit Tonghong Put-pay dengan melengking.
“Aku bernama Lenghou Tiong!”
“Ah, kiranya kau inilah Lenghou Tiong. Sudah lama aku ingin melihat kau. Kabarnya Yim-toasiocia sangat
kesengsem padamu, bagimu dia rela mengorbankan jiwanya, kukira entah betapa cakap dan ganteng kekasih
idam-idamannya itu. Tapi, hm, nyatanya juga cuma begini saja, dibandingkan aku punya Adik Lian, wah,
selisihnya terlalu jauh.”
“Cayhe memang orang biasa saja, yang penting dapat mencintai dengan hati yang bulat dan murni. Tentang
anak bagus she Nyo ini, meski gagah dan ganteng, cuma sayang, dia terlalu bangor, suka petik bunga sini dan
bedol rumput sana, di mana-mana suka main cinta....”
“Apa katamu, keparat! Ngaco-belo kau!” mendadak Tonghong Put-pay menggeram dengan wajah merah
padam terus menubruk maju pula, dengan jarum sulam yang dipegangnya tadi dia menusuk ke muka Lenghou
Tiong.
Rupanya Lenghou Tiong sudah dapat menerka ada hubungan istimewa antara Tonghong Put-pay dan Nyo Lianting,
maka dia sengaja hendak membuatnya marah. Setiap jago silat bila timbul marah akan berarti
berkurangnya pemusatan perhatian dan kepandaiannya akan terpengaruh. Benar juga, saking murkanya
tusukan jarum Tonghong Put-pay itu menjadi rada kaku.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Kontan pedang Lenghou Tiong juga bergerak, “sret”, ia pun menusuk tenggorokan lawan. Tusukan ini sangat
cepat, arahnya tepat pula, kalau Tonghong Put-pay tidak menarik diri berarti lehernya akan tembus. Tapi pada
saat itulah tahu-tahu Lenghou Tiong merasa pipi kiri terasa sakit “cekit”, seperti digigit nyamuk, berbareng
pedangnya terguncang ke samping.
Ternyata gerak Tonghong Put-pay benar-benar sukar dibayangkan cepatnya, pada detik secepat kilat itu
jarumnya telah kena menusuk satu kali di pipi Lenghou Tiong, menyusul tangannya ditarik kembali, dengan
jarum sulam itu ditangkisnya pedang Lenghou Tiong itu. Untung tusukan Lenghou Tiong itu pun teramat cepat
dengan arah yang tepat sehingga terpaksa lawan harus menyelamatkan diri pula, karena itu tusukan jarum
Tonghong Put-pay tadi rada menceng, mestinya yang diarah adalah jin-tiong-hiat di bawah hidung sasarannya.
Namun begitu hanya dengan menggunakan sebatang jarum kecil saja Tonghong Put-pay mampu menangkis
pedang Lenghou Tiong sehingga tergetar ke samping, hal ini benar-benar hebat sekali, semua orang sama
menjerit kaget dan kagum. Betapa tinggi ilmu silat Tonghong Put-pay sungguh sukar diukur.
Lenghou Tiong juga terkesiap, sadarlah dia hari ini telah ketemukan lawan tangguh yang belum pernah ditemui
selama hidup. Bila lawan diberi kesempatan menyerang lagi akan berarti jiwa sendiri terancam. Maka tanpa
ayal ia mendahului menyerang, “sret-sret” empat kali, semuanya menusuk ke tempat mematikan di tubuh
musuh.
“Eh, hebat juga ilmu pedangmu!” Tonghong Put-pay merasa heran sambil memuji pula. Berbareng jarumnya
juga bekerja empat kali, semua serangan Lenghou Tiong itu telah dapat ditangkis olehnya.
Mendadak Lenghou Tiong menggertak, pedangnya lantas membacok dari atas. Namun Tonghong Put-pay tetap
menggunakan jarumnya yang diacungkan ke atas, bacokan pedang tertahan, tak sanggup menyambar ke
bawah.
Tangan Lenghou Tiong merasakan linu pegal oleh getaran tenaga lawan, sekonyong-konyong bayangan merah
berkelebat seperti ada sesuatu benda mencolok ke mata kirinya. Dalam keadaan demikian Lenghou Tiong tidak
sempat menghindar maupun menangkis, sebisanya ia puntir pedangnya terus menusuk juga ke mata kiri
Tonghong Put-pay dengan tidak kalah cepatnya, yang dia gunakan adalah serangan gugur bersama musuh.
Cara serangan Lenghou Tiong ini sebenarnya tidak “masuk buku” dalam ilmu silat mana pun juga, namun
Tokko-kiu-kiam yang diyakinkan Lenghou Tiong itu memang tiada punya jurus serangan yang tetap, semuanya
tergantung keadaan dan menurut kemauan pemakainya.
Lantaran sudah kepepet, maka tanpa pikir Lenghou Tiong juga melancarkan serangan yang sama dengan
musuhnya. Begitulah segera ia merasa alis kiri sendiri terasa sakit cekit-cekit lagi, berbareng Tonghong Put-pay
juga melompat ke samping untuk menghindarkan tusukan pedang.
Tahulah Lenghou Tiong bahwa alis kiri sendiri telah kena tusukan jarum lawan, untung Tonghong Put-pay
terpaksa harus menghindarkan ancaman pedangnya sehingga jarumnya mengenai tempat yang kurang tepat,
kalau tidak mata kirinya tentu sudah tertusuk buta. Saking kaget dan khawatirnya, segera Lenghou Tiong
melancarkan serangan-serangan gencar, lawan tidak diberi kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.
Melihat gelagat jelek, tanpa bicara lagi Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian ikut menerjang maju. Tiga tokoh
terkemuka bertempur bersama, sekalipun beribu-ribu prajurit juga tak mampu menandingi mereka, namun
Tonghong Put-pay dengan hanya sebatang jarum sulam saja ternyata dapat menyelinap kian-kemari di antara
mereka bertiga secepat kilat, sedikit pun tiada tanda-tanda akan terkalahkan.
Segera Siangkoan In mencabut goloknya dan maju membantu, keadaan menjadi empat lawan satu sekarang.
Pada saat paling sengit, mendadak Siangkoan In menjerit, goloknya terpental jatuh, orangnya terjungkal
sambil kedua tangan menutup mata kanannya, rupanya sebelah matanya telah tertusuk buta oleh jarum
Tonghong Put-pay.
Melihat serangan kedua temannya bertambah hebat, Tonghong Put-pay tiada kesempatan melakukan serangan
padanya, segera Lenghou Tiong hidupkan pedangnya, selalu menusuk tempat-tempat mematikan di tubuh
musuh.
Kalau menilai ilmu pedang Lenghou Tiong, meski tokoh-tokoh seperti Tiong-hi Totiang yang terhitung jago
pedang nomor wahid juga tidak mampu menahan serangan Tokko-kiu-kiam yang lihai itu, namun Tonghong
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Put-pay benar-benar luar biasa, dia bergerak ke sana dan melayang ke sini dengan enteng dan gesit laksana
setan saja. Setiap kali tusukan Lenghou Tiong selalu mengarah tempat yang tak terjaga, tapi gerak tubuh
Tonghong Put-pay terlalu cepat, pada detik-detik terakhir selalu dapat menghindarkan diri.
Sejenak kemudian, tiba-tiba Hiang Bun-thian menjerit perlahan, menyusul Lenghou Tiong juga berteriak
tertahan, badan kedua orang sama-sama terkena tusukan jarum Tonghong Put-pay.
Walaupun ilmu “Gip-sing-tay-hoat” yang diyakinkan Yim Ngo-heng sangat tinggi, namun gerak tubuh Tonghong
Put-pay terlalu cepat, sukar untuk beradu tangan dengan dia, pula senjata lawan itu cuma sebatang jarum
sulam, untuk menyedot tenaga dalamnya melalui jarum sekecil itu terang tidak mungkin.
Tidak lama kemudian, Yim Ngo-heng juga berteriak perlahan, dada dan tenggorokannya juga terkena tusukan
jarum, untung saat itu Lenghou Tiong sedang menyerang dengan gencar sehingga Tonghong Put-pay terpaksa
harus membela diri, maka tusukan jarumnya kurang tepat atau kurang dalam menusuknya.
Empat orang mengerubuti Tonghong Put-pay sendirian, tapi keempat orang tidak mampu menyentuh bajunya
sekali pun, sebaliknya keempat orang malah kena ditusuk oleh jarumnya.
Menyaksikan itu, Ing-ing menjadi khawatir, bila jarum itu berbisa, maka akibatnya sukar dibayangkan nanti.
Pikirnya, “Tampaknya dengan satu lawan tiga tokoh Tonghong Put-pay tetap lebih unggul, kalau aku ikut maju
mungkin malah akan mengganggu belaka dan mempercepat kemenangan lawan.”
Sekilas Ing-ing melihat Nyo Lian-ting telah duduk di tepi ranjang dan sedang mengikuti pertarungan sengit itu.
Tiba-tiba tergerak hati Ing-ing, perlahan-lahan ia menggeser ke sana, secara mendadak ia angkat pedang
pendek di tangan kiri terus menikam, tepat bahu kanan Nyo Lian-ting tertusuk.
Karena tidak tersangka-sangka, Nyo Lian-ting menjerit kaget dan kesakitan. Tapi menyusul Ing-ing menambahi
satu tusukan lagi, sekali ini pada pahanya.
Rupanya Nyo Lian-ting dapat mengetahui maksud tujuan Ing-ing yang inginkan suara jeritannya untuk
memencarkan perhatian Tonghong Put-pay, maka dia tidak menjerit lagi, sebaliknya ia menahan sakit
sebisanya.
“Kau mau menjerit tidak? Akan kupotong jari tanganmu satu per satu!” ancam Ing-ing sambil ayun pedangnya,
benar juga sepotong jari musuh segera ditebasnya.
Di luar dugaan Nyo Lian-ting itu memang bandel, biarpun terluka di sana-sini dan jarinya putus pula, namun
sedikit pun ia tidak bersuara.
Namun begitu jeritan pertamanya tadi toh sudah didengar oleh Tonghong Put-pay. Ia sempat melirik dan
melihat Ing-ing mendekati dan sedang mengancam Nyo Lian-ting, keruan ia menjadi khawatir dan gelisah,
tanpa pikir ia terus menubruk ke arah Ing-ing memaki, “Budak keparat!”
Cepat Ing-ing mengegos, ia tidak tahu apakah gerakan demikian dapat menghindarkan tusukan jarum
Tonghong Put-pay. Dalam pada itu dengan cepat sekali pedang Lenghou Tiong dan Yim Ngo-heng juga telah
menusuk ke punggung Tonghong Put-pay. Sedangkan cambuk Hiang Bun-thian menyabet ke atas kepala Nyo
Lian-ting.
Ternyata Tonghong Put-pay sama sekali tidak memikirkan keselamatan sendiri, ia tidak berusaha menangkis
tusukan-tusukan pedang dari belakang itu, sebaliknya jarum terus membalik, “crit”, tepat dada Hiang Bunthian
tertusuk.
Kontan sekujur badan Hiang Bun-thian terasa kesemutan, cambuk jatuh ke lantai. Pada saat itu pula kedua
pedang Lenghou Tiong dan Yim Ngo-heng juga telah menubles ke dalam punggung Tonghong Put-pay. Dengan
tubuh tergetar Tonghong Put-pay menubruk ke atas badan Nyo Lian-ting.
Yim Ngo-heng sangat girang, ia tarik pedangnya, lalu ujung pedang mengancam di belakang leher Tonghong
Put-pay sambil membentak, “Tonghong Put-pay, akhirnya sekarang kau jatuh di tanganku!”
Sementara itu Ing-ing belum lagi pulih dari cemasnya, kedua kakinya terasa lemas, tubuh sempoyongan
hendak roboh. Cepat Lenghou Tiong memayangnya, dilihatnya satu jalur kecil berdarah menetes di pipi kiri si
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
nona.
“Kau telah banyak terluka oleh jarumnya,” kata Ing-ing malah. Ia terus mengusap muka Lenghou Tiong dengan
lengan bajunya, maka tertampaklah berbintik-bintik darah memenuhi lengan baju itu.
Biarpun tidak mengaca juga Lenghou Tiong tahu mukanya sendiri telah banyak dicocok oleh jarum lawan.
Dilihatnya kedua luka di punggung Tonghong Put-pay mengucurkan darah dengan deras, nyata lukanya sangat
parah, tapi mulutnya toh masih berseru, “Adik Lian, O, Adik Lian, kawanan manusia jahat ini telah menganiaya
kau, kejam sekali mereka ini!”
Nyo Lian-ting menjadi marah malah, omelnya, “Biasanya kau suka sombong, katanya ilmu silatmu tiada
tandingannya di seluruh jagat, mengapa sekarang kau tidak mampu membunuh keparat-keparat ini?”
“Aku... aku sudah berbuat sekuat tenaga, namun ilmu silat me... mereka rata-rata sangat... sangat tinggi,”
jawab Tonghong Put-pay dengan suara lemah. Mendadak ia sempoyongan terus terguling di tanah.
Khawatir lawan akan melompat bangun dan menyerang lagi, segera Yim Ngo-heng mengayun pedangnya
sehingga paha kiri Tonghong Put-pay terbacok.
“Yim-kaucu,” kata Tonghong Put-pay dengan menyengir, “akhirnya kau yang menang, aku sudah kalah.”
“Dan namamu yang hebat itu tentunya harus diganti, bukan?” sahut Yim Ngo-heng dengan terbahak-bahak.
“Tidak, buat apa diganti?” ujar Tonghong Put-pay sambil menggeleng. “Meski aku sudah kalah, tapi juga takkan
hidup lagi di dunia ini. Coba... coba kalau bertempur satu lawan satu, kau pasti tak bisa mengalahkan aku.”
Yim Ngo-heng tertegun, jawabnya kemudian, “Benar, ilmu silatmu memang lebih tinggi daripadaku, aku kagum
padamu.”
“Lenghou Tiong, ilmu pedangmu memang sangat tinggi, tapi kalau satu lawan satu kau pun bukan
tandinganku,” kata Tonghong Put-pay pula.
“Betul,” jawab Lenghou Tiong. “Padahal biarpun kami berempat mengeroyok kau sekaligus juga tak dapat
mengalahkan kau. Soalnya kau mengkhawatirkan orang she Nyo itu sehingga perhatianmu terpencar dan
akhirnya dirobohkan. Ilmu silatmu sungguh luar biasa dan pantas disebut ‘nomor satu di dunia ini’. Cayhe
benar-benar sangat kagum.”
“Kalian berdua berani bicara demikian, hal ini memperlihatkan sifat kesatria sejati kalian,” kata Tonghong Putpay
dengan tersenyum. “Ai, sungguh sebal. Aku telah meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian itu, aku meramu
dan minum obatnya, aku menurutkan resep rahasia di dalam kitab itu pula sehingga kebiri diri sendiri dan
berlatih lwekangnya, lambat laun kumis jenggotku menjadi kelimis, suaraku berubah, watakku juga berubah.
Aku tidak suka pada perempuan lagi, tapi... tapi mencurahkan perhatian kepada laki-laki gagah seperti Nyo
Lian-ting ini. Semua ini bukankah sangat aneh? Meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian itu entah
mendatangkan bahagia atau kemalangan, tapi kalau aku dilahirkan sebagai wanita tentu akan sangat baik.
Yim-kaucu, segera aku... aku akan mati, ingin kumohon se... sesuatu padamu, harap engkau sudi... sudi
meluluskan.”
“Urusan apa?” tanya Yim Ngo-heng.
“Harap kau suka mengampuni jiwa Nyo Lian-ting, usir saja dia pergi dari Hek-bok-keh ini,” pinta Tonghong Putpay.
“Mana boleh,” jawab Ngo-heng. “Aku justru akan mengiris-iris dagingnya, akan kumampuskan dia dalam waktu
seratus hari, ini hari kupotong jari tangannya, esok pagi kutebas jari kakinya dan....”
“Ke... kejam amat kau!” mendadak Tonghong Put-pay berteriak sambil melompat bangun terus menubruk ke
arah Yim Ngo-heng.
Walaupun dalam keadaan terluka parah, namun tubrukan itu tetap sangat dahsyat. Yim Ngo-heng sempat
memapaknya dengan tusukan pedang sehingga dari dada menembus ke punggung. Tapi pada saat yang sama
Tonghong Put-pay menjentik jarinya, jarum yang dipegangnya itu terus menyambar ke depan dan menancap di
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
tengah mata kanan Yim Ngo-heng. Untung waktu itu kekuatan Tonghong Put-pay sudah lemah, kalau tidak
bukan mustahil jarum itu akan terus menembus ke dalam otak dan jiwa akan melayang. Namun begitu biji
mata kanan Yim Ngo-heng itu jelas sudah rusak, pasti akan buta sebelah.
Cepat Ing-ing mendekati sang ayah, dilihatnya ekor jarum yang tertampak dari luar hanya sebagian kecil saja,
ternyata jarum itu hampir seluruhnya menancap ke dalam rongga mata. Segera ia mencari bingkai sulam yang
dibuang Tonghong Put-pay tadi, dari situ dilolosnya seutas benang, dengan hati-hati ia menyusup mata jarum
dengan benang itu, kemudian ia pegang kedua ujung benang, lalu dicabut.
Yim Ngo-heng menjerit, jarum itu telah tercabut keluar dan tergantung di bawah benang dengan membawa
beberapa tetes darah.
Dengan murka Yim Ngo-heng ayun sebelah kakinya, mayat Tonghong Put-pay itu ditendang sekerasnya.
Kontan mayat itu mencelat, “blang”, dengan tepat menabrak kepala Nyo Lian-ting. Tendangan Yim Ngo-heng di
waktu kalap itu sungguh luar biasa, kepala Tonghong Put-pay dan kepala Nyo Lian-ting saling bentur, keruan
kepala pecah dan otak hancur.
Yim Ngo-heng telah dapat membalas dendam dan rebut kembali kedudukan Kaucu Tiau-yang-sin-kau, akan
tetapi lantaran itu pula telah kehilangan sebelah matanya, seketika rasa girang dan murka berkecamuk, ia
menengadah dan bergelak tertawa keras-keras, suaranya menggetar sukma.
“Selamatlah Kaucu telah dapat membalas dendam, sejak kini agama kita di bawah pimpinan Kaucu tentu akan
makin berkembang. Semoga Kaucu panjang umur dan merajai jagat,” kata Siangkoan In.
Kalau tadinya Yim Ngo-heng merasa risi oleh istilah-istilah sanjung puji itu, tapi sekarang tiba-tiba merasa
syur, kalau benar bisa panjang umur dan merajai jagat ini sungguh suatu kebahagiaan orang hidup. Karena itu
kembali ia bergelak tertawa pula, tertawa yang puas dan senang.
Sementara itu Hiang Bun-thian yang dadanya tertutuk oleh jarum Tonghong Put-pay, setelah mengalami
kesemutan sebentar, sekarang keadaannya sudah pulih kembali, segera ia pun mengucapkan selamat kepada
sang kaucu.
“Pertarungan yang menentukan ini kau pun berjasa besar,” kata Yim Ngo-heng dengan tertawa, lalu ia
berpaling kepada Lenghou Tiong, “Anak Tiong juga tak terhingga jasanya.”
“Tapi kalau Ing-ing tidak mengerjai Nyo Lian-ting, mungkin tidaklah mudah untuk mengalahkan Tonghong Putpay,”
ujar Lenghou Tiong. “Untunglah jarumnya itu tidak berbisa.”
Dengan perasaan yang belum tenang akan pertarungan sengit tadi, Ing-ing berkata, “Sudahlah, tak perlu
dibicarakan lagi. Dia ini bukan manusia, tapi siluman. Waktu kecil sering aku dipondongnya dan diajak pergi
jalan-jalan ke gunung dan memetik buah segala, siapa tahu akhirnya dia berubah menjadi begini.”
Dari baju Tonghong Put-pay dapatlah Yim Ngo-heng merogoh keluar sejilid buku yang tipis dan tampaknya
sudah kuno. Diacungkannya buku itu dan berkata, “Inilah buku yang disebut ‘Kui-hoa-po-tian’. Di atas jelas
tercatat: Ingin meyakinkan ilmu sejati, ambil pisau kebiri diri sendiri. Haha, masakah aku begitu bodoh mau
melakukan perbuatan tolol demikian...” sampai di sini mendadak ia menggumam, “akan tetapi ilmu silat yang
tertulis di atas kitab ini memang amat lihai, setiap orang persilatan tentu akan tertarik bila membacanya.
Tatkala mana untung aku sudah berhasil meyakinkan Gip-sing-tay-hoat, kalau tidak bukan mustahil aku pun
akan meyakinkan ilmu yang tertera di dalam kitab ini.”
Dia mendepak satu kali pula pada mayat Tonghong Put-pay, katanya dengan tertawa, “Hah, biarpun kau licin
seperti setan juga tidak tahu maksud tujuanku memberikan kitab ini padamu. Ambisimu besar, semangatmu
menyala-nyala, dan bermaksud naik ke atas, memangnya kau kira aku tidak tahu watakmu itu. Hahahahaha!”
Hati Lenghou Tiong terkesiap, baru sekarang ia tahu kiranya tujuan Yim-kaucu memberikan Kui-hoa-po-tian
kepada Tonghong Put-pay bukanlah timbul dari maksud baik, tapi keduanya sama-sama punya rencana dan
tujuan tertentu. Dilihatnya mata kanan Yim Ngo-heng yang terluka itu masih meneteskan darah, ditambah lagi
dia mengakak dengan mulut lebar, tampangnya menjadi lebih beringas dan menyeramkan.
Tiba-tiba Yim Ngo-heng meraba selangkangan Tonghong Put-pay, benar juga terasa kedua “bola wasiat” di
bagian situ sudah lenyap, memang betul sudah dikebiri. Dengan tertawa ia berkata pula, “Bila kaum thaykam
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
(orang kasim) yang meyakinkan ilmu dalam kitab ini tentulah sangat tepat.”
Habis berkata ia remas-remas kitab pusaka itu dan digosok-gosok dengan kedua tangan, ketika kemudian ia
membuka kedua tangannya, bertaburanlah kertas kecil-kecil, hancurlah kitab yang sudah amat kuno dan lapuk
itu.
Ing-ing mendesis lega, katanya perlahan, “Benda celaka begitu memang paling baik dihancurkan saja.”
“Apa kau khawatir aku juga meyakinkan ilmunya?” kata Lenghou Tiong dengan perlahan.
“Cis, bicara tak keruan!” omel Ing-ing dengan muka merah. Lalu ia mengeluarkan obat luka untuk membubuhi
luka-luka ayahnya, Siangkoan In dan lain-lain.
Begitulah Yim Ngo-heng berlima lantas keluar dari kamar Tonghong Put-pay itu dan kembali ke balairung. Yim
Ngo-heng memberikan perintah agar para tongcu, hiangcu, dan pimpinan lain datang menghadap. Dengan
berduduk di atas singgasana kaucu, Yim Ngo-heng merasa Tonghong Put-pay memang pintar dan bisa
menikmati hidupnya sebagai seorang kaucu yang dipuja. Dengan duduk tinggi di atas podium, jaraknya cukup
jauh dari bawahan yang datang menghadap, dengan sendirinya lantas timbul rasa jeri dan hormat anak
buahnya.
“Coba kemarilah, Anak Tiong,” ia memanggil Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong lantas mendekatinya.
“Anak Tiong,” kata Yim Ngo-heng pula, “ketika di Hangciu dahulu aku pernah mengajak kau supaya masuk
agama kita. Waktu itu aku sendirian dan baru lepas dari kesukaran, apa-apa yang kukatakan tentunya tak bisa
kau percayai, tapi sekarang aku benar-benar telah duduk kembali di atas singgasana kaucu, maka urusan
pertama tiada lain tetap persoalan dahulu...” sampai di sini ia tepuk-tepuk tempat duduknya dan menyambung
pula, “tempat ini lambat atau cepat tentu juga akan kau duduki. Hahahahaha!”
“Kaucu,” jawab Lenghou Tiong, “betapa baik budi Ing-ing padaku, apa yang engkau kehendaki atas diriku
sepantasnya tidak dapat kutolak. Cuma aku sudah berjanji kepada orang akan menyelesaikan sesuatu urusan
penting, maka tentang masuk agama terpaksa tidak dapat kupenuhi.”
Perlahan-lahan kedua alis Yim Ngo-heng menegak, katanya dengan suara dingin, “Apa akibatnya bagi orang
yang tidak tunduk kepada keinginanku, tentu kau cukup tahu!”
Cepat Ing-ing mendekati Lenghou Tiong dan memegang tangannya, katanya, “Ayah, hari ini adalah hari
bahagiamu karena menduduki kembali singgasanamu, kenapa mesti ribut urusan soal kecil ini? Tentang
masuknya dia ke dalam agama kita biarlah dibicarakan kelak saja.”
Dengan mata kirinya Yim Ngo-heng melerok kepada kedua muda-mudi itu, dengusnya kemudian, “Ing-ing,
sekarang yang kau inginkan cuma suami dan tidak mau ayah lagi ya?”
Cepat Hiang Bun-thian menengahi dengan tertawa, “Kaucu, Lenghou-hiante adalah kesatria muda yang
berwatak kukuh, biarlah nanti kuberi pengertian padanya....”
Bicara sampai di sini, terdengarlah di luar balairung suara belasan orang berseru berbareng, “Para tongcu dan
hiangcu dengan ini menyampaikan sembah bakti kepada Kaucu mahaagung dan mahabijaksana, semoga Kaucu
panjang umur dan....” begitulah disertai istilah-istilah sanjung puji yang muluk-muluk.
“Masuk!” bentak Yim Ngo-heng.
Maka muncullah belasan laki-laki kekar ke dalam balairung, serentak berlutut dan menyembah secara berjajarjajar.
Dahulu ketika Yim Ngo-heng menjabat kaucu selamanya ia saling sebut saudara dengan para anggota Tiauyang-
sin-kau, di waktu bertemu dan memberi hormat paling-paling juga cuma soja (dengan mengepal kedua
tangan di depan dada) melulu. Kini melihat orang-orang itu sama menyembah padanya, cepat Yim Ngo-heng
berbangkit dan bermaksud mencegah. Tapi tiba-tiba terpikir olehnya bahwa seorang pimpinan harus berwibawa
dan mengadakan peraturan-peraturan yang mengikat, kalau Tonghong Put-pay sudah mengadakan tata cara
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menyembah segala, apa salahnya peraturan ini diteruskan. Karena pikiran ini ia urung mencegah dan duduk
kembali di tempatnya.
Tidak lama, kembali suatu rombongan lain masuk memberi hormat, sekali ini Yim Ngo-heng tidak berdiri lagi,
penghormatan itu diterimanya dengan senang hati sambil manggut-manggut.
Sementara itu Lenghou Tiong sudah mengundurkan diri ke ambang pintu balairung, jaraknya sudah jauh
dengan singgasana sang kaucu, cahaya lilin juga remang-remang, dipandang dari jauh wajah Yim Ngo-heng
tampak samar-samar, tiba-tiba timbul pikirannya, “Yang duduk di atas singgasana itu Yim Ngo-heng atau
Tonghong Put-pay? Apa sih bedanya di antara mereka?”
Didengarnya para tongcu dan hiangcu di balairung itu ramai memberikan pujian-pujian kepada sang kaucu.
Rupanya di antaranya banyak yang ketakutan karena selama belasan tahun ini mereka mengabdi kepada
Tonghong Put-pay, kalau sekarang Yim-kaucu mengusut perbuatan mereka itu tentu bisa celaka. Sebagian lagi
mungkin adalah orang baru, hakikatnya mereka tidak kenal siapa Yim Ngo-heng, tapi mereka sudah biasa
menyanjung dan mengumpak Tonghong Put-pay serta Nyo Lian-ting agar terhindar dari bahaya dan mungkin
malah bisa naik pangkat, maka seperti biasa mereka pun berteriak-teriak memuja untuk menarik perhatian
kaucu baru.
Saat itu sang surya sudah menongol di ufuk timur, sinarnya yang lembut menembus ke dalam balairung
sehingga tertampak bayangan punggung ratusan orang yang berlutut di situ sedang menyerukan puja-puji
yang memualkan, pikir Lenghou Tiong, “Sebenarnya kalau aku sudah menyelesaikan urusan Ngo-gak-kiampay,
bila Ing-ing berkeras minta aku masuk Tiau-yang-sin-kau, rasanya sukar bagiku untuk menolaknya. Tapi
kalau aku diharuskan berbuat seperti ratusan orang ini, betapa pun aku tidak sanggup. Semula kukira tingkah
laku demikian ini adalah permainan Tonghong Put-pay dan Nyo Lian-ting yang bertujuan menyiksa anak
buahnya, tapi melihat gelagatnya sekarang Yim-kaucu juga sangat senang dipuji, sedikit pun tidak merasa risi.”
Dalam pada itu terdengar suara gelak tertawa Yim Ngo-heng berkumandang dari ujung balairung sana,
katanya, “Tentang segala perbuatan kalian di bawah pimpinan Tonghong Put-pay telah diketahui dengan jelas
dan telah kucatat satu per satu. Namun sang kaucu takkan mengusut kejadian yang sudah-sudah, asalkan
selanjutnya kalian setia dan berbakti kepada sang kaucu. Tapi bila ada seorang yang berani membangkang dan
berkhianat, maka dosa yang sudah-sudah akan sekaligus dituntut. Seorang bersalah, segenap keluarganya ikut
bertanggung jawab dan dihukum mati semua.”
Serentak orang-orang itu menyatakan terima kasih mereka atas kemurahan hati sang kaucu serta menyatakan
kesetiaan mereka selanjutnya. Dari suara mereka yang gemetar itu jelas dalam hati mereka itu sangat takut.
Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Cara Yim-kaucu tiada ubahnya seperti Tonghong Put-pay, menegakkan
wibawa dengan kekerasan, meski lahirnya orang-orang itu tunduk, tapi dalam hati tentu memberontak, lalu
dari mana ‘kesetiaan’ mereka bisa dipercayakan?”
Menyusul lantas ada orang membongkar dosa Tonghong Put-pay, katanya bekas kaucu itu terlalu memercayai
Nyo Lian-ting dan main bunuh secara sewenang-wenang. Ada pula yang mengadu, katanya Tonghong Put-pay
suka korupsi, menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadi. Ada lagi yang mengoceh, katanya ilmu silat
Tonghong Put-pay sebenarnya sangat rendah, tapi suka berlagak dan main gertak melulu. Yang paling
menggelikan ialah pengaduan seorang yang katanya Tonghong Put-pay sangat cabul, suka main perempuan
dan memerkosa anak istri anak buahnya.
Padahal sudah jelas Tonghong Put-pay demi untuk meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian, maka dia telah
kebiri alat kelamin sendiri sehingga sudah jadi banci, dengan cara bagaimana dia bisa main perempuan dan
perkosa anak istri orang? Sungguh terlalu lucu. Saking gelinya Lenghou Tiong sampai terbahak-bahak sehingga
suaranya berkumandang memenuhi balairung itu. Semua orang terkesiap dan menoleh ke arahnya dengan
mata melotot gusar.
Ing-ing tahu kekasihnya telah menimbulkan onar, lekas ia tarik tangan Lenghou Tiong, katanya, “Mereka
sedang membicarakan urusan Tonghong Put-pay, tiada sesuatu yang menarik, marilah kita turun ke bawah
saja.”
“Ya, jangan-jangan ayahmu menjadi marah dan kepalaku dipenggal,” ujar Lenghou Tiong dengan menjulurkan
lidah. Segera mereka keluar dari balairung dan turun ke bawah dengan keranjang kerekan.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Mereka berdua duduk bersanding di dalam keranjang, awan putih mengambang di sekeliling mereka, Lenghou
Tiong merasa apa yang baru terjadi itu sebagai mimpi saja. Ia pikir selanjutnya betapa pun aku takkan naik ke
atas Hek-bok-keh lagi.
“Apa yang sedang kau renungkan, Engkoh Tiong?” tanya Ing-ing tiba-tiba.
“Apakah kau mau pergi bersama aku?” kata Lenghou Tiong.
Muka Ing-ing menjadi merah, jawabnya dengan tergagap, “Tapi kita belum... belum lagi menikah, mana boleh
aku ikut pergi dengan kau?”
“Bukankah dahulu kau pun ikut aku berkelana di dunia Kang-ouw?” ujar Lenghou Tiong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar