Selasa, 10 April 2018

cerita Silat Cersil Hina Kelana Bab 85-90

Cersil Hina Kelana Bab 85-90, cerita Silat Cersil Hina Kelana Bab 85-90

Bab 85. Rahasia-rahasia di Dalam Hoa-san-pay
Karena Gak Put-kun enggan memberi bantuan dan tidak setia kawan sebagai sesama orang Kangouw, apalagi
sesama orang Ngo-gak-kiam-pay, maka anak murid Hing-san-pay sama mendongkol.
Kata Gi-lim kemudian, “Lenghou-toako, harap kau merawat lukamu di hotel kemarin itu. Setelah kami
menyelamatkan suhu dan supek tentu kami akan datang lagi menjenguk kau.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Mendadak Lenghou Tiong berteriak, “Kembali ada kawanan penjahat mengacau lagi, mana boleh ciangkunmu
berpeluk tangan? Hayo kita berangkat bersama untuk menolong orang!”
“Tapi ... tapi kau terluka, cara bagaimana kau sanggup menempuh perjalanan jauh?” ujar Gi-lim.
“Seorang ciangkun sudah biasa berkecimpung di medan perang, apa artinya cuma luka kecil begini,” seru
Lenghou Tiong. “Hayolah berangkat, lekas!”
Sebenarnya anak murid Hing-san-pay tidak yakin akan mampu menyelamatkan guru mereka, sekarang
Lenghou Tiong mau pergi bersama, tentu saja menambah keberanian mereka.
“Jika demikian, Wanpwe sekalian mohon diri,” kata Gi-jing terhadap Gak Put-kun dan istrinya.
Dengan marah-marah Gi-ho mengomel, “Hm, orang begini buat apa sungkan-sungkan dengan dia? Hanya
buang-buang waktu saja. Sama sekali tidak punya rasa setia kawan, hanya bernama kosong belaka!”
“Sumoay, jangan banyak omong!” bentak Ih-soh.
Gak Put-kun hanya tersenyum saja dan anggap tidak dengar. Sebaliknya Lo Tek-nau lantas melompat maju
karena gurunya dihina, bentaknya, “Mulutmu yang kotor itu bilang apa? Ngo-gak-kiam-pay kita mestinya
senapas sehaluan, tapi kalian telah berkomplot dengan iblis Mo-kau seperti Lenghou Tiong ini, perbuatan kalian
mencurigakan, sudah tentu setiap tindakan harus dipertimbangkan guruku. Jika kalian mau membunuh dulu
iblis Lenghou Tiong itu sebagai tanda kebersihan kalian, kalau tidak Hoa-san-pay kami tidak sudi ikut
berkomplot dengan kalian.”
Gi-ho menjadi gusar, ia melangkah maju dengan meraba pedang dan berseru, “Apa maksudmu dengan katakata
‘ikut berkomplot’ segala?”
“Kalian bersekongkol dengan Mo-kau, itu berarti berkomplot,” sahut Lo Tek-nau.
“Lenghou-tayhiap ini ada seorang kesatria berbudi, seorang pahlawan sejati, mana dia seperti kalian yang
menganggap diri sendiri sebagai kesatria, tapi sesungguhnya adalah manusia-manusia palsu yang berjiwa
rendah!” jawab Gi-ho dengan gusar.
Seperti diketahui Gak Put-kun berjuluk “Kun-cu-kiam” (Pedang Laki-laki Sejati), maka anak murid Hoa-san-pay
paling sirik jika ada orang mengatakan “laki-laki palsu” atau manusia palsu. Keruan Lo Tek-nau lantas melolos
pedang terus menusuk ke leher Gi-ho.
Gi-ho tidak menduga akan diserang secara mendadak, ia tidak sempat melolos pedang buat menangkis, tahutahu
ujung pedang lawan sudah dekat lehernya. Ia menjerit kaget. Tapi berbareng sinar pedang berkelebat,
tujuh pedang sekaligus telah menyerang juga ke arah Lo Tek-nau.
Cepat Lo Tek-nau hendak menangkis, namun hanya pedang yang menusuk ke dadanya itu saja yang kena
ditangkis, pada saat yang sama terdengar suara robeknya kain, enam pedang murid Hing-san-pay sudah
membuat bajunya robek enam tempat, setiap robekan itu ada belasan senti panjangnya. Untung murid-murid
Hing-san-pay itu tidak bermaksud mencabut nyawanya sehingga serangan mereka lantas ditarik kembali ketika
menyentuh bajunya. Hanya kepandaian The Oh yang lebih cetek dan kurang jitu gerakannya sehingga sesudah
merobek lengan baju kanan Lo Tek-nau, ujung pedangnya masih melukai lengannya.
Sungguh kaget Lo Tek-nau tak terkatakan, lekas-lekas ia melompat mundur. Mendadak dari dalam bajunya
terjatuh sejilid buku. Di bawah cahaya matahari yang terang semua orang dapat membaca jelas di sampul
buku itu tertulis empat huruf “Ci-he-pit-kip”.
Seketika air muka Lo Tek-nau tampak berubah hebat, buru-buru ia hendak menjemput kembali bukunya yang
jatuh itu. Tapi Lenghou Tiong sempat berseru, “Cegah dia!”
Saat itu Gi-ho sudah melolos pedangnya, “sret-sret-sret”, kontan ia menusuk tiga kali sehingga Lo Tek-nau
terpaksa menangkis dan tidak mampu maju lagi.
“Ayah, mengapa kitab pusaka kita itu bisa berada pada jisuko?” tanya Gak Leng-sian kepada Gak Put-kun.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong lantas berteriak, “Lo Tek-nau, kau yang mencelakai jiwa laksute bukan?”
Seperti diketahui di puncak Hoa-san dahulu, murid keenam. Hoa-san-pay yaitu Liok Tay-yu terbunuh secara
misterius, serta hilangnya “Ci-he-pit-kip”, kedua hal itu sampai kini masih menjadi teka-teki yang belum
terpecahkan. Tak terduga sesudah baju Lo Tek-nau dirobek-robek oleh tusukan pedang anak murid Hing-sanpay,
mendadak kitab pusaka Hoa-san-pay yang hilang itu bisa jatuh ke luar dari baju Lo Tek-nau.
Terdengar Lo Tek-nau menjawab, “Ngaco-belo!”
Habis itu mendadak ia berlari ke kiri terus menyusup masuk sebuah jalan kecil dan menghilang.
Dengan murka Lenghou Tiong lantas mengudak, tapi baru beberapa langkah saja sudah tidak tahan, badannya
sempoyongan terus roboh.
Cepat Gi-lim dan The Oh memburu maju untuk memayang bangun.
Gak Leng-sian lantas jemput kitab yang jatuh itu dan diserahkan kepada ayahnya. Katanya, “Ayah, kiranya
jisuko yang mencurinya.”
Muka Gak Put-kun tampak membesi, kitab itu dipegangnya dan diperiksa, memang benar adalah kitab pusaka
perguruan sendiri, untung halamannya masih baik tanpa kerusakan apa pun. Katanya dengan gemas, “Garagaramu,
kau mengambilnya buat orang lain!”
Gi-ho yang bermulut tajam segera menggunakan kesempatan itu untuk mengolok-olok, “Nah, itu namanya
berkomplot dan bersekongkol!”
Dalam pada itu Ih-soh telah mendekati Lenghou Tiong dan bertanya, “Lenghou-tayhiap, bagaimana keada ....?”
“Su ... suteku telah dicelakai olehnya, sayang aku tak bisa mengejar dia,” sahut Lenghou Tiong sambil
menahan rasa sakit.
Tertampak Gak Put-kun dan anak muridnya telah kembali semua ke dalam rumah, pintu depan gedung
piaukiok itu lantas ditutup. Kata Lenghou Tiong, “Gurumu dalam bahaya, urusan tidak boleh tertunda marilah
kita lekas pergi menolongnya. Jahanam Lo Tek-nau itu pada suatu ketika pasti akan jatuh di tanganku.”
“Tapi ... tapi keadaanmu ....” saking terima kasih dan terharunya sehingga Ih-soh tidak tahu apa yang harus
dikatakan.
“Kita lekas pergi ke pasar hewan untuk membeli kuda, tidak perlu tawar-tawar, aku punya cukup uang,” kata
Lenghou Tiong sambil mengeluarkan uang emas perak yang dirampasnya dari Go Thian-tik tempo hari.
Begitulah mereka beramai-ramai lantas menuju ke pasar, asal ada kuda lantas mereka beli tanpa tawar. Tapi
jumlahnya tetap kurang lima ekor. Terpaksa belasan orang murid yang lebih muda menunggang kuda
berduaan dan segera mereka berangkat menuju ke utara.
Kira-kira belasan li di luar Kota Hokciu, tertampak di suatu tanah lapang ada ratusan ekor kuda yang sedang
diumbar dengan dijaga oleh beberapa prajurit, agaknya kuda-kuda itu adalah milik tentara.
“Kita rebut saja kuda-kuda itu,” kata Lenghou Tiong.
“Tapi kuda-kuda itu milik tentara, rasanya tidak pantas,” ujar Ih-soh.
“Paling penting menolong orang, biarpun kuda milik raja juga kita rampas, peduli pantas atau tidak,” kata
Lenghou Tiong.
Gi-ho yang berwatak lugu itu lantas membenarkan dan segera mendahului maju. Ketika Lenghou Tiong
memberi perintah lagi, para murid Hing-san-pay yang sudah kehilangan pimpinan Ting-cing Suthay secara
otomatis lantas menuruti aba-aba Lenghou Tiong. Beramai-ramai mereka menutuk roboh prajurit-prajurit
penjaga itu dan berhasil merampas beberapa ekor kuda.
Dengan tertawa gembira para murid Hing-san-pay yang sebagian besar masih muda belia itu lantas sama tukar
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
kuda militer yang lebih bagus dengan serep pula beberapa ekor.
Menjelang tengah hari sampailah mereka di suatu kota kecil. Penduduk setempat terheran-heran melihat suatu
rombongan nikoh membawa segerombol kuda, di antaranya terdapat pula seorang laki-laki.
Selesai mereka mengisi perut, waktu Gi-jing hendak membayar ternyata uang yang masih ada tidak cukup.
Dengan suara perlahan Gi-jing bicara dengan Lenghou Tiong, “Lenghou-suheng, uang kita sudah habis.”
“Tidak apa-apa,” kata Lenghou Tiong. “The-sumoay, harap kau bersama Ih-soh masing-masing membawa
seekor kuda untuk dijual.”
The Oh mengiakan, bersama Ih-soh pergilah mereka. Sudah tentu rada menggelikan bahwa seorang nona jelita
menjual kuda di pasar. Tapi dasar The Oh memang gadis yang cekatan, tidak lama ia berada di Hokkian sudah
dapat mempelajari beberapa puluh suku kata daerah Hokkian sehingga tidak sukar baginya untuk menjual
kudanya. Tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa uang untuk membayar rekening makanminum
mereka.
Petangnya sampailah mereka di suatu kota pegunungan yang cukup besar. Selesai makan dan membereskan
rekeningnya, sisa uang penjualan kuda siang tadi ternyata tinggal sedikit sekali.
Dengan tertawa The Oh berkata, “Besok pagi kita menjual kuda lagi.”
Tapi Lenghou Tiong lantas membisikinya, “Tidak perlu. Coba kau jalan-jalan keluar, carilah keterangan siapa
hartawan paling kaya dan siapa yang paling jahat di kota ini.”
The Oh manggut-manggut tanda mengerti, segera ia ajak Cin Koan pergi bersama. Selang tidak lama ia telah
kembali dan memberi laporan, “Di kota ini hanya ada seorang hartawan kaya raya she Pek, orang memberi
julukan ‘Pek-pak-bwe’ padanya, dia membuka gadai dan punya toko beras dan lain-lain. Dari julukannya Pekpak-
bwe (tukang menguliti) dapat dibayangkan pasti bukan manusia baik-baik.”
“Ya, malam ini juga kita akan minta derma padanya,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
“Orang demikian pasti sangat pelit, mana bisa dimintai derma?” ujar The Oh.
Tapi Lenghou Tiong hanya tersenyum saja, katanya, “Marilah kita berangkat.”
Sebenarnya hari sudah mulai gelap, tapi mengingat keselamatan guru mereka anak murid Hing-san-pay itu
tidak berani ayal, segera mereka melanjutkan perjalanan.
Beberapa li kemudian, tiba-tiba Lenghou Tiong berkata, “Cukup di sini saja kita mengaso.”
Beramai-ramai mereka lantas berduduk-duduk di tepi sebuah sungai kecil pegunungan.
Selama itu Gi-lim selalu berada di samping Lenghou Tiong, terkadang ia suka tersenyum-senyum sendiri, entah
apa yang sudah dipikirkan, tapi selama itu ia tidak pernah bicara dengan Lenghou Tiong. Baru sekarang tibatiba
ia membuka mulut, “Ba ... bagaimana keadaan lukamu?”
“Tidak apa-apa,” sahut Lenghou Tiong. Lalu ia pejamkan mata untuk mengumpulkan semangat. Agak lama
kemudian barulah ia membuka mata dan berkata kepada Ih-soh dan Gi-ho, “Kalian masing-masing membawa
enam orang sumoay pergi minta derma kepada Pek-pak-bwe. The-sumoay akan menjadi petunjuk jalan bagi
kalian.”
Ih-soh, Gi-ho, dan lain-lain merasa heran, tapi mereka lantas mengiakan.
“Paling sedikit kalian harus minta sumbangan 500 tahil perak, paling baik kalau bisa 2.000 tahil perak,” kata
Lenghou Tiong. “Nanti kita pakai sendiri seribu tahil, selebihnya dapat kita bagi-bagikan kepada orang miskin di
kota ini.”
“Maksudmu kita harus merampas milik yang kaya untuk disedekahkan kepada orang miskin?” tanya Gi-ho.
“Begitulah,” sahut Lenghou Tiong. “Kita sendiri kehabisan sangu dan termasuk kaum rudin, kalau yang kaya
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
tidak memberi sekadar sedekah kepada kaum miskin kita ini, cara bagaimana kita dapat mencapai Liong-coan
To-kiam-kok?”
Mendengar tempat tujuan mereka, seketika para murid Hing-san-pay itu tidak ragu-ragu lagi, serentak mereka
menyatakan setuju.
“Cuma cara minta derma kalian ini lain daripada yang lain,” kata Lenghou Tiong pula. “Setiba di rumah Pekpak-
bwe, kalian harus memakai kedok, di waktu minta derma juga tidak perlu buka suara. Asal melihat emas
perak lantas daulat saja.”
“Kalau dia tidak mau memberi?” tanya The Oh dengan tertawa.
“Jika demikian berarti Pek-pak-bwe itu terlalu tidak tahu diri,” ujar Lenghou Tiong. “Padahal kesatria-kesatria
Hing-san-pay bukanlah orang sembarangan di dunia persilatan. Biasanya biarpun orang memapak kalian
dengan joli digotong delapan orang untuk memberi sedekah kepada kalian toh belum tentu kalian mau datang.
Sekarang Pek-pak-bwe telah didatangi sekaligus oleh 15 tokoh Hing-san-pay, bukankah ini merupakan suatu
kehormatan besar baginya. Tapi, andaikan dia memang kepala batu dan memandang enteng kepada kalian,
maka boleh juga kalian jajal-jajal dia, lihat saja apakah Pek-pak-bwe itu tahan sekali tonjok oleh kepalan halus
The-sumoay?”
Semua orang sama tertawa oleh banyolan Lenghou Tiong ini. Walaupun ada di antaranya yang merasa cara
minta sedekah seperti dirancangkan ini boleh dikata melanggar peraturan perguruan Hing-san-pay, tapi dalam
keadaan kepepet terpaksa mereka tidak dapat berpikir lain lagi. Gi-ho, The Oh, dan lain-lain segera berangkat
pergi.
Waktu menoleh, Lenghou Tiong melihat Gi-lim sedang menatap ke arahnya. Ia tersenyum dan menegur,
“Siausumoay, apakah kau tidak setuju caraku ini?”
Gi-lim menghindari sorot mata Lenghou Tiong, sahutnya dengan perlahan, “Entahlah. Kukira apa yang kau
lakukan tentulah tidak salah lagi.”
“Dahulu ketika aku kepingin makan semangka, bukankah kau pun pernah pergi minta sedekah sebuah?” kata
Lenghou Tiong.
Wajah Gi-lim menjadi merah, teringat olehnya waktu mereka berduaan di tengah ladang semangka dahulu itu.
Pada saat itu pula di ujung langit sana sebuah bintang meteor berkelebat lewat untuk segera lenyap pula.
“Masih ingatkah kau akan kaul yang pernah kau katakan?” tanya Lenghou Tiong.
“Tentu saja masih ingat,” sahut Gi-lim sambil berpaling kembali. “Lenghou-toako, kaul demikian sungguh
manjur.”
“Apakah kaulmu sudah terkabul?” tanya Lenghou Tiong.
Gi-lim menunduk tanpa menjawab. Ia membatin, “Sudah beratus kali aku berkaul semoga dapat bertemu lagi
dengan kau, dan akhirnya terkabul juga sekarang.”
Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh berkumandang suara derapan lari kuda yang cepat, seorang penunggang
kuda tampak datang dari selatan, yaitu arah keberangkatan rombongan Ih-soh dan Gi-ho tadi. Tapi mereka
tidak menunggang kuda perginya, apa mungkin terjadi apa-apa dengan mereka?
Serentak semua orang berdiri sambil memandang ke arah datangnya suara derapan kuda itu. Terdengar suara
seorang perempuan sedang berseru, “Lenghou Tiong! Lenghou Tiong!”
Terguncang hebat hati Lenghou Tiong mendengar suara yang jelas sudah dikenalnya itu, ialah suaranya Gak
Leng-sian. Cepat ia menyahut, “Siausumoay, aku berada di sini!”
Gi-lim tergetar juga, wajahnya pucat dan segera mundur satu-dua langkah ke belakang. Dalam kegelapan
seekor kuda putih tampak dipacu tiba. Kira-kira beberapa meter di tempat orang banyak itu mendadak kuda itu
meringkik sembari berjingkrak berdiri dengan kedua kaki belakang, habis itu baru berhenti. Hal itu jelas
disebabkan Gak Leng-sian menarik tali kekang kudanya.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Melihat datangnya Gak Leng-sian secara tergesa-gesa itu diam-diam Lenghou Tiong merasakan alamat jelek.
Serunya, “Siausumoay, apakah suhu dan sunio baik-baik saja?”
Di atas kudanya wajah Leng-sian hanya tampak sebelah saja secara samar-samar, tapi jelas mukanya
membesi dingin, ia menjawab dengan suara keras, “Siapa sudi menjadi suhu dan suniomu? Apa hubungannya
lagi ayah-ibuku dengan kau?”
Dada Lenghou Tiong serasa digodam orang. Memang Gak Put-kun sangat kereng kepadanya, tapi biasanya
Gak-hujin dan Leng-sian sendiri masih selalu ingat hubungan baik di masa lalu dan cukup ramah padanya.
Sekarang si nona juga bicara secara demikian kasar, hal ini membuat Lenghou Tiong merasa pedih. Katanya
kemudian, “Ya, aku sudah dipecat dan bukan orang Hoa-san-pay lagi, aku tidak berhak memanggil suhu dan
sunio pula.”
“Sudah tahu begitu, mengapa mulutmu masih terus mengoceh?” omel Leng-sian.
Lenghou Tiong menunduk dengan lesu, perasaannya seperti disayat-sayat.
“Mana?” mendadak Leng-sian mendengus sambil menyodorkan sebelah tangannya.
Keruan Lenghou Tiong bingung. “Apa?” tanyanya lemah.
“Sampai sekarang kau masih berlagak pilon? Apa kau sangka dapat mengelabui aku?” kata Leng-sian.
Mendadak ia perkeras suaranya dan menambahkan, “Serahkan!”
“Aku tidak paham, apa yang kau kehendaki?” tanya Lenghou Tiong sambil menggeleng.
“Apa yang kuhendaki? Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim!” seru Leng-sian.
“Pi-sia-kiam-boh? Mengapa kau memintanya padaku?” sahut Lenghou Tiong heran.
“Tidak minta padamu, habis minta kepada siapa?” jengek Leng-sian. “Ingin kutanya kau, siapakah yang
merampas kasa dari tempat kediaman lama keluarga Lim itu?”
“Itu perbuatan dua orang Ko-san-pay yang disebut Pek-thau-sian-ong Bok Sim dan seorang lagi bernama Tuteng
Soa Thian-kang.”
“Benar. Dan kedua keparat Ko-san-pay itu dibunuh oleh siapa?”
“Aku, aku yang membunuh mereka,” sahut Lenghou Tiong tegas.
“Dan kasa itu kemudian diambil oleh siapa?”
“Aku!”
“Bagus! Sekarang serahkan kasa itu!”
“Tapi se ... sesudah aku terluka dan jatuh pingsan, syukur aku telah ditolong oleh su ... oleh ibumu.
Selanjutnya kasa itu tidak berada padaku lagi.”
“Haha!” tiba-tiba Leng-sian mengakak sambil menengadah, tapi tanpa sedikit pun nada tertawa. “Ucapanmu ini
seakan-akan hendak mengatakan ibu telah makan barangmu itu bukan? Huh, bisa saja kau mengucapkan katakata
yang demikian kotor dan tidak tahu malu.”
“Aku sekali-kali tidak mengatakan ibumu telah menggelapkan kasa itu. Tuhan menjadi saksi, dalam hatiku
sedikit pun tiada punya perasaan kurang hormat kepada ibumu. Yang kumaksudkan adalah ... adalah ....”
“Apa?” Leng-sian menegas.
“Yang kumaksudkan adalah sesudah ibumu melihat kasa itu dan mengetahuinya sebagai milik keluarga Lim,
dengan sendirinya barang itu akan dikembalikan kepada Lim-sute.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Mana mungkin ibu akan menggeledah barang bawaanmu? Seumpama akan dikembalikan kepada Lim-sute
juga ibu akan menunggu setelah kau siuman supaya kau mengembalikannya sendiri kepada Lim-sute
mengingat barang itu adalah hasil perebutanmu secara mati-matian. Mana bisa ibu tidak memikirkan akan hal
demikian?”
“Benar juga ucapannya. Apa barangkali kasa itu telah dicuri orang pula?” demikian pikir Lenghou Tiong. Karena
khawatirnya, seketika keringat dingin merembes keluar. Katanya kemudian, “Jika begitu, tentu di dalam hal itu
ada kejadian lain lagi.”
Lalu ia sengaja mengebas bajunya sendiri dan menambahkan, “Seluruh barangku adalah di sini semua, jika kau
tidak percaya boleh kau menggeledah badanku.”
Kembali Leng-sian tertawa dingin, katanya, “Kau ini licin dan licik, barang yang sudah kau ambil masakan akan
kau simpan di badanmu sendiri? Lagi pula di sekitarmu ada sedemikian banyak hwesio dan nikoh serta
perempuan yang tidak keruan ini, tentu semuanya akan bantu menyembunyikannya bagimu.”
Caranya Gak Leng-sian menanyai Lenghou Tiong seperti hakim tanya terdakwa, memangnya anak murid Hingsan-
pay sejak tadi sudah merasa jengkel, sekarang si nona menyinggung mereka dengan kata-kata kasar,
keruan mereka serentak membentak-bentak, “Ngaco-belo!”
“Apa maksudmu dengan perempuan tidak keruan?”
“Di sini mana ada hwesio?”
“Kau sendirilah perempuan tidak genah!”
Leng-sian juga tidak gentar, sambil meraba pedangnya ia menjawab, “Kalian adalah orang beragama, tapi
siang malam selalu mengelilingi seorang laki-laki, apakah kelakuan demikian bukankah tidak keruan? Cis, tidak
tahu malu!”
Murid-murid Hing-san-pay itu menjadi gusar, berbareng tujuh-delapan orang di antaranya lantas melolos
pedang.
“Sret”, Leng-sian juga lantas lolos pedangnya, serunya, “Bagaimana? Kalian ingin main kerubut bukan?
Hayolah maju! Jika Nona Gak gentar bukanlah murid Hoa-san-pay!”
Cepat Lenghou Tiong memberi tanda untuk mencegah tindakan murid-murid Hing-san-pay lebih lanjut. Ia
menghela napas, katanya kepada Leng-sian, “Jika kau telah mencurigai aku, ya, apa yang dapat kukatakan.
Tapi bagaimana dengan Lo Tek-nau, mengapa tidak kau tanyakan padanya? Jika dia berani mencuri Ci-he-pitkip,
bisa jadi kasa itu pun dicuri olehnya?”
“O, jadi kau suruh aku pergi tanya kepada Lo Tek-nau?” Leng-sian menegas dengan suara keras.
“Benar!” jawab Lenghou Tiong.
“Baik. Nah silakan kau menghabisi nyawaku. Kau sudah mahir Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim, memangnya aku
bukan tandinganmu lagi!”
“Mana ... mana bisa aku membunuh kau?” sahut Lenghou Tiong melenggong.
“Habis kau suruh aku pergi menanyai Lo Tek-nau, jika kau tidak membunuh aku, cara bagaimana aku dapat
menyusul Lo Tek-nau ke akhirat?”
Kejut dan girang pula Lenghou Tiong. Tanyanya, “Jadi Lo Tek-nau telah ... telah dibinasakan oleh su ... oleh
ayahmu bukan?”
Ia tahu Lo Tek-nau berguru kepada Gak Put-kun sesudah memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi, dalam
Hoa-san-pay selain dirinya sendiri adalah kepandaian Lo Tek-nau yang paling lihai, maka untuk membunuhnya
kecuali Gak Put-kun rasanya tidak mampu dilakukan oleh orang lain lagi. Lo Tek-nau telah membunuh Liok
Tay-yu, jika dia sudah terbunuh pula, hal ini berarti sakit hati Liok-laksute-nya itu sudah terbalas.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Tiba-tiba Gak Leng-sian mendengus lagi, “Hm, seorang laki-laki sejati harus berani berbuat berani bertanggung
jawab. Kau telah membunuh Lo Tek-nau, kenapa kau tidak berani mengaku?”
“Kau bilang aku yang membunuh Lo Tek-nau?” Lenghou Tiong menegas dengan heran. “Jika aku yang
membunuhnya memangnya aku tidak perlu menyangkal. Dosa Lo Tek-nau lebih daripada dihukum mati, aku
memang menyesal tak dapat membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
“Dan kenapa kau membunuh pula patsuko (kakak perguruan kedelapan)? Apa salahnya kepadamu? Sungguh
... sungguh kejam kau!” teriak Leng-sian.
Lenghou Tiong terperanjat. Ia menegas dengan suara rada gemetar, “Jadi patsute juga terbunuh? Patsute
sangat licin dan pintar, selamanya sangat baik dengan aku, mana bisa aku mem ... membunuhnya?”
“Hm, sejak kau bergaul dengan iblis Mo-kau, kelakuanmu sudah lain daripada biasanya, siapa tahu apa
sebabnya mendadak kau membunuh patsuko. Kau ... kau ....” sampai di sini air mata Leng-sian telah menetes.
Lenghou Tiong melangkah maju satu tindak, katanya tegas, “Siausumoay, janganlah kau berpikir tanpa dasar.
Usia patsute muda belia, selamanya tiada bermusuhan dengan siapa pun juga. Jangankan aku, orang lain pun
tidak mungkin tega membunuhnya.”
Mendadak alis Leng-sian menegak, tanyanya pula dengan suara bengis, “Dan mengapa pula kau tega
mencelakai Lim-sute?”
“Hah? Lim-sute ... dia ... dia juga sudah mati?” Lenghou Tiong menegas dengan terperanjat.
“Saat ini masih belum mati, sekali bacok pedangmu belum membinasakan dia, tetapi siapa ... yang tahu dia
akan dapat sembuh atau tidak?” sampai di sini suaranya kembali parau dan mulai terguguk-guguk.
Lenghou Tiong menghela napas longgar, katanya, “Apa dia terluka sangat parah? Kuyakin dia pasti mengetahui
siapa yang menyerangnya. Bagaimana menurut pengakuannya?”
“Di dunia ini tiada seorang pun yang licin seperti kau. Kau telah membacoknya dari belakang, memangnya
punggung Lim-sute punya mata?”
Macam-macam perasaan mencekam hati Lenghou Tiong, saking tak tahan, ia lolos pedangnya, ia kerahkan
tenaga terus dilemparkan ke samping sana. Pedang itu meluncur melintang ke depan dan membentur sebatang
pohon cemara yang cukup besar, pedang itu menyambar lewat di tengah batang pohon, kontan pohon itu
terpotong putus dan rebah sehingga menimbulkan debu pasir yang berhamburan.
“Bagaimana? Sesudah kau mahir ilmu iblis Mo-kau, sekarang kau sengaja pamer keganasanmu di depanku
bukan?” jengek Leng-sian.
Lenghou Tiong menggeleng, sahutnya, “Bilamana aku ingin membunuh Lim-sute tidak perlu aku menyerangnya
dari belakang, juga tidak mungkin sekali bacok tidak membuatnya binasa.”
“Hm, siapa yang tahu akan maksud tujuanmu yang licik?” jengek pula Leng-sian. “Tentunya patsute telah
melihat perbuatanmu yang rendah itu, makanya kau membunuhnya sekalian untuk menghilangkan saksi,
bahkan kau telah merusak mukanya, sama halnya seperti apa yang kau lakukan terhadap ... terhadap Lo Teknau.”
Sedapat mungkin Lenghou Tiong menahan gejolak perasaannya. Ia tahu di balik urusan ini pasti ada suatu
intrik, suatu persekongkolan besar, suatu tipu muslihat keji yang saat ini belum dapat dipecahkan olehnya.
“Jadi muka Lo Tek-nau juga telah dirusak orang?” tanyanya kemudian.
“Kau sendiri yang berbuat, mengapa malah tanya padaku?”
“Siapa lagi anak murid Hoa-san-pay yang menjadi korban?”
“Kau sudah membunuh dua orang dan melukaparahkan satu orang, memangnya masih belum cukup?” sahut
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Leng-sian.
Dari jawaban ini Lenghou Tiong mengetahui tiada orang lain lagi yang menjadi korban, hatinya rada lega.
Pikirnya, “Perbuatan keji siapakah ini?”
Sekonyong-konyong timbul rasa ngerinya, teringat olehnya apa yang dikatakan oleh Yim Ngo-heng di Hangciu
dahulu, gembong Mo-kau itu mengancam apabila dirinya tidak mau masuk menjadi anggota Mo-kau, maka
orang-orang Hoa-san-pay akan dibunuhnya semua. Jangan-jangan Yim Ngo-heng sudah berada di Hokciu dan
mulai menyikat Hoa-san-pay?
Cepat ia berkata kepada Leng-sian, “Lekas-lekas kau pulang ke Hokciu dan laporkan kepada ayah-ibumu
bahwa mungkin sekali gembong Mo-kau yang telah melakukan pembunuhan secara keji.”
“Ya, memang benar gembong iblis Mo-kau yang telah turun tangan keji terhadap Hoa-san-pay kami,” sahut
Leng-sian dengan nada mengejek. “Cuma gembong iblis itu dahulu adalah orang Hoa-san-pay. Memang piara
macan akan merupakan penyakit, air susu dibalas dengan air tuba.”
Lenghou Tiong hanya tersenyum getir saja, ia pikir dirinya sudah menyanggupi akan pergi menolong Ting-sian
dan Ting-yat Suthay, tapi sekarang suhu dan sunio menghadapi bahaya pula, ini benar-benar serbasusah. Jika
yang mengganas itu adalah Yim Ngo-heng, maka sukar juga untuk melawannya, namun bagaimanapun juga
kesulitan guru dan ibu-guru yang berbudi padanya itu harus diutamakan lebih dulu, urusan Hing-san-pay
terpaksa harus ditunda. Bila nanti Yim Ngo-heng sudah dapat dicegat perbuatannya yang lebih lanjut baru
menuju ke Liong-coan untuk membantu Hing-san-pay.
Bab 86. Hing-san-pay Hampir Musnah
Setelah ambil keputusan demikian segera ia berkata, “Sejak berangkat dari Hokciu, senantiasa aku berada
bersama para suci dan sumoay Hing-san-pay ini, cara bagaimana aku dapat pergi membunuh patsute dan Lo
Tek-nau? Jika perlu boleh kau tanya keterangan mereka.”
“Hm, kau suruh aku tanya mereka?” dengan Leng-sian. “Mereka telah bersekongkol dengan kau, masakah
mereka takkan berdusta bagimu?”
Mendengar itu, kembali sebagian murid Hing-san-pay berteriak-teriak marah lagi, beberapa murid preman di
antaranya lantas batas memaki dengan tajam.
Leng-sian menarik mundur kudanya, katanya, “Lenghou Tiong, Siau-lim-cu terluka sangat parah, dalam
keadaan setengah tak sadar masih terus menyebut kiam-boh, jika kau masih punya hati nurani sebagai
manusia seharusnya kau mengembalikan kiam-boh padanya. Kalau tidak ....”
“Apa kau yakin aku benar-benar manusia serendah ini?”
“Jika kau bukan manusia rendah, maka di dunia ini tiada manusia rendah lagi,” seru Leng-sian dengan murka.
Sejak tadi perasaan Gi-lim sangat terguncang mengikuti percakapan mereka, sekarang ia tidak tahan lagi,
selanya, “Nona Gak, Lenghou-toako teramat baik kepadamu, dengan tulus hati dia benar-benar sangat baik
terhadap kau, mengapa kau memakinya secara demikian galak?”
“Dia baik-tidak padaku, sebagai seorang beragama, dari mana kau mendapat tahu?” tanya Leng-sian dengan
tertawa dingin.
Seketika Gi-lim merasa bangga, ia merasa apa pun akibatnya juga mesti membela Lenghou Tiong yang difitnah
orang secara demikian keji, soal kelak akan diomeli oleh gurunya tentang pelanggarannya atas peraturan
perguruan sudah tak terpikir lagi. Dengan suara lantang ia lantas berkata pula, “Lenghou-toako sendiri yang
omong padaku.”
“Hm, hal ini pun dia katakan padamu?” jengek Leng-sian. “Justru karena dia ingin membaiki aku, maka Limsute
telah dicelakai olehnya.”
Lenghou Tiong menghela napas, katanya, “Gi-lim Sumoay, tidak usah bicara panjang lebar lagi. Aku hanya
minta sedikit obat luka Hing-san-pay kalian yang sangat mujarab itu untuk Nona Gak.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Namun Leng-sian lantas memutar kudanya ke sana dan berkata, “Sekali bacok kau tidak jadi membinasakan
dia, sekarang kau hendak pakai racun bukan? Mana aku dapat kau tipu? Lenghou Tiong, bila Siau-lim-cu tidak
sembuh, tentu aku ... aku ....” sembari bicara ia telah mencambuk kudanya dan dilarikan secepat terbang ke
selatan.
Mengikuti suara derapan kuda yang makin lama makin menjauh, hati Lenghou Tiong menjadi bimbang seakanakan
kehilangan sesuatu.
“Benar-benar perempuan bawel, biarkan mati saja Siau-lim-cu yang dia sebut-sebut tadi,” kata Cin Koan
gemas.
“Cin-sumoay, sebagai murid Buddha kita harus mengutamakan welas asih, meski nona tadi sikapnya tidak
benar juga kita tidak boleh menyumpahi kematian orang,” kata Gi-cin.
Tiba-tiba timbul pikiran Lenghou Tiong, katanya, “Gi-cin Sumoay, aku ingin mohon sesuatu, sudilah kau
melelahkan diri sedikit.”
“Asal Lenghou-suheng yang memberi perintah pasti akan kuturuti,” sahut Gi-cin.
“Mana aku berani memerintah,” ujar Lenghou Tiong. “Soalnya orang she Lim yang disebut tadi adalah suteku,
menurut Nona Gak, katanya dia terluka parah. Kupikir obat Hing-san-pay kalian sangat manjur, jika ....”
“Apa kau minta aku mengantar obat untuk dia? Baik, segera aku kembali ke Hokciu sana. Gi-leng Sumoay,
harap kau menemani aku ke sana.”
“Banyak terima kasih atas kesudian kedua sumoay,” kata Lenghou Tiong sambil memberi hormat.
“Selama ini Lenghou-suheng terus berada bersama kami, mana bisa dituduh membunuh orang?” ujar Gi-cin.
“Fitnah yang tak berdasar ini perlu juga kujelaskan kepada Gak-siansing.”
Lenghou Tiong hanya menggeleng sambil tersenyum getir.
Dilihatnya Gi-cin dan Gi-leng telah melarikan kudanya ke arah Hokciu, pikirnya pula, “Sedemikian simpatik
mereka terhadap urusanku, jika aku meninggalkan mereka dan kembali ke Hokciu, rasanya tidaklah pantas.
Apalagi Ting-sian Suthay dan orang-orangnya benar-benar terkurung oleh musuh, sedangkan betul-tidak Yim
Ngo-heng berada di Hokciu belum lagi diketahui dengan pasti ....”
Perlahan-lahan ia mendekati pohon yang tumbang tadi dan menjemput kembali pedangnya. Tiba-tiba teringat
olehnya, “Aku telah menyatakan bila ingin bunuh Lim Peng-ci, buat apa menyerangnya dari belakang dan mana
mungkin sekali tebas tidak membinasakan dia? Tapi kalau yang menyerang itu adalah Yim Ngo-heng, lebihlebih
tidak mungkin sekali tebas tidak membuat matinya Lim Peng-ci? Pasti ada lagi orang lain. Ya, asalkan
bukan Yim Ngo-heng saja tentu suhu tidak perlu takut padanya.”
Berpikir demikian hatinya lantas merasa lega. Didengarnya sayup-sayup derapan kuda yang ramai dari jauh,
dari suara yang riuh itu ia menduga pasti rombongan Ih-soh yang telah kembali.
Benar juga, tidak lama kemudian 15 penunggang kuda sudah mendekat. Ih-soh lantas berkata, “Lenghousiauhiap,
banyak juga hasil ... hasil derma kita, cuma kita tidak akan menghabiskan uang sebanyak ini.”
“Tidak habis pakai sendiri boleh kita sumbangkan kepada kaum fakir miskin,” sela Gi-ho dengan tertawa. Lalu
ia menoleh kepada Gi-jing dan berkata, “Tadi di tengah jalan kami memergoki seorang perempuan muda,
kalian di sini melihat dia tidak? Entah dari mana dia, tapi telah bergebrak dengan kami.”
“Telah bergebrak dengan kalian?” seru Lenghou Tiong khawatir.
“Benar,” sahut Gi-ho. “Dalam kegelapan kuda perempuan itu telah dipacu begitu cepat, begitu melihat kami
lantas mencaci maki, katanya nikoh tidak genah, tidak tahu malu segala.”
Diam-diam Lenghou Tiong mengeluh, tanyanya cepat, “Parah tidak lukanya?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Eh, dari mana kau mengetahui dia terluka?” sahut Gi-ho heran.
Dalam hati Lenghou Tiong berkata, dia memaki kalian demikian, watakmu juga berangasan, dia sendirian mana
mampu melawan kalian, tentu saja akan terluka. Ia tanya lagi, “Bagian mana lukanya itu?”
“Mula-mula aku tanya dia mengapa datang-datang lantas mencaci maki orang, padahal kita belum kenal,” tutur
Gi-ho. “Tapi kembali dia memaki lagi sambil mengayun cambuknya ke arahku dan membentak agar kami
minggir. Tentu saja kami menjadi gusar, kutangkap cambuknya dan mulailah kami melabraknya.”
“Begitu dia melolos pedang kami lantas tahu dia adalah orang Hoa-san-pay, meski dalam kegelapan wajahnya
tidak jelas kelihatan, kemudian dapat kami mengenali dia sebagai putrinya Gak-siansing,” sambung Ih-soh.
“Cepat kami berteriak mencegah serangan para sumoay, tapi lengannya sudah telanjur terluka dua tempat,
hanya tidak begitu parah.”
“Sebenarnya aku sudah kenal dia,” kata Gi-ho dengan tertawa. “Cuma Hoa-san-pay mereka terlalu kasar
terhadap Lenghou Tiong ketika di Kota Hokciu kemarin, mereka pun tidak mau membantu kesulitan Hing-sanpay
kita, maka aku sengaja membikin nona galak itu tahu rasa.”
“Sesungguhnya Gi-ho Suci telah bermurah tangan terhadap Nona Gak itu,” tutur The Oh. “Pedangnya hanya
menggores perlahan di lengannya lantas ditarik kembali, jika berkelahi sungguh-sungguh, mustahil kalau
sebelah lengannya itu tidak berpisah dengan tubuhnya?”
Lenghou Tiong menjadi serbasusah, suatu peristiwa belum diselesaikan, lain peristiwa sudah timbul lagi. Ia
kenal perangai sumoay cilik yang tinggi hati dan tidak mau kalah itu, kejadian malam ini pasti akan
dianggapnya sebagai penghinaan besar dan besar kemungkinan akan diperhitungkan atas kesalahan Lenghou
Tiong. Tapi semuanya sudah terjadi, terpaksa ia tak bisa berbuat apa-apa. Untungnya luka siausumoay itu
tidak berat.
Sebagai anak dara yang cerdik, The Oh dapat mengetahui perhatian Lenghou Tiong terhadap nona Gak itu,
segera ia berkata, “Jika sebelumnya kami mengetahui dia adalah sumoaynya Lenghou-suheng, tentu kami akan
mengalah biarpun dia mencaci maki kami lebih banyak pula. Soalnya dalam kegelapan, kami tidak tahu jelas
siapa dia. Biarlah kelak kalau bertemu lagi akan kami minta maaf padanya.”
“Minta maaf apa? Apa salah kita terhadap dia? Sebaliknya begitu bertemu dia lantas memaki kita. Seluruh
dunia juga tiada orang macam dia,” ujar Gi-ho mendongkol.
“Kalian sudah berhasil mendapatkan sedekah, marilah kita berangkat,” kata Lenghou Tiong. “Bagaimana
dengan Pek-pak-bwe yang kalian kunjungi itu?”
Karena sedih hatinya, ia tidak ingin mempersoalkan Gak Leng-sian lagi dan segera membelokkan pokok
pembicaraan.
Bicara tentang “minta derma”, Gi-ho dan kawan-kawannya menjadi bersemangat. Segera ia menyerocos
menceritakan pengalamannya, “Haha, sungguh menyenangkan. Biasanya adalah sangat sulit minta derma
setahil dua perak kepada hartawan macam begitu, tapi malam ini sekali sedekah dapatlah beberapa ribu tahil.”
“Sungguh lucu, Pek-pak-bwe itu merangkak-rangkak sambil menangis, katanya jerih payahnya selama
berpuluh tahun telah amblas dalam waktu semalam saja,” sambung The Oh dengan tertawa.
“Habis namanya saja Pek-pak-bwe, dia tukang menguliti rakyat kecil, sekarang dia juga harus dikuliti,” Cin
Koan menambahkan.
Setelah tertawa ramai, segera murid-murid Hing-san-pay itu terkenang pula kepada suhu dan supek mereka
yang sedang terkurung musuh, kembali perasaan mereka tertekan dan tanpa disuruh lagi mereka lantas
memacu kuda secepatnya.
“Lenghou-toako, jangan terlalu cepat, hati-hati dengan lukamu,” kata Gi-lim.
“Hanya sedikit luka luar saja tidak menjadi soal, dengan obat pemberianmu tentu tidak lama akan sembuh,”
sahut Lenghou Tiong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Gi-lim berkata di dalam hati, “Ya, aku tahu lukamu yang paling parah adalah di dalam batin.”
Tiada terjadi apa-apa sepanjang jalan, beberapa hari kemudian sampailah mereka di Liong-coan yang terletak
di Ciatkang Selatan. Luka yang diderita Lenghou Tiong walaupun banyak mengeluarkan darah, tapi luka itu
cuma luka luar saja, dengan lwekangnya yang tinggi, ditambah obat mujarab Hing-san-pay, sampai di wilayah
Liong-coan lukanya sudah sembuh separuh.
Para murid Hing-san-pay sangat gelisah, baru memasuki wilayah Ciatkang mereka lantas mencari tahu di mana
letaknya To-kiam-kok. Tapi sepanjang jalan tiada orang yang bisa memberi petunjuk. Sampai di Kota Liongcoan,
tertampak banyak sekali toko-toko senjata, tapi tetap tiada satu toko pun yang mengetahui di mana
letaknya To-kiam-kok (Lembah Tempa Pedang).
Keruan semua orang tambah cemas. Ketika mereka tanya adakah terlihat dua nikoh tua atau pernah terjadi
pertempuran di sekitar kota situ, para pandai besi dan pemilik toko senjata juga tidak dapat memberi
keterangan. Tentang nikoh hanya ditunjukkan bahwa di barat kota, di Biara Cui-gwe-am memang dihuni oleh
kaum padri perempuan, cuma nikoh-nikoh di sana rata-rata belum terlalu tua.
Setelah tanya jelas letak Cui-gwe-am, rombongan mereka lantas dipacu ke sana. Setiba di depan biara itu,
pintu biara tampak tertutup rapat. The Oh yang menggedor pintu, tapi sampai lama sekali tetap tiada
sambutan apa-apa dari dalam.
Gi-ho menjadi tidak sabar menunggu lagi, ia melolos pedang terus melompat ke dalam biara dengan melintasi
pagar tembok. Khawatir sang sumoay mengalami apa-apa, cepat Gi-jing ikut melompat masuk.
“Coba lihat apa ini?” kata Gi-ho sambil menunjuk tanah di depannya.
Ternyata di pelataran biara itu ada tujuh-delapan potong ujung pedang, jelas bekas ditebas kutung oleh senjata
tajam.
“Adakah orang di dalam?” teriak Gi-ho sembari mencari ke ruangan belakang.
Gi-jing sendiri lantas membukakan pintu agar Lenghou Tiong dan lain-lain masuk ke dalam. Ia jemput sepotong
ujung pedang yang kutung di atas tanah dan diberikan kepada Lenghou Tiong, katanya, “Lenghou-suheng, di
sini pernah terjadi pertempuran.”
Lenghou Tiong terima kutungan pedang itu, dilihatnya bagian yang terkutung itu sangat licin dan mengilap.
Tanyanya, “Apakah Ting-sian dan Ting-yat Suthay menggunakan senjata pedang?”
“Beliau berdua tidak memakai pedang,” sahut Gi-jing. “Suhu menyatakan, asalkan dapat meyakinkan ilmu
pedang dengan sempurna, sekalipun yang dipakai adalah pedang kayu atau pedang bambu juga cukup untuk
mengalahkan musuh. Beliau menyatakan pula bahwa pedang atau golok terlalu keras, sedikit kurang hati-hati
sudah menghabiskan nyawa orang atau mencacatkan badan lawan ....”
“Maksud beliau harus mengutamakan welas asih bukan?” sela Lenghou Tiong.
Gi-jing manggut. Dalam pada itu tiba-tiba terdengar seruan Gi-ho dari ruangan belakang, “He, di sini juga ada
kutungan ujung pedang.”
Beramai-ramai mereka lantas menyusul ke belakang, tertampak lantai maupun meja pada tiap-tiap ruangan
biara itu penuh tertimbun debu. Pada umumnya biara pasti selalu terawat dengan sangat bersih, melihat debu
yang memenuhi biara itu dapat diperkirakan sudah sekian lamanya ditinggalkan oleh penghuninya.
Setiba di pekarangan belakang, Lenghou Tiong dan lain-lain dapat menyaksikan beberapa pohon juga telah
tumbang oleh tebasan senjata tajam. Dari bagian yang putus itu dapat diduga waktunya sudah beberapa hari
yang lalu. Pintu belakang biara itu kelihatan terpentang lebar, daun pintu mencelat beberapa meter jauhnya,
tampaknya didobrak orang secara paksa. Di luar pintu belakang ada sebuah jalanan kecil yang menuju ke
lereng-lereng bukit, beberapa meter jauhnya ke sana jalan itu lantas bercabang dua arah.
“Kita membagi diri dalam dua kelompok, coba periksa adakah sesuatu yang mencurigakan?” seru Gi-jing.
Tidak lama kemudian Cin Koan yang ikut mencari ke arah sebelah kanan telah berteriak, “Di sini adalah sebuah
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
panah kecil!”
“Ya, di sini juga ada sebuah paku!” seru pula yang lain.
Jalanan itu menjurus ke arah lereng-lereng bukit, segera mereka berlari cepat ke sana. Sepanjang jalan banyak
pula ditemukan senjata rahasia serta kutungan pedang dan golok.
Sekonyong-konyong Gi-jing berseru kaget. Dari semak-semak rumput dijemputnya sebatang pedang, katanya
terhadap Lenghou Tiong, “Inilah senjata golongan kami!”
“Tampaknya Ting-sian dan Ting-yat Suthay terlibat dalam pertempuran sengit dan pasti melalui tempat ini,”
ujar Lenghou Tiong.
Walaupun ucapan Lenghou Tiong ini tidak menyatakan kekalahan di pihak Hing-san-pay, tapi Gi-ho dan lainlain
tahu tentu gurunya dan Ting-yat Suthay tidak mampu melawan musuh dan telah lari melalui jalanan ini.
Dari senjata yang berserakan sepanjang jalan itu dapat diketahui pertarungan itu pasti sangat dahsyat.
Agaknya kejadian sudah lalu beberapa hari, entah masih keburu menolong beliau-beliau atau tidak. Begitulah
semua orang dicekam oleh perasaan khawatir, langkah mereka menjadi tambah cepat.
Jalan pegunungan itu makin menanjak makin curam serta melingkar-lingkar ke belakang gunung. Beberapa li
kemudian, jalanan penuh batu-batu belaka dan tiada berwujud jalan lagi. Anak murid Hing-san-pay yang ilmu
silatnya lebih rendah seperti Gi-lim, Cin Koan, dan lain-lain sudah jauh ketinggalan di belakang.
Jalan lebih jauh keadaan tambah sulit, boleh dikata bukan jalan lagi, juga tiada terdapat tanda-tanda
berserakan senjata seperti tadi. Selagi menghadapi jalan buntu tanpa tanda-tanda arah, mendadak tertampak
di sisi kiri di balik gunung sana ada asap tebal menjulang tinggi ke langit.
“Lekas kita periksa ke sebelah sana!” seru Lenghou Tiong dan segera mendahului berlari ke depan.
Asap tebal itu makin membubung tinggi. Sesudah mereka mengitari lereng sana, terlihatlah sebuah lembah
luas di depan mereka. Api sedang berkobar-kobar dengan hebatnya di tengah lembah situ, terdengar suara
peletak-peletok terbakarnya rumput dan kayu.
Dengan sembunyi di balik batu padas, Lenghou Tiong memberi tanda ke belakang agar Gi-ho dan lain-lain
jangan bersuara. Pada saat itulah lantas terdengar teriakan seorang laki-laki dengan serak tua, “Ting-sian,
Ting-yat, hari ini kami antar kalian menuju ke nirwana dan mendapatkan kesempurnaan, kalian tidak perlu
berterima kasih lagi pada kami.”
Lenghou Tiong bergirang, jelas Ting-sian dan Ting-yat Suthay masih hidup, untung kedatangannya ini tidak
terlambat.
Lalu terdengar pula seruan seorang laki-laki lain, “Dengan baik-baik kami bujuk kalian meleburkan diri dalam
perserikatan kita, tapi kalian justru kepala batu dan membangkang, sejak kini dunia persilatan takkan ada
Hing-san-pay lagi.”
“Ya, kalian jangan menyalahkan orang lain berlaku kejam, tapi harus menyalahkan kalian sendiri yang bandel
sehingga mengakibatkan banyak anak muridmu yang masih muda usia itu ikut mati konyol, sungguh sayang.
Hahahahaha!” demikian teriak orang pertama tadi dengan tertawa penuh kepuasan.
Suara kedua orang itu yang satu timbul dari sebelah barat daya sana dan yang lain dari timur laut. Tampaknya
api di tengah lembah itu semakin berkobar, jelas Ting-sian dan Ting-yat terkurung di tengah lautan api.
Segera Lenghou Tiong siapkan pedang, ia menarik napas panjang-panjang, lalu berteriak nyaring, “Kawanan
bangsat, berani kalian membikin susah para suthay dari Hing-san-pay, sekarang tokoh-tokoh Ngo-gak-kiampay
telah datang membantu, lekas kawanan bangsat menyerahkan diri!”
Sembari berseru ia terus menerjang ke bawah sana.
Sampai di dasar lembah ia lantas terhalang oleh tumpukan kayu dan rumput kering yang meninggi sampai
beberapa meter. Tanpa pikir lagi Lenghou Tiong terus meloncat ke tengah gundukan api. Untung rumput dan
kayu di tengah lingkaran api itu belum terbakar. Ia memburu maju beberapa langkah, terlihat dua buah rumah
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
pembakaran gamping, tapi tidak tampak seorang pun.
“Ting-sian Suthay, Ting-yat Suthay, bala bantuan Hing-san-pay sudah tiba!” seru Lenghou Tiong.
Dalam pada itu Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain juga berteriak-teriak dari luar lingkaran api, “Suhu, Supek, Tecu
sekalian sudah datang!”
Menyusul terdengarlah suara bentakan musuh dibarengi dengan suara benturan senjata yang ramai.
Dari mulut gua pembakaran tiba-tiba muncul sesosok tubuh orang yang tinggi besar, sekujur badannya
berlumuran darah. Itulah Ting-yat Suthay, pada tangannya menghunus pedang, meski pakaiannya sudah
robek, mukanya juga berlepotan darah, tapi sekali berdiri masih kelihatan gagah berwibawa.
Ketika melihat Lenghou Tiong, Ting-yat tercengang, katanya, “Kau ... kau ....”
“Tecu Lenghou Tiong,” sahut Lenghou Tiong.
“Aku memang kenal kau sebagai Lenghou Tiong yang ....”
Tapi Lenghou Tiong lantas memotong, “Tecu akan membuka jalan, silakan kalian ikut menerjang keluar.”
Ia terus menjemput sebatang kayu dan digunakan untuk mengorak-arik gundukan rumput yang terbakar.
“Kau kan sudah masuk Mo-kau ...” belum lagi Ting-yat sempat bicara, pada saat itu seorang telah membentak,
“Siapa yang berani mengacau di sini?”
Sinar golok tampak berkelebat di tengah cahaya api.
Melihat api berkobar lebih hebat, sedangkan Ting-yat Suthay menaruh prasangka padanya dan tampaknya
tidak sudi ikut menerjang keluar, dalam keadaan demikian Lenghou Tiong pikir mesti ambil tindakan kilat dan
terpaksa harus melanggar pantangan membunuh baru dapat menyelamatkan tokoh-tokoh Hing-san-pay itu.
Maka cepat ia melangkah mundur setindak sehingga serangan golok tadi meleset. Menyusul bacokan golok
yang kedua kalinya lantas tiba pula. Tapi sekali pedang Lenghou Tiong bergerak, “cret”, kontan golok lawan
berikut lengannya sudah tertebas kutung. Pada saat yang sama terdengar jeritan ngeri seorang wanita di luar
lingkaran sana, tentu murid Hing-san-pay yang telah dicelakai musuh.
Lenghou Tiong menjadi khawatir, cepat ia melompat ke luar lingkaran api, dilihatnya di lereng gunung secara
berkelompok-kelompok sudah terjadi pertarungan sengit. Setiap tujuh murid Hing-san-pay terjalin menjadi
satu barisan pedang sedang melawan musuh, tapi ada juga beberapa orang yang terpisah sendiri-sendiri dan
tidak sempat menggabungkan diri, terpaksa bertempur dengan musuh secara nekat.
Barisan pedang yang terbentuk itu meski belum tampak unggul, tapi sementara juga takkan berhalangan,
sebaliknya yang bertempur sendiri-sendiri itu kelihatan terdesak, dalam waktu singkat sudah ada dua-tiga
murid perempuan yang telah menggeletak binasa.
Lenghou Tiong coba mengawasi medan pertempuran, dilihatnya Gi-lim dan Cin Koan dengan punggung adu
punggung sedang menempur tiga laki-laki dengan mati-matian. Cepat ia memburu ke sana, mendadak sinar
tajam berkelebat, sebatang pedang telah menusuk ke arah dadanya. Sedikit pun langkah Lenghou Tiong tidak
menjadi kendur, berbareng pedangnya menyabet ke depan, leher orang itu tertusuk dan tamat seketika.
Dengan beberapa lompatan lagi Lenghou Tiong sudah sampai di depan Gi-lim, sekali pedangnya bergerak,
kontan punggung seorang laki-laki itu tertembus, gerakan pedang berikutnya telah merobek iga seorang
musuh yang lain. Laki-laki yang ketiga sedang angkat ruyung baja hendak mengemplang ke batok kepala Cin
Koan, cepat pedang Lenghou Tiong memapak ke atas, kontan sebelah lengan laki-laki itu tertebas sebatas
bahu.
Wajah Gi-lim tampak pucat pasi, katanya dengan mengulum senyum, “Omitohud, Lenghou-toako!”
“Kalian berdiri saja di sini, jangan pergi,” kata Lenghou Tiong.
Dilihatnya Ih-soh di sebelah sana juga sedang kelabakan karena dicecar oleh dua lawan tangguh. Cepat
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong memburu maju, “sret-sret” dua kali, yang satu kena perutnya, yang lain tangan putus sebatas
pergelangan. Kembali dua jago musuh dibereskan. Waktu dia putar ke sana, di mana pedangnya menyambar,
tanpa ampun tiga orang yang sedang menempur Gi-ho dan Gi-jing dengan sengit juga menggeletak didahului
dengan jeritan ngeri.
Tiba-tiba terdengar suara seorang tua berseru, “Kerubut dia, bereskan keparat ini!”
Menyusul tiga sosok bayangan sekaligus menubruk ke arah Lenghou Tiong, tiga pedang menyambar tiba
bersama, masing-masing mengarah leher, dada, dan perutnya.
Gerak serangan ketiga pedang musuh ini sangat lihai, sungguh permainan tokoh kelas satu. Keruan Lenghou
Tiong terkejut, katanya di dalam hati, “Ini kan ilmu pedang Ko-san-pay! Apa mungkin mereka ini memang
orang Ko-san-pay?
Karena sedikit ayal itulah ujung pedang ketiga lawan sudah lebih dekat mengancam tempat-tempat yang
berbahaya itu. Cepat Lenghou Tiong menggunakan “Boh-kiam-sik” (cara mematahkan serangan pedang) dari
Tokko-kiu-kiam yang telah diyakinkan itu, pedangnya berputar, sekaligus serangan tiga musuh telah
dipatahkan semua, bahkan demikian hebat daya tekanannya sehingga musuh-musuh itu terdesak mundur duatiga
langkah.
Sekarang dapat dilihatnya dengan jelas, lawan yang di sebelah kiri adalah laki-laki besar gemuk, usianya
sekitar 40-an dan berjenggot pendek. Yang tengah adalah seorang kakek kurus kering berkulit hitam, kedua
matanya bersinar tajam.
Lenghou Tiong tidak sempat memandang orang ketiga, ia terus menggeser ke samping, pedangnya membalik
dan “sret-sret” dua kali, kontan dua musuh yang sedang mengerubut The Oh dirobohkan.
Dalam pada itu ketiga orang tadi telah berteriak-teriak dan membentak-bentak terus mengejar tiba. Namun
Lenghou Tiong sudah ambil keputusan untuk tidak terlibat lebih lama dengan mereka mengingat kepandaian
mereka sangat lihai, untuk membereskan mereka tentu makan waktu dan sementara itu orang-orang Hingsan-
pay pasti akan banyak jatuh korban. Karena itu ia lantas kerahkan tenaga dalam terus berlari-lari tanpa
berhenti, di situ ia menusuk satu kali, di sana ia menebas pula, di mana pedangnya menyambar tentu jatuh
seorang musuh dengan terluka parah atau terus binasa.
Ketiga orang tadi masih terus mengejar sambil membentak-bentak, tapi jaraknya dengan Lenghou Tiong selalu
terpaut beberapa meter jauhnya dan sukar menyusulnya. Hanya dalam waktu singkat saja lebih dari 40 orang
musuh telah menjadi korban Tokko-kiu-kiam yang dimainkan Lenghou Tiong, tiada seorang pun yang mampu
menangkis atau menghindar.
Karena dalam sekejap saja pihak musuh sudah roboh lebih 40 orang, imbangan kekuatan kedua pihak lantas
berubah dengan cepat. Setiap kali ada musuh yang roboh, segera murid Hing-san-pay yang kehilangan lawan
itu sempat pergi membantu kawannya. Tadinya jumlah musuh lebih banyak, tapi lambat laun keadaan menjadi
terbalik, makin lama pihak Hing-san-pay makin tambah kuat.
Lenghou Tiong sudah ambil ketetapan bahwa pertempuran hari ini sekali-kali tidak boleh menaruh belas
kasihan, jika dalam waktu singkat musuh tidak dihancurkan, tentu Ting-sian Suthay dan kawan-kawannya yang
terkurung di dalam gua pembakaran itu akan sukar diselamatkan.
Begitulah Lenghou Tiong terus berlari kian-kemari secepat terbang, di mana dia tiba, dalam radius tiga meter
tiada seorang musuh pun yang terhindar dari kematian. Tidak lama kemudian kembali ada 20 orang lebih
dirobohkan lagi.
Sisa musuh masih ada 60-70 orang, mereka menyaksikan kesaktian Lenghou Tiong seperti setan yang sukar
dilawan dengan tenaga manusia, sekonyong-konyong orang-orang itu berteriak terus sebagian berlari-lari ke
dalam hutan belukar.
Lenghou Tiong membinasakan lagi beberapa orang, sisanya tambah patah semangat, cepat mereka pun lari
sipat kuping. Tinggal ketiga laki-laki tadi masih terus mengudak di belakang Lenghou Tiong, tapi jaraknya
makin menjauh, jelas mereka pun mulai jeri.
Tiba-tiba Lenghou Tiong berhenti lari dan putar balik, bentaknya, “Kalian ini orang Ko-san-pay bukan?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Ketiga orang itu berbalik melompat mundur, seorang di antaranya yang tinggi besar balas membentak,
“Siapakah kau?”
Lenghou Tiong tidak menjawab, serunya kepada Ih-soh dan lain-lain, “Lekas kalian membuat jalan untuk
menolong teman-teman yang terkurung api itu!”
Segera anak murid Hing-san-pay sama berusaha memadamkan api yang sudah menjilat tumpukan rumput. Giho
dan beberapa kawannya sudah melompat masuk ke tengah lingkaran api. Rumput dan kayu kering yang
sudah berkobar itu sukar dipadamkan lagi, syukur di bawah usaha belasan orang, lingkaran api itu dapat
dibobol menjadi suatu luangan jalan, Gi-ho dan lain-lain sama mendukung keluar beberapa nikoh dalam
keadaan payah.
“Bagaimana dengan Ting-sian Suthay?” tanya Lenghou Tiong.
“Banyak terima kasih atas perhatianmu!” tiba-tiba suara seorang tua menanggapi. Menyusul seorang nikoh tua
berbadan sedang tampak melangkah ke luar dari lingkaran api dengan tenang. Jubahnya yang putih itu tampak
bersih, tangannya juga tidak bersenjata, hanya tangan kiri membawa serenceng biji tasbih, wajahnya welas
asih, sikapnya tenang dan kalem.
Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran dan kagum akan ketenangan nikoh tua itu meski menghadapi bahaya
maut. Segera ia memberi hormat dan berkata, “Tecu Lenghou Tiong menyampaikan salam hormat kepada
Suthay.”
Ting-sian Suthay merangkap tangan membalas hormat, tapi ia lantas berkata, “Awas, ada orang menyerang
kau!”
“Ya,” sahut Lenghou Tiong, tanpa menoleh pedangnya terus diayun ke belakang. Terdengar “trang” satu kali,
tusukan pedang laki-laki tinggi besar tadi telah ditangkis pergi. Lalu katanya pula, “Bantuan Tecu datang
terlambat, mohon Suthay memaafkan.”
Berbareng terdengar suara nyaring dua kali, kembali serangan kedua orang yang lain ditangkis lagi.
Dalam pada itu ada belasan nikoh lolos keluar lagi dari lingkaran api, bahkan ada yang menggendong mayat.
Ting-yat Suthay juga telah muncul, segera ia memaki dengan geram, “Kawanan bangsat yang tidak tahu malu,
kejam amat melebihi binatang ....” saat itu ujung jubahnya tampak terjilat api, tapi ia seperti tidak ambil
pusing. Cepat Ih-soh mendekati untuk memadamkan api.
“Kedua Suthay tidak tercedera apa-apa, sungguh menggembirakan sekali,” kata Lenghou Tiong.
Pada saat itu pula tiga pedang telah menusuk sekaligus dari belakang. Tapi sekarang Lenghou Tiong tidak cuma
mahir ilmu pedang saja, bahkan kekuatan tenaga dalamnya juga jarang ada bandingannya. Begitu mendengar
sambaran angin tajam, secara cepat ia lantas tahu bagaimana serangan musuh itu, segera pedangnya berputar
lagi, sekaligus ia balas menusuk pergelangan tangan lawan.
Ilmu silat ketiga orang itu sangat tinggi, gerak perubahannya juga amat cepat. Lekas-lekas mereka
menghindar, namun demikian punggung tangan laki-laki tinggi besar tadi tetap tergores luka, darah lantas
mengucur.
“Kedua Suthay, Ko-san-pay adalah kepala dari Ngo-gak-kiam-pay, bersama Hing-san-pay biasanya adalah
senapas dan setanggungan, mengapa mendadak mereka melakukan sergapan licik, sungguh hal ini sukar
dimengerti?” kata Lenghou Tiong.
Mendadak Ting-yat Suthay tanya Gi-ho dan lain-lain, “Di mana Suci? Kenapa beliau tidak ikut datang?”
“Suhu ... suhu telah dicelakai kaum jahanam, beliau telah gugur dalam per ... pertarungan sengit ....” sahut
Cin Koan dengan suara tangis.
“Keparat!” maki Ting-yat Suthay penuh dendam dan murka sambil melangkah maju. Tapi baru dua-tiga tindak
tubuhnya lantas terhuyung-huyung dan jatuh terduduk, darah segar menyembur dari mulutnya.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dalam pada itu ketiga jago Ko-san-pay tadi tetap tak bisa mengenai Lenghou Tiong meskipun mereka telah
berganti macam-macam tipu serangan. Padahal pemuda itu melayani mereka dengan mungkur, tangkisannya
juga dilakukan dengan membelakangi mereka, namun ilmu pedangnya ternyata demikian hebatnya, apalagi
kalau dia berhadapan muka dengan muka, mana mereka bertiga mampu melawannya?
Begitulah ketiga orang sama-sama mengeluh dan gelisah, mereka menyesal mengapa tidak sejak tadi-tadi
melarikan diri, tapi malah berkumpul menjadi satu.
Serangan Lenghou Tiong ternyata sangat menarik, terhadap musuh sebelah kiri selalu menyerang sisi kiri, bila
menyerang musuh sebelah kanan yang diserang adalah sisi kanan, dengan demikian ketiga orang makin rapat
berdesakan sendiri. Berturut-turut Lenghou Tiong menyerang belasan kali dan ketiga orang terpaksa
menangkis belasan kali tanpa sanggup balas menyerang sekali pun. Ilmu pedang yang dimainkan ketiga orang
itu adalah jurus serangan Ko-san-pay yang paling lihai, tapi menghadapi Tokko-kiu-kiam yang ajaib mereka
benar-benar tak berdaya.
Lenghou Tiong sengaja hendak memaksa lawan-lawannya mengeluarkan ilmu pedang Ko-san-pay mereka agar
tidak dapat menyangkal asal usul mereka pula. Begitulah makin lama muka ketiga orang sudah makin basah
oleh air keringat, sikap mereka juga semakin beringas, ilmu pedang mereka pun belum kacau, nyata mereka
memang sangat ulet sebagai jago kawakan.
“Omitohud! Siancay, Siancay!” Ting-sian Suthay menyebut Buddha. “Tio-suheng, Ma-suheng, Thio-suheng,
selamanya Hing-san-pay dan Ko-san-pay kalian adalah kawan dan bukan lawan, mengapa kalian bertiga terus
memaksa sedemikian rupa, sampai-sampai mau membakar kami secara hidup-hidup. Sungguh aku tidak
paham apa sebabnya, silakan kalian memberi penjelasan.”
Jago-jago Ko-san-pay itu memang betul she Tio, Ma, dan Thio. Mereka jarang muncul di Kangouw, mereka
menyangka asal usul mereka cukup rahasia, memangnya mereka sudah kelabakan dicecar oleh serangan
Lenghou Tiong, mereka tambah kaget lagi oleh kata-kata Ting-sian Suthay yang tepat menyebut she mereka.
Tanpa terasa pergelangan tangan dua orang di antaranya tertusuk pedang Lenghou Tiong, pedang mereka
jatuh ke tanah.
Bab 87. Ting-sian Suthay yang Bijaksana
Menyusul ujung pedang Lenghou Tiong lantas mengancam di tenggorokan si kakek kurus kering dan
membentak, “Lemparkan pedangmu!”
Kakek itu menghela napas panjang, katanya, “Di dunia ini ternyata ada ilmu silat dan ilmu pedang sedemikian
hebat, biarpun aku orang she Tio terjungkal di bawah pedangmu juga tidak penasaran.”
Mendadak tangannya menyendal, dengan tenaga dalamnya ia membikin pedang sendiri tergetar putus menjadi
beberapa potong dan jatuh berserakan di atas tanah.
Lenghou Tiong lantas melangkah mundur, sebaliknya Gi-ho bertujuh lantas mengacungkan pedang masingmasing
dan mengepung ketiga orang itu di tengah.
Dengan perlahan Ting-sian Suthay berkata, “Ko-san-pay kalian bermaksud melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi
satu aliran yang disebut Ngo-gak-pay. Hing-san-pay sendiri sudah bersejarah ratusan tahun, betapa pun aku
tidak berani membuatnya tamat di bawah pimpinanku, maka aku telah menolak saran kalian. Mestinya urusan
ini dapat dirundingkan lebih jauh, tapi mengapa kalian lantas main kekerasan dan pakai cara keji ketika aku
memperlihatkan maksud tidak setuju? Perbuatan kalian ini bukanlah terlalu kasar?”
“Buat apa banyak omong dengan mereka, Suci,” sela Ting-yat Suthay. “Semuanya dibinasakan saja agar tidak
mendatangkan bencana di kemudian hari. Hek ... huk-huk-huk ....” tiba-tiba ia terbatuk-batuk dan kembali
menumpahkan darah.
Laki-laki tinggi besar she Ma itu menjawab, “Kami hanya melakukan tugas atas perintah, seluk-beluk urusan ini
sama sekali kami tidak tahu ....”
“Kenapa kau banyak bicara? Mau bunuh mau potong boleh terserah saja kepada mereka,” mendadak si kakek
she Tio mendamprat kawannya.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Orang she Ma menjadi mengkeret dan tidak berani bicara lagi, wajahnya menampilkan rasa malu.
“Kalian bertiga 30 tahun yang lampau pernah malang melintang di daerah utara, kemudian mendadak
menghilang. Tadinya kukira kalian sudah sadar dan mau kembali ke jalan yang benar, siapa duga kalian malah
sudah masuk Ko-san-pay dan mempunyai maksud tujuan tertentu,” demikian Ting-sian berkata. “Ai, Cociangbun
dari Ko-san-pay adalah seorang tokoh sakti, tapi beliau telah menerima sekian banyak kaum ... orang
Kangouw yang aneh-aneh untuk mempersulit sesama Ngo-gak-kiam-pay, sungguh sukar dipahami apa maksud
tujuannya.”
Dasarnya Ting-sian memang padri yang welas asih, meski menghadapi kejadian luar biasa juga tidak mau
menggunakan kata-kata kasar terhadap lawan. Sesudah menghela napas panjang, lalu ia bertanya, “Suci kami
Ting-cing Suthay tentunya juga tewas di tangan kawan kalian bukan?”
Rupanya orang she Ma tadi merasa malu, maka sekarang ia ingin memperbaiki pamornya, dengan suara keras
ia menjawab, “Benar, itulah perbuatan Ciong Tin Sute ....”
Tapi si kakek she Tio telah mendengus padanya dengan mata melotot. Baru sekarang orang she Ma menyadari
ucapannya yang terlepas, namun ia coba membela diri, “Urusan sudah begini, apa gunanya berdusta lagi? Cociangbun
memerintahkan kami menuju ke dua jurusan, masing-masing melaksanakan tugas di Hokkian dan
Ciatkang sini.”
“Omitohud!” kembali Ting-sian menyebut Buddha. “Sebagai bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay, kedudukan Cociangbun
betapa agung dan terhormat, buat apa beliau bertekad akan melebur kelima aliran kita dan diketuai
oleh satu orang? Dia sengaja menggunakan kekerasan dan mencelakai sesama kaum, apakah tindakan
demikian takkan ditertawai oleh kesatria seluruh jagat?”
“Suci,” Ting-yat menyela dengan suara bengis, “bangsat berhati binatang yang kejam seperti mereka, buat apa
....” sampai di sini kembali darah mancur keluar lagi dari mulutnya.
Ting-sian Suthay mengebaskan tangannya dan berkata kepada ketiga orang itu, “Segala apa telah ditakdirkan
dengan baik, banyak berbuat jahat akhirnya pasti akan terima ganjaran setimpal. Pergilah kalian sekarang!
Harap kalian menyampaikan kepada Co-ciangbun bahwa sejak kini Hing-san-pay tidak di bawah perintah Cociangbun
lagi. Meski golongan kami adalah kaum wanita seluruhnya juga tidak nanti bertekuk lutut di bawah
ancaman kekerasan. Tentang keinginan Co-ciangbun akan melebur Ngo-gak-kiam-pay, sekali-kali tak bisa
diterima oleh Hing-san-pay.”
“Supek, mereka ....” seru Gi-ho.
Tapi Ting-sian Suthay lantas memberi perintah, “Bubarkan barisan pedang!”
Terpaksa Gi-ho mengiakan, pedangnya ditarik kembali diikuti oleh kawan-kawannya.
Ketiga jago Ko-san-pay itu sama sekali tidak menduga mereka akan dibebaskan secara begitu, mau tak mau
timbul juga rasa terima kasih mereka kepada Ting-sian. Mereka memberi hormat, lalu putar tubuh dan lari
pergi dengan cepat.
Dalam pada itu api berkobar semakin hebat, banyak orang Ko-san-pay yang bergelimpangan, baik yang sudah
mati maupun luka parah. Belasan orang di antaranya yang lukanya rada ringan berusaha merangkak bangun
untuk menghindari terbakar, tapi yang terluka parah dan tidak mampu bergerak terpaksa berteriak-teriak
minta tolong ketika api menjalar mendekati mereka.
“Urusan ini bukan salah mereka, tapi adalah tanggung jawab Co-ciangbun,” ujar Ting-sian Suthay. “Ih-soh, Gijing,
bolehlah kalian menolong mereka.”
Para murid Hing-san-pay cukup kenal watak sang ketua yang welas asih, mereka tidak berani membantah,
segera mereka berusaha memeriksa orang-orang Ko-san-pay, asal yang masih bernapas lantas mereka angkat
ke tempat yang aman dan diberi obat.
Ting-sian Suthay menengadah ke selatan, kedua matanya mengembeng air mata, serunya mengharukan,
“Suci!” mendadak tubuhnya sempoyongan terus terbanting jatuh.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Semua orang terkejut, cepat mereka mendukungnya bangun, tertampak darah merembes keluar dari mulut
nikoh tua itu.
Kiranya Ting-sian Suthay bersama rombongannya telah dikepung musuh, sembari bertahan Ting-sian dan Tingyat
Suthay mengundurkan diri ke dalam gua pembakaran gamping itu di Lembah To-kiam-kok itu, mereka
telah bertahan beberapa hari lamanya, tanpa makan minum dan tidak mengaso pula, memangnya mereka
sudah payah lahir batin seperti pelita yang kehabisan minyak, sekarang musuh telah dihalau, hatinya berduka
pula atas gugurnya Ting-cing Suthay, saking sedihnya ia tak bisa menguasai diri lagi dan jatuh pingsan.
Keruan anak murid Hing-san-pay menjadi ribut, mereka memanggil suhu dan supek dengan khawatir. Luka
Ting-yat Suthay juga sangat berat sehingga mereka menjadi bingung.
Lenghou Tiong lantas berkata, “Api berkobar dengan hebat, marilah kita menyingkir ke sebelah sana. Thesumoay,
Cin-sumoay, kalian bertujuh boleh pergi mencari buah-buahan atau barang lain yang dapat dimakan.
Kukira semua orang sudah sangat kelaparan.”
The Oh dan Cin Koan mengiakan dan masing-masing pergi melaksanakan tugasnya. Tidak lama kemudian
mereka sudah kembali dengan membawa kantongan air untuk diminum Ting-sian, Ting-yat Suthay, dan
kawan-kawan yang terluka.
Pertempuran dahsyat di Liong-coan ini ternyata memakan korban 37 orang Hing-san-pay. Teringat pula kepada
Ting-cing Suthay serta para suci dan sumoay lain yang juga sudah gugur, para murid Hing-san-pay itu menjadi
berduka. Mendadak ada di antaranya menangis tergerung-gerung sehingga bergemalah suara tangis sedih di
lembah pegunungan itu.
Mendadak Ting-yat Suthay membentak bengis, “Yang mati pun sudah mati, kenapa kalian tak bisa menguasai
perasaan?”
Murid-murid Hing-san-pay kenal watak nikoh tua yang keras itu, mereka tidak berani membangkang, serentak
suara tangis lantas berhenti, hanya beberapa orang di antaranya masih terguguk-guguk.
Lalu Ting-yat berkata pula, “Bagaimana Ting-cing Suci mengalami celaka? Oh-ji, bicaramu lebih lancar, coba
lapor kepada Ciangbunjin sejelas-jelasnya.”
The Oh mengiakan, ia berbangkit, lalu menguraikan apa yang terjadi di Sian-he-nia di Hokkian, di mana
mereka masuk perangkap musuh, tapi berkat bantuan Lenghou Tiong mereka dapat selamat. Kemudian
mereka tertawan musuh pula di Ji-pek-poh, di situ Ting-cing Suthay diancam dan dipaksa oleh Ciong Tin dari
Ko-san-pay, kemudian dikerubut pula oleh orang-orang berkedok, untung Lenghou Tiong keburu datang
membantu lagi, tapi lantaran luka Ting-cing Suthay cukup parah, akhirnya wafat dengan tenang.
“Ya, jelas sudah bahwa kawanan bangsat Ko-san-pay telah menyamar sebagai orang Mo-kau untuk memaksa
Suci menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay,” kata Ting-yat Suthay. “Hm, sungguh keji dan kejam amat
rencana mereka. Jika mereka sudah berada dalam cengkeraman musuh, maka sukarlah bagi Suci untuk
menolak ancaman mereka.”
Sampai di sini suaranya menjadi lemah, ia terengah-engah sejenak, lalu menyambung, “Ting-cing Suci
dikepung musuh di Sian-he-nia, rupanya beliau mengetahui pihak lawan bukan orang-orang yang mudah
dihadapi, maka dia telah mengirim merpati pos untuk minta bantuan kepada kami. Tak terduga ... tak terduga
hal ini pun sudah berada dalam perhitungan musuh dan kita telah dicegat di sini.”
Melihat keadaan Ting-yat yang sudah lemah itu, murid Ting-sian yang bernama Gi-bun membujuknya, “Susiok,
harap kau mengaso saja, biar Tecu yang menceritakan pengalaman kita ini.”
“Pengalaman apa? Sudah terang musuh telah menyerbu Cui-gwe-am di malam buta dan pertempuran terus
berjalan sampai hari ini,” kata Ting-yat.
Gi-bun mengiakan, namun diuraikan juga secara singkat apa yang sudah terjadi selama beberapa hari akhirakhir
ini.
Kiranya orang-orang Ko-san-pay yang menyerbu Cui-gwe-am di tengah malam buta itu pun pakai kedok dan
menyamar sebagai anggota Mo-kau. Diserang secara besar-besaran dan mendadak, rombongan Hing-san-pay
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
hampir-hampir saja mengalami nasib pemusnahan keseluruhannya. Untung para nikoh Cui-gwe-am itu pun
terhitung suatu aliran persilatan tersendiri selama beberapa angkatan, di dalam biara itu masih tersimpan lima
batang Liong-coan-po-kiam, pedang wasiat gemblengan khas Kota Liong-coan. Ketua Cui-gwe-am, Jing-hiau
Suthay, dalam keadaan bahaya telah membagi-bagikan pedang pusakanya kepada Ting-sian dan Ting-yat,
dengan pedang pusaka yang sanggup memotong besi seperti merajang sayur itu, banyak sekali senjata pihak
musuh telah dikutungi dan tidak sedikit juga melukai pihak lawan. Dengan demikian rombongan Ting-sian
dapat bertempur sambil mengundurkan diri sampai di lembah pegunungan ini.
Lembah gunung ini dahulunya terdapat tambang besi, selama beberapa tahun terkenal sebagai “Lembah
Tempat Pedang”. Kemudian simpanan baja di lembah itu habis digali, tempat gembleng pedang berpindah
tempat, hanya tinggal sisa-sisa tungku dan rumah pembakaran yang pernah dihuni itu. Berkat rumah-rumah
pembakaran itu pula orang-orang Hing-san-pay dapat bertahan sekian hari dan tidak sampai musnah. Orangorang
Ko-san-pay sudah mulai mengumpulkan kayu dan rumput kering dan akan membakar hidup-hidup
mereka, coba kalau datangnya Lenghou Tiong terlambat setengah hari saja pasti keadaan sudah runyam.
Ting-yat Suthay tidak sabar mendengarkan cerita Gi-bun itu, dia hanya mendelik ke arah Lenghou Tiong.
Mendadak ia berkata, “Kau ... kau sangat baik. Tapi mengapa kau dipecat oleh gurumu, katanya kau
berkomplot dengan pihak Mo-kau?”
“Tecu kurang teliti dalam pergaulan, tatkala itu memang benar berkenalan dengan beberapa tokoh dari Mokau,”
sahut Lenghou Tiong.
“Hm, binatang-binatang seperti kaum Ko-san-pay ini terang lebih jahat daripada orang Mo-kau,” jengek Tingyat
Suthay. “Huh, apakah orang-orang yang menamakan dirinya beng-bun-cing-pay selalu lebih baik daripada
Mo-kau?”
Tiba-tiba Gi-ho menyela, “Lenghou-suheng, bukan maksudku hendak mengolok-olok gurumu, padahal dia
mengetahui bahwa Hing-san-pay kami sedang mengalami kesukaran, tapi dia sengaja berpeluk tangan tak mau
membantu, di dalam hal ini bukan mustahil ... bukan mustahil dia sudah menyetujui peleburan Ngo-gak-kiampay
sebagaimana disarankan oleh Ko-san-pay.”
Tergerak hati Lenghou Tiong, ia merasa ucapan Gi-ho itu bukannya tidak mungkin. Tapi sejak kecil ia sudah
memuja sang guru, dalam hati sedikit pun tidak pernah timbul rasa kurang hormatnya kepada beliau. Maka
jawabnya, “Kukira suhu tidak sengaja tinggal diam, besar kemungkinan beliau ada urusan penting lain, maka
... maka ....”
Sejak tadi Ting-sian memejamkan mata buat menghimpun semangat, kini perlahan-lahan ia membuka mata
dan berkata, “Hing-san-pay mengalami bencana, semuanya berkat bantuan Lenghou-siauhiap, budi kebaikan
ini ....”
“Ah, Tecu hanya melakukan kewajiban sekadarnya, ucapan Supek tak berani kuterima,” cepat Lenghou Tiong
menjawab.
Ting-sian menggeleng, katanya, “Lenghou-siauhiap tidak perlu merendah diri. Gak-suheng sendiri tidak
sempat, maka murid pertamanya yang dikirim ke sini untuk membantu juga sama saja. Gi-ho, kau jangan
sembarang omong dan kurang hormat kepada orang tua.”
“Tecu tidak berani,” sahut Gi-ho sambil membungkuk tubuh. “Cuma ... cuma Lenghou-suheng sudah diusir dari
Hoa-san-pay, Gak-supek tidak mengakui dia lagi sebagai murid. Kedatangannya juga bukan atas suruhan Gaksupek.”
“Kau memang selalu tidak mau kalah dan suka berdebat saja,” ujar Ting-sian dengan tersenyum. Dasar
wataknya memang halus, selamanya tidak pernah bersuara bengis kepada anak muridnya.
Mendadak Gi-ho menghela napas dan berkata pula, “Ai, kalau Lenghou-suheng adalah wanita tentu segalanya
akan menjadi baik.”
“Sebab apa?” tanya Ting-sian Suthay.
“Dia sudah dipecat oleh Hoa-san-pay dan tidak punya ikatan keluarga lagi, jika dia wanita tentu dapat masuk
menjadi anggota Hing-san-pay kita,” sahut Gi-ho. “Dia telah bahu-membahu dengan kita menghadapi segala
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
kesukaran, sudah mirip orang sendiri ....”
“Ngaco-belo! Sudah begini besar, bicaramu masih seperti anak kecil saja,” bentak Ting-yat Suthay.
Sebaliknya Ting-sian tetap tersenyum, katanya, “Gak-suheng hanya salah paham saja, kelak bila sudah jelas
duduknya perkara tentu Lenghou-siauhiap akan diterima kembali dan justru tenaga Lenghou-siauhiap akan
sangat diandalkan. Seumpama dia tidak mau kembali ke Hoa-san-pay lagi, dengan ilmu silatnya yang tinggi
dan keluhuran budinya, andaikan dia mau mendirikan aliran tersendiri juga bukan soal sulit.”
“Tepat sekali ucapan Supek,” The Oh menimbrung. “Lenghou-suheng, begitu jahat orang-orang Hoa-san-pay
terhadap kau, kenapa tidak kau dirikan suatu ... suatu Lenghou-pay saja? Hm, apa kau mesti kembali lagi ke
Hoa-san-pay, memangnya kau kepingin?”
Lenghou Tiong bersenyum getir, katanya, “Dorongan Supek benar-benar sangat membesarkan hati Tecu. Tapi
semoga kemudian hari suhu sudi memaafkan kesalahan Tecu dan berkenan kembali ke dalam perguruan,
selain itu Tecu tidak punya keinginan lain lagi.”
“Kau tidak punya keinginan lain? Bagaimana dengan siausumoaymu?” tanya Gi-ho yang berwatak lugu dan
suka bicara blakblakan itu.
Lenghou Tiong menggeleng, katanya ke pokok persoalan lain, “Marilah kita selesaikan layon para suci dan
sumoay yang gugur. Apa mesti dikebumikan atau diperabukan?”
“Ya, kira perabukan saja mereka,” ujar Ting-sian Suthay dengan suara rada parau melihat sekian anak
muridnya bergelimpangan menjadi korban keganasan orang. Karena itu beberapa muridnya kembali menangis
lagi.
Ada beberapa murid Hing-san-pay sudah tewas beberapa hari yang lalu, ada pula yang menggeletak jauh di
sana, beramai-ramai Gi-ho dan lain-lain mengumpulkan jenazah saudara-saudara seperguruan itu sembari
mencaci maki kekejaman orang Ko-san-pay.
Selesai mengurusi jenazah hari pun sudah gelap. Malam itu lantas mereka lewatkan di lembah pegunungan
sunyi itu. Besok paginya para murid Hing-san-pay mengusung Ting-sian dan Ting-yat Suthay serta saudarasaudara
seperguruan yang terluka ke Kota Liong-coan. Dari situ mereka melanjutkan perjalanan melalui
sungai, mereka menyewa empat buah perahu berkabin dan menuju ke utara.
Khawatir orang Ko-san-pay menyerang pula di tengah jalan, Lenghou Tiong ikut dalam rombongan Hing-sanpay
itu.
Untuk menghindarkan prasangka jelek, Gi-lim sengaja menumpang di perahu lain. Setiap hari Lenghou Tiong
omong-omong dengan Gi-ho, The Oh, Cin Koan, dan lain-lain sehingga tidak begitu kesepian. Sementara itu
keadaan Ting-sian dan Ting-yat Suthay sudah berangsur baik sesudah perahu mereka lewat Ci-tong-kan.
Sampai di muara Sungai Tiangkang, mereka lantas ganti sewa perahu lain dan berlayar ke mudik, ke hulu
sungai di sebelah barat. Perjalanan yang agak lambat itu diperkirakan setiba di Hankau semua orang yang
terluka sudah dapat sembuh, di situ mereka dapat mendarat lalu melanjutkan perjalanan ke muara untuk
pulang ke Hing-san.
Suatu hari sampailah mereka di muara Danau Hoan-yang-oh, perahu mereka berlabuh di tepi Kota Kiukang.
Perahu yang mereka tumpangi sekarang adalah perahu layar yang amat besar, beberapa puluh orang
berkumpul menjadi satu kapal. Di waktu malam Lenghou Tiong tidur bersama para kelasi dan juru mudi di
buritan.
Tengah malam itu, tiba-tiba Lenghou Tiong mendengar di tepi sungai sana ada suara tepukan tangan yang
perlahan, berturut-turut bertepuk tiga kali, berhenti sejenak lalu bertepuk tiga kali pula. Menyusul seorang di
atas perahu sebelah barat juga balas tepuk tangan tiga kali berhenti sebentar, lalu bertepuk lagi tiga kali.
Tepuk tangan itu sebenarnya tidak keras, tapi lwekang Lenghou Tiong sekarang sudah amat tinggi, dengan
sendirinya daya pendengarannya juga sangat tajam. Begitu mendengar suara yang aneh segera ia terjaga
bangun. Ia tahu tepukan tangan itu adalah kode di antara orang-orang Kangouw yang saling memberi isyarat.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Selama beberapa hari Lenghou Tiong selalu waspada dan mengawasi gerak-gerik sepanjang sungai kalau-kalau
musuh menyerang secara mendadak. Pikirnya, “Coba kulihat siapa yang datang. Jika mereka bermaksud jahat
kepada Hing-san-pay akan kubereskan saja secara diam-diam supaya tidak mengejutkan Ting-sian Suthay dan
lain-lain.”
Ia memandang ke perahu di sebelah barat sana, tertampak sesosok bayangan melompat ke daratan. Cepat
Lenghou Tiong ikut melompat ke tepi sungai dengan enteng sekali, lalu mengitar di belakang sederetan
keranjang yang berisi guci minyak yang siap di tepi sungai itu, terus menyusur lebih dekat ke sana.
Terdengar suara seorang sedang berkata, “Nikoh-nikoh di atas kapal itu memang tenar dari Hing-san-pay.”
Lenghou Tiong berjongkok dengan diam, terdengar seorang lagi menjawab, “Lalu bagaimana baiknya? Apakah
kita turun tangan malam ini juga atau tunggu sesudah hari terang? Apakah kau mengetahui tokoh-tokoh Hingsan-
pay mana yang ikut datang?”
Yang pertama tadi berkata, “Kudengar para nikoh itu ada yang memanggil suhu dan ada yang memanggil
supek, jelas Ting-sian dan Ting-yat kedua nikoh tua itu berada bersama mereka, Ting-cing sudah jelas mati di
Hokkian. Menghadapi nikoh-nikoh tua itu kita harus hati-hati. Pernah kusaksikan Ting-cing bertempur dengan
orang di Soatang, kedua telapak tangannya yang bekerja naik-turun itu sekaligus pernah merobohkan tiga
lawan tangguh terkenal di Soatang. Kabarnya kepandaian Ting-sian lebih tinggi pula daripada Ting-yat.”
“Jika begitu kukira lebih baik kita berunding dulu dengan para kawan kita,” kata temannya tadi.
“Tapi menurut pendapatku, asalkan kita berusaha merintangi keberangkatan kawanan nikoh ini ke barat kan
urusan menjadi beres?” kata yang lain. “Jika kita berunding dengan teman-teman kan menandakan kita berdua
terlalu bodoh.”
Dalam pada itu Lenghou Tiong telah merunduk lebih dekat, di bawah sinar bulan bintang yang remang-remang
dilihatnya seorang berperawakan tegap, muka penuh godek mirip duri landak. Seorang lagi hanya tertampak
dari samping, cuma raut mukanya kelihatan panjang lancip, orang ini kedengaran sedang menjawab, “Namun
melulu kekuatan Pek-kau-pang kita jelas kita tak mampu melawan mereka. Apalagi kalau bertempur secara
terang-terangan.”
“Siapa bilang bertempur secara terang-terangan?” ujar si godek. “Biarpun ilmu silat kawanan nikoh itu sangat
tinggi, kalau sudah kecebur di dalam air apa yang bisa mereka lakukan? Besok kita tunggu saja kalau kapal
mereka sudah dilepas ke tengah sungai, kita lantas selulup ke dalam sungai untuk membobol perahu mereka,
dengan demikian masakah mereka takkan tertawan satu per satu?”
“Akal ini sangat bagus,” seru si muka lancip. “Dengan jasa besar ini nama Pek-kau-pang (Gerombolan Ular
Putih) kita tentu akan tambah gemilang di Kangouw. Cuma aku masih mengkhawatirkan sesuatu.”
“Mengkhawatirkan apa?” tanya si godek.
“Ngo-gak-kiam-pay mereka telah berserikat, kukhawatir bila Bok-taysiansing dari Heng-san-pay mengetahui
perbuatan kita, mungkin sekali dia akan mencari perkara kepada Pek-kau-pang kita.”
“Hm, selama ini kita pun sudah kenyang dibuat bulan-bulanan oleh Heng-san-pay. Sebaliknya sekali ini kalau
kita tidak berusaha mati-matian, kelak kalau kita ada urusan tentu kawan-kawan lain juga takkan membantu.
Padahal kalau usaha besar kali ini berhasil, boleh jadi Heng-san-pay akan ikut dihancurkan pula, perlu apa
mesti takut kepada seorang Bok-taysiansing segala?”
“Baik, kuterima usulmu,” sahut si muka lancip akhirnya. “Sekarang juga kita kumpulkan anak buah yang mahir
menyelam.”
Pada saat itulah Lenghou Tiong lantas melompat ke luar, dengan gagang pedang ia ketok belakang kepala si
muka lancip, kontan orang itu jatuh kelengar. Si godek lantas memukul, tapi tahu-tahu thay-yang-hiat di
pelipisnya telah kena ditonjok oleh gagang pedang Lenghou Tiong, seperti gasingan saja si godek berputarputar
dan akhirnya jatuh terduduk.
Pedang Lenghou Tiong menebas, dua buah tutup keranjang guci minyak telah dipotong, lalu kedua orang itu
diangkatnya untuk dijebloskan ke dalam guci minyak yang penuh berisi minyak sayur. Rupanya guci-guci
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
minyak itu disiapkan untuk esok harinya akan dimuat ke dalam perahu.
Begitu kedua orang itu masuk guci minyak, seketika mulut dan hidung mereka terendam, karena kerendam
minyak dingin mereka lantas siuman malah dan kontan gelagapan karena tercekok minyak.
Tiba-tiba ada orang berkata di belakang, “Jangan mengganggu jiwa mereka, Lenghou-siauhiap!”
Itulah suara Ting-sian Suthay.
Lenghou Tiong terperanjat karena datangnya Ting-sian itu ternyata sama sekali tak diketahuinya. Segera ia
mengiakan sembari mengendurkan tangannya yang menahan di atas kepala kedua orang itu.
Begitu merasa tekanan di atas kepala sudah kendur, segera kedua orang itu bermaksud melompat ke luar. Tapi
Lenghou Tiong keburu berkata dengan tertawa, “Eh, jangan bergerak!”
Berbareng pedangnya mengetok pula batok kepala kedua orang sehingga mereka dipaksa ke dalam guci
minyak lagi.
Kedua orang itu meringkuk di dalam guci minyak dan terendam minyak sampai sebatas leher, mata mereka
terbelalak bingung karena tidak mengetahui cara bagaimana mereka bisa mengalami nasib demikian.
Dalam pada itu sesosok bayangan tampak melompat dari atas perahu, kiranya Ting-yat Suthay adanya. Dia
bertanya, “Suci, apakah ada yang tertangkap?”
“Ternyata dua tongcu dari Pek-kau-pang di Lembah Kiukang sini, Lenghou-siauhiap hanya bercanda saja
dengan mereka,” sahut Ting-sian. Lalu ia berpaling kepada si godek dan bertanya, “Saudara she Ih atau she
Ce? Apakah Su-pangcu baik-baik saja?”
Si godek memang she Ih, sahutnya dengan heran, “Aku she Ih, dari ... dari mana kau tahu? Su-pangcu kami
sangat baik.”
Dengan tersenyum Ting-sian berkata, “Ih-tongcu dan Ce-tongcu dari Pek-kau-pang di dunia Kangouw terkenal
sebagai ‘Tiangkang-siang-hui-hi’ (Dua Ikan Terbang di Sungai Tiangkang), nama kebesaran kalian sudah lama
seperti bunyi guntur memekak telingaku.”
Kiranya Ting-sian Suthay adalah seorang yang sangat teliti dalam segala hal, meski dia jarang berkelana, tapi
macam-macam tokoh dari berbagai golongan dan aliran cukup dipahaminya. Si godek she Ih dan si muka
lancip she Ce ini sebenarnya cuma jago kelas tiga atau empat di dunia persilatan, tapi begitu melihat raut
mukanya tadi ia lantas dapat menduga asal usulnya.
Si muka lancip tampak sangat senang karena pujian Ting-sian, sahutnya, “Ah, mana kami berani terima istilah
seperti guntur memekak telinga.”
Mendadak Lenghou Tiong kerahkan tenaga dan menekan kepala kedua orang itu ke dalam minyak, lalu
dikendurkan lagi, katanya dengan tertawa, “Aku pun sudah lama mendengar nama kebesaran kalian seperti
minyak menyusup ke dalam telinga.”
Keruan si muka lancip menjadi gusar. “Kau ... kau ....” ia bermaksud memaki, tapi tidak berani.
“Setiap pertanyaanku harus kau jawab dengan sejujurnya, jika dusta sedikit saja segera akan kubikin kalian
‘Ikan Terbang Sungai Tiangkang’ menjadi ‘Belut Mati Terendam Minyak’,” habis berkata ia terus tekan pula
kepala si godek she Ih ke dalam minyak.
Ting-sian dan Ting-yat tersenyum geli, mereka sama pikir, “Pemuda ini menang nakal. Tapi caranya ini juga
cara paling bagus untuk memaksa pengakuan dari tawanan.”
Begitulah Lenghou Tiong lantas mulai bertanya, “Pek-kau-pang kalian mulai kapan berkomplot dengan Ko-sanpay?
Siapa yang suruh kalian membikin susah Hing-san-pay?”
“Berkomplot lengan Ko-san-pay inilah aneh?” sahut si godek. “Para kesatria Ko-san-pay tiada satu pun yang
kami kenal.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Haha, pertanyaan pertama saja sudah tidak kau jawab dengan jujur, biar kau minum minyak lebih kenyang,”
seru Lenghou Tiong. Habis berkata, kembali ia tekan kepala orang itu sehingga kelabakan pula terendam
minyak. Lalu katanya terhadap si muka lancip, “Lekas kau bicara terus terang, apakah kau juga ingin menjadi
belut rendaman minyak?”
“Aku tidak ingin menjadi belut,” sahut orang she Ce itu. “Tapi apa yang dikatakan Ih-toako tidaklah dusta, kami
benar-benar tidak kenal tokoh Ko-san-pay. Lagi pula Ko-san-pay adalah kawan serikat Hing-san-pay sendiri,
hal ini diketahui oleh setiap orang bu-lim, mana mungkin Ko-san-pay menyuruh kami membikin susah Hingsan-
pay kalian.”
Lenghou Tiong angkat pedangnya untuk melepaskan kepala she Ih itu, lalu bertanya pula, “Tadi kau
mengatakan besok akan menenggelamkan kapal yang ditumpangi Hing-san-pay di tengah sungai, maksud
kalian benar-benar keji, sebenarnya apa salahnya Hing-san-pay terhadap kalian?”
Ting-yat Suthay yang datang belakangan belum mengetahui apa sebabnya Lenghou Tiong mengompes kedua
orang itu, sekarang demi mendengar keterangan itu, ia menjadi gusar dan membentak, “Bangsat kurang ajar,
jadi kau bermaksud menenggelamkan kami.”
Anak murid Hing-san-pay hampir seluruhnya adalah orang utara yang tidak dapat berenang, jika benar kapal
mereka tenggelam di tengah sungai, maka sukar untuk menghindarkan diri dari mati tenggelam. Kalau
dibayangkan sungguh mengerikan.
Khawatir kalau dibenamkan lagi ke dalam minyak, lekas-lekas orang she Ih itu mendahului menjawab,
“Selamanya Hing-san-pay tiada permusuhan apa-apa dengan Pek-kau-pang kami yang tiada artinya ini, mana
kami berani pula mencari perkara kepada Hing-san-pay kalian. Hanya saja kami ... kami menyangka kalian
adalah sesama pemeluk agama Buddha, kepergian kalian ke arah barat besar kemungkinan akan memberikan
bantuan, maka ... maka secara sembrono timbul maksud jelek kami. Tapi lain kali kami tidak berani lagi.”
Makin mendengar makin bingung Lenghou Tiong, tanyanya, “Apa maksudmu sesama pemeluk agama dan
memberi bantuan segala? Bicaralah yang jelas, bikin bingung saja.”
“Ya, ya,” sahut orang she Ih. “Meski Siau-lim-pay bukan satu di antara Ngo-gak-kiam-pay, tapi kami kira
hwesio dan nikoh adalah orang satu keluarga ....”
“Kurang ajar!” mendadak Ting-yat membentak.
Orang she Ih itu kaget, tanpa disadari terus mengkeretkan tubuhnya sehingga kelabakan karena mulutnya
kemasukan minyak.
Dengan menahan tawa Ting-yat menuding si muka lancip, “Lekas kau yang bicara!”
“Ya, ya,” sahut orang she Ce. “Ada seorang ‘Ban-li-tok-heng’ Dian Pek-kong, entah Suthay kenal baik tidak
dengan dia?”
Ting-yat menjadi gusar, pikirnya Dian Pek-kong itu adalah manusia cabul, masakah dirinya seorang padri suci
kenal baik dengan dia? Benar-benar suatu penghinaan besar, segera sebelah tangannya melayang, kontan ia
hendak menempeleng orang she Ce.
Tapi Ting-sian Suthay keburu mencegah, katanya, “Sumoay jangan gusar, mungkin otak mereka sudah beku
karena terendam minyak, maka bicara tak keruan.”
Lalu ia tanya orang she Ce, “Ada apa tentang Dian Pek-kong?”
“Dian Pek-kong, Dian-toaya itu adalah sobat baik Su-pangcu kami,” sambung orang she Ce. “Beberapa hari
yang lalu Dian-toaya ....”
“Dian-toaya apa? Manusia kotor begitu sudah lama seharusnya dibunuh, tapi kalian malah berkawan dengan
dia, ini menandakan Pek-kau-pang kalian juga bukan manusia baik-baik,” kata Ting-yat dengar gusar.
Orang she Ce menjadi ketakutan, berulang-ulang ia hanya mengiakan saja.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Kami hanya tanya apa sebabnya Pek-kau-pang kalian memusuhi Hing-san-pay, kenapa kau sebut-sebut pula
Dian Pek-kong?” ujar Ting-yat pula. Lantaran dahulu Dian Pek-kong pernah mengganggu muridnya, yaitu Gilim,
ia pun tidak berhasil membunuhnya, hal ini dianggapnya sebagai kejadian yang memalukan, maka ia
merasa risi jika orang menyebut namanya Dian Pek-kong.
Kembali orang she Ce mengiakan, katanya, “Ya, ya. Soalnya kawan-kawan ingin menolong Yim-siocia, tapi
khawatir orang-orang cing-pay membantu kaum hwesio, maka kami berdua yang sembrono ini ikut-ikut timbul
pikiran baru ....”
Ting-yat tambah bingung mendengar cerita yang tak keruan juntrungannya itu, ia menghela napas dan
berkata, “Suci, kedua orang dogol ini harus kau yang tanyai saja.”
Ting-sian tersenyum, katanya kemudian, “Yim-siocia katamu, apakah kau maksudkan putri Yim-kaucu dari
Tiau-yang-sin-kau yang dulu?”
Lenghou Tiong tergetar. “Apa yang mereka maksudkan adalah Ing-ing?” wajahnya berubah seketika dan
tangan mengeluarkan keringat.
“Ini ... inilah kurang jelas,” sahut orang she Ce. “Yang jelas beberapa waktu yang lalu Dian-toaya, eh keliru,
Dian Pek-kong telah bertamu kepada Su-pangcu kami, katanya menurut rencana pada tanggal 15 bulan 12
yang akan datang ini para kawan beramai-ramai akan menyerbu Siau-lim-si untuk menyelamatkan Yim-siocia.”
“Menyerbu Siau-lim-si? Apa kepandaian kalian sehingga berani menepuk lalat di atas kepala harimau? Kurang
ajar benar keparat Dian Pek-kong itu,” omel Ting-yat.
“Ya, ya, tentu saja kami tak mampu apa-apa,” sahut orang she Ce.
“Kukira Dian Pek-kong itu hanya bertugas sebagai penghubung saja karena kakinya paling cepat,” ujar Tingsian.
“Dalam urusan ini sesungguhnya siapa yang memegang pimpinan?”
Dari tadi orang she Ih diam saja, sekarang ia lantas menyela, “Ketika para kawan mendengar Yim-siocia
dikurung oleh kepala gun ... eh, maksudku hwesio-hwesio dari Siau-lim-si, serentak semua orang menyatakan
siap pergi menolong Yim-siocia, maka sukar dikatakan siapa yang pegang pimpinan.”
Bab 88. Yim Ing-ing Disekap Dalam Siau-lim-si
“Apa kalian tidak takut kepada Tiau-yang-sin-kau (nama Mo-kau yang asli)?” tanya Ting-sian.
“Bila teringat kepada budi kebaikan Yim-siocia, betapa pun Tonghong-kaucu akan merintangi juga tak dipikir
lagi oleh para kawan,” sahut orang she Ih. “Semua kawan menyatakan, sekalipun badan hancur lebur bagi Yimsiocia
juga rela.”
Seketika itu timbul macam-macam pertanyaan dalam benak Lenghou Tiong, “Yim-siocia yang mereka katakan
itu apakah benar Ing-ing adanya? Sebab apa dia ditahan oleh padri Siau-lim-si? Jika betul dia orang Mo-kau,
mengapa Tonghong-kaucu dari Mo-kau malah akan merintangi orang-orang yang bermaksud menolongnya?
Usianya masih muda belia, apa budi kebaikannya terhadap orang-orang lain? Mengapa orang-orang sebanyak
ini siap berkorban baginya demi mendengar dia berada dalam bahaya? Melihat gelagatnya Ting-sian Suthay
terang mengetahui lebih banyak daripadaku, entah dia akan tinggal diam atau akan pergi membantu pihak
Siau-lim-pay?”
Terdengar Ting-sian Suthay berkata, “Kalian khawatir Hing-san-pay kami pergi membantu Siau-lim-pay, sebab
itu kalian bermaksud menenggelamkan kapal kami?”
“Ya,” sahut orang she Ce, “sebab kami pikir hwesio dan nikoh sama-sama itu ... ini ....”
“Sama-sama ini itu apa?” damprat Ting-yat dengan gusar.
“Ya, ya, ini ... itu ... hamba tidak berani banyak omong ....” kata orang she Ce dengan gelagapan.
“Sebelum tanggal 15 bulan 12 tiba, tentunya Pek-kau-pang kalian juga akan pergi ke Siau-lim-si bukan?” tanya
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Ting-sian.
“Hal ini tergantung perintah Su-pangcu,” sahut orang she Ce dan she Ih bersama. Lalu yang she Ce
menambahkan, “Karena kelompok-kelompok teman yang lain beramai-ramai akan pergi, rasanya Pek-kau-pang
kami juga takkan ketinggalan.”
“Kelompok-kelompok lain? Siapa-siapa saja mereka?” tanya Ting-sian.
“Menurut Dian ... Dian Pek-kong, katanya ada Hay-soa-pang dari Ciatkang, Hek-hong-hwe dari Soatang, Thianho-
pang, Tiang-keng-pang ....” begitulah berturut-turut ia menyebut beberapa puluh gerombolan dan
perkumpulan Kangouw.
Ting-yat mengerut kening, katanya, “Semuanya orang-orang sesat yang tidak punya pekerjaan yang baik.
Biarpun berjumlah sebanyak itu juga belum tentu mampu melawan Siau-lim-pay.”
Mendengar nama-nama yang disebut orang she Ce tadi ada sebagian pernah dikenalnya ketika di Ngo-pahkang
dahulu, maka Lenghou Tiong tambah yakin bahwa Yim-siocia yang dimaksudkan itu pastilah Ing-ing.
Cepat ia ikut tanya, “Sebenarnya apa sebabnya pihak Siau-lim-pay menahan ... menahan Yim-siocia itu?”
“Entahlah, mungkin sekali kawanan hwesio Siau-lim-si itu terlalu kenyang makan dan iseng, maka sengaja cari
gara-gara,” sahut orang she Ce.
“Baiklah, silakan kalian pulang menyampaikan salam kami kepada Su-pangcu, katakan kami tidak sempat
mampir. Perjalanan kami selanjutnya juga diharapkan bantuan kalian, semoga jangan mengirim orang
membobol kapal yang kami tumpangi ini.”
Berulang-ulang kedua orang Pek-kau-pang itu mengiakan dan menyatakan tidak berani.
Lalu Ting-sian berkata pula kepada Lenghou Tiong, “Malam yang tenang dan permai ini silakan Lenghousiauhiap
menikmati lebih jauh, maafkan kami tidak mengiringi lagi.”
Habis berkata bersama Ting-yat mereka lantas melangkah kembali ke kapal.
Lenghou Tiong tahu nikoh tua itu sengaja menyingkir agar dirinya dapat tanya lebih jelas terhadap kedua orang
Pek-kau-pang itu. Tapi seketika pikirannya menjadi kacau sehingga tidak tahu apa yang harus ditanyakan
kepada mereka.
Ia berjalan mondar-mandir di tepi sungai, sebentar-sebentar berdiri termenung, lalu mondar-mandir lagi.
Dilihatnya bayangan bulan bergerak-gerak di tengah riak air, mendadak teringat olehnya, “Hari ini sudah
tanggal tua bulan 11. Padahal mereka beramai-ramai akan menuju Siau-lim-si pada tanggal 15 bulan 12, jadi
waktunya sudah dekat. Hong-ting dan Hong-sing Taysu dari Siau-lim-pay sangat baik padaku, orang-orang
yang bermaksud menolong Ing-ing pasti akan bertempur dengan Siau-lim-pay, tak peduli pihak mana yang
menang, yang pasti kedua pihak tentu akan jatuh korban. Ada baik sekali jika sekarang aku mendahului pergi
memohon Hong-ting Taysu agar suka membebaskan Ing-ing sehingga pertumpahan darah dapat dihindarkan,
cara demikian kan sangat bagus? Sementara ini Ting-sian dan Ting-yat Suthay juga sudah pulih semua
kesehatannya, meski tampaknya sudah tua dan sangat alim, tapi sesungguhnya Ting-sian Suthay adalah
seorang tokoh bu-lim yang hebat, maka perjalanan pulang ke utara rasanya takkan mengalami sesuatu
kesulitan. Cuma cara bagaimana aku harus mohon diri kepada mereka?”
Maklumlah, selama beberapa hari ini ia telah hidup berdampingan dengan para nona dan nikoh Hing-san-pay
itu, mereka sangat hormat dan menyukainya, meski mereka memanggilnya “Lenghou-suheng”, tapi
sebenarnya menganggapnya seperti seorang paman guru mereka. Sekarang mendadak harus berpisah rasanya
sukar untuk dikemukakan.
Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang halus, dua orang perlahan-lahan mendekat. Kiranya adalah Gilim
dan The Oh. Beberapa meter di hadapan Lenghou Tiong mereka lantas berhenti dan memanggil, “Lenghoutoako.”
Cepat Lenghou Tiong memapak maju, tanyanya, “Rupanya kalian juga terjaga bangun!”
“Lenghou-toako,” kata Gi-lim, “Ciangbun-supek suruh kami mengatakan padamu ....” sampai di sini suaranya
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menjadi rada tergagap, ia mengutik The Oh dan berkata, “Kau saja yang katakan padanya.”
“Kau yang disuruh ciangbun-susiok untuk mengatakan padanya,” ujar The Oh.
“Kau yang bicara juga sama saja,” sahut Gi-lim.
“Lenghou-toako,” The Oh lantas menyambung, “ciangbun-susiok bilang, budi besar tidak perlu menonjolkan
rasa terima kasih, yang pasti selanjutnya segala urusan Hing-san-pay siap di bawah perintahmu. Jika engkau
ingin pergi ke Siau-lim-si buat menolong Yim-siocia, maka kami sekalian pasti akan ikut berusaha sepenuh
tenaga.”
Lenghou Tiong menjadi heran, pikirnya, “Aku toh tidak menyatakan akan pergi menolong Ing-ing, dari mana
Ting-sian Suthay mengetahui? Ai, benarlah! Ketika para pahlawan berkumpul di Ngo-pah-kang, semuanya
menyatakan hendak menyembuhkan penyakitku, sudah tentu usaha mereka disebabkan keseganan mereka
terhadap Ing-ing. Kejadian itu telah menggegerkan dunia Kangouw dan diketahui setiap orang, sudah tentu
Ting-sian Suthay juga mendengar akan peristiwa itu.”
Teringat akan hal ini, tanpa terasa mukanya menjadi merah.
Dalam pada itu The Oh telah menyambung lagi, “Ciangbun-susiok bilang, soal ini paling baik jangan pakai
kekerasan. Beliau dan Ting-yat Susiok berdua saat ini sudah menyeberangi sungai terus menuju ke Siau-lim-si
untuk memohon Hong-ting Taysu sudi membebaskan Yim-siocia, adapun kami di bawah pimpinan Lenghoutoako
boleh menyusul ke sana secara perlahan-lahan.”
Seketika Lenghou Tiong tertegun mendengar cerita itu, untuk sejenak ia tidak sanggup bicara. Ketika
memandang ke tengah sungai, benar juga tertampak sebuah sampan kecil dengan layar putih sedang laju ke
utara. Tak terkatakan perasaannya saat itu. Ia berterima kasih dan malu pula. Katanya di dalam hati, “Kedua
Suthay adalah orang alim di dalam agama, orang kosen pula di dalam bu-lim, jika mereka sudi tampil ke muka
untuk mohon kemurahan hati Siau-lim-pay cara ini adalah paling baik memang daripada seorang keroco yang
tiada artinya seperti diriku ini. Besar kemungkinan Hong-ting Taysu akan membebaskan Ing-ing atas
permohonan Ting-sian dan Ting-yat Suthay.”
Berpikir demikian, hatinya menjadi lega pula. Ia berpaling, dilihatnya orang she Ih dan she Ce tadi masih
longak-longok di dalam guci minyak dan tidak berani merangkak ke luar. Mengingat maksud tujuan kedua
orang itu pun hendak menolong Ing-ing, sekarang dirinya memperlakukan mereka secara demikian, timbul
rasa tidak enak dalam hati Lenghou Tiong. Cepat ia mendekati mereka sambil memberi hormat, katanya,
“Lantaran kecerobohanku tadi sehingga membikin susah ‘Tiangkang-siang-hui-hi’ berdua kesatria, soalnya
memang aku tidak tahu duduknya perkara, maka diharap kalian sudi memaafkan.”
Sudah tentu Sepasang Ikan Terbang dari Tiangkang itu terheran-heran melihat sikap Lenghou Tiong yang aneh
itu, mula-mula garang terhadap mereka, tapi sekarang memberi hormat dan minta maaf segala. Cepat mereka
pun merangkap tangan dan membalas hormat. Karena kelakuan mereka yang sibuk itu, minyak sayur yang
merendam mereka lantas muncrat sehingga Lenghou Tiong, Gi-lim, dan The Oh kecipratan tetesan minyak.
Dengan tersenyum Lenghou Tiong manggut-manggut, katanya terhadap Gi-lim dan The Oh, “Marilah kita
kembali saja.”
Sampai di atas kapal, para murid Hing-san-pay sama sekali tidak menyinggung lagi urusan itu. Sampai Gi-ho
dan Cin Koan yang biasanya suka usilan juga tidak tanya satu kata pun kepada Lenghou Tiong. Agaknya
sebelum berangkat Ting-sian Suthay telah memberi pesan demikian kepada mereka agar tidak membikin rikuh
Lenghou Tiong.
Walaupun dalam hati Lenghou Tiong sangat berterima kasih, tapi demi melihat lagak lagu beberapa murid
Hing-san-pay memperlihatkan wajah tersenyum-senyum aneh, mau tak mau ia merasa kikuk juga. Pikirnya,
“Dari sikap mereka ini jelas kelihatan mereka yakin Ing-ing adalah kekasihku. Padahal hubunganku dengan
Ing-ing boleh dikata suci bersih, selamanya tidak pernah bicara satu patah kata mesra yang menyangkut lakilaki
dan perempuan. Tapi mereka tidak tanya, cara bagaimana aku memberi penjelasan?”
Ketika berhadapan dengan Cin Koan dan melihat sorot mata si nona berkedip-kedip penuh arti menggoda, tak
tahan lagi Lenghou Tiong lantas berkata, “Sama sekali bukan begitu halnya, kau ... kau jangan menduga
sembarangan.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Aku menduga sembarangan apa?” sahut Cin Koan tertawa.
Dengan muka merah Lenghou Tiong berkata, “Aku dapat terka pikiranmu.”
“Terka apa?” tanya Cin Koan.
Belum Lenghou Tiong menanggapi, tiba-tiba Gi-ho menyela, “Cin-sumoay, jangan banyak bicara lagi, apa kau
sudah lupa akan pesan supek?”
“Ya, ya, aku masih ingat,” sahut Cin Koan sambil dekap mulut dan menahan tawa.
Waktu Lenghou Tiong berpaling, dilihatnya Gi-lim duduk menyendiri di pojok sana dengan wajah pucat,
sikapnya sangat dingin. Tergerak hati Lenghou Tiong, pikirnya, “Entah apa yang sedang direnungkannya?
Mengapa dia tidak mau bicara dengan aku?”
Dengan termangu-mangu Lenghou Tiong memandanginya, tiba-tiba teringat ketika dirinya terluka di luar Kota
Heng-san dan dibawa lari dalam pangkuan Gi-lim, tatkala itu betapa perhatian dan mesranya dia terhadapnya,
sama sekali berbeda daripada sikapnya yang dingin dan tak acuh seperti sekarang ini. Apa sebabnya?
Begitulah ia memandang dengan kesima, sebaliknya Gi-lim tetap diam saja seperti orang sedang semadi.
“Lenghou-suheng!” tiba-tiba Gi-ho memanggil.
Tapi Lenghou Tiong tidak mendengar, ia tidak menjawab.
“Lenghou-suheng!” kembali Gi-ho memanggil dengan lebih keras.
Dengan terkejut Lenghou Tiong menoleh, sahutnya, “O, ada apa?”
“Ciangbun-supek memberi pesan apakah besok kita akan tetap meneruskan perjalanan dengan kapal atau
ganti melalui daratan, katanya terserah kepada keinginan Lenghou-suheng.”
Sesungguhnya di dalam hati Lenghou Tiong sangat ingin meneruskan perjalanan darat agar bisa lekas-lekas
mendapat beritanya Ing-ing, tapi ketika melirik, dilihatnya kelopak mata Gi-lim berlinang air mata dan harus
dikasihani, terpikir olehnya, “Mereka tentu menyangka aku terburu-buru ingin menjumpai Ing-ing, padahal
tiada terkandung pikiranku demikian.”
Maka katanya kemudian, “Ciangbun Suthay suruh kita menyusulnya perlahan-lahan, maka biarlah kita tetap
menumpang kapal saja. Rasanya kaum Pek-kau-pang takkan berani mengganggu kita lagi.”
“Apakah kau tidak khawatir lagi?” tanya Cin Koan dengan tertawa.
Muka Lenghou Tiong menjadi merah. Belum dia menjawab, tiba-tiba Gi-ho membentak, “Cin-sumoay, anak
perempuan kecil, kenapa selalu usil?”
“Aku sih tidak usil!” sahut Cin Koan dengan tertawa. “Omitohud, aku hanya sedikit khawatir.”
Begitulah besoknya kapal mereka terus menempuh arus ke hulu sungai. Lenghou Tiong memerintahkan juru
mudi menjalankan perahu menyusur tepian untuk menjaga kalau-kalau orang Pek-kau-pang mengganggu lagi.
Tapi setiba di wilayah Oupak tidak pernah terjadi apa-apa.
Untuk selanjutnya selama beberapa hari Lenghou Tiong tidak banyak pasang omong dengan anak murid Hingsan-
pay itu. Setiap malam bila perahu berlabuh ia suka mendarat untuk minum arak, kembalinya tentu dalam
keadaan mabuk.
Hari itu perahu mereka membelok ke utara menuju ke hulu Han-sui, malamnya perahu mereka berlabuh di
suatu kota kecil Keh-bin-to. Kembali Lenghou Tiong mendarat pula untuk minum arak.
Keh-bin-to itu hanya ada 20-an rumah, dia minum beberapa kati arak di suatu kedai arak yang sepi dan
sederhana. Tiba-tiba timbul pikirannya, “Entah bagaimana keadaan luka siausumoay? Agaknya obat yang
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
diantar Gi-cin dan Gi-leng itu akan dapat menyembuhkan lukanya. Dan bagaimana pula luka Lim-sute? Jika
Lim-sute tak bisa disembuhkan, lantas bagaimana dengan siausumoay?”
Sampai di sini ia menjadi terkesiap sendiri, pikirnya, “Wahai Lenghou Tiong, kau benar-benar manusia yang
rendah. Kau mengharapkan luka siausumoay lekas sembuh, tapi kau menginginkan pula kematian Lim-sute
oleh lukanya yang parah. Apa sesudah Lim-sute mati lantas siausumoay akan kawin dengan kau?”
Karena terlalu iseng, berturut-turut ia menghabiskan pula beberapa mangkuk arak. Lalu berpikir lagi, “Entah
siapa yang membunuh Lo Tek-nau dan patsute? Mengapa orang itu menyerang Lim-sute pula? Ai, berturutturut
Hoa-san-pay kehilangan beberapa murid, boleh dikata banyak mematahkan kekuatannya. Entah
bagaimana pula keadaan suhu dan sunio sekarang ini?”
Ia angkat mangkuk arak, sekali tenggak kembali dihabiskan isinya. Kedai kecil itu tiada penganan-penganan
teman arak, yang ada cuma kacang goreng. Maka Lenghou Tiong mencomot beberapa biji kacang goreng ke
dalam mulutnya.
Tiba-tiba terdengar suara orang menghela napas di belakangnya sambil berkata, “Ai, laki-laki di dunia ini
sembilan dari sepuluh orang berhati palsu.”
Lenghou Tiong menoleh dan memandang ke arah orang yang bicara itu, di bawah cahaya lilin yang rada guram
ternyata di dalam kedai arak itu selain dirinya hanya ada seorang lagi yang mendekam di atas meja di pojok
sana. Di atas meja tertaruh poci dan cawan arak, pakaian orang itu compang-camping, melihat keadaannya
tidak menyerupai orang yang terpelajar.
Kembali Lenghou Tiong menenggak araknya tanpa ambil pusing kepada orang itu. Ketika ia hendak mengisi
mangkuknya lagi, ternyata isi poci sudah kosong.
Terdengar orang di belakangnya berkata pula, “Lantaran kau, orang telah dikurung di tempat yang gelap gulita,
tapi kau sendiri malah berkecimpung di tengah-tengah pupur dan gincu, baik nona cilik maupun nikoh yang
gundul dan nenek-nenek, semuanya jadi. Ai, sungguh kasihan dan harus disesalkan.”
Lenghou Tiong tahu yang dimaksudkan orang itu pasti dirinya, ia tidak menoleh, pikirnya, “Siapakah orang ini?
Dia mengatakan ‘lantaran kau orang telah dikurung di tempat gelap gulita’, apa yang dia maksudkan adalah
Ing-ing? Mengapa Ing-ing sampai terkurung lantaran diriku?”
Karena sengaja ingin mendengar lebih banyak, maka ia diam saja. Terdengar orang itu berkata pula, “Justru
banyak manusia-manusia yang tidak bersangkutan suka ikut campur urusan, katanya siap pergi menolong
orang meski jiwa bakal melayang. Tapi mereka justru ingin berebut menjadi kepala, urusan belum dikerjakan
sudah saling baku hantam sendiri. Ai, urusan Kangouw ini membuat aku merasa sebal.”
Tanpa menoleh sedikit pun Lenghou Tiong terus melompat ke belakang, dengan tepat ia jatuh ke bawah dan
duduk di hadapan orang itu sembari tangan masih memegangi mangkuk arak, katanya, “Cayhe tidak paham
urusan-urusan itu, mohon Lauheng (saudara) sudi memberi petunjuk.”
Tapi orang itu tetap berdekap di atas meja tanpa mengangkat kepala, katanya, “Ai, betapa senangnya tentu
sebanyak itu pula dosamu. Para nona dan nikoh Hing-san-pay agaknya malam ini akan tertimpa bencana.”
Lenghou Tiong tambah kejut, cepat ia berbangkit dan memberi hormat, katanya, “Harap Cianpwe terima salam
hormat Lenghou Tiong ini dan mohon suka memberi petunjuk-petunjuk yang berguna.”
Mendadak dilihatnya di sisi bangku yang diduduki orang itu tertaruh sebuah rebab tua, tiba-tiba hati Lenghou
Tiong tergerak, tahulah dia siapa gerangan orang ini. Cepat ia menyembah dan berkata, “Wanpwe Lenghou
Tiong beruntung dapat berjumpa dengan Bok-supek dari Heng-san. Maafkan tadi telah kurang hormat.”
Baru sekarang orang itu mengangkat kepalanya, sorot matanya yang tajam menatap sekejap ke arah Lenghou
Tiong. Memang betul dia adalah “Siau-siang-ya-uh” Bok-taysiansing, itu ketua Heng-san-pay. Dia mendengus,
lalu menjawab, “Aku tidak berani terima panggilan supek. Lenghou-tayhiap, selama beberapa hari ini kau
benar-benar senang.”
“Harap Bok-supek maklum,” sahut Lenghou Tiong sambil membungkuk tubuh. “Tecu diperintahkan Ting-sian
Supek agar ikut para suci dan sumoay dari Hing-san-pay menuju ke Siau-lim-si. Walaupun Tecu rada
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sembrono, tapi sedikit pun tidak berani berbuat kurang sopan terhadap para suci dan sumoay Hing-san-pay
itu.”
“Ai, sudahlah, silakan duduk saja,” kata Bok-taysiansing sambil menghela napas. “Apakah kau tidak tahu
bahwa orang Kangouw telah geger dan ramai membicarakan dirimu.”
“Kelakuan Wanpwe memang rada sinting dan kurang prihatin, sampai-sampai perguruan sendiri juga tidak
dapat memberi ampun, maka terhadap omongan iseng di kalangan Kangouw tak dapat Wanpwe ambil pusing
lagi,” sahut Lenghou Tiong dengan tersenyum pahit.
“Hm, jika kau rela dianggap sebagai pemuda bangor, tentu orang lain juga takkan peduli,” jengek Boktaysiansing.
“Tapi nama baik Hing-san-pay selama beberapa ratus tahun itu ikut runtuh di tanganmu, apakah
sedikit pun kau tidak punya perasaan. Dunia Kangouw telah geger, katanya kau seorang laki-laki telah
bercampur baur di tengah gerombolan nona-nona jelita dan nikoh muda Hing-san-pay. Jangankan nama bersih
berpuluh nona yang masih perawan itu ternoda, sampai-sampai suthay-suthay tua yang suci bersih itu pun
ikut-ikut dibuat bahan tertawaan. Hal ini benar-benar sudah keterlaluan.”
Serentak Lenghou Tiong melompat bangun sambil meraba pedangnya, serunya, “Entah siapa yang sengaja
menyiarkan kabar bohong yang tidak berdasar dan memalukan itu? Mohon Bok-supek memberi tahu.”
“Apakah kau bermaksud membunuh mereka?” tanya Bok-taysiansing. “Hm, orang Kangouw yang bicara
tentang dirimu sedikitnya beribu-ribu banyaknya, apakah kau sanggup membunuh habis mereka? Padahal
semua orang sama kagum atas rezekimu yang nomplok itu, apa sih jeleknya?
Lenghou Tiong duduk kembali dengan lesu, katanya di dalam hati, “Ya, memang perbuatanku suka menuruti
jalan pikiranku sendiri tanpa menimbang bahwa nama baik Hing-san-pay akan ikut tercemar. Lantas apa yang
harus kulakukan sekarang?”
Terdengar Bok-taysiansing menghela napas, katanya dengan suara ramah, “Selama lima hari ini, setiap malam
aku mengintai ke kapal kalian ....”
“Hah!” Lenghou Tiong bersuara kaget. Katanya di dalam hati, “Kiranya berturut-turut lima malam Bok-supek
telah mengintai ke atas kapal, tapi sedikit pun aku tidak tahu, sungguh teramat tidak becus aku ini.”
Lalu Bok-taysiansing menyambung pula, “Aku menyaksikan setiap malam kau tidur di buritan kapal tanpa lepas
baju, jangankan perbuatan tidak sopan kepada murid-murid Hing-san-pay, bahkan omong-omong iseng juga
tidak. Lenghou-laute, kau tidak cuma bukan pemuda bangor, sesungguhnya kau adalah laki-laki yang tahu
aturan, sedikit pun hatimu tidak tergoyah oleh nona-nona jelita yang memenuhi kapal itu, bahkan berlangsung
sekian lamanya imanmu tetap bertahan, sungguh jarang terdapat laki-laki sejati seperti kau. Aku benar-benar
kagum sekali.”
Ia mengacungkan jempolnya, lalu mengetok meja dan berkata pula, “Marilah kusuguh kau satu cawan.”
Segera ia angkat poci arak untuk menuangi mangkuk Lenghou Tiong.
“Ucapan Bok-supek sungguh membikin Siautit merasa gugup,” sahut Lenghou Tiong. “Sebenarnya Siautit juga
bukan patung, sekali-kali Siautit juga suka iseng, hanya saja kurasa tidak pantas punya pikiran jahat terhadap
para suci dan sumoay dari Hing-san-pay.”
“Kau benar-benar seorang laki-laki sejati,” puji Bok-taysiansing dengan tertawa. “Jika usiaku lebih muda 20
tahun, mana aku sanggup menjaga diri seperti kau tiap malam bersanding dengan nona-nona sebanyak itu.
Kau benar-benar hebat. Mari, habiskan semangkuk ini!”
Begitulah kedua orang lantas mengangkat mangkuk masing-masing, sekali tenggak segera habis isinya. Lalu
kedua orang bergelak tertawa.
Kalau melihat potongan dan dandanan Bok-taysiansing yang jelek, mana bisa mirip seorang ciangbunjin yang
namanya disegani di dunia Kangouw. Tapi terkadang sorot matanya menunjukkan kegagahperwiraannya,
hanya saja tanda-tanda demikian itu sekilas saja lantas lenyap dan kembali berwujud seorang yang buruk
rupa. Pikir Lenghou Tiong, “Ketua Hing-san-pay Ting-sian Suthay sangat ramah dan welas asih, ketua Thaysan-
pay Thian-bun Totiang kereng berwibawa, ketua Ko-san-pay Co Leng-tan suka bicara dan banyak tertawa,
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
guruku adalah seorang kesatria sopan, dan Bok-supek ini luarnya kelihatan jelek, mirip seorang rudin. Tapi
ketua-ketua Ngo-gak-kiam-pay sebenarnya adalah tokoh-tokoh yang sukar dijajaki. Sebaliknya aku Lenghou
Tiong cuma seorang bodoh, selisih jauh bila dibandingkan dengan mereka.”
Dalam pada itu Bok-taysiansing berkata pula, “Waktu di Oulam sudah kudengar bahwa kau bergalang-gulung
bersama kawanan nikoh Hing-san-pay, aku sangat heran, sebab Ting-sian Suthay bukanlah orang
sembarangan, mana dia mengizinkan anak muridnya berbuat tidak senonoh. Kemudian kudengar orang Pekkau-
pang membicarakan jejakmu, aku lantas menyusul ke sini. Lenghou-laute, ketika kau membikin rusuh di
rumah pelesiran di Heng-san, tatkala mana kuanggap kau adalah seorang pemuda bangor. Sebab itulah waktu
kemudian kau membantu Lau Cing-hong, Lau-sute, lantas timbul kesan baikku kepadamu, tujuanku menyusul
kemari adalah ingin memberi nasihat kepadamu. Tak terduga kenyataannya sama sekali di luar sangkaanku,
ternyata di tengah kesatria muda angkatan kini terdapat seorang laki-laki sejati seperti kau. Sungguh bagus,
bagus sekali. Marilah, mari, kita habiskan tiga mangkuk bersama.”
Menyusul ia menuang arak dan ajak menenggak lagi dengan Lenghou Tiong.
Beberapa mangkuk arak masuk perut seketika membuat Bok-taysiansing penuh bersemangat, berulang-ulang
ia ajak minum. Cuma kekuatan minumnya jauh dibandingkan Lenghou Tiong, hanya tujuh-delapan mangkuk
saja mukanya sudah merah membara. Ia berkata pula, “Lenghou-laute, kutahu kau paling gemar minum arak.
Aku tidak punya tanda penghormatan apa-apa kepadamu, terpaksa hanya mengiringi kau minum arak. Hehe,
selama ini orang bu-lim yang pernah kuajak minum juga dapat dihitung dengan jari. Seperti pertemuan besar
di atas Ko-san dulu, di antara hadirin ada seorang yang bernama Ko-yang-jiu Hui Pin. Orang ini banyak tingkah
dan tinggi hati, makin pandang makin gemas rasaku padanya, maka waktu itu satu tetes arak pun aku tidak
sudi minum. Tapi mulut orang she Hui masih terus mengoceh tak keruan, keparat, coba katakan,
menjengkelkan tidak?”
“Ya, orang yang tidak tahu diri seperti dia, pasti tidak punya hari akhir yang baik,” ujar Lenghou Tiong dengan
tertawa.
“Belakangan kabarnya orang itu mendadak menghilang dan tidak tahu ke mana perginya, sungguh heran
juga,” kata Bok-taysiansing pula.
Padahal di luar Kota Heng-san dahulu dengan mata sendiri Lenghou Tiong menyaksikan Bok-taysiansing
membinasakan Ko-yang-jiu Hui Pin dengan ilmu pedangnya yang hebat. Sudah terang ketua Heng-san-pay itu
pun melihat dia hadir di sana, tapi sekarang sengaja bicara demikian, jelas karena Bok-taysiansing tidak ingin
kejadian itu tersiar. Maka Lenghou Tiong lantas menanggapi, “Ya, orang Ko-san-pay memang aneh-aneh
gerak-geriknya. Orang yang bernama Hui Pin bisa jadi sekarang sedang mengasingkan diri di suatu tempat
yang dirahasiakan untuk meyakinkan ilmu lebih sempurna, siapa tahu?”
Sorot mata Bok-taysiansing memantulkan selarik sinar yang licin, ia tersenyum dan berseru, “O, kiranya
demikian. Jika bukan Lenghou-laute yang mengingatkan aku, sekalipun kopyor otakku juga sukar memikirkan
seluk-beluk hal ini. Lenghou-laute, sebenarnya mengapa kau berada bersama orang-orang Hing-san-pay? Yimsiocia
dari Mo-kau itu benar-benar amat cinta padamu, hendaklah jangan kau mengecewakan maksud
baiknya.”
Muka Lenghou Tiong menjadi merah, sahutnya, “Harap Bok-supek maklum, Siautit telah gagal di medan cinta,
mengenai soal laki-laki dan perempuan sudah bersikap dingin.”
Sampai di sini hatinya menjadi pilu karena teringat akan hubungannya dengan Gak Leng-sian di masa silam, air
mata memenuhi kelopak matanya. Mendadak ia bergelak tawa dan berseru lantang, “Sebenarnya Siautit ada
maksud meninggalkan dunia ramai ini dan cukur rambut menjadi hwesio, cuma kukhawatir larangan bagi padri
terlalu berat antara lain pantang minum arak segala, makanya urung menjadi hwesio. Hahahahaha!”
Walaupun bergelak tertawa, tapi suaranya penuh rasa sedih. Selang sejenak baru dia menceritakan
pengalamannya bertemu dengan Ting-cing, Ting-sian, dan Ting-yat Suthay, hanya mengenai cara bagaimana
dirinya memberi bantuan selalu ia lukiskan secara singkat dan sekadarnya saja.
Bok-taysiansing melototi poci arak dengan termenung-menung, selang sejenak baru berkata, “Co Leng-tan
bermaksud melebur empat pay yang lain untuk menjadi satu pay besar agar menandingi Siau-lim-pay dan Butong-
pay secara segitiga. Muslihatnya ini sudah direncanakan cukup lama, cuma selama ini tidak pernah
ditonjolkan, namun aku telah dapat mengetahui sedikit tanda-tanda yang mencurigakan. Neneknya, dia
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
melarang Lau-sute cuci tangan mengundurkan diri, lalu membantu sekte pedang Hoa-san-pay untuk berebut
kedudukan ciangbun dengan Gak-siansing, semua gara-gara itu termasuk dalam rencananya yang keji itu,
hanya aku tidak menduga bahwa dia ternyata begini berani turun tangan secara terang-terangan terhadap
Hing-san-pay.”
“Sebenarnya juga tidak terang-terangan, mereka menyaru sebagai orang Mo-kau untuk memaksa Hing-sanpay
menerima rencana peleburan mereka,” kata Lenghou Tiong.
“Benar,” kata Bok-taysiansing sambil mengangguk. “Dan langkah selanjutnya tentu mereka akan menangani
Thian-bun Totiang dengan Thay-san-pay-nya. Hm, sekalipun keji orang Mo-kau juga tidak sekeji Co Leng-tan.
Lenghou-laute, sekarang kau bukan murid Hoa-san-pay lagi, kau bebas bergerak sesuka hatimu dan tidak
peduli apakah dia cing-pay atau Mo-kau, maka aku nasihatkan kau jangan menjadi hwesio, juga tidak perlu
berduka, yang penting tolong keluar Yim-siocia yang dikurung Siau-lim-pay itu dan menikahi dia saja. Kalau
orang lain tidak mau datang minum arak nikahmu, aku orang she Bok justru akan hadir minum sepuaspuasnya.
Neneknya, persetan, takut apa?”
Begitulah terkadang Bok-taysiansing bicara sopan dan ramah, tapi sering diseling pula beberapa kata makian
yang kasar. Bilang dia adalah ketua satu pay terkenal tentu orang tak mau percaya.
Pikir Lenghou Tiong, “Bok-supek mengira patah hatiku adalah karena Ing-ing, padahal bukan. Tapi urusan
siausumoay rikuh juga untuk kuceritakan padanya.”
Tanyanya kemudian, “Bok-supek, sebenarnya apa sebabnya Siau-lim-pay menawan Yim-siocia?”
Bok-taysiansing menatap tajam dengan melongo penuh kejut dan heran. Sahutnya, “Sebab apa Siau-lim-pay
menawan Yim-siocia? Kau benar-benar tidak tahu atau sudah tahu tapi sengaja tanya? Padahal setiap orang
Kangouw sama mengetahui, tapi kau ... kau malah tanya pula?”
“Beberapa bulan yang baru lalu Siautit berada dalam kurungan orang sehingga apa-apa yang terjadi di
Kangouw sama sekali tidak tahu dan tidak mendengar,” sahut Lenghou Tiong. “Bahwa Yim-siocia pernah
membunuh empat murid Siau-lim-pay, hal ini memang disebabkan oleh diri Siautit, hanya entah mengapa
kemudian Yim-siocia bisa ditawan oleh padri Siau-lim-pay?”
“Jika demikian, jadi kau memang tidak tahu seluk-beluk urusan ini?” ujar Bok-taysiansing. “Waktu kau
menderita penyakit dalam yang aneh dan tidak bisa diobati, konon ada beribu orang gagah dari golongan
samping yang berkumpul di Ngo-pah-kang, untuk menyanjung Yim-siocia, mereka semuanya berusaha hendak
menyembuhkan kau. Tapi hasilnya nihil, semua orang tak berdaya. Begitu bukan kejadian?”
“Ya, memang begitulah,” sahut Lenghou Tiong.
“Peristiwa itu telah menggegerkan Kangouw, semuanya anggap alangkah besar rezekimu sehingga
mendapatkan perhatian Yim-siocia dari Hek-bok-keh. Seumpama penyakitmu tetap tak bisa disembuhkan juga
hidupmu tidaklah tersia-sia.”
“Ah, Bok-supek suka berkelakar saja,” kata Lenghou Tiong.
“Dan bagaimana kemudian, penyakitmu bisa sembuh, apakah karena meyakinkan ilmu sakti ‘Ih-kin-keng’ Siaulim-
pay?” tanya Bok-taysiansing.
“Bukan,” sahut Lenghou Tiong. “Hong-ting Taysu memang welas asih dan sangat baik padaku, beliau
menyanggupi akan mengajarkan ilmu sakti Siau-lim-pay, cuma Siautit tidak ingin masuk Siau-lim-pay,
sebaliknya ilmu sakti Siau-lim-pay tak dapat diajarkan kepada orang yang bukan murid Siau-lim-pay, maka
terpaksa Siautit telah menyia-nyiakan maksud baik beliau.”
“Siau-lim-pay adalah bintang kejora dunia persilatan, tatkala itu kau sudah dipecat Hoa-san-pay, sebenarnya
baik sekali jika kau terus masuk Siau-lim-pay. Itulah kesempatan yang benar-benar sukar dicari, tapi mengapa
kau tidak mau yang berarti tidak memikirkan pula akan jiwamu?”
“Sejak kecil Siautit dibesarkan oleh suhu dan sunio, budi kebaikan beliau-beliau belum dibalas, Siautit hanya
mengharapkan kelak aku akan diberi ampun oleh suhu dan diterima kembali ke dalam Hoa-san-pay, maka
sama sekali Siautit tidak takut mati sehingga mesti masuk perguruan lain.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Bab 89. Beramai-ramai Menolong Ing-ing
Lenghou Tiong menjadi teringat kepada kejadian di Ngo-pah-kang tempo hari ketika berbagai golongan orang
Kangouw sama menyanjung Ing-ing, lalu teringat pula waktu si nona menjadi marah, kontan tiga orang lantas
mencukil biji matanya sendiri. Sekarang diketahui Ing-ing terkurung di Siau-lim-si, sudah tentu semua orang
ingin pergi menolongnya tanpa menghiraukan dirinya sendiri.
“Bok-supek,” tanya Lenghou Tiong, “tadi engkau mengatakan bahwa beramai-ramai mereka berebut menjadi
kepala dan bertengkar sendiri, sebenarnya bagaimana duduknya perkara?”
Bok-taysiansing menghela napas, katanya, “Dasar petualang dan orang-orang tersesat, selain mereka mau
tunduk di bawah perintah Yim-taysiocia, biasanya mereka sama sombong dan takabur, suka berkelahi dan
ingin menang sendiri, satu sama lain tidak mau saling mengalah. Sekarang yang dihadapi adalah Siau-lim-pay,
mereka bersepakat untuk mengumpulkan kawan sebanyak mungkin dan menuju ke sana dengan berserikat.
Untuk berserikat dengan sendirinya harus ada seorang pemimpin. Kabarnya lantaran berebut menjadi
pemimpin perserikatan, selama beberapa hari ini mereka telah saling bergebrak, banyak yang terluka dan
bahkan ada yang mati. Lenghou-laute, kukira kau perlu lekas-lekas ke sana, hanya kau saja yang dapat
mengatasi mereka, apa yang kau katakan tentu tiada satu pun yang berani membangkang. Hahaha!”
Lenghou Tiong tahu apa yang dikatakan Bok-taysiansing itu memang tidak salah, tapi ia pun tahu sebabnya
gembong-gembong Kangouw itu mau tunduk padanya hanya karena pengaruh Ing-ing saja. Kelak kalau hal ini
diketahui si nona tentu dia akan marah-marah lagi. Memang diketahuinya si nona sangat mendalam cinta
padanya, hanya saja perasaan cinta itu malu untuk ditonjolkan secara terang-terangan, terutama kalau ada
orang mengatakan si nona cuma bertepuk sebelah tangan saja karena cintanya tak terbalas.
“Aku harus membalas maksud baik Ing-ing,” demikian pikir Lenghou Tiong. “Aku harus membuat semua orang
Kangouw sama mengetahui bahwa aku pun sangat mencintai Yim-siocia dan tidak segan mengorbankan jiwa
baginya. Aku harus pergi ke Siau-lim-si seorang diri, paling baik kalau aku dapat menyelamatkan dia, kalau
tidak sedikitnya aku harus membikin gempar agar setiap orang tahu akan usahaku untuk menyelamatkan dia
ini.”
Begitulah kemudian ia berkata kepada Bok-taysiansing, “Ting-sian dan Ting-yat Supek dari Hing-san-pay sudah
menuju ke Siau-lim-si untuk meminta Hongtiang Siau-lim-si sudi melepaskan Yim-siocia agar tidak
mengakibatkan banjir darah.”
“O, pantas, pantas!” ujar Bok-taysiansing. “Makanya aku sangat heran orang yang begitu prihatin seperti Tingsian
bisa memercayai kau mendampingi anak muridnya yang masih muda belia itu dan dia sendiri berangkat ke
lain tempat, kiranya dia hendak menjadi juru damai bagimu.”
“Bok-supek, setelah mengetahui hal ini Siautit menjadi sangat gelisah dan ingin terbang ke Siau-lim-si kalau
bisa untuk menyaksikan bagaimana hasil usaha kedua suthay yang baik hati itu,” kata Lenghou Tiong. “Cuma
para suci dan sumoay Hing-san-pay ini adalah kaum wanita semua, bila di tengah jalan nanti mengalami apaapa,
hal ini menjadi serbasalah bagiku.”
“Jangan khawatir, boleh kau pergi saja,” kata Bok-taysiansing.
“Siautit boleh berangkat dulu, tidak berhalangan?” Lenghou Tiong menegas dengan girang.
Bok-taysiansing tidak menjawab lagi, ia ambil rebab yang disandarkan di tepi bangku, lalu mulai memetiknya.
Lenghou Tiong tahu, sekali Bok-taysiansing menyuruhnya berangkat, itu berarti menyanggupi akan menjaga
anak murid Hing-san-pay. Maka cepat ia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.
“Sesama Ngo-gak-kiam-pay adalah layak kalau aku membantu Hing-san-pay, perlu apa kau mengucapkan
terima kasih segala?” ujar Bok-taysiansing dengan tertawa. “Kalau kelakuanmu ini diketahui Yim-siocia itu
mungkin dia akan cemburu.”
Setelah mengucapkan terima kasih lagi, segera Lenghou Tiong melangkah pergi dengan cepat menuju ke utara,
suara rebab Bok-taysiansing makin lama makin sayup-sayup, sangat memilukan kedengarannya di malam
sunyi.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Tanpa berhenti Lenghou Tiong berjalan cepat sejauh beberapa puluh li, terasa tenaga dalam timbul tak
terputus, sedikit pun tidak terasa lelah. Paginya sampailah dia di suatu kota, ia masuk suatu rumah makan,
sekaligus ia menghabiskan tiga mangkuk bakmi.
Keluar dari rumah makan itu, tiba-tiba dilihatnya dari depan datang suatu rombongan orang, seorang di
antaranya pendek gemuk, jelas dikenalnya sebagai satu di antara “Hongho Lo-coh”, yaitu Lo Thau-cu.
Dengan girang Lenghou Tiong terus berteriak, “Hei, Lo Thau-cu, apa kabar!”
Melihat Lenghou Tiong, seketika air muka Lo Thau-cu berubah aneh, setelah ragu-ragu sejenak, mendadak ia
lolos goloknya.
Tanpa curiga Lenghou Tiong mendekati dan bertanya lagi, “Bagaimana dengan Coh Jian-jiu ....” belum habis
ucapannya, kontan golok Lo Thau-cu membacok ke arahnya, serangannya sangat kuat, hanya incarannya
sangat tidak tepat, sedikitnya selisih satu depa dari bahu Lenghou Tiong.
Tentu saja Lenghou Tiong kaget. Cepat ia melompat mundur sambil berseru, “He, Lo-siansing, aku ... aku ini
Lenghou Tiong!”
“Sudah tentu aku tahu kau Lenghou Tiong,” kata Lo Thau-cu. “Wahai dengarkan kawan-kawan! Tempo hari
Seng-koh pernah memberi perintah, siapa saja yang memergoki Lenghou Tiong harus membunuhnya. Apakah
perintah Seng-koh itu masih kalian ingat?”
“Ya, tahu!” seru semua orang beramai-ramai. Walaupun begitu mereka berkata, tapi mereka hanya pandangmemandang
saja satu sama lain, air muka mereka sangat aneh, tiada seorang pun yang lolos senjata dan maju
menyerang, bahkan ada di antaranya hanya tersenyum-senyum saja, sedikit pun tidak bersikap memusuhi.
Muka Lenghou Tiong menjadi merah, teringat olehnya perintah Ing-ing kepada Lo Thau-cu dahulu itu agar
disiarkan ke dunia Kangouw agar setiap orang membunuh Lenghou Tiong bila melihatnya. Maksud perintah itu
pertama-tama agar Lenghou Tiong terpaksa mesti mendampinginya senantiasa, kedua, supaya setiap orang
Kangouw mengetahui bahwa Ing-ing tidak kesengsem kepada Lenghou Tiong, sebaliknya sangat benci
padanya.
Rupanya perintah yang disiarkan Lo Thau-cu itu agaknya tidak dipercayai oleh orang-orang Kangouw itu.
Kemudian berita tentang dikurungnya Ing-ing di Siau-lim-si dalam usahanya menyelamatkan jiwa Lenghou
Tiong dibocorkan pula tanpa disengaja oleh anak murid Siau-lim-pay, seketika dunia Kangouw menjadi gempar.
Setiap orang memuji cinta murni Ing-ing itu, tapi juga tertawa geli akan sifat tinggi hatinya itu, sudah terang
jatuh cinta, tapi tidak mau mengaku dan malahan sengaja menutup-nutupi perasaannya. Hal ini tidak cuma
diketahui oleh orang-orang Kangouw yang tunduk di bawah perintah Ing-ing, bahkan orang-orang yang
golongan cing-pay juga mendengar berita itu dan sering dibuat bahan percakapan yang menarik. Sekarang
munculnya Lenghou Tiong secara mendadak mau tak mau membikin Lo Thau-cu dan kawan-kawannya itu
melengak.
“Lenghou-kongcu,” demikian kata Lo Thau-cu pula, “meski Seng-koh ada perintah agar aku membunuh kau
tapi ilmu silatmu teramat tinggi, bacokanku tadi tidak mengenai kau, malahan engkau yang telah mengampuni
jiwaku karena tidak balas menyerang, sungguh aku harus berterima kasih padamu. Nah, para kawan telah ikut
menyaksikan, bukan kita tidak mau membunuh Lenghou-kongcu, yang benar adalah karena tidak mampu
membunuhnya. Aku Lo Thau-cu tidak mampu, tentu saja kalian lebih-lebih tidak mampu, betul tidak?”
“Betul!” jawab orang banyak yang gelak tertawa. “Kita telah bertempur mati-matian dan kehabisan tenaga, tapi
siapa pun tidak mampu membunuh Lenghou-kongcu, terpaksa kita akhiri bertempur. Sekarang boleh kita coba
bertempur minum arak saja, coba saja siapa yang mampu membinasakan Lenghou-kongcu dengan arak agar
kelak dapat dipertanggungjawabkan kepada Seng-koh.”
“Bagus, usul yang bagus!” teriak orang banyak sambil tertawa terpingkal-pingkal. Sebagian lantas
menyambung pula, “Seng-koh hanya menyuruh kita membunuh Lenghou-kongcu dan tidak menentukan apa
harus pakai senjata atau tidak. Kalau kita bikin dia mati mabuk dengan arak kan juga boleh? Ini namanya tidak
dapat melawan dengan tenaga harus dilawan dengan akal.”
Riuh ramailah sorak-sorai mereka, berbondong-bondong mereka mengiring Lenghou Tiong menuju suatu
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
restoran yang paling besar di kota ini, 40 orang lebih memenuhi empat meja besar. Belum mereka berduduk
semua sudah ada beberapa orang di antaranya berteriak-teriak minta dibawakan arak.
Sejak minum arak enak keluaran Turfan bersama Tan-jing-sing di Hangciu tempo hari, sebegitu jauh Lenghou
Tiong tidak sempat minum arak lagi sepuas-puasnya, terkadang ia pun suka minum sendiri, tapi rasanya
hampa karena tak berteman. Sekarang ia benar-benar gembira menghadapi gembong-gembong Kangouw yang
berjiwa tulus, begitu ambil tempat duduk segera ia bertanya, “Sebenarnya bagaimana keadaan Seng-koh?
Sungguh aku sangat cemas baginya.”
Mendengarkan Lenghou Tiong memerhatikan keselamatan Ing-ing, orang-orang itu menjadi girang, Lo Thau-cu
lantas menjawab, “Kawan-kawan telah menetapkan tanggal 15 bulan 12 yang akan datang ini akan berangkat
ke Siau-lim-si untuk menyambut pulangnya Seng-koh. Akhir-akhir ini berhubung berebut menjadi bengcu
(pemimpin atau ketua serikat), para kawan telah bertengkar tidak habis-habis. Sekarang semuanya akan
menjadi beres dengan datangnya Lenghou-kongcu. Siapa lagi yang cocok menjadi bengcu jika bukan engkau?”
“Tepat,” seru seorang tua ubanan. “Asalkan Lenghou-kongcu yang memimpin, andaikan ada kesulitan dan
Seng-koh tak dapat disambut pulang untuk sementara, asal beliau mendapat kabar tentang usaha Lenghoukongcu
ini tentu juga beliau sangat girang. Maka jabatan bengcu ini benar-benar sudah ditakdirkan harus
diduduki oleh Lenghou-kongcu.”
“Siapa yang menjabat bengcu adalah soal kecil,” kata Lenghou Tiong. “Yang penting adalah Seng-koh harus
diselamatkan. Untuk mana sekalipun badanku harus hancur lebur juga aku siap saja.”
Ucapan Lenghou Tiong ini bukan bualan belaka. Ia benar-benar berterima kasih atas pengorbanan Ing-ing,
kalau dia diharuskan mati bagi Ing-ing memang tidak perlu disangsikan lagi akan segera dilakukannya.
Sekarang perasaannya ini sengaja diucapkannya di hadapan orang banyak, Ing-ing tidak lagi ditertawai orang
karena si nona hanya bertepuk sebelah tangan alias cinta tak terbalas.
Maka senang dan legalah semua orang mendengar pernyataan Lenghou Tiong itu, mereka sama mengakui
pandangan Seng-koh ternyata tidak meleset terhadap pemuda pilihannya.
Si orang tua beruban tadi she Jik bernama Ko, dengan tertawa ia berkata lagi, “Kiranya Lenghou-kongcu
memang seorang kesatria yang berbudi luhur dan bukan manusia berhati dingin sebagaimana disiarkan orang
dahulu.”
“Selama beberapa bulan Cayhe terjebak oleh perangkap orang jahat dan terkurung, maka hampir tidak
mengetahui segala sesuatu kejadian di dunia Kangouw. Namun rasa rinduku kepada Seng-koh siang dan
malam membikin rambutku hampir ubanan,” kota Lenghou Tiong. “Marilah mari, terimalah rasa terima kasihku
atas bantuan dan perjuangan saudara-saudara sekalian atas keselamatan Seng-koh.”
Menyusul ia terus berbangkit dan sama menghabiskan satu cawan arak bersama orang banyak. Lalu ia berkata
lagi, “Lo-siansing, kau bilang para kawan sedang bertengkar rebutan jabatan bengcu, rupanya urusan ini tidak
boleh ditunda, marilah kita lekas berangkat ke sana untuk menghentikan persengketaan mereka. Entah
sekarang mereka berkumpul di mana?”
“Mereka berkumpul di Hong-po-peng,” jawab Lo Thau-cu.
“Hong-po-peng? Di mana letak tempat itu?” tanya Lenghou Tiong.
“Di lereng pegunungan di barat Kota Siangyang,” tutur Lo Thau-cu.
“Jika demikian, marilah kita lekas makan minum, lalu cepat menyusul ke sana.”
Begitulah di tengah perjalanan mereka bertemu pula dengan dua rombongan orang-orang gagah yang juga
sedang menuju ke Hong-po-peng, gabungan tiga rombongan jumlahnya sudah ada 100 orang lebih.
Lenghou Tiong jalan berendeng dengan Lo Thau-cu, ia tanya orang tua itu, “Bagaimana keadaan putrimu si
Siau Ih? Apakah sudah baik?”
“Banyak terima kasih atas perhatian Kongcu,” sahut Lo Thau-cu. “Dia belum baik sama sekali, tapi juga tidak
terlalu buruk.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Ada suatu pertanyaan yang selalu menggoda pikiran Lenghou Tiong selama ini, melihat orang-orang lain rada
ketinggalan jauh di belakang, segera ia tanya pula, “Semua kawan sama mengatakan utang budi kebaikan
kepada Seng-koh. Cayhe sungguh-sungguh tidak mengerti, usia Seng-koh masih muda belia, cara bagaimana
dia bisa menanam budi kebaikan kepada kawan-kawan Kangouw sebanyak ini?”
“Kongcu benar-benar tidak tahu seluk-beluk soal ini?” tanya Lo Thau-cu sambil berpaling ke arahnya.
“Tidak tahu,” jawab Lenghou Tiong.
“Kongcu bukan orang luar, mestinya tidak perlu dirahasiakan. Cuma setiap orang sudah pernah bersumpah
kepada Seng-koh bahwa rahasia ini takkan dibocorkan. Maka terpaksa mohon Kongcu sudi memaafkan.”
“Jika demikian, baiklah jangan kau ceritakan.”
“Kelak Seng-koh yang menceritakan sendiri kepada Kongcu kan jauh lebih baik?”
“Ya, semoga selekasnya akan tiba hari yang diharapkan ini,” kata Lenghou Tiong.
Ketika rombongan besar mereka sampai di Hong-po-peng, sementara itu sudah jauh malam. Dari jauh sudah
terdengar hiruk-pikuk orang saling caci maki diseling suitan dan teriakan. Sesudah dekat, di bawah sinar bulan
Lenghou Tiong melihat di suatu tanah lapang yang dikelilingi lereng-lereng bukit itu berkumpul orang
sedemikian banyaknya, sedikitnya ada ribuan.
“Jabatan bengcu selamanya hanya dipangku oleh satu orang saja,” demikian terdengar seorang berteriak
dengan marah, “sekarang kalian berenam ingin menjadi bengcu sekaligus, lalu bengcu macam apakah ini?”
“Kami berenam merupakan satu orang dan satu orang sama dengan enam orang, asal kalian sama tunduk
kepada kami berenam saudara, maka berarti kami sudah menjadi bengcu. Nah, jangan kau banyak bacot lagi,
kalau rewel lagi bukan mustahil kami akan membeset tubuhmu menjadi empat potong,” demikian teriak
seorang lain.
Tanpa melihat orangnya segera Lenghou Tiong dapat mengetahui pembicara terakhir itu adalah satu di antara
“Tho-kok-lak-sian”. Hanya suara mereka berenam saudara itu satu sama lain hampir mirip, maka sukar
dibedakan siapa yang berbicara.
Rupanya pembicara pertama tadi menjadi ketakutan oleh ancaman itu dan tidak berani buka suara lagi. Tapi
orang-orang banyak itu jelas tidak mau tunduk kepada Tho-kok-lak-sian, ada yang berteriak-teriak mengejek
dari jauh, ada yang mencaci maki secara sembunyi-sembunyi di pelosok yang gelap. Bahkan ada melemparkan
batu dan menaburkan pasir ke tengah kalangan. Suasana menjadi kacau.
“Siapa yang melempar batu padaku?” teriak Tho-yap-sian.
“Ayahmu!” jawab satu orang dari tempat yang tak kelihatan.
“Apa? Kau adalah ayah kakakku?” seru Tho-hoa-sian dengan gusar.
“Belum tentu!” sahut seorang lagi.
Serentak gemuruhlah gelak tertawa beberapa ratus orang.
“Kenapa belum tentu?” tanya Tho-hoa-sian bingung.
“Aku pun tidak tahu, sebab aku cuma punya seorang anak,” sahut lagi seorang lain.
“Anakmu hanya satu, apa sangkut pautnya dengan aku?” kata Tho-hoa-sian.
“Tidak ada sangkut pautnya dengan kau, besar sangkut pautnya dengan saudaramu,” seru seorang dengan
gelak tertawa.
“Apa barangkali ada sangkut pautnya dengan aku?” tanya Tho-kan-sian.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Mungkin, harus lihat wajahmu mirip tidak!” kata orang tadi dengan tertawa.
“Apa maksudmu mirip wajahku?” tanya Tho-sit-sian. “Coba kau maju.”
“Buat apa maju, kau sendiri boleh bercermin saja,” sahut orang itu tertawa.
Mendadak empat sosok bayangan melayang ke arahnya dengan cepat luar biasa, kontan orang yang bicara itu
dicomot dari tempat yang gelap. Ternyata orang itu tinggi besar, sedikitnya ada 200 kati. Tapi kaki-tangannya
kena dipegang oleh Tho-kok-si-sian, sedikit pun dia tidak bisa berkutik.
Setelah diseret keluar, di bawah sinar bulan dapatlah muka orang itu terlihat jelas. Tho-sit-sian lantas berkata,
“Tidak mirip, masakah wajahku seburuk ini? Losam, mungkin mirip kau.”
“Cis, memangnya kau lebih cakap daripadaku?” semprot Tho-ki-sian. “Sedemikian banyak yang hadir di sini
boleh suruh mereka menjadi juri.”
Sebenarnya semua orang merasa geli melihat wajah Tho-kok-lak-sian yang lebih buruk daripada siluman itu,
tapi mengaku cakap sendiri. Namun demi melihat laki-laki tinggi besar itu setiap saat dapat dirobek menjadi
empat potong oleh Si-sian itu, mereka menjadi kebat-kebit dan tidak dapat tertawa lagi.
Lenghou Tiong kenal watak Tho-kok-lak-sian, bukan mustahil tawanan mereka itu akan dibeset, maka cepat ia
berseru, “Tho-kok-lak-sian, bagaimana kalau aku Lenghou Tiong yang menjadi juri bagi kalian?”
Sembari bicara ia terus muncul dari tempat sembunyinya.
Mendengar nama “Lenghou Tiong”, seketika gemparlah semua orang. Beribu pasang mata terpusat kepadanya.
Tapi Lenghou Tiong tanpa berkedip terus menatap ke arah Tho-kok-lak-sian, katanya pula, “Silakan kalian
lepaskan dulu kawan itu, dengan demikian barulah aku dapat menilai wajah kalian dengan jelas.”
Terhadap Lenghou Tiong memang Tho-kok-lak-sian mempunyai kesan baik, segera mereka melepaskan
tawanan itu. Ternyata perawakan laki-laki itu benar-benar sangat kekar. Namun begitu mukanya tampak pucat
seperti mayat, maklum ia pun insaf bahwa jiwanya seakan-akan baru saja lolos dari pintu akhirat, badannya
menjadi gemetar meski ia coba tabahkan diri sekuatnya. Maksudnya hendak mengucapkan terima kasih, tapi
giginya sampai ikut gemerutuk dan suaranya terputus-putus.
Melihat laki-laki itu cukup cakap, tapi dalam keadaan ketakutan, segera Lenghou Tiong berkata kepada Thokok-
lak-sian, “Keenam Tho-heng, menurut pendapatku, wajah kalian sama sekali berbeda daripada wajah
kawan ini, kalian jauh lebih cakap, lebih bagus, lebih gagah, lebih ganteng. Siapa saja yang melihat kalian
tentu akan jatuh cinta.”
Maka terdengarlah gelak tertawa orang banyak.
“Ya, benar,” timbrung Lo Thau-cu. “Menurut pendapatku, kesatria di seluruh jagat ini, bicara tentang ilmu silat
memang banyak yang lihai, tapi bicara kecakapan muka, wah, siapa pun tiada mampu melebihi Tho-kok-laksian.”
Mendengar diri mereka dipuji oleh Lenghou Tiong dan Lo Thau-cu, keruan Tho-kok-lak-sian sangat senang.
Mereka tidak tahu gelak tertawa orang banyak itu adalah ejekan, sebaliknya mengira mereka benar-benar
mengagumi kebagusannya.
Kemudian Lo Thau-cu berseru, “Wah, nasib kawan-kawan benar-benar sangat mujur. Tadi di tengah jalan kami
telah ketemukan Lenghou-kongcu seorang diri sedang menuju ke Siau-lim-si buat menyambut pulangnya
Seng-koh, ketika mendengar kita sedang berkumpul di sini, beliau lantas mampir ke sini untuk berundingan
dengan kita. Menurut pikiranku, bicara tentang kecakapan muka memang benar Tho-kok-lak-sian nomor satu
...” seketika ramai pula gelak tawa orang banyak. Cepat Lo Thau-cu memberi tanda berhenti, lalu sambungnya,
“Tapi kepergian kita ini harus menghadapi Siau-lim-pay, urusan Seng-koh yang mahapenting ini rasanya tidak
terlalu erat hubungannya dengan soal kecakapan. Maka menurut pendapatku, marilah kita mendukung
Lenghou-kongcu sebagai bengcu kita, mohon beliau mengatur siasat dan memberi perintah kepada kita, entah
bagaimana pendapat kawan-kawan sekalian?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Semua orang mengetahui terkurungnya Seng-koh di Siau-lim-si itu adalah karena ingin menyembuhkan
penyakit Lenghou Tiong dahulu, jangankan ilmu silat Lenghou Tiong memang sangat tinggi, hal ini sudah
didengar mereka tentang pertarungannya melawan para kesatria di daerah Holam dahulu ketika dia membantu
Hiang Bun-thian, sekalipun Lenghou Tiong tidak paham silat, mengingat dia adalah kekasih Seng-koh juga
semua orang akan mengangkatnya menjadi bengcu. Lantaran ini mereka lantas bersorak gembira demi
mendengar usul Lo Thau-cu tadi.
Tapi mendadak Tho-hoa-sian berseru dengan suara aneh, “Kita akan pergi menyambut pulangnya Yim-siocia,
jika berhasil, apakah beliau akan dijadikan bini kepada Lenghou Tiong?”
Semua orang sangat hormat dan segan kepada Yim-siocia alias Ing-ing, maka tiada seorang pun yang berani
mengiakan meski apa yang dikatakan Tho-hoa-sian tidaklah salah. Lenghou Tiong sendiri lebih-lebih kikuk, ia
pun tidak dapat menyangkal cinta Ing-ing padanya yang bukan rahasia lagi bagi orang-orang Kangouw itu.
Kalau menyangkal tentu juga akan membikin malu Ing-ing, sebaliknya kalau terang-terangan mengaku akan
memperistrikan si nona, rasanya kelak masih akan banyak menghadapi rintangan, apalagi juga tidak layak
mengaku terang-terangan begitu. Maka terpaksa ia bungkam saja.
Tiba-tiba Tho-yap-sian menimbrung, “Wah, dia mendapat bini, menjadi bengcu pula, sungguh terlalu enak
baginya. Kalau kita pergi membantu dia menolong bininya, maka jabatan bengcu ini harus diserahkan kepada
kami berenam saudara.”
“Betul!” seru Tho-kin-sian. “Kecuali kepandaiannya bisa lebih hebat daripada kami, inilah lain soalnya.”
Habis itu, sekonyong-konyong empat di antara Lak-sian itu terus menubruk maju, sekali cengkeram, seketika
Lenghou Tiong terpegang dan terangkat ke atas.
Begitu cepat gerakan keempat orang itu, sebelumnya juga tiada tanda-tanda akan menyerang. Keruan
Lenghou Tiong tidak sempat menghindar, tahu-tahu kedua tangan dan kedua kaki sudah dipegang erat-erat
oleh empat orang.
“He, he, jangan! Lekas lepaskan!” teriak orang banyak.
“Jangan khawatir!” sahut Tho-yap-sian dengan tertawa. “Kami pasti takkan mencelakai dia, asalkan dia berjanji
akan menyerahkan jabatan bengcu kepada kami ....”
Tapi belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Tho-kin-sian, Tho-kan-sian, Tho-ki-sian, dan Tho-sit-sian
yang memegangi Lenghou Tiong itu sama menjerit aneh dan terburu-buru melepaskan pemuda itu sambil
berteriak-teriak, “He, he! Kau ... kau memakai ilmu sihir apa?”
Rupanya Lenghou Tiong juga khawatir keempat manusia dogol itu benar-benar melakukan sesuatu di luar
dugaan dan benar-benar menyobek badannya, maka cepat ia mengerahkan “Gip-sing-tay-hoat” yang telah
diyakinkan itu. Seketika Tho-kok-si-sian itu merasa tenaga dalam mereka bocor keluar, semakin mereka
hendak mengerem semakin cepat tenaga mereka mengalir keluar melalui telapak tangan. Karena itu, saking
kagetnya mereka lantas lepaskan Lenghou Tiong yang mereka pegang.
Lenghou Tiong juga lantas menghentikan ilmu saktinya itu, sekali loncat ia berdiri tegak di tengah kalangan.
“Ada apa?” tanya Tho-yap-sian.
“Ilmu ... ilmunya benar-benar sangat aneh, kami tidak sanggup memegang dia,” seru Tho-ki-sian berempat.
Serentak bersoraklah orang banyak, semuanya berseru, “Nah, Tho-kok-lak-sian, sekarang kalian sudah tunduk
bukan?”
“Kami tidak mampu memegang dia, sudah tentu kami tunduk, biarlah Lenghou Tiong yang menjadi bengcu
saja,” seru Tho-kin-sian berempat.
Melihat Tho-kok-lak-sian mau tunduk kepada Lenghou Tiong secara sukarela, meski tidak tahu sebab
musababnya, tapi semua orang lantas tertawa gembira.
“Kawan-kawan,” kata Lenghou Tiong kemudian, “keberangkatan kita untuk menyambut pulangnya Seng-koh ini
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sekalian kita usahakan untuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang telah ikut tertawan di sana. Tapi Siaulim-
si adalah puncak tertinggi dari dunia persilatan yang telah diakui oleh siapa pun juga, ke-72 ilmu sakti
mereka yang khas selama ini tiada tandingannya. Namun jumlah kita sangat banyak, di sini saja sekarang
sudah ada ribuan orang, belum lagi orang-orang gagah yang akan menggabungkan diri pula dalam waktu
singkat. Seumpama ilmu silat kita tidak dapat menandingi murid Siau-lim-si, asalkan main kerubut saja
sepuluh lawan satu juga akhirnya kita akan menang.”
“Benar, benar!” seru gemuruh orang banyak. “Memangnya hwesio-hwesio Siau-lim-si itu punya tiga kepala dan
enam tangan sehingga sanggup melawan keroyokan kita?”
“Akan tetapi perlu diingat, meski para taysu Siau-lim-si itu menahan Seng-koh sekian lamanya, namun beliau
tidak dibikin susah. Taysu-taysu itu adalah orang alim semua dan mengutamakan welas asih, sungguh harus
dikagumi. Maka kalau kita sampai merusak Siau-lim-si, tentu juga teman-teman Kangouw akan mencela
perbuatan kita yang menang dengan main kerubut, ini kan bukan perbuatan kaum kesatria sejati? Sebab
itulah, menurut pendapatku, kita harus pakai siasat ramah tamah dahulu dan kemudian kekerasan. Jika kita
dapat membujuk pihak Siau-lim-si membebaskan Seng-koh serta kawan-kawan yang lain untuk
menghindarkan pertempuran berdarah, jalan inilah paling baik.”
“Ucapan Lenghou-kongcu cocok dengan pikiranku,” seru Coh Jian-jiu. “Jika benar-benar bertempur, tentu akan
banyak jatuh korban dari kedua pihak.”
“Tapi ucapan Lenghou-kongcu justru tidak cocok dengan seleraku,” tiba-tiba Tho-ki-sian menimbrung. “Kalau
kedua pihak tidak bertempur, tentu takkan jatuh korban, lalu apanya lagi yang menarik?”
“Lenghou-kongcu sudah kita angkat menjadi bengcu, maka segala perintah petunjuknya harus kita turut,” seru
Coh Jian-jiu.
“Kami hanya menyatakan mengangkat dia sebagai bengcu, tapi tidak pernah mengatakan akan tunduk kepada
perintahnya,” kata Tho-kin-sian.
“Benar, urusan memberi perintah segala ini biarlah kami Tho-kok-lak-sian yang melaksanakan saja,” sambung
Tho-kan-sian.
Semua orang menjadi gemas melihat kedogolan Tho-kok-lak-sian itu, banyak yang siap memegang senjata,
asalkan Lenghou Tiong memberi isyarat sedikit saja serentak mereka akan menerjang maju untuk mencincang
keenam orang itu. Betapa pun tinggi kepandaian mereka rasanya juga takkan mampu melawan kerubutan
orang banyak.
Maka Coh Jian-jiu berkata pula, “Apa yang harus dilakukan seorang bengcu, dengan sendirinya dia harus
memberi perintah dan mengatur sesuatu. Kalau dia tidak dapat memerintah, lalu namanya bukan bengcu lagi.”
“Kalau dia mau perintah boleh perintah saja, kenapa mesti ribut!” ujar Tho-ki-sian dengan menyengir.
Lenghou Tiong tidak ambil pusing lagi pada keenam orang dogol itu, segera ia berseru, “Dengarkan kawankawan,
kalau dihitung, masih ada 17 hari lagi dari waktu yang kita rencanakan, yaitu tanggal 15 bulan 12,
karena temponya cukup, maka perjalanan kita ke sana tidak perlu tergesa-gesa. Pula gerakan kita ini dilakukan
secara terang-terangan, maka segala tindakan kita juga tidak perlu ditutupi. Besok juga kita boleh beli kain
untuk dibikin menjadi panji-panji dengan tulisan yang jelas menyatakan tujuan kita ke Siau-lim-si buat
menyambut Seng-koh. Boleh pula beli beberapa genderang dan bunyikan sepanjang jalan agar didengar oleh
orang-orang Siau-lim-pay, bukan mustahil mereka sudah ketakutan lebih dulu sebelum kita tiba di sana.”
Bab 90. Pat-kwa-kiam-tin Bu-tong-pay Dibikin Kocar-kacir oleh
Lenghou Tiong
Karena orang-orang yang berkumpul ini terdiri dari berbagai golongan dan lapisan, tapi semuanya adalah
manusia-manusia yang suka cari gara-gara. Mereka menjadi kegirangan dan bersorak-sorai mendengar
perintah Lenghou Tiong itu.
Besok paginya, kembali ada beberapa puluh orang Kangouw yang datang menggabungkan diri. Lenghou Tiong
memberi tugas kepada Coh Jian-jiu, Keh Bu-si, dan Lo Thau-cu untuk membikin panji-panji yang diperlukan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
serta membeli tambur dan sebagainya.
Menjelang tengah hari Coh Jian-jiu bertiga sudah menyelesaikan tugasnya, berpuluh panji putih dengan
macam-macam semboyan yang tertulis di atasnya telah disiapkan. Hanya tambur yang kurang, cuma dua buah
saja yang dapat dibeli.
“Marilah kita lantas berangkat, kota-kota yang kita lalui sepanjang perjalanan dapat kita singgahi untuk
membeli lagi alat-alat yang kita perlukan,” kata Lenghou Tiong.
Semua orang bersorak mengiakan. Segera ada yang mulai membunyikan tambur, lalu berangkatlah mereka
menuju ke utara dengan berbaris.
Lenghou Tiong sudah pernah menyaksikan anak murid Hing-san-pay disergap musuh di atas Sian-he-nia, maka
sekarang ia lantas mengatur, tujuh kelompok diberi tugas tertentu. Dua kelompok di depan sebagai pelopor
jalan, dua kelompok menjaga sayap kiri, dan dua kelompok menjaga sayap kanan. Satu kelompok lagi sebagai
bala bantuan di belakang, selebihnya ikut dalam pasukan induk. Selain itu kelompok Sin-oh-pang dari Hansui
diberi tugas sebagai kurir yang kian-kemari menyampaikan berita.
Sin-oh-pang adalah gerombolan orang-orang Kangouw setempat, wilayah pengaruhnya cukup luas, maka
segala kabar berita yang penting dapat diketahui mereka dengan cepat.
Begitulah semua orang sama kagum dan tunduk melihat cara mengatur Lenghou Tiong yang rapi itu.
Selama beberapa hari dalam perjalanan, berturut-turut bergabung pula kelompok-kelompok dari berbagai
tempat. Suatu hari sampailah mereka di kaki gunung Bu-tong-san.
“Lenghou-kongcu, kita harus melalui Bu-tong-san, apakah kita harus menghentikan suara tambur dan
menggulung panji atau tetap lalu secara terang-terangan begini?” Coh Jian-jiu minta petunjuk kepada Lenghou
Tiong.
Jawab Lenghou Tiong, “Bu-tong-pay adalah aliran persilatan nomor dua di dunia persilatan, pengaruh dan
wibawanya cuma di bawah Siau-lim-pay saja. Kepergian kita buat menyambut Seng-koh ini sedapat mungkin
menghindari percekcokan dengan Siau-lim-pay, dengan sendirinya lebih baik pula kalau kita pun tidak
bersengketa dengan Bu-tong-pay. Maka sebaiknya kita mengitar ke jurusan lain saja sebagai tanda
penghormatan dan keseganan kita terhadap Tiong-hi Totiang, itu ketua Bu-tong-pay yang hebat. Demikianlah
pendapatku, entah bagaimana pikiran Saudara-saudara?”
“Apa yang dirasakan baik oleh Lenghou-kongcu, sudah tentu kami hanya menurut saja,” kata Lo Thau-cu.
“Memangnya tujuan kita hanya menyambut pulang Seng-koh dan tidak ingin menimbulkan perkara lain dan
menambah musuh. Apa gunanya kita terhambat oleh urusan yang berlawanan dengan maksud tujuan kita
sekalipun Bu-tong-pay dapat kita tumpas umpamanya?”
“Benar, harap siarkan perintahku agar menggulung panji-panji dan menghentikan bunyi tambur, kita
membelok dulu ke arah timur untuk kemudian mengitar lagi ke utara,” kata Lenghou Tiong.
Begitulah rombongan mereka lantas mengarah ke timur. Kira-kira beberapa puluh li jauhnya, tiba-tiba dua
anggota Sin-oh-pang datang memberi lapor, “Di selat gunung belasan li sana telah menunggu beberapa ratus
tosu, mereka mengaku dari Bu-tong-pay dan minta bicara dengan Bengcu.”
Seketika jago-jago di samping Lenghou Tiong menjadi gusar, mereka sama mengomel, “Kurang ajar benar
kawanan tosu Bu-tong-pay itu! Kita menghargai mereka, sebaliknya mereka mengira kita takut kepada
mereka. Kurang ajar, benar-benar minta diajar!”
“Coba kita maju ke sana untuk melihat apa maksud tujuan mereka,” ujar Lenghou Tiong. Segera ia mendahului
melarikan kudanya ke depan dan mencapai selat gunung sana.
Ketika melihat datangnya Lenghou Tiong, kedua kelompok yang menjadi pelopor, yaitu Hong-bwe-pang dan
Jing-liong-pang, sama bersorak-sorai.
Lenghou Tiong melompat turun dari kudanya, ia berlari maju dengan cepat, dilihatnya di ujung selat gunung
situ berbaris beberapa puluh tojin berjubah hijau, semuanya bersenjata pedang, jalan lewat telah dirintangi
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
mereka.
Lebih dulu Lenghou Tiong berpaling kepada kawan-kawannya dan berteriak nyaring, “Dengarkanlah kawankawan,
Bu-tong-pay adalah kaum cing-pay terbesar di dunia persilatan, Tiong-hi Tojin malahan adalah orang
kosen di zaman ini, maka kawan-kawan jangan sekali-kali bersikap sembrono, ada urusan apa-apa biarlah
Cayhe yang menghadapinya sendiri,”
Lenghou Tiong sadar orang-orang yang dipimpinnya itu adalah kumpulan orang-orang Kangouw dari macammacam
lapisan, sudah biasa bertindak sesuka hati dan bebas, kata-kata mereka juga kasar, kalau sebelumnya
tidak diperingatkan tentu akan menimbulkan penyakit nanti.
Begitulah para jago-jago itu serentak berseru gemuruh mengiakan. Barisan mereka itu memanjang sampai
hitungan li jauhnya, tapi kata-kata Lenghou Tiong itu diucapkan dengan menggunakan tenaga dalam yang
kuat, maka betapa pun jauhnya barisan itu dapatlah mendengar semuanya.
Suara mengiakan yang gemuruh dari beberapa ribu orang itu membikin kawanan tojin itu menjadi gentar juga,
hal ini tampak dari air muka mereka yang berubah.
Lalu Lenghou Tiong berpaling kembali, katanya sembari memberi hormat kepada kawanan tojin itu, “Cayhe
bersama rombongan hendak menuju ke Siau-lim-si untuk menjumpai Hong-ting Taysu dan untuk sesuatu
urusan penting, kebetulan kami harus melalui Bu-tong-san sini, agar tidak menimbulkan kegaduhan yang bisa
mengganggu ketenteraman para Totiang, maka kami sengaja mengitari jalanan ini. Harap maaf bila kami tidak
menyampaikan kabar sebelumnya.”
“Kau inikah murid murtad Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong dan sekarang telah masuk Mo-kau
bukan?” tegur seorang tojin berjenggot panjang sembari memasukkan pedang ke sarungnya. Sikap bicaranya
sangat angkuh, kata-katanya juga kurang ramah.
Sebenarnya Lenghou Tiong adalah pemuda yang tidak tunduk kepada adat istiadat, juga tidak kenal apa
artinya takut, kalau dalam keadaan biasa tentu dia kontan menjawab ucapan tojin itu dengan kata-katanya
yang sama kasarnya. Tapi sejak dia diangkat menjadi bengcu oleh gembong-gembong Kangouw itu, mulai saat
mana ia telah memperingatkan dirinya sendiri agar selanjutnya harus bertindak secara hati-hati dan pakai
perhitungan, terutama mengingat kewajibannya dan betapa pentingnya tugas menolong Ing-ing yang
terkurung di Siau-lim-si itu. Oleh karena itu walaupun kata-kata tojin jenggot panjang itu sangat
menggusarkan hatinya tapi ia tetap menghadapi dengan tersenyum tawar saja, jawabnya, “Ya, Cayhe memang
betul adalah Lenghou Tiong, murid buangan Hoa-san-pay. Tapi tuduhan masuk menjadi anggota Mo-kau adalah
tidak betul.”
“Jika kau tidak masuk Mo-kau kenapa kau rela menjadi antek Hek-bok-keh dan mau memimpin manusia jahat
dan cabul dari Mo-kau ini pergi mencari setori kepada Siau-lim-si?” kata pula tojin berjenggot panjang itu.
Belum Lenghou Tiong menjawab, mendadak Tho-kin-sian menimbrung, “Kau bilang kami adalah manusia jahat
dan cabul dari Mo-kau, memangnya kau sendiri manusia baik dan terpuji dari Mo-kau? Kulihat jenggotmu
terlalu panjang, betapa pun baiknya juga begitu-begitu saja.”
Baru kata “saja” diucapkan, serentak Tho-kan-sian, Tho-ki-sian, Tho-yap-sian, dan Tho-hoa-sian berempat
sudah melompat maju, tahu-tahu tojin jenggot panjang itu telah kena dipegang kedua tangan dan kedua
kakinya terus diangkat ke atas.
Pada detik yang hampir sama pula, dalam sekejap itu dari rombongan tojin-tojin itu pun melayang maju
delapan sosok bayangan, delapan batang pedang telah menyambar tiba, enam pedang mengancam di
punggung Tho-kok-lak-sian dua ujung pedang yang lain masing-masing mengancam tenggorokan dan perut
Lenghou Tiong.
Cepat luar biasa menyambar tibanya kedelapan pedang tojin-tojin itu, cara menyerang mereka juga sangat
rapat dan saling menutup titik kelemahan masing-masing, delapan orang laksana satu orang saja.
Begitu melihat gerakan pedang mereka segera Lenghou Tiong tahu mereka tidak bermaksud mencelakai lawan,
maka Lenghou Tiong juga tidak menangkis dan membiarkan kedua pedang itu mengarah tempat berbahaya di
tubuhnya, ia pikir asalkan kedua orang jelas bermaksud mencelakainya, sedikit ujung pedang mereka
disodorkan seketika juga dirinya masih sempat melolos pedang dan mematahkan serangan mereka.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Terdengar keempat tosu membentak serentak, “Lepaskan!”
Karena punggung mereka terancam oleh ujung pedang, Tho-kin-sian berempat sadar tak bisa berbuat apa-apa
lagi, terpaksa Tho-hoa-sian berkata dengan tertawa, “Lepas ya lepas, memangnya kau kira aku sudi
memegangi dia lebih lama. Eh, awas, berdiri yang baik!”
Berbareng Tho-kin-sian berempat terus melemparkan tojin jenggot panjang itu ke atas. Seketika tojin itu
merasa tubuhnya melayang ke udara dan entah akan terlempar ke mana, bukan mustahil akan terus
melambung ke udara dan kecantol di cabang pohon atau terus terjerumus ke dalam jurang. Maka baru saja
tubuhnya sedikit melambung ke atas, cepat ia mengerahkan tenaga “Jian-kin-tui” untuk menekan turun
tubuhnya.
Tak terduga tenaga lemparan Tho-kok-si-sian itu ternyata sangat aneh dan nakal, tenaga lemparan semula
memang naik ke atas, tapi tenaga pukulannya mendadak berubah menarik turun ke bawah, jadi mirip tenaga
empat orang membantingnya ke tanah dengan sekuatnya.
Padahal tenaga gabungan Tho-kok-si-sian sedikitnya sudah ada seribu kati, ditambah lagi tenaga tekanan ke
bawah yang dikerahkan sendiri oleh tojin jenggot panjang itu, keruan dia mirip dibanting dengan tenaga
gabungan lima orang.
Ketika menyadari gelagat tidak menguntungkan, tojin itu menjerit, hampir berbareng tubuhnya lantas
terbanting keras di atas batu padas, ruas tulangnya sampai berbunyi gemerutuk, entah patah entah retak,
yang jelas darah lantas tersembur keluar dari mulutnya.
Pada saat itu juga Lenghou Tiong sudah lantas melolos pedang, terdengar suara mendering berulang-ulang,
sekaligus ia telah menangkis pergi delapan pedang musuh.
Rupanya begitu melihat si tojin jenggot panjang terbanting begitu hebat dan bisa jadi terus mati, Lenghou
Tiong menduga kedelapan tojin yang lain mungkin sekali akan terus menyerang serentak. Dan benar juga,
sekaligus ia telah dapat mematahkan serangan mereka.
Gerak perubahan Tho-kok-si-sian juga sangat cepat, begitu pedang lawan tidak mengenai mereka, seketika
mereka lantas lompat menyingkir.
“Wah, untung! Hampir saja celaka!” seru Tho-sit-sian.
“Ya, untung Lenghou-kongcu pernah belajar pedang padaku, dengan ilmu pedangku yang lihai itulah dia telah
menyelamatkan kita,” ujar Tho-ki-sian.
“Ngaco-belo! Bilakah dia belajar pedang padamu?” semprot Tho-kin-sian.
Dalam pada itu, sesudah Lenghou Tiong sekaligus dapat menangkis serangan kedelapan pedang mereka,
serentak kedelapan tojin itu lantas berputar kian kemari dengan cepat luar biasa, begitu berada di belakang
Lenghou Tiong mereka lantas menusuk, kena atau tidak tusukan mereka bukan soal, segera mereka terus
menggeser lagi ke tempat lain secara bergilir.
“Hati-hati Bengcu, inilah Pat-kwa-kiam-tin dari Bu-tong-pay!” seru Jik Ko.
Ketika di Hoa-san dahulu Lenghou Tiong pernah mendengar cerita gurunya tentang berbagai ilmu pedang
terkenal dari macam-macam aliran di zaman ini. Antara lain dikatakan “Pat-kwa-kiam-hoat” Bu-tong-pay dan
“Chit-sing-kam-hoat” Hing-san-pay mempunyai kebagusan yang hampir serupa walaupun dasarnya tidak sama.
Begitulah Lenghou Tiong dapat menangkis setiap serangan tojin-tojin itu, dilihatnya gerak pedang kedelapan
orang dapat bahu-membahu, bantu-membantu dengan sangat rapat, sedikit pun tidak memperlihatkan lubang
kelemahan.
Inti “Tokko-kiu-kiam” yang diyakinkan Lenghou Tiong adalah dalam hal kelihaian mengincar titik kelemahan
ilmu silat musuh, jadi tanpa ikatan sesuatu jurus tertentu untuk mengalahkan jurus ilmu silat lawan yang
tertentu. Maklum, betapa pun tinggi ilmu silat seorang, betapa bagus jurus serangannya, baik di kala
menyerang maupun di waktu mengakhiri serangan biasanya pasti dapat diketemukan lubang kelemahan, sebab
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
itulah tiada sesuatu gerak serangan di dunia ini yang tak dapat dipatahkan.
Cuma sekarang ilmu pedang gabungan kedelapan tojin ini ternyata sangat hebat, ada juga lubang-lubang atau
ciri-ciri tertentu pada gerak serangan setiap orang, tapi selalu dapat ditutup oleh bantuan kawan yang lain
sehingga sukar dipatahkan.
Untungnya kepandaian kedelapan tojin itu tidak terlalu tinggi, “Pat-kwa-kiam-hoat” itu agaknya baru dipelajari
sehingga daya tekanan mereka kurang kuat. Meski seketika Lenghou Tiong tidak dapat membobolkan barisan
pedang mereka, tapi serangan-serangan kedelapan tojin juga tidak mampu melukai Lenghou Tiong.
Kedelapan tojin itu berlari semakin kencang mengitari Lenghou Tiong, sampai orang-orang yang menonton di
samping merasa pusing, bahkan ada yang merasa khawatir bagi sang bengcu.
“Mereka berdelapan mengerubut satu orang, hayolah kita pun maju lagi tujuh orang!” demikian seru Jik Ko.
“Nanti dulu,” sela Keh Bu-si. “Kedelapan orang itu mengutamakan kecepatan langkah mereka, padahal soal
ilmu pedang jelas mereka bukan tandingan Lenghou-kongcu.”
Kata-kata ini seketika menyadarkan Lenghou Tiong, pikirnya, “Benar, ilmu pedang mereka dapat bekerja sama
dengan rapat, tapi langkah kaki mereka jelas tak bisa saling membantu.”
Segera Lenghou Tiong berseru, “Setelah berkenalan dengan Pat-kwa-kiam-hoat Bu-tong-pay, ternyata
memang benar sangat hebat. Kedelapan Totiang sudah selesai main pedang, sekarang silakan mundur saja.”
Akan tetapi tojin-tojin itu mana mau mengundurkan diri, mereka masih terus berlari cepat mengitari dan
serangan demi serangan tetap dilancarkan.
Lenghou Tiong tersenyum, ia tanggalkan sarung pedang yang tergantung di pinggangnya, sarung pedang itu
disodorkan miring ke atas tanah. Ketika seorang tojin berlari di sebelah dengan cepat dan tidak keburu
mengerem, kakinya lantas kesandung sarung pedang, tubuhnya terhuyung-huyung ke depan, untung kudakudanya
cukup kuat sehingga tidak sampai jatuh terjerembap.
Namun dengan lepasnya seorang dari barisan pedang, seketika Pat-kwa-kiam-tin itu bobol. Lenghou Tiong
terus menggunakan sarung pedang untuk dipasang pada tempat-tempat yang harus dilintasi oleh kaki ketujuh
tojin yang lain, maka terdengarlah suara seru kaget dan teriak kejut berulang-ulang. Lima dari ketujuh tojin itu
sama kesandung oleh sarung pedang itu, ada yang menyelonong ke sana, ada yang sempoyongan ke sini,
dalam sekejap saja tinggal dua orang tojin saja yang masih mampu berdiri menghadapi Lenghou Tiong, pedang
mereka masih bergaya hendak menusuk, tapi ragu-ragu apakah serangan mereka diteruskan atau lebih baik
disudahi. Melihat adegan demikian, bergemuruhlah tawa orang banyak.
“Para Sute silakan mundur!” teriak tojin jenggot panjang tadi. Ketika ia memberi tanda, kembali ada tiga orang
tojin tampil ke muka. Bersama tojin jenggot panjang mereka ambil tempat empat sudut sehingga Lenghou
Tiong terkurung di tengah.
“Namamu akhir-akhir ini mengguncangkan Kangouw, nyatanya memang punya beberapa jurus aneh dari
golongan iblis dan sia-pay,” kata tojin jenggot panjang. “Cuma pertandingan tadi telah kau selingi dengan cara
main jegal, cara demikian rasanya kurang wajar.”
“Numpang tanya siapakah gelaran Totiang dan pernah apa dengan Tiong-hi Totiang?” tanya Lenghou Tiong.
“Asalkan kau mampu mengalahkan kami berempat dan boleh segera lalu, buat apa banyak bicara lagi,” sahut
tojin jenggot panjang. Begitu ia berseru memberi tanda, serentak empat pedang menusuk dari empat jurusan.
Dari sambaran angin yang dibawa oleh pedang mereka itu terang tenaga keempat tojin itu sangat kuat, jauh
lebih lihai daripada kedelapan tojin yang duluan.
Tapi baru bergebrak satu jurus saja Lenghou Tiong lantas merasa heran, “Menurut cerita suhu dahulu, katanya
ilmu silat Bu-tong-pay mengutamakan kelunakan dan kesabaran. Tapi permainan pedang keempat tojin ini
jelas lebih banyak memakai kekerasan dan menyerang secara bernafsu, hal ini menandakan berita di luar
tentang ilmu silat Bu-tong-pay tidak seluruhnya betul.”
Aneh pula bahwa ilmu pedang keempat tojin ini jauh lebih lihai daripada kedelapan tojin yang dahuluan, tapi
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
dalam hal kerja sama ternyata tidak serapi dan sebaik kedelapan tojin itu.
Tidak lama kemudian, dengan gampang Lenghou Tiong lantas melihat titik kelemahan ilmu pedang keempat
lawan itu. “Cret”, seketika pedangnya menusuk robek lengan baju salah seorang tojin.
Tojin itu melengak kaget, menyusul serangan Lenghou Tiong telah memapas sepotong kain jubah tojin yang
lain. Ketika pedangnya berputar balik, “sret”, tahu-tahu rambut tojin ketiga telah terkupas putus sehingga
rambutnya morat-marit tak keruan. Tinggal lagi si tojin jenggot panjang itu, Lenghou Tiong rada mendongkol
karena kata-kata tojin berjenggot ini rada kasar, maka ia sengaja hendak membuat malu padanya. “Sret-sret”
dua kali, pedangnya menusuk ke perut lawan, lalu menusuk mukanya.
Lekas-lekas tojin itu hendak menangkis, siapa tahu serangan-serangan Lenghou Tiong itu hanya pura-pura
saja, ketika pedang si tojin menangkis ke bawah untuk menjaga perutnya, sekonyong-konyong jenggotnya
sudah terpapas sebagian oleh pedang Lenghou Tiong. Waktu tojin itu kerepotan hendak mengangkat
pedangnya buat menjaga mukanya lagi, “sret”, tahu-tahu pedang Lenghou Tiong sudah menyambar ke bawah,
ikat pinggang jubahnya dan bahkan ikat celananya juga ikut terpotong putus.
Berturut-turut empat kali serangan Lenghou Tiong itu telah membikin si tojin berjenggot menjadi kelabakan,
sudah sadar bahwa celananya telah kedodoran dan merosot ke bawah, tapi dia tidak sempat menggunakan
tangannya untuk menarik celana, walaupun sebelah tangan menganggur, namun setiap serangan Lenghou
Tiong yang menyusul selalu mengancam tangan kiri yang menganggur itu sehingga dia terpaksa mesti
menyelamatkan tangannya dan membiarkan celananya melorot.
Keruan semua orang yang menyaksikan itu bergelak tertawa geli.
Ketiga tojin yang lain tahu bahwa Lenghou Tiong sengaja mengampuni jiwa mereka, maka mereka tidak berani
bertempur lagi dan terus mengundurkan diri.
Sementara itu tojin jenggot panjang itu hampir-hampir jatuh terjerembap karena tersangkut oleh celananya
sendiri yang melorot ke betis itu, keruan kelakuannya menjadi sangat lucu. Untung jubahnya sangat panjang
sehingga bagian bawah badannya masih tertutup, kalau tidak tentu dia sangat malu lantaran tak bercelana
lagi.
“Maaf!” Lenghou Tiong tidak mendesak lebih jauh, ia memasukkan pedang ke sarungnya dan melangkah
mundur.
Sebaliknya tojin jenggot panjang menjadi tambah gusar, pedangnya lantas menusuk lagi ke dada Lenghou
Tiong. Namun Lenghou Tiong hanya tersenyum saja tanpa berkelit. Ketika ujung pedang tojin itu hanya
beberapa senti di depan dada sasarannya, sekonyong-konyong ia tertegun dan tidak meneruskan tusukannya,
ia pikir ilmu silat lawan selisih sangat jauh di atasnya, jika tusukannya itu diteruskan, bukan mustahil pihak
lawan menjadi murka dan tidak memberi ampun lagi, sekali balas menyerang pasti jiwanya sendiri akan
melayang. Maka setelah tertegun sejenak, akhirnya ia melemparkan pedang sendiri dan berjongkok untuk
membetulkan celananya.
Keruan suara tertawa para jago bertambah riuh. Para tosu yang berdiri di sebelah sana ada yang merasa malu,
ada yang merasa gusar pula. Tojin jenggot panjang itu lantas putar tubuh, dengan tangan kiri masih
memegangi celana yang putus tali kolornya, ia memberi tanda kepada anak buahnya, lalu mundur teratur
bersama kawanan tosu itu.
Di tengah bergelak tertawa para jago-jago itu, beramai-ramai mereka pun memuji kelihaian ilmu pedang
Lenghou Tiong. Tapi Lenghou Tiong sendiri justru lagi menyesal akan kejadian tadi, pikirnya, “Tindak tandukku
selalu terburu nafsu tanpa memikirkan kemungkinan akibatnya. Meski aku mendapat kemenangan, tapi nama
baik Bu-tong-pay telah tersapu bersih, ini berarti telah menanam bibit permusuhan, sebenarnya apa gunanya?”
Terdengar Coh Jian-jiu sedang berkata, “Ilmu pedang Lenghou-kongcu sungguh sakti, baru hari ini kita dapat
menyaksikannya. Sayang di sini tidak ada arak, kalau tidak kita harus minum sepuas-puasnya sebagai tanda
memberi selamat.”
Seketika Lenghou Tiong merasa ketagihan mendengar disebutnya arak, katanya, “Baiklah, mari kita pergi ke
kota di depan sana untuk minum sepuasnya.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Namun jumlah mereka terlalu banyak, kota-kota yang dilalui mereka tiada cukup banyak hotel dan restoran
yang sanggup menampung mereka. Terpaksa mereka harus berkemah di tanah pegunungan yang sunyi di luar
kota.
Besoknya mereka melanjutkan perjalanan ke utara, kira-kira belasan li jauhnya, pengintai bagian depan datang
melapor bahwa di jalan pegunungan di depan sana diketemukan beberapa puluh sosok mayat kaum tosu,
agaknya rombongan tosu yang mencegat mereka kemarin itu.
Lenghou Tiong terkejut oleh laporan itu, cepat ia melarikan kudanya ke depan, benar juga, di suatu simpang
jalan bergelimpangan beberapa puluh mayat, di antaranya terdapat pula tojin berjenggot panjang.
“He, lihatlah, Bengcu!” seru Keh Bu-si sambil menunjuk sebatang pohon besar.
Ternyata di batang pohon itu sebagian kulit pohon terkupas, di situ terukir beberapa huruf dengan ujung
senjata, bunyinya: “Kawanan penjahat memalsukan nama, dosanya tidak boleh diampuni.”
“O, kiranya kawanan tojin ini bukan orang Bu-tong-pay,” ujar Coh Jian-jiu. “Tampaknya mereka telah dibunuh
oleh pihak Bu-tong-pay.”
“Buat apa mereka menyaru sebagai orang Bu-tong-pay? Entah dari mana pula asal usul mereka ini? Sungguh
aneh bin heran!” kata Lo Thau-cu.
Mendadak pikiran Lenghou Tiong tergerak, katanya, “Cobalah kawan-kawan periksa mereka, apakah kedelapan
tojin yang bertempur dengan aku kemarin juga terdapat di antara mereka?”
Segera Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, Lo Thau-cu, dan lain-lain memeriksa mayat-mayat kawanan tosu itu, benar
juga kedelapan tojin yang main Pat-kwa-kiam-tin kemarin itu tidak diketemukan.
“Mengapa bisa demikian?” ujar Coh Jian-jiu dengan heran. “Lenghou-kongcu tentu tahu duduknya perkara.”
“Aku juga cuma menerka secara ngawur saja,” sahut Lenghou Tiong. “Meskipun ilmu pedang kedelapan tojin
itu tidak terlalu tinggi, tapi permainan mereka sangat rapi dan teratur, kalau orang yang meniru dan baru
belajar tentu takkan mencapai tingkatan seperti mereka itu.”
“Jika begitu, jadi kedelapan tojin itulah benar-benar orang dari Bu-tong-pay?” tanya Coh Jian-jiu.
“Pengalamanku sendiri sangat cetek dan tidak tahu persis bagaimana sesungguhnya ilmu pedang Bu-tong-pay
yang tersohor itu,” sahut Lenghou Tiong. “Cuma dari ilmu pedang keempat tosu yang mati ini, jelas kepandaian
mereka tidak sama, mereka masing-masing memiliki kepandaian yang tinggi, tampaknya mereka bukan
berasal dari suatu aliran atau perguruan. Kemarin hatiku sudah rada curiga, hanya tidak terpikir olehku bahwa
mereka adalah orang Bu-tong-pay gadungan.”
“Orang Bu-tong-pay tulen bercampur dengan orang Bu-tong-pay gadungan, hal ini sungguh sukar dimengerti,”
kata Coh Jian-jiu.
“Menurut pendapatku, besar kemungkinan kedelapan tosu Bu-tong-pay tulen sengaja dipaksa ke sini oleh
kawanan pemalsu itu,” ujar Keh Bu-si.
“Benar, memang Si Kucing Malam lebih tajam otaknya,” seru Lo Thau-cu sambil tepuk paha. “Rupanya
kawanan pemalsu ini khawatir terbongkar rahasianya, maka mereka telah mencari beberapa orang Bu-tongpay
tulen untuk dijadikan tameng, dengan demikian kita akan dikelabui.”
“Jangan-jangan kawanan pemalsu ini adalah orang-orang yang dikirim Kaucu dari Hek-bok-keh?” ujar Keh Busi.
Mendengar disebutnya “Kaucu dari Hek-bok-keh”, seketika air muka semua orang berubah takut.
Dengan tertawa Lenghou Tiong lantas berkata, “Tak peduli mereka dari mana asalnya, yang jelas bukan kita
yang membunuh mereka. Jika benar Bu-tong-pay yang membunuh mereka, itu berarti Bu-tong-pay berada di
pihak kita, lalu apa lagi yang kita khawatirkan?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Beberapa hari kemudian, sudah jauh mereka meninggalkan lereng Bu-tong-san, sepanjang jalan ternyata tiada
terjadi apa-apa lagi. Petang itu, ketika barisan mereka sedang berjalan, tiba-tiba terdengar suara “keteprakketeprak”,
suatu telapak kaki binatang tunggangan. Tertampaklah dari depan mendatangi seorang penunggang
keledai, di belakang keledai mengikut pula dua orang, semuanya berdandan sebagai petani, yang satu memikul
sayuran, yang lain memikul kayu bakar.
Keledai itu tampak sudah tua lagi kurus, badannya penuh kudisan, rupanya sangat jelek. Penunggangnya juga
seorang tua dengan pakaian rombeng penuh tambalan, badannya membungkuk-bungkuk sambil terbatukbatuk.
Sepanjang perjalanan rombongan jago-jago Kangouw itu selalu bergembar-gembor riuh ramai, setiap orang di
jalanan tentu ketakutan dan lekas-lekas menyingkir bila bertemu dengan barisan besar ini jika tidak ingin
menghadapi malapetaka. Tapi ketiga orang ini ternyata lain daripada yang lain, terang mereka melihat barisan
besar itu, tapi mereka anggap seperti tidak tahu dan masih terus menerjang ke depan.
“He, kau cari mampus?” bentak Tho-kan-sian sembari mendorong ke depan. Kontan keledai kurus itu meringkik
terus terbanting ke tengah sawah di tepi jalan dengan tulang patah.
Si kakek yang menunggang keledai itu juga ikut terbanting jatuh ke atas tanah, ia merintih kesakitan dan
sampai sekian lamanya tidak sanggup berbangkit.
Dari kecil Lenghou Tiong sering mendapat petuah dari sang guru agar membantu yang lemah dan
memberantas kezaliman, menolong yang miskin dan membantu orang tua. Sekarang menyaksikan si kakek
didorong jatuh oleh Tho-kan-sian, ia menjadi tidak enak perasaannya, cepat ia melompat untuk
membangunkannya dan berkata, “Apakah kau terbanting sakit, Bapak Tua?”
“Ini ... ini apa-apaan, aku ... aku ....” orang tua itu tergagap-gagap sambil meringis.
Dalam pada itu kedua petani tadi sudah menaruh pikulan mereka, lalu berdiri tegak di tengah jalan. Laki-laki
yang memikul sayur itu berseru, “Di sini adalah lereng Pegunungan Bu-tong, kalian ini orang-orang macam
apa, berani sembarangan mengganggu dan memukul orang di sini?”
“Kalau di lereng Pegunungan Bu-tong, lalu ada apa?” sahut Tho-kan-sian tertawa.
“Di kaki Bu-tong-san sini setiap orangnya bisa main silat, kalian orang dari daerah lain berani main gila ke sini,
bukankah itu berarti kalian tidak tahu gelagat dan ingin cari penyakit?” kata orang itu.
Usia kedua laki-laki petani itu rata-rata sudah 50-an, semuanya telanjang kaki dan cuma memakai sepatu
sandal dari rumput kering, muka mereka pucat dan badan kurus, waktu bicara pemikul sayur ini malahan
tampak terengah-engah napasnya, tapi ternyata mengaku mahir silat. Keruan tertawalah orang banyak.
“Apakah kau sendiri mahir ilmu silat?” demikian Tho-hoa-sian bertanya dengan tertawa.
“Di kaki Bu-tong-san sini anak umur tiga tahun sudah bisa main pukulan, anak umur lima tahun sudah mahir
main pedang, kenapa mesti heran?” sahut pemikul sayur.
“Dan dia, apakah dia juga mahir main pukulan?” tanya Tho-hoa-sian pula sambil menuding laki-laki pemikul
kayu tadi.
“Aku ... aku ... di waktu kecil aku memang pernah belajar beberapa bulan lamanya,” kata laki-laki pemikul
kayu itu. “Tapi sudah berpuluh tahun aku tidak pernah berlatih, mungkin ... mungkin sekali sekarang sudah
kaku.”
Si tukang pikul sayur lantas menyambung, “Ilmu silat Bu-tong-pay nomor satu di dunia ini, cukup berlatih
beberapa bulan saja pasti kau tidak mampu melawannya.”
“Bagus, jika begitu cobalah kau pertunjukkan beberapa jurus kepadaku,” ujar Tho-hoa-sian dengan tertawa.
“Beberapa jurus bagaimana? Biar kumainkan juga kalian tidak paham,” ujar si tukang pikul kayu.
Kembali bergemuruhlah gelak tawa orang banyak, sebagian berseru, “Kami tidak paham, kami hanya ingin
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
tahu!”
“Ai, jika demikian terpaksa akan kumainkan beberapa jurus saja, cuma entah terlupa tidak,” kata pemikul kayu
itu. “Eh, tuan besar mana yang sudi meminjamkan pedang padaku.”
Segera seorang mengangsurkan pedang kepadanya dan diterima oleh laki-laki itu, ia melangkah ke tengah
sawah yang tanahnya sudah kering itu, lalu pedangnya menusuk ke kanan dan menebas ke kiri, begitulah ia
mulai main, tapi baru tiga-empat kali, mendadak ia berhenti karena lupa lanjutannya, ia garuk-garuk kepala
dan cakar-cakar kuping sembari mengingat-ingat, lalu main lagi beberapa jurus.
Melihat permainannya itu sama sekali tidak keruan, gerak-geriknya juga lamban dan ketolol-tololan, semua
orang sama tertawa terpingkal-pingkal.
“Apanya yang lucu, kenapa kalian tertawa?” ujar laki-laki pemikul sayur. “Coba pinjami pedang, aku pun akan
main beberapa jurus.”
Setelah pegang pedang segera ia pun membacok dan menusuk serabutan, gerakannya sangat cepat dan
caranya seperti orang gila, keruan orang banyak tambah geli menertawakannya.
Bab 91. Tokoh Bu-tong-pay yang Kosen
Semula Lenghou Tiong juga cuma tersenyum saja sambil berpangku tangan, tapi hanya melihat beberapa jurus
saja ia menjadi terkejut. Dilihatnya gerak pedang kedua laki-laki itu berbeda, yang satu lamban dan yang lain
cepat, tapi dalam permainan pedang mereka itu ternyata tiada sedikit pun diketemukan lubang kelemahan.
Memang gerak-gerik kedua orang itu sangat kaku, bahkan lucu dan menimbulkan tawa penonton, tapi yang
satu menjaga dan yang lain menyerang, sukar bagi pihak lawan untuk melayaninya. Lebih-lebih laki-laki
pemikul kayu itu, ilmu pedangnya sederhana saja, tapi daya tekanan pedangnya agaknya baru dilancarkan satu
bagian saja, sembilan bagian selebihnya masih tersimpan dan siap untuk dikerahkan.
Di tengah gelak tertawa orang banyak itulah Lenghou Tiong lantas melangkah maju, katanya sambil memberi
hormat, “Sungguh beruntung sekali hari ini dapat menyaksikan ilmu pedang mahahebat dari kedua Cianpwe.
Kepandaian sehebat ini sungguh sukar diketemukan sekalipun menjelajahi seluruh dunia.”
Kata-kata Lenghou Tiong ini diucapkan dengan nada yang sungguh-sungguh dan setulus hati, sama sekali
berbeda daripada kata-kata para jago tadi yang bernada mengejek.
Kedua laki-laki tadi lantas menghentikan permainan mereka. Si tukang pikul kayu menjawab dengan mata
melotot, “Kau bocah ini, kau paham ilmu pedang kami?”
“Paham sih tidak,” sahut Lenghou Tiong. “Ilmu pedang kedua Cianpwe mahahebat dan sangat luas, untuk
‘memahaminya’ masakah begitu gampang? Yang jelas ilmu pedang Bu-tong-pay yang termasyhur ternyata
memang benar sangat mengagumkan.”
“Kau bocah ini bernama siapa?” tanya si tukang sayur.
Belum Lenghou Tiong menjawab, di tengah orang banyak sudah ada yang berteriak, “Bocah apa segala,
mulutmu perlu dicuci dulu. Dia adalah bengcu kami, Lenghou-kongcu adanya.”
“Lenghou-kuaci?” si tukang kain menegas seperti orang heran. “Kenapa tidak pakai nama oncom atau keripik,
lha kok pakai nama kuaci atau kacang segala?”
Lenghou Tiong tidak menghiraukan olok-olok orang, ia memberi hormat pula dan berkata, “Hari ini Lenghou
Tiong dapat menyaksikan ilmu pedang sakti Bu-tong-pay, sungguh sangat beruntung dan kagum. Lain hari bila
sempat tentu akan berkunjung untuk memberi salam hormat kepada Tiong-hi Totiang. Tentang nama kedua
Cianpwe yang mulia apakah dapat diberi tahu?”
Kedua orang itu tidak menjawab, sebaliknya si tukang kayu terus meludah ke tanah, katanya, “Hei, kalian
sebanyak ini main berbaris dan membunyikan tambur segala dengan riuh ramai, apakah kalian sedang arakarakan
atau sedang mengantar jenazah?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong tahu kedua orang itu pasti tokoh Bu-tong-pay, dengan penuh hormat dijawabnya, “Kami ada
seorang teman telah ditahan oleh Siau-lim-pay, kami sekarang hendak menuju ke sana untuk mohon
kemurahan hati Hong-ting Taysu agar sudi mengampuni teman kami itu dan membebaskannya.”
“O, kiranya bukan mengantar jenazah!” ujar si tukang sayur. “Tapi kalian telah memukul mati keledai paman
kami, kalian mau ganti atau tidak?”
Segera Lenghou Tiong menuntun maju tiga ekor kuda, katanya, “Kuda-kuda ini sudah tentu tak bisa
dibandingkan dengan keledai Cianpwe itu, terpaksa Cianpwe diharap menerima seadanya. Tentang
kecerobohan teman tadi, mohon pula para Cianpwe sudi memaafkan.”
Melihat sikap Lenghou Tiong yang makin lama makin hormat dan rendah diri terhadap petani-petani itu,
tampaknya bukanlah sengaja pura-pura. Keruan para jago menjadi melongo heran.
“Setelah kau mengetahui kehebatan ilmu pedang kami, apakah kau tidak ingin menjajalnya?” tanya si tukang
sayur.
“Wanpwe pasti bukan tandingan kedua Cianpwe,” sahut Lenghou Tiong.
“Rupanya kau enggan menjajal kami, sebaliknya aku menjadi ingin menjajal kau,” kata si tukang kayu.
Berbareng pedangnya terus menusuk ke arah Lenghou Tiong dengan rada miring dan menceng.
“Bagus!” seru Lenghou Tiong ketika melihat serangan orang mencakup sembilan tempat berbahaya di atas
tubuhnya, sungguh suatu jurus serangan yang amat indah. Cepat ia pun lolos pedang dan balas menusuk.
Ketika laki-laki itu menusuk suatu kali ke tempat yang kosong, Lenghou Tiong juga putar pedangnya dan
menebas ke tempat yang kosong. Berturut-turut kedua orang sama-sama menyerang beberapa kali, tapi yang
diarah semuanya tempat yang kosong. Kedua pedang belum pernah beradu. Namun begitu laki-laki itu
selangkah demi selangkah terus mundur.
“Kuaci kacang ternyata rada aneh juga,” ujar laki-laki tukang sayur. Segera ia pun angkat pedangnya dan
menusuk dan menebas serabutan, dalam sekejap saja ia sudah main belasan jurus. Tapi tiap-tiap jurus tidak
ditujukan kepada Lenghou Tiong, di mana ujung pedangnya tiba selalu berselisih satu-dua meter jauhnya dari
Lenghou Tiong. Begitu pula Lenghou Tiong juga terkadang menusuk dari jauh ke arah si tukang kayu, lain saat
menusuk si tukang sayur dari jarak jauh.
Anehnya tiap-tiap kali Lenghou Tiong menyerang, seketika kedua laki-laki itu tampak tegang dan cepat putar
pedang buat menangkis atau melompat menghindar.
Keruan para penonton terheran-heran, padahal jarak ujung pedang Lenghou Tiong cukup jauh dari sasarannya,
sekali menyerang juga tidak terasa sesuatu kekuatan yang menyambar ke depan, tapi mengapa kedua orang
itu berusaha menghindar sebisanya?
Sampai di sini barulah para jago itu mengetahui kedua orang petani itu sekali-kali bukan orang desa, tapi
adalah tokoh silat yang memiliki kepandaian tinggi. Di waktu menyerang mereka tetap kelihatan lambat dan
yang lain seperti orang gila, tapi ketika menghindar serangan gerak-gerik mereka amat gesit dan lincah, kalau
bukan terlatih berpuluh tahun pasti tidak memiliki tingkatan sedemikian tingginya.
Tiba-tiba terdengar kedua orang itu bersuit serentak, ilmu pedang mereka berubah sama sekali, si tukang kayu
bergerak secara keras, tenaganya kuat, sebaliknya si tukang sayur meloncat ke sana-sini dengan cepat, ujung
pedang mereka bergetar memantulkan titik-titik sinar perak.
Namun pedang di tangan Lenghou Tiong tampak mengacung miring ke atas tanpa bergerak lagi, hanya sorot
matanya yang tajam terkadang melotot ke arah si tukang kayu, lain saat melirik si tukang sayur. Di mana sorot
matanya sampai, seketika kedua laki-laki itu berganti gaya, terkadang mereka berteriak dan cepat melompat
mundur, tiba-tiba mereka lantas melancarkan serangan, tapi mendadak mereka bertahan lagi seperti
kerepotan.
Beberapa jago kelas tinggi seperti Keh Bu-si, Lo Thau-cu, dan lain-lain, setelah mereka mengikuti sekian
lamanya pertarungan aneh itu, akhirnya dapatlah mereka melihat apa-apa yang terjadi sebenarnya. Dilihatnya
bagian-bagian yang dihindari oleh kedua laki-laki itu selalu adalah tempat yang disorot oleh tatapan mata
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong, tapi juga hiat-to yang penting di tubuh mereka.
Suatu ketika dilihatnya mata Lenghou Tiong menatap ke “siang-kiok-hiat” di bagian perut si tukang kayu,
padahal waktu itu si tukang kayu baru hendak membacok dengan pedangnya, mendadak ia urungkan
serangannya dan lekas-lekas menarik kembali pedangnya untuk mengadang di depan perut.
Pada saat hampir sama si tukang sayur bergaya hendak menusuk ke arah Lenghou Tiong, tiba-tiba sorot mata
Lenghou Tiong mengarah ke “thian-ting-hiat” di bagian lehernya, lekas-lekas tukang sayur itu mendak ke
bawah sehingga tusukan pedangnya menancap tanah sawah yang sudah mengeras kering itu.
Begitulah untuk sekian lamanya kedua laki-laki itu terus berkutatan sehingga basah kuyup oleh keringat
mereka sendiri laksana habis kecebur sungai.
Si kakek penunggang keledai tadi juga terus mengikuti pertandingan aneh itu di samping dan tidak membuka
suara, kini mendadak ia berdehem, lalu berkata, “Hebat, sungguh sangat mengagumkan. Kalian mundur saja!”
Kedua orang itu mengiakan berbareng, tapi sorot mata Lenghou Tiong yang tajam laksana kilat itu masih terus
berkisar di bagian hiat-to penting di tubuh mereka. Meski mereka memutar pedang sembari mundur masih
sukar melepaskan diri dari incaran sinar mata Lenghou Tiong.
“Kiam-hoat bagus!” seru si kakek. “Lenghou-kongcu, biarlah aku yang minta petunjuk beberapa jurus
padamu.”
“Terima kasih!” sahut Lenghou Tiong sambit berpaling dan memberi hormat kepada si kakek.
Baru sekarang kedua laki-laki itu dapat membebaskan diri dari incaran sinar mata Lenghou Tiong, berbareng
mereka melompat mundur dengan enteng sebagai burung terbang.
Si kakek terbatuk-batuk beberapa kali, lalu berkata pula, “Lenghou-kongcu telah sengaja bermurah hati kepada
kalian, jika bertempur sungguh-sungguh tentu tubuh kalian sudah penuh dengan lubang tusukan, masakan
kalian mampu menyelesaikan permainan ilmu pedang. Lekas kalian maju mengucapkan terima kasih.”
Segera kedua laki-laki itu melompat maju terus membungkuk tubuh di hadapan Lenghou Tiong. Kata si tukang
sayur, “Hari ini barulah aku mengetahui di luar langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih
pandai. Kepandaian Kongcu jarang ada bandingannya di dunia ini, harap sudi memaafkan atas ucapan kami
yang kurang hormat tadi.”
Lenghou Tiong membalas hormat mereka, katanya, “Bu-tong-kiam-hoat benar-benar mahasakti. Permainan
pedang kalian tadi yang satu yang (positif) dan yang lain im (negatif), satu keras satu lunak, apakah itu Thaykek-
kiam-hoat adanya?”
“Hanya membikin malu saja, yang kami mainkan tadi adalah ‘Liang-gi-kiam-hoat’, memang terdiri dari im dan
yang, tapi belum dapat terlebur menjadi satu,” sahut si tukang sayur.
“Karena Cayhe telah menyaksikan sebelumnya sehingga sedikit dapat mengetahui letak intisari ilmu pedang
kalian,” ujar Lenghou Tiong. “Tapi kalau benar-benar bertempur sungguhan jelas tak sanggup aku melawan.”
“Lenghou-kongcu teramat rendah hati,” ujar si kakek. “Padahal di mana sorot mata Kongcu menatap, di situ
pula terletak titik kelemahan dari setiap jurus Liang-gi-kiam-hoat. Ai, kiam-hoat ini ternyata ...” sampai di sini
ia geleng-geleng kepala, sejenak kemudian barulah ia menyambung, “lima puluh tahun yang lalu Bu-tong-pay
ada dua totiang yang sengaja mendalami Liang-gi-kiam-hoat ini secara tekun, beliau-beliau itu merasa di
dalam ilmu pedang ini ada im ada yang, juga keras juga lunak. Tapi ai!” ia menghela napas seakan-akan
hendak mengatakan, “Ternyata ilmu pedang yang dianggap sudah sempurna itu tidak tahan sekali gempur oleh
ahli pedang yang diketemukan sekarang.”
Kiranya dalam pertandingan pedang tadi, mula-mula Lenghou Tiong menggunakan ujung pedang untuk
menyerang tempat-tempat berbahaya di tubuh kedua lawannya dari jarak jauh, tempat yang diarah adalah
lubang-lubang kelemahan permainan pedang mereka. Tapi kemudian ia tidak perlu menggerakkan lagi
pedangnya, hanya sorot matanya saja yang mengincar ke titik kelemahan lawan-lawan itu. Setiap kali salah
seorang lawannya menyerang, selalu merasakan titik kelemahan serangannya itu sudah kena diincar oleh
Lenghou Tiong sehingga terpaksa ia harus menarik kembali serangan dan begitu seterusnya. Makin lama
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
mereka semakin gelisah, meski Lenghou Tiong hanya berdiri di tempatnya tanpa bergerak, tapi kedua orang itu
sudah kelabakan sendiri dengan mandi keringat dan kehabisan tenaga.
Begitulah Lenghou Tiong lantas berkata dengan penuh hormat, “Tadi kedua paman ini rasanya tidak terlalu
tinggi tingkatannya di dalam Bu-tong-pay, namun ilmu pedang mereka sudah sedemikian bagusnya. Apalagi
kepandaian Tiong-hi Totiang serta tokoh-tokoh kelas wahid yang lain, tentu jauh lebih mengagumkan. Wanpwe
dan para kawan kebetulan harus lalu di kaki Bu-tong-san sini, soalnya ada urusan penting sehingga tidak
sempat berkunjung dan memberi hormat kepada Tiong-hi Totiang, kelak bila urusan sudah selesai tentu Cayhe
akan berkunjung ke Cin-bu-koan (nama kuil) untuk sembahyang di hadapan Cin-bu-tayte serta menjura
kepada Tiong-hi Totiang.”
Sebenarnya watak Lenghou Tiong sangat angkuh, tapi terhadap ilmu pedang kedua lawannya yang luar biasa
dan ajaib tadi, meski dia dapat mengalahkan mereka, tapi dia memang benar-benar sangat kagum. Apalagi ia
buru-buru ingin pergi menolong Ing-ing dan sedapat mungkin harus menghindari permusuhan dengan Bu-tongpay
yang sukar dilawan itu, samar-samar dalam perasaannya ia menduga si kakek pasti tokoh terkemuka di
dalam Bu-tong-pay, maka apa yang diucapkannya itu benar-benar sangat tulus dan sungguh-sungguh.
Si kakek tampak manggut-manggut, katanya, “Orang muda memiliki kepandaian tinggi, tapi tidak sombong,
sungguh harus dipuji. Lenghou-kongcu, apakah kau pernah mendapat didikan langsung dari Hong Jing-yang
Locianpwe dari Hoa-san?”
Lenghou Tiong terkesiap dan mengakui ketajaman mata si kakek yang bisa mengetahui asal usul ilmu
pedangnya tadi. Cepat ia membungkuk tubuh dan menjawab, “Ah, secara beruntung Wanpwe hanya pernah
mempelajari sedikit bulu kulit kepandaian Hong-thaysusiokco.”
“Bulu kulit saja katamu dan ternyata sudah begitu hebat?” kata si kakek dengan tersenyum. Ia berpaling dan
mengambil pedang yang dipegang si pemikul kayu. Lalu katanya pula, “Sekarang aku ingin coba belajar kenal
dengan sedikit bulu kulit ilmu pedang ajaran Hong-locianpwe itu.”
“Ah, mana Wanpwe berani bergebrak dengan Cianpwe?” ujar Lenghou Tiong dengan rendah hati.
Kembali si kakek tersenyum, dengan tetap terbungkuk-bungkuk, tubuhnya memutar ke kanan dengan
perlahan-lahan, pedang yang terpegang di tangan kiri itu diangkatnya ke atas terus melintang di depan dada.
Melihat gaya orang tua itu, Lenghou Tiong tidak berani sembrono, ia pun mengikuti gerak-geriknya dengan
penuh perhatian. Tiba-tiba pedang si kakek menggores ke depan dengan perlahan dalam bentuk setengah
lingkaran.
Seketika Lenghou Tiong merasa suatu arus hawa dingin menyambar ke arahnya, kalau tidak balas menyerang
rasanya sukar ditahan. Terpaksa ia berkata, “Maaf!” Karena tidak melihat titik kelemahan dari jurus pedang si
kakek, terpaksa pedangnya menutul sekenanya ke depan.
Sekonyong-konyong si kakek memindahkan pedang ke tangan kanan, sinar dingin berkelebat, mendadak ia
menebas ke leher Lenghou Tiong. Karena gerakan yang teramat cepat ini, para jago yang menonton di
samping sampai menjerit kaget dan khawatir.
Tapi karena serangan si kakek yang keras mendadak itu, segera Lenghou Tiong melihat titik kelemahan di
bawah ketiak lawan. Segera pedangnya membarengi menusuk ke yan-ek-hiat di bawah iga si kakek.
Terpaksa si kakek menegakkan pedangnya. “Trang”, kedua pedang kebentur, kedua orang sama-sama mundur
selangkah, Lenghou Tiong merasakan tenaga lawan seakan-akan melengket di atas pedangnya sehingga
batang pedang tergetar mendenging. Sebaliknya si kakek juga bersuara heran, air mukanya menunjukkan rasa
kejut dan tidak percaya.
Setelah satu gebrak, kembali pedang si kakek berpindah ke tangan kiri, ujung pedang menggores pula ke
depan menjadi dua lingkaran.
Melihat gerakan pedang orang yang bertenaga dan rapat melindungi seluruh tubuhnya tanpa lubang sedikit
pun, diam-diam Lenghou Tiong kejut dan heran, “Sejak menghadapi musuh belum pernah kulihat permainan
silat lawan yang begini rapat penjagaannya. Bila dia menyerang cara demikian, lalu cara bagaimana aku harus
mematahkannya?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lantaran timbul rasa sangsinya, tanpa terasa butiran keringat lantas merembes di dahinya.
Dalam pada itu pedang si kakek lantas bergetar, mendadak menusuk ke depan secara lempeng, ujung pedang
bergemetar cepat sehingga tidak diketahui arah mana sebenarnya yang hendak diserang. Yang pasti beberapa
hiat-to penting di tubuh Lenghou Tiong sudah terancam semua oleh gerakan pedangnya.
Tapi karena serangan cepat si kakek itulah Lenghou Tiong dapat melihat tiga lubang kelemahan di tubuh
lawannya, asal salah satu lubang kelemahan diserang sudah cukup menamatkan jiwanya. Segera pedang
Lenghou Tiong juga ditusukkan ke depan, ke ujung alis kiri si kakek.
Dalam keadaan demikian bila si kakek tetap mengayun pedangnya ke depan, maka lebih dulu pelipis kirinya
pasti akan tertusuk pedang Lenghou Tiong.
Pertarungan di antara jago kelas tinggi kalah-menang memang cuma tergantung pada satu-dua detik itu saja,
siapa yang lebih dulu dia yang menang.
Menurut keadaan itu, meski Lenghou Tiong tak bisa menghindarkan diri dari serangan si kakek, tapi
kesempatan menyelamatkan diri sedikitnya ada separuh, sebaliknya pihak lawan pasti akan binasa oleh
tusukannya.
Ternyata si kakek cukup menyadari hal itu, mendadak ia putar balik pedangnya, sekonyong-konyong
pandangan Lenghou Tiong menjadi silau oleh lingkaran-lingkaran sinar perak besar-kecil tak terhitung
banyaknya. Karena matanya silau, terpaksa ia pun menarik kembali pedangnya, lalu menusuk lagi ke tengah
lingkaran sinar pedang lawan. “Trang”, kedua pedang kebentur lagi, lengan Lenghou Tiong terasa kesemutan.
Lingkaran sinar yang dipantulkan oleh pedang si kakek makin lama makin banyak, hanya sebentar saja seluruh
badannya seakan-akan menghilang di balik lingkaran sinar yang tak terhitung banyaknya itu. Lingkaran sinar
itu satu disusul yang lain, yang duluan belum buyar sudah timbul lingkaran lagi.
Lenghou Tiong tidak sanggup mengincar lubang kelemahan di tengah ilmu pedang si kakek, hanya dirasakan
lawan seakan-akan dibungkus oleh beratus atau beribu batang pedang sehingga sukar ditembus.
Jantung Lenghou Tiong mulai berdebar keras. Sejak berhasil meyakinkan “Tokko-kiu-kiam” untuk pertama
kalinya sekarang ia merasakan takut. Bahwasanya gerak serangan musuh ternyata tidak diketemukan titik
kelemahannya barulah sekarang terjadi.
Selagi Lenghou Tiong merasa bimbang, saat itulah beribu-ribu lingkaran sinar laksana ombak samudra saja
telah membanjir ke arahnya. Karena tidak sanggup bertahan, terpaksa ia melangkah mundur. Setiap kali ia
mundur satu langkah, lingkaran-lingkaran sinar itu lantas mendesak maju selangkah pula. Dalam sekejap saja,
ia sudah mundur hampir sepuluh langkah dan tampaknya masih akan terdesak mundur lagi.
Melihat bengcu mereka terdesak di bawah angin, para jago ikut prihatin dan sama menahan napas mengikuti
pertarungan hebat itu. Mendadak Tho-kin-sian berseru, “He, ilmu pedang apakah itu, seperti permainan anak
kecil saja yang menggores-gores lingkaran, aku pun bisa kalau cuma begitu!”
“Kalau aku yang menggores tanggung akan lebih bulat daripada dia,” timbrung Tho-hoa-sian.
“Jangan takut Lenghou-hengte, jika kau kalah, sebentar kami akan membeset si tua bangka itu menjadi empat
potong untuk melampiaskan rasa dongkolmu,” seru Tho-ki-sian.
“Salah besar ucapanmu itu!” debat Tho-yap-sian. “Pertama dia adalah Lenghou-bengcu dan bukan Lenghouhengte
segala. Kedua, dari mana kau mengetahui dia takut?”
“Meski Lenghou Tiong sudah menjadi bengcu, tapi umurnya lebih muda daripada diriku. Memangnya sudah
menjadi bengcu lantas harus dipanggil Lenghou-koko, Lenghou-pepek, atau dipanggil tuan besar segala?”
sahut Tho-ki-sian.
Saat itu Lenghou Tiong tampak terdesak mundur lagi, para jago menjadi ikut cemas, keruan mereka tambah
gusar mendengar Tho-kok-lak-sian mengoceh tak keruan.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dalam pada itu Lenghou Tiong sedang mundur lagi satu langkah, “byur”, tiba-tiba sebelah kakinya menginjak
air pecomberan. Kejadian ini mendadak menimbulkan pikirannya, “Dahulu Hong-thaysusiokco telah memberi
pesan wanti-wanti bahwa ilmu silat di dunia ini sangat banyak aneka ragamnya, tapi pada dasarnya hanya ada
satu patokan, tak peduli bagaimana bagusnya gerak serangan lawan, asalkan ada jurus serangan tentu ada
lubang kelemahannya. Sebabnya ilmu pedang yang diturunkan oleh Tokko-tayhiap ini dapat merajai dunia
persilatan tanpa tandingan adalah karena dapat mencapai titik kelemahan di antara jurus serangan musuh.
Sekarang ilmu pedang si kakek berputar begini cepat, sedikit pun tiada lubang kelemahannya. Hanya saja
mungkin aku sendiri yang tidak mampu mencari titik kelemahannya dan bukan ilmu pedangnya benar-benar
tanpa titik kelemahan.”
Dalam pada itu kembali Lenghou Tiong terdesak mundur beberapa tindak lagi, ia coba memerhatikan lingkaranlingkaran
yang dijangkitkan sinar pedang lawan itu, tiba-tiba terpikir olehnya, “Jangan-jangan di tengah
lingkaran-lingkaran inilah titik kelemahannya. Tapi kalau keliru dan pedangku menusuk ke tengah lingkaran itu,
sekali digiling pedangnya seketika tanganku bisa kutung.”
Tiba-tiba timbul tekadnya, “Jelas aku tidak sanggup melawan locianpwe ini, jika aku menyerah kalah, sebagai
orang tua mungkin dia takkan mengusik diriku, tapi kekalahanku akan berarti mengguncangkan semangat para
kawan, mana mereka berani lagi pergi menyerbu Siau-lim-si dan menolong Ing-ing?”
Teringat kepada budi kebaikan Ing-ing terhadapnya, kalau cuma mengorbankan sebelah lengan saja apa
halangannya? Tiba-tiba dalam lubuk hatinya merasa sangat terhibur dan puas jika dapat mengorbankan
sebelah lengan bagi Ing-ing, dirasakan pula dirinya terlalu banyak utang budi kepada si nona, kalau benarbenar
mengalami cacat badan secara parah demi si nona barulah sekadar dapat membalas budi kebaikannya
itu.
Berpikir begitu, tanpa sangsi lagi ia lantas angkat tangannya, pedang lantas menusuk ke tengah lingkaran sinar
pedang si kakek. “Trang”, terdengar suara nyaring mendering, Lenghou Tiong merasa dadanya tergetar keras,
napas sesak dan darah bergolak, tapi lengannya ternyata baik-baik saja tak terluka sedikit pun.
Si kakek tampak mundur selangkah, pedang ditarik kembali dan berdiri tegak, air mukanya menampilkan rasa
aneh seperti orang terheran-heran, juga ada perasaan malu-malu, malahan menampilkan rasa penuh
kesayangan. Selang cukup lama barulah ia membuka suara, “Ilmu pedang Lenghou-kongcu benar-benar hebat,
pengetahuan dan keberanianmu juga melebihi orang biasa, sungguh hebat, sungguh kagum!”
Baru sekarang Lenghou Tiong menyadari gempuran yang penuh risiko tadi sesungguhnya telah menemukan
titik kelemahan ilmu pedang lawan, hanya saja ilmu pedang si kakek terlalu tinggi, mungkin di antara sepuluh
ribu orang tiada satu orang yang berani mengambil risiko seperti dia untuk menjajal titik kelemahan si kakek
yang ternyata disembunyikan di balik titik kekuatannya, yaitu di tengah lingkaran sinar pedangnya yang terus
mendesak lawan itu. Keruan Lenghou Tiong merasa sangat beruntung dan bersyukur, cepat ia membungkuk
tubuh dan menjawab, “Ilmu pedang Locianpwe mahasakti, sungguh Wanpwe banyak memperoleh manfaatnya
setelah mendapat petunjuk-petunjuk tadi.”
Ucapan Lenghou Tiong ini bukan kata-kata yang sengaja dibuat, tapi timbul dari lubuk hatinya yang tulus,
sebab pertandingan ini memang benar banyak memberi ilham kepadanya sehingga dia mengetahui bahwa titik
kekuatan serangan musuh justru adalah titik paling lemah pula. Kalau titik yang paling kuat dapat digempur,
maka bagian-bagian lain tidak perlu diterangkan lagi.
Pertandingan di antara jago-jago kelas tinggi cukup ditentukan dalam satu jurus saja. Melihat Lenghou Tiong
berani balas menyerang melalui lingkaran sinar pedangnya, maka si kakek merasa tidak perlu melanjutkan lagi
pertarungan itu. Ia menatap tajam sejenak kepada Lenghou Tiong. Kemudian menghela napas dan berkata,
“Lenghou-kongcu, aku ingin bicara sebentar padamu.”
“Baik, mohon petuah-petuah Locianpwe yang berharga,” sahut Lenghou Tiong.
Si kakek mengembalikan pedang kepada si tukang sayur tadi, lalu tangan Lenghou Tiong digandengnya dan
diajak menuju ke bawah pohon besar di sebelah timur sana. Lenghou Tiong lantas melemparkan pula
pedangnya dan mengikuti kehendak si kakek.
Sampai di bawah pohon, jarak dengan rombongan orang banyak sudah ada berpuluh meter jauhnya, suara
pembicaraan mereka sukar lagi didengar dari jarak sejauh itu. Lebih dulu si kakek duduk di bawah pohon, lalu
katanya, “Silakan duduk juga untuk bicara.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sesudah Lenghou Tiong berduduk barulah orang tua itu mulai bicara dengan perlahan, “Lenghou-kongcu, tokoh
muda seangkatan yang memiliki kepandaian seperti kau boleh dikata jarang terdapat.”
“Ah, terima kasih atas pujian Locianpwe,” sahut Lenghou Tiong. “Tingkah laku Wanpwe terkenal buruk
sehingga tidak diberi tempat oleh perguruan, mana aku berani menerima pujian Locianpwe itu.”
“Kaum persilatan kita harus mengutamakan perbuatan yang terang-terangan, asalkan sesuai dengan hati
nurani,” kata si kakek. “Tindak tandukmu meski terkadang terlalu berani dan tidak tunduk kepada adat
kebiasaan, tapi masih harus diakui adalah perbuatan seorang laki-laki sejati. Secara diam-diam aku telah
mengutus orang buat menyelidiki kelakuanmu yang sebenarnya dan ternyata tidak diketemukan sesuatu yang
buruk sebagaimana disiarkan secara luas di kalangan Kangouw.”
Alangkah terharu dan terima kasih Lenghou Tiong atas pembelaan si kakek terhadap pribadinya itu, setiap
katanya benar-benar kena lubuk hatinya. Ia yakin si kakek pasti tokoh yang amat penting di dalam Bu-tongpay,
kalau tidak masakah diam-diam mengutus orang buat menyelidiki perbuatan dan tingkah lakunya?
Dalam pada itu si kakek telah menyambung lagi, “Bahwasanya orang muda suka menonjolkan sesuatu adalah
lazim. Gak Put-kun sendiri lahirnya tampak ramah, tapi sebenarnya jiwanya sangat sempit ....”
Mendengar kritikan terhadap gurunya, seketika Lenghou Tiong berbangkit dan berkata, “Wanpwe anggap Insu
(guru berbudi) seperti orang tua sendiri, maka Wanpwe tidak berani bicara tentang kekurangannya.”
Kakek itu tersenyum, katanya, “Kau tidak melupakan sumbermu, sungguh sangat baik.”
Tiba-tiba air mukanya berubah serius dan menambahkan, “Sudah berapa lama kau meyakinkan ‘Gip-sing-tayhoat’
itu?”
“Wanpwe mempelajarinya secara kebetulan kira-kira setengah tahun yang lalu,” sahut Lenghou Tiong. “Mulamula
Wanpwe benar-benar tidak tahu ilmu yang kulatih ini adalah Gip-sing-tay-hoat.”
“Benarlah kalau begitu,” ujar si kakek. “Tadi kita telah tiga kali mengadu senjata, tenaga dalamku telah kau
sedot, tapi rasanya kau masih belum mahir memanfaatkan ilmu iblis yang celaka itu. Untuk mana aku ingin
memberi nasihat, entah Lenghou-siauhiap sudi mendengarkan tidak?”
Lenghou Tiong menjadi gugup, cepat ia menjawab, “Kata-kata emas Locianpwe sudah tentu akan kuterima
dengan segala kerelaan hati.”
“Gip-sing-tay-hoat ini walaupun sangat lihai di waktu pertempuran, tapi bagi orang yang melatihnya sendiri
akan menimbulkan banyak kerugian, semakin mendalam keyakinannya semakin besar pula bahayanya.
Lenghou-siauhiap harus menyadarinya dan sebisanya menghentikan pelajaranmu. Setahuku, akhir dari latihan
ilmu iblis itu akan mengubah seluruh watak dan pikiran orang yang meyakinkannya itu, jiwanya tertekan dan
akan melakukan macam-macam perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya tanpa disadari olehnya
sendiri. Tatkala mana sukarlah untuk membersihkan diri.”
Ketika di Bwe-cheng tempo hari Lenghou Tiong memang pernah mendengar sendiri dari ucapan Yim Ngo-heng
bahwa setelah mempelajari “Gip-sing-tay-hoat” itu, maka kelak akan banyak mendatangkan bencana, maka
dirinya diminta berjanji akan masuk menjadi anggota Mo-kau, bahkan akan diangkat sebagai tangan kiri ketua
Mo-kau itu, dengan demikian Yim Ngo-heng baru akan mengajarkan cara memunahkan gangguan penyakit
yang ditimbulkan oleh Gip-sing-tay-hoat itu.
Sekarang apa yang dikatakan si kakek ternyata cocok dengan ucapan Yim Ngo-heng dahulu, keruan Lenghou
Tiong tambah percaya sehingga keluar keringat dingin. Katanya kemudian, “Petunjuk-petunjuk Locianpwe
takkan kulupakan selama hidup ini. Wanpwe juga tahu ilmu ini tidak baik, juga pernah bertekad takkan
menggunakannya untuk membikin celaka sesamanya. Cuma setelah ilmu ini meresap di dalam tubuh,
sekalipun tidak ingin memakainya toh sukar rasanya.”
“Ada suatu hal yang mungkin sangat sukar untuk minta Siauhiap melakukannya,” kata si kakek. “Tapi seorang
pahlawan, seorang kesatria harus berani berbuat apa yang tak bisa diperbuat orang lain. Siau-lim-pay ada
semacam ilmu khas yang disebut ‘Ih-kin-keng’, mungkin Siauhiap sudah pernah mendengarnya.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Ya, kabarnya itu adalah lwekang tertinggi yang tak diajarkan sembarangan orang sekalipun kepada padri-padri
sakti angkatan utama Siau-lim-pay pada saat ini,” kata Lenghou Tiong.
“Sekarang Siauhiap memimpin orang banyak ini menuju ke Siau-lim-si, kukira persoalannya tidak mudah untuk
diselesaikan. Tak peduli pihak mana yang menang pasti akan banyak menimbulkan korban, hal ini
sesungguhnya merupakan malapetaka bagi dunia persilatan kita. Walaupun sudah tua bangka, namun aku
bersedia mendamaikan kalian dan akan mohon ketua Siau-lim-pay mengutamakan welas asih dan
mengajarkan ‘Ih-kin-keng’ kepada Siauhiap, sebaliknya Siauhiap hendaklah memberi penjelasan kepada orang
banyak agar menyudahi urusan ini dan bubar saja, dengan demikian buyar pula bencana yang setiap saat
dapat timbul. Entah bagaimana pendapat Siauhiap akan usulku ini?”
“Lalu bagaimana dengan Yim-siocia yang masih terkurung di Siau-lim-si itu?” tanya Lenghou Tiong.
“Yim-siocia telah membunuh empat tokoh Siau-lim-pay, banyak menimbulkan huru-hara pula di dunia
Kangouw. Kalau Hong-ting Taysu mengurung dia kukira bukan karena ingin membalas dendam Siau-lim-pay
sendiri, tapi timbul dari jiwanya yang welas asih demi keselamatan sesama orang Kangouw. Dengan pribadi
Siauhiap yang baik ini masakah khawatir tidak mendapatkan jodoh yang setimpal dari keluarga yang baik?
Buat apa mesti tergoda oleh perempuan siluman dari Mo-kau itu sehingga merusak nama baikmu dan
menghancurkan masa depanmu.”
Serentak Lenghou Tiong berbangkit, katanya lantang, “Lenghou Tiong telah terima budi orang dan sudah pasti
akan kubalas. Adapun maksud baik Cianpwe sungguh sayang sekali tak bisa kuterima.”
Si kakek menghela napas, katanya pula, “Orang muda tenggelam oleh kecantikan, terjebak oleh nona ayu,
rasanya memang sukar menghindarkan diri.”
“Wanpwe mohon diri,” kata Lenghou Tiong sambil membungkuk tubuh.
“Nanti dulu!” seru si kakek. “Meski aku jarang berhubungan dengan Hoa-san-pay, tapi sedikit banyak kuyakin
Gak-siansing masih menghormati diriku. Jika kau mau terima nasihatku tadi, aku dan ketua Siau-lim-pay
berani tepuk dada memberi jaminan akan mengembalikan kau ke Hoa-san-pay, untuk ini apakah kau percaya
padaku?”
Tergerak juga hati Lenghou Tiong oleh tawaran menarik itu. Diterima kembali ke dalam Hoa-san-pay memang
cita-citanya yang paling utama. Kakek ini begini tinggi ilmu silatnya, nada bicaranya juga meyakinkan pasti
seorang tokoh terkemuka dari Bu-tong-pay, dia menjanjikan akan menjamin kembalinya Lenghou Tiong ke
Hoa-san-pay, maka dapat dipercaya urusan ini pasti akan berhasil. Selamanya sang guru sangat
mementingkan hubungan baik sesama orang cing-pay, apalagi Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay adalah dua aliran
tertinggi dari dunia persilatan, kalau kedua tokoh utama dari kedua aliran itu tampil ke muka untuk
menjaminnya, tentu sang guru akan terpaksa menerimanya kembali.
Tapi sesudah kembali ke Hoa-san, setiap hari ia akan bertemu dengan sumoaynya yang jelita itu, apakah
lantas membiarkan Ing-ing terkurung di gua Siau-lim-si yang dingin dan sunyi? Berpikir sampai di sini, seketika
darah bergolak pula di rongga dadanya, serunya segera, “Percumalah menjadi manusia jika Wanpwe tidak
dapat menolong Yim-siocia keluar dari Siau-lim-si. Tak peduli bagaimana hasil dari urusan ini, asalkan Wanpwe
masih hidup kelak, Wanpwe pasti akan berkunjung ke Bu-tong-san untuk mengaturkan terima kasih kepada
Cianpwe serta Tiong-hi Totiang.”
Kembali si kakek menghela napas, katanya, “Kau tidak mementingkan jiwamu, tidak mementingkan
perguruanmu, tidak mementingkan nama baik dan hari depanmu, tapi lebih suka berbuat menuruti bisikan
hatimu demi membela seorang perempuan dari Mo-kau, kelak kalau dia mengingkari kau dan berbalik
membikin celaka kau, apakah kau takkan menyesal.”
“Jiwa Wanpwe ini diselamatkan oleh Yim-siocia, maka akan kukembalikan jiwaku ini untuknya, buat apa mesti
merasa sayang dan menyesal?” sahut Lenghou Tiong.
“Baiklah, boleh kau pergi,” kata si kakek mengangguk.
Lenghou Tiong memberi hormat pula, lalu putar kembali ke tempat kawan-kawannya, katanya kepada Lo Thaucu
dan lain-lain. “Marilah berangkat!”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Bab 92. Terkurung di Siau-lim-si
“Lenghou-kongcu,” kata Tho-sit-sian, “tua bangka tadi bertanding pedang dengan kau, kenapa belum jelas
kalah atau menang sudah diakhiri?”
Pertandingan tadi sesungguhnya memang belum berakhir dengan kalah dan menang. Soalnya si kakek
menyadari tidak mampu mengalahkan Lenghou Tiong dan segera ia menyudahi pertandingan, sudah tentu
orang-orang lain tidak tahu di mana letak seluk-beluk persoalannya.
Maka Lenghou Tiong menjawab, “Ilmu pedang locianpwe tadi sangat tinggi, kalau pertandingan itu diteruskan
rasanya aku pun tak bisa mendapat keuntungan apa-apa, maka lebih baik dihentikan saja.”
“Lenghou-kongcu, bodohlah kau kalau begitu,” ujar Tho-sit-sian. “Jika belum dapat ditentukan kalah dan
menang, bila pertarungan diteruskan akhirnya kau pasti menang.”
“Haha, juga belum tentu,” sahut Lenghou Tiong tertawa.
“Kenapa belum tentu?” Tho-sit-sian ngotot. “Umur tua bangka itu jauh lebih tua daripadamu, tenaganya
dengan sendirinya tidak mampu menandingi kau. Jika pertandingan dilanjutkan, lama-lama pasti kau akan
berada di atas angin.”
Dalam hati Lenghou Tiong mengakui akan kebenaran ucapan Tho-sit-sian yang kelihatannya ngawur, tapi
cukup beralasan.
Belum dia menanggapi, tiba-tiba Tho-kin-sian menyela, “Mengapa usianya lebih tua lantas tenaganya pasti
kalah kuat?”
Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli. Ia tahu di antaranya Tho-kok-lak-sian itu, Tho-kin-sian adalah toako,
sudah tentu tidak terima dikatakan lebih tua umurnya lebih lemah pula tenaganya.
Tho-kan-sian juga lantas menimbrung, “Tidak tepat! Jika umur lebih sedikit dan tenaga semakin besar, maka
anak umur tiga kan jauh lebih kuat dari kita?”
Begitulah Tho-kok-lak-sian terus mengoceh tak keruan.
Rombongan besar mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara, sampai di wilayah Holam, mendadak dari
timur dan barat datang bergabung pula dua rombongan besar sehingga jumlah mereka seluruhnya sudah lebih
empat ribu orang.
Sudah tentu semakin besar semakin sukar pula cara pengurusan mereka, terutama dalam hal perbekalan. Soal
tempat tidur sih tidak sukar, tak peduli tanah pegunungan atau hutan belukar mereka dapat merebah dan
molor sesukanya, tapi mengenai hal makan minum inilah soal sulit. Selama beberapa hari mereka benar-benar
telah menyapu bersih segala makanan dan minuman restoran atau rumah makan sepanjang jalan yang mereka
lalui, bahkan tidak sedikit yang porak-poranda diubrak-abrik mereka.
Maklumlah, mereka adalah orang-orang gabungan dari macam-macam golongan dan lapisan, biasanya mereka
suka makan minum sepuasnya, sekarang mereka makan tidak kenyang, minum kepalang tanggung, keruan
ada yang naik pitam dan yang sial adalah rumah-rumah makan yang dihancurkan mereka.
Lenghou Tiong menyadari juga akan tingkah laku kawan-kawannya yang banyak menimbulkan kerugian
penduduk sepanjang jalan yang mereka lalui itu. Tapi ia pun memuji akan rasa setia kawan mereka. Jika Siaulim-
si nanti tidak mau membebaskan Ing-ing, maka pertarungan sengit pasti sukar dihindarkan dan apa yang
akan terjadi tentu mengerikan.
Selama beberapa hari ini selalu diharapkan berita dari Ting-sian dan Ting-yat Suthay, bila berkat permohonan
kedua suthay itu ketua Siau-lim-si sudi membebaskan Ing-ing, maka bencana banjir darah sekiranya dapat
dihindari.
Akan tetapi kini tinggal tiga hari lagi sudah akan tiba tanggal 15 bulan 12, jarak dari Siau-lim-si juga tinggal
seratusan li saja dan berita yang diharap-harapkan dari Ting-sian dan Ting-yat itu ternyata belum kunjung
datang.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Gerakan mereka ke utara untuk menyerbu Siau-lim-si ini memangnya dilakukan secara terbuka dan secara
besar-besaran, maka sudah diketahui secara meluas ke berbagai pelosok, namun pihak lawan ternyata tenangtenang
saja tidak memberi reaksi apa-apa, seakan-akan mereka sudah siap siaga tanpa gentar. Membicarakan
hal ini, Lenghou Tiong, Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan lain-lain juga merasa heran dan waswas.
Malam ini rombongan besar mereka berkemah di lapangan terbuka, sekeliling dipasang pos-pos peronda untuk
menjaga kalau diserang musuh secara mendadak di waktu malam.
Hawa malam cukup dingin, angin meniup kencang, awan memenuhi angkasa seperti akan turun salju. Untuk
menghangatkan badan, bergunduk-gunduk api unggun telah dinyalakan di sekitar mereka.
Dasar jago-jago Kangouw ini memang tidak punya disiplin, maklum gabungan mereka itu terjadi secara
kebetulan dan secara mendadak tanpa teratur, maka di mana mereka berada suasana juga menjadi gaduh, ada
yang menyanyi dan bertengkar, ada yang mengasah senjata dan bertanding gulat segala, ributnya tidak
kepalang.
Lenghou Tiong berpikir sendiri, “Paling baik kalau orang-orang banyak ini jangan sampai ikut pergi ke Siau-limsi.
Kenapa aku sendiri tidak mendahului pergi memohon kepada Hong-ting dan Hong-sing Taysu agar sudi
membebaskan Ing-ing? Jika hal ini bisa terlaksana kan jauh lebih menggembirakan daripada mesti terjadi huruhara?”
Tapi lantas terpikir pula, “Bila padri-padri Siau-lim-si itu meluluskan permintaanku, mungkin aku akan ditawan
dan dibunuh. Kematianku tidak perlu disayangkan, namun kawan-kawan ini menjadi kehilangan pimpinan dan
pasti akan terjadi kekacauan, bukan mustahil Ing-ing tidak berhasil diselamatkan, sebaliknya beribu kawan ini
akan binasa semua di Siau-sit-san. Mana boleh aku bertindak menuruti hawa nafsu sendiri sehingga membikin
susah orang banyak?”
Ia berbangkit, dilihatnya bara api unggun berkobar-kobar dikelilingi oleh berpuluh-puluh orang setiap
gundukan. Pikirnya kemudian, “Mereka setia kepada Ing-ing, aku juga harus setia kepada mereka.”
Dua hari kemudian, sampailah barisan mereka di luar Siau-lim-si di atas Siau-sit-san, jumlah mereka sekarang
sedikitnya ada enam atau tujuh ribu orang sesudah bergabung lagi beberapa rombongan, tokoh-tokoh yang
pernah berkumpul di Ngo-pah-kang dahulu seperti Ui Pek-liu, Na Hong-hong, dan lain-lain semuanya juga
datang, banyak pula jago-jago yang belum dikenal oleh Lenghou Tiong. Beribu-ribu tambur dibunyikan
serentak, suaranya benar-benar menggetar bumi.
Meski tambur mereka dipukul sedemikian keras dan gemuruh, tapi sampai sekian lamanya masih tidak tampak
seorang padri Siau-lim-si yang keluar.
“Berhenti!” Lenghou Tiong memerintahkan bunyi tambur dihentikan, secara berturut-turut perintah itu
diteruskan, suara tambur menjadi makin perlahan dan akhirnya berhenti semuanya.
Segera Lenghou Tiong berseru lantang ke arah Siau-lim-si, “Wanpwe Lenghou Tiong bersama para kawan
Kangouw datang kemari untuk menemui Hongtiang Taysu Siau-lim-si. Mohon sudi menerima kunjungan kami
ini.”
Suara Lenghou Tiong itu dikumandangkan dengan tenaga yang mahakuat sekali, di tempat beberapa li jauhnya
cukup terdengar. Bila Hong-ting Taysu berada di dalam kuilnya seharusnya dia pun mendengar.
Namun kuil agung itu tetap sunyi senyap tanpa jawaban sedikit pun. Lenghou Tiong mengulangi teriakannya
lagi sekali dan tetap tiada jawaban apa-apa.
“Silakan Coh-heng menyampaikan kartu kehormatan,” perintah Lenghou Tiong.
Coh Jian-jiu mengiakan dan melangkah pergi dengan membawa kotak berisi kartu nama Lenghou Tiong beserta
gembong-gembong bawahannya itu. Sampai di depan pintu gerbang, Coh Jian-jiu mengetok beberapa kali,
ternyata di dalam kuil tetap sunyi sepi, ia coba tolak daun pintu, ternyata pintu tidak dipalang dari dalam dan
terus terbuka.
Waktu Coh Jian-jiu memandang ke dalam, keadaan tetap sunyi seperti rumah kosong saja. Ia tidak berani
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sembarangan masuk, segera putar balik memberi lapor kepada Lenghou Tiong.
Mesti tinggi ilmu silatnya, namun dalam hal pengalaman orang hidup boleh dikata masih cetek bagi Lenghou
Tiong, lebih-lebih dia pun tidak punya bakat memimpin orang sebanyak itu. Keruan ia menjadi bingung juga
menghadapi keadaan yang sama sekali di luar dugaan itu.
“Hwesio-hwesio di dalam kuil itu agaknya sudah lari semua?” kata Tho-kin-sian. “Marilah kita lekas menyerbu
ke dalam, setiap kepala gundul yang kita ketemukan lantas kita bunuh.”
“Kau bilang hwesio-hwesio itu sudah lari semua, dari mana ada lagi kepala gundul yang bisa kau bunuh?” kata
Tho-kan-sian.
“Nikoh kan juga kepala gundul?” sahut Tho-kin-sian.
“Di kuil kaum hwesio mana ada nikoh?” sela Tho-hoa-sian.
“Marilah kita coba lihat-lihat ke dalam,” ajak Keh Bu-si.
“Baik,” kata Lenghou Tiong. “Harap Keh-heng, Lo-heng, Coh-heng, dan Ui-pangcu berempat mengiringi Cayhe
masuk ke sana. Harap sampaikan perintah agar anak buah masing-masing diawasi, tanpa perintahku lebih
lanjut siapa pun dilarang bertindak sendiri-sendiri, tidak boleh berbuat kasar terhadap padri Siau-lim-si,
dilarang juga mengganggu setiap benda di atas Siau-sit-san ini.”
“Apakah kentut juga tidak boleh?” tanya Tho-ki-sian.
Lenghou Tiong tidak gubris padanya, yang dia khawatirkan justru keadaan Ing-ing yang tidak diketahui itu.
Dengan langkah lebar segera ia menuju ke dalam kuil dengan diikuti oleh Keh Bu-si berempat.
Sesudah masuk pintu gerbang dan menaiki undak-undakan batu, lewat ruangan pendopo depan, sampailah di
Tay-hiong-po-tian. Kelihatan patung Buddha yang angker di tengah ruangan, tapi lantai dan meja tampak
penuh berdebu.
“Apakah benar-benar para padri di sini telah lari semua?” ujar Coh Jian-jiu.
“Janganlah Coh-heng mengatakan mereka ‘lari’,” ujar Lenghou Tiong.
Mereka coba berhenti dan menahan napas untuk mendengarkan dengan cermat, tapi yang terdengar hanya
suara riuh ramai di luar, di dalam kuil benar-benar tiada suara sedikit pun.
“Kita harus waspada akan kemungkinan dijebak oleh perangkap yang dipasang padri-padri Siau-lim-si ini,” bisik
Keh Bu-si.
Namun Lenghou Tiong tidak sependapat, ia anggap Hong-ting Taysu adalah padri yang saleh, mana dia mau
memakai cara-cara licik. Cuma menghadapi serangan orang banyak dari macam-macam golongan liar itu
bukan mustahil pihak Siau-lim-si sengaja menggunakan akal dan tidak mau mengadu kekuatan.
Menghadapi Siau-lim-si sebesar itu tanpa seorang penghuni, lapat-lapat Lenghou Tiong merasakan
kekhawatiran yang tak terkatakan, entah bagaimana nasib Ing-ing pada saat itu.
Dengan penuh waspada mereka berlima terus memeriksa ke bagian dalam. Sesudah menyusuri pekarangan
tengah, sampailah mereka di ruangan belakang. Sekonyong-konyong Lenghou Tiong dan Keh Bu-si berhenti
dan memberi isyarat. Serentak Lo Thau-cu bertiga juga lantas berhenti.
Lenghou Tiong menuding sebuah kamar samping di sebelah kiri sana, lalu mendekatinya dengan perlahanlahan.
Lo Thau-cu dan lain-lain ikut maju ke sana. Maka terdengarlah suara rintihan orang yang amat lirih.
Lebih dulu Lenghou Tiong menyiapkan pedang di tangan, lalu pintu kamar itu ditolak, berbareng ia menggeser
ke samping untuk menjaga diserang dari dalam dengan senjata rahasia. Terdengar suara kerutan daun pintu
yang terpentang itu, lalu dari dalam kamar terdengar lagi suara orang merintih perlahan.
Waktu Lenghou Tiong melongok ke dalam, ia menjadi kaget. Ternyata dua orang nikoh tua menggeletak di
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
lantai, seorang menghadap ke luar dan dikenalnya sebagai Ting-yat Suthay. Wajah nikoh tua itu tampak pucat
pasi, kedua matanya terkatup rapat, agaknya sudah tak bernyawa lagi.
Tanpa pikir Lenghou Tiong terus menerobos ke dalam. “Awas, Bengcu!” seru Coh Jian-jiu. Menyusul ia pun
melangkah ke dalam.
Lenghou Tiong mengitar dua sosok tubuh yang menggeletak di lantai itu, waktu ia periksa lagi nikoh yang lain,
memang benar ketua Hing-san-pay Ting-sian Suthay adanya.
“Ting-sian Suthay! Ting-sian Suthay!” seru Lenghou Tiong sambil berjongkok.
Perlahan-lahan Ting-sian Suthay membuka matanya, semula sinar matanya guram, tapi lambat laun mulai
terang dan terkilas rasa girang, bibirnya tampak bergerak-gerak, namun sukar mengeluarkan suara.
“Wanpwe Lenghou Tiong,” demikian Lenghou Tiong berjongkok lebih dekat.
Bibir Ting-sian tampak bergerak-gerak lagi, akhirnya tercetus beberapa kata yang amat lemah dan hampirhampir
tak terdengar, sayup-sayup Lenghou Tiong hanya dengar kata-kata, “Kau ... kau ....”
Bingung juga Lenghou Tiong, terutama melihat keadaan ketua Hing-san-pay yang sudah sangat payah itu.
Sejenak kemudian, sekuat tenaga Ting-sian Suthay mengeluarkan kata-kata, “Kau ... kau berjanjilah padaku
....”
Cepat Lenghou Tiong menjawab, “Baik, baik. Apa pun pesan Suthay, sekalipun hancur lebur badanku ini juga
akan kulakukan.”
Teringat bahwa Ting-sian dan Ting-yat berdua datang ke Siau-lim-si demi untuk kepentingannya dan sekarang
keduanya ternyata tewas semua di sini, tanpa terasa air mata Lenghou Tiong ikut berlinang-linang.
“Kau ... kau pasti menyanggupi ... menyanggupi aku?” Ting-sian berdesis pula dengan lemah.
“Ya, pasti,” sahut Lenghou Tiong tanpa ragu-ragu.
Sinar mata Ting-sian terkilas rasa girang pula, lalu katanya dengan sangat lirih, “Kau ... kau menyanggupi
menge ... mengetuai Hing-san-pay ....” habis bicara ini napasnya sudah hampir-hampir putus.
Keruan Lenghou Tiong kaget, cepat ia menjawab, “Tapi Wanpwe adalah orang lelaki, mana boleh menjadi ketua
Hing-san-pay kalian? Cuma Suthay jangan khawatir, tak peduli ada urusan atau kesulitan apa yang
menyangkut golongan kalian tentu akan kubela sekuat tenaga.”
Perlahan-lahan Ting-sian Suthay menggeleng kepala, katanya, “Ti ... tidak. Aku ... aku mengangkat kau men ...
menjadi ciangbunjin ... Ciangbunjin Hing-san-pay, jika ... jika kau menolak, mati ... mati pun aku tidak rela.”
Keruan Lenghou Tiong menjadi bingung dan serbasusah, mustahil dirinya sebagai seorang laki-laki, apalagi
pemuda, disuruh menjadi ketua Hing-san-pay yang anak buahnya terdiri dari kaum nikoh dan seluruhnya
wanita melulu. Namun jiwa Ting-sian Suthay jelas tinggal sekejap saja, mendadak darahnya menggelora, tanpa
pikir lagi ia menjawab, “Baik, Wanpwe menerima permintaan Suthay.”
Maka tersenyumlah Ting-sian Suthay, katanya lirih, “Teri ... terima kasih! Nasib beberapa ratus murid Hing ...
Hing-san-pay selanjutnya mesti mem ... membikin susah padamu.”
“Kenapa pihak Siau-lim-si tidak kenal persahabatan dan tega turun tangan keji terhadap kedua Suthay,
Wanpwe ....” tapi sampai di sini saja ucapan Lenghou Tiong ketika dilihatnya Ting-sian Suthay telah pejamkan
mata, kepalanya miring ke sebelah, lalu tidak bergerak lagi.
Terkejut juga Lenghou Tiong, cepat ia memeriksa napas nikoh tua itu, ternyata sudah meninggal. Sungguh tak
terkatakan rasa dukanya, ia coba pegang pula tangan Ting-yat Suthay, ternyata sudah dingin, terang
meninggalnya jauh lebih dulu. Dasar watak Lenghou Tiong memang keras di luar lunak di dalam, tak tertahan
lagi ia menangis sedih.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Lenghou-kongcu, kita harus membalas sakit hati kedua suthay,” kata Lo Thau-cu. “Kepala gundul Siau-lim-si
ini telah lari bersih, marilah kita bakar ludes saja kuil ini.”
Terdorong oleh rasa gusar, tanpa pikir Lenghou Tiong lantas menjawab, “Benar! Bakar saja Siau-lim-si ini
menjadi puing!”
“Jangan, jangan!” cepat Keh Bu-si mencegah. “Kita belum menemukan Seng-koh, bila Seng-koh masih
terkurung di dalam kuil ini kan beliau akan ikut terbakar?”
Seketika Lenghou Tiong sadar dan mengeluarkan keringat dingin, katanya, “Ya, aku memang bodoh dan kasar,
jika tidak diperingatkan Keh-heng tentu urusan bisa runyam. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kompleks Siau-lim-si ini terdiri dari beratus-ratus ruangan, kalau cuma kita berlima saja sukar menyelidikinya
secara merata, maka mohon Bengcu memberi perintah untuk memanggil 200 saudara kita masuk ke sini untuk
ikut menggeledah.”
“Baiklah, silakan Keh-heng menyampaikan perintahku itu,” kata Lenghou Tiong.
Keh Bu-si mengiakan terus melangkah keluar. “Jangan sekali-kali mengizinkan Tho-kok-lak-sian ikut masuk,”
seru Coh Jian-jiu.
Segera Lenghou Tiong mengusung jenazah-jenazah kedua suthay dan ditaruh di atas dipan semadi. Ia menjura
beberapa kali sambil berdoa di dalam hati, “Tecu pasti akan berusaha sepenuh tenaga untuk membalas sakit
hati kedua Suthay dan mengembangkan Hing-san-pay, semoga arwah kedua Suthay melindungi Tecu.”
Lalu ia berbangkit untuk memeriksa bekas-bekas luka di atas jenazah kedua suthay itu, namun tidak tampak
sesuatu luka apa pun, juga tiada noda darah. Hanya ia tidak leluasa membuka baju suthay-suthay itu, ia
menduga pasti terkena pukulan musuh yang dahsyat dan meninggal karena luka dalam yang parah.
Dalam pada itu terdengarlah suara ramai orang mendatangi, ke-200 orang telah membanjir masuk ke Siau-limsi
terus menggeledah ke segala pelosok.
Tiba-tiba terdengar orang berseru di luar, “Lenghou Tiong melarang kita masuk, kita justru mau masuk, coba
dia bisa berbuat apa?”
Itulah suaranya Tho-ki-sian. Keruan Lenghou Tiong mengerut dahi, tapi pura-pura tidak mendengar.
Terdengar lagi Tho-kan-sian berkata, “Sampai di Siau-lim-si yang termasyhur, kalau kita tidak melihat-lihatnya
ke dalam kan penasaran?”
“Dan kalau sudah masuk, tanpa menemui hwesio Siau-lim-si yang terkenal kan lebih-lebih penasaran?”
timbrung Tho-hoa-sian.
“Dan kalau sudah bertemu hwesio Siau-lim-si, bila tidak ukur-ukur ilmu silat dengan hwesio yang tersohor di
seluruh jagat itu kan lebih-lebih amat penasaran?” sambung Tho-ki-sian.
Begitulah terdengar keenam orang dungu itu mengoceh tak keruan sembari menuju ke ruangan belakang.
Lenghou Tiong berlima lantas keluar dari kamar samping itu, pintu kamar itu mereka rapatkan sekalian.
Terlihat para jago berseliweran kian-kemari menggeledahi segenap sudut Siau-lim-si itu. Tidak lama kemudian
susul-menyusul orang-orang itu datang melapor bahwa tidak ditemukan seorang hwesio pun, bahkan tukang
kebun, tukang kayu, dan sebagainya juga tidak ditemukan seorang pun. Lalu ada yang memberi laporan bahwa
segala isi di dalam kuil, baik kitab-kitab maupun alat perabot sudah disingkirkan semua, bahkan mangkuk
piring juga tiada sebuah pun.
Menyusul laporan datang lagi, katanya di dalam kuil tak tertinggal sebutir beras, garam, dan setetes minyak
pun, semuanya kosong melompong, sampai-sampai sayur yang biasanya ditanam di kebun juga sudah dibabat
bersih.
Setiap kali dapat laporan, perasaan Lenghou Tiong setiap kali tambah cemas. Pikirnya, “Sedemikian rapi cara
mengatur padri-padri Siau-lim-si ini, sampai-sampai sayur juga tidak ditinggalkan satu tangkai pun, maka jelas
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sudah lama mengetahui akan kedatanganku dan tentu Ing-ing telah dipindahkan ke tempat lain. Dunia seluas
ini, lalu ke mana harus mencarinya?”
Satu-dua jam kemudian, ke-200 orang tadi sudah memeriksa semua tempat kuil itu, bahkan satu lubang pun
tidak luput dari pemeriksaan mereka, namun tetap tidak ditemukan suatu benda apa pun.
Ada juga yang senang dan berkata, “Siau-lim-pay adalah aliran nomor satu dunia persilatan, tapi demi
mendengar akan kedatangan kita mereka lantas lari terbirit-birit dan menghilang tak keruan juntrungannya, ini
benar-benar peristiwa yang belum pernah terjadi selama sejarah Siau-lim-pay.”
“Sekali bergerak saja kita telah memperlihatkan kekuatan kita yang demikian hebatnya, sampai-sampai Siaulim-
pay juga ketakutan, maka sejak kini orang bu-lim mana pun tidak berani memandang enteng lagi kepada
kita,” ujar yang lain.
“Memang hebat dan gagah juga kita dapat bikin hwesio Siau-lim-si lari ketakutan, akan tetapi bagaimana
dengan Seng-koh? Di mana beliau sekarang? Kedatangan kita ini kan untuk menyambut pulangnya Seng-koh
dan bukan untuk mengusir hwesio,” demikian kata yang lain lagi.
Mendengar ucapan orang ini, semua orang menjadi lesu, beramai-ramai mereka memandang Lenghou Tiong
untuk menantikan petunjuknya.
“Hal ini benar-benar di luar dugaan,” kata Lenghou Tiong, “siapa pun tidak tahu bahwa padri-padri Siau-lim-si
di sini ternyata rela meninggalkan kuilnya. Cara bagaimana kita harus bertindak sekarang, sesungguhnya aku
pun merasa bingung. Pikiran seorang cekak, pikir dua orang panjang, maka diharapkan usul-usul dan
pendapat-pendapat dari kalian semua.”
“Menurut pendapat Siokhe (hamba), menemukan Seng-koh lebih sukar daripada mencari padri-padri Siau-limsi,”
demikian Ui Pek-liu membuka suara pertama. “Padri-padri Siau-lim-si berjumlah ribuan, orang sebanyak ini
tentu tidak dapat bersembunyi selamanya tanpa muncul di depan umum. Asalkan kita dapat menemukan
hwesio Siau-lim-si tentu kita dapat memaksa mereka mengakui di mana beradanya Seng-koh.”
“Benar juga ucapan Ui-heng,” kata Coh Jian-jiu. “Marilah kita tinggal saja di Siau-lim-si ini, mustahil anak
murid Siau-lim-pay rela meninggalkan kuilnya yang sudah bersejarah ribuan tahun ini dan membiarkan orang
lain mendudukinya? Asalkan mereka datang buat merebut kembali kuil ini tentu kita dapat mencari tahu
kepada mereka di mana Seng-koh berada.”
“Mencari tahu di mana beradanya Seng-koh kepada mereka? Mana mereka mau mengatakan?” ujar seorang.
“Mencari tahu kepada mereka kan cuma kata-kata halusnya, yang tegas adalah paksa mereka mengaku,” sela
Lo Thau-cu. “Sebab itu, bila kita ketemu padri Siau-lim-pay, kita harus menawannya hidup-hidup dan jangan
membunuhnya. Jika kita dapat menawan sepuluh atau dua puluh hwesio mereka, memangnya mereka tidak
takut mati dan berani tidak mengaku?”
“Tapi kalau hwesio-hwesio itu benar-benar kepala batu dan tidak mau mengaku, lalu bagaimana?” tanya
seorang lagi.
“Apa susahnya?” sahut Lo Thau-cu. “Kita bisa minta Na-kaucu melepaskan beberapa ekor naga sakti dan
makhluk sakti lainnya di atas tubuh mereka, coba saja mereka tahan tidak?”
Semua orang sama mengangguk setuju. Mereka tahu “naga sakti dan makhluk-makhluk sakti lain” yang
dimaksudkan itu adalah ular berbisa dan serangga-serangga beracun lain yang dipiara Na Hong-hong, itu
wanita ketua Ngo-tok-kau yang terkenal. Gigitan makhluk berbisa itu jauh lebih menderita daripada disiksa
dengan alat apa pun juga.
Terlihat Na Hong-hong hanya tersenyum saja, katanya, “Hwesio-hwesio Siau-lim-pay sudah gemblengan,
mungkin sekali mereka sukar ditaklukkan dengan naga sakti dan sebagainya piaraanku.”
Di dalam hati Lenghou Tiong menganggap tidaklah perlu cara menyiksa secara keji begitu. Cukup asalkan
dapat menawan padri-padri Siau-lim-si sebanyak mungkin, lalu dipakai sebagai barang tukar, rasanya Ing-ing
akhirnya dapat dibebaskan.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dalam pada itu terdengar teriakan seorang yang bersuara nyaring, “Wah, sudah hampir seharian tidak makan
minum, aku menjadi kelaparan setengah mati. Celakanya di dalam kuil ini tiada hwesio seekor pun, kalau ada,
wah, daging hwesio panggang yang gemuk lagi putih itu tentu enak.”
Yang bicara ini adalah seorang laki-laki tinggi besar, ialah si gede Pek-him (Beruang Putih), satu di antara
“Boh-pak-siang-him” (Dua Beruang dari Gurun Utara).
Para jago kenal Pek-him dan pasangannya si Oh-him (Beruang Hitam) adalah manusia-manusia yang gemar
makan daging manusia, meski kedengaran ngeri dan seram, tapi mereka memang juga merasa lapar dan haus
setelah beberapa jam berada di Siau-lim-si tanpa makan minum.
“Rupanya Siau-lim-pay sengaja menggunakan politik ‘sapu bersih’, mereka sengaja membikin kita tidak
sanggup bercokol terus di sini sehingga terpaksa pergi lagi, tapi di dunia mana ada persoalan yang begini
sederhana,” ujar Ui Pek-liu.
“Betul,” kata Lenghou Tiong. “Apakah Ui-pangcu ada pendapat-pendapat atau saran-saran yang baik?”
“Kukira kita bisa mengirim saudara-saudara kita ke bawah gunung untuk mencari berita ke mana
menghilangnya hwesio-hwesio Siau-lim-si ini,” kata Ui Pek-liu. “Lalu kita dapat mengirim orang pula pergi
belanja bahan makanan, kawan-kawan yang lain biarlah ikut berjaga di sini untuk menunggu kawanan hwesio
itu masuk perangkap sendiri.”
“Boleh juga usul Ui-pangcu,” ujar Lenghou Tiong. “Sekarang juga silakan Ui-pangcu menyampaikan perintah,
kirimlah 500 saudara-saudara yang sudah terlatih dan berpengalaman, sebar luaskan di seluruh Kangouw
untuk mencari jejak padri-padri Siau-lim-si itu. Tentang persediaan perbekalan dan lain-lain juga kuserahkan
Ui-pangcu untuk mengaturnya.”
Ui Pek-liu mengiakan dan melangkah ke luar.
“Hendaklah Ui-pangcu bekerja cepat, kalau tidak, saking laparnya, segala apa dapat dimakan oleh kedua
saudara kita Pek-him dan Oh-him,” kata Na Hong-hong dengan tertawa.
“Jangan khawatir,” sahut Ui Pek-liu sambil menoleh. “Biarpun perut Boh-pak-siang-him sudah berkeroncongan
juga tidak nanti berani mengganggu seujung jari Na-kaucu.”
Melihat ke-200 orang yang menggeledah Siau-lim-si sudah kumpul kembali, Coh Jian-jiu berkata, “Kuil ini
sudah tiada penghuninya lagi, sekarang diharap Saudara-saudara buang sedikit tenaga lagi, silakan periksa ke
segala sudut, coba lihatlah kalau-kalau ada sesuatu tanda yang aneh, bisa jadi nanti akan menemukan sesuatu
jejak yang menarik.”
Ke-200 orang itu mengiakan serentak dan beramai-ramai pergi memeriksa. Sekali ini bukan manusia yang
mereka cari, tapi mencari sesuatu benda atau tempat yang ada tanda-tanda mencurigakan, maka sibuklah
mereka, ada yang gali tanah, ada yang cungkil jubin, hampir saja dinding juga mereka bongkar, hanya patungpatung
Buddha saja tidak mereka sentuh.
Lenghou Tiong duduk di atas sebuah kasuran semadi di tengah Tay-hiong-po-tian yang megah itu, dilihatnya
patung Buddha dengan wajah yang angker dan menampilkan perasaan penuh welas asih. Ia berpikir, “Hongting
Taysu benar-benar seorang padri saleh, ia mengetahui kedatangan kami secara besar-besaran, ia lebih
suka mengorbankan nama baik Siau-lim-pay dan tidak mau menyambut pertempuran dengan kami, akhirnya
bencana pembunuhan besar-besaran ini dapat terhindar. Tapi mengapa mereka membunuh Ting-sian dan Tingyat
Suthay? Tampaknya yang membunuh kedua suthay ini adalah padri murtad kuil ini dan bukan kehendak
Hong-ting Taysu. Ya, aku harus maklum akan maksud baik Hong-ting Taysu dan tidak mengerahkan orang
banyak untuk pergi mencari padri-padri Siau-lim-pay dan mempersulit mereka, tapi harus berdaya dengan
jalan lain untuk menyelamatkan Ing-ing.”
Sekonyong-konyong angin meniup masuk dengan kencang sehingga debu dupa bertebaran, Lenghou Tiong
melangkah ke depan ruangan, dilihatnya awan tebal memenuhi udara, angin utara meniup kencang, ia pikir
sebentar lagi tentu akan turun salju lebat.
Baru terkilas pikiran demikian, benar juga dari langit sudah mulai mengambang turun bunga salju, pikirnya
pula, “Hawa sedingin ini, entah Ing-ing memakai baju hangat atau tidak? Siau-lim-pay mempunyai orang yang
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
banyak dan besar kekuatannya, pengaturan mereka pun begini rapi, sebaliknya rombonganku ini adalah
kumpulan dari orang-orang pribadi yang gagah melulu, untuk bisa menolong keluar Ing-ing rasanya teramat
sukar.”
Ia berjalan mondar-mandir di serambi depan, bunga salju yang bertebaran di atas kepalanya, mukanya, dan
tangannya dengan cepat lantas cair. Ia pikir sebelum mengembuskan napas penghabisan, meski lukanya
sangat parah, tapi pikiran Ting-sian Suthay masih cukup jernih, sedikit pun tidak kelihatan kurang sadar, tapi
mengapa dia mengharuskan aku menjabat ketua Hing-san-paynya? Padahal Hing-san-pay terdiri dari kaum
wanita seluruhnya tanpa seorang laki-laki pun, hal ini sudah turun-temurun sejak dahulu kala, setiap pejabat
ketuanya juga nikoh, seorang laki-laki seperti aku mana boleh menjadi ketua Hing-san-pay mereka? Kalau hal
ini tersiar bukanlah akan ditertawai oleh orang-orang Kangouw? Tapi, ai, aku sudah menyanggupi beliau, aku
tidak boleh ingkar janji. Ya, asalkan aku berbuat menurut aturan yang lurus, peduli apa dengan tertawa orang
lain. Selamanya kaisar juga dijabat oleh kaum lelaki, tapi ketika Bu Cek-thian ingin menjadi kaisar, bukankah
juga sudah jadi, padahal dia wanita.
Berpikir sampai di sini, seketika semangat keperwiraannya bergolak.
Pada saat itu pula tiba-tiba dari pinggang gunung sana sayup-sayup terdengar suara orang menjerit-jerit, tidak
lama kemudian terdengarlah suara berisik di luar Siau-lim-si.
Dengan perasaan khawatir Lenghou Tiong berlari ke luar, dilihatnya Ui Pek-liu sedang berlari kembali dengan
badan berlumuran darah. Pundaknya tampak menancap sebatang panah.
“Beng ... Bengcu, musuh telah menutup jalan turun ke bawah gunung, sekali ini kita ... kita benar-benar masuk
jaring sendiri,” seru Ui Pek-liu dengan suara terputus-putus.
“Apakah padri-padri Siau-lim-pay?” tanya Lenghou Tiong khawatir.
“Bukan hwesio, tapi orang preman biasa,” sahut Ui Pek-liu. “Neneknya, belum ada satu-dua li kami turun ke
sana sudah lantas disambut dengan hujan anak panah, belasan saudara kita tewas, yang terluka sedikitnya ada
beberapa puluh orang.”
Sementara itu beberapa ratus orang yang diutus turun gunung bersama Ui Pek-liu juga sudah berlari kembali
dalam keadaan morat-marit, yang terkena panah memang benar tidak sedikit. Seketika di luar kuil itu menjadi
kacau, para jago yang gusar itu bermaksud menyerbu ke bawah gunung.
“Dari golongan apakah pihak musuh, apakah Ui-pangcu dapat membedakannya?” tanya Lenghou Tiong pula.
“Kami tidak sempat mendekati musuh dan sudah dihujani panah sehingga bagaimana corak anak kura-kura itu
sama sekali tidak tahu,” tutur Ui Pek-liu.
“Agaknya Siau-lim-pay sengaja memasang perangkap untuk menjebak kita, mereka menggunakan tipu
‘menangkap bulus di dalam guci’,” kata Coh Jian-jiu.
“Menangkap bulus di dalam guci apa? Kata-katamu ini kan lebih membesarkan kehebatan musuh dan menilai
rendah pihak sendiri,” bantah Lo Thau-cu. “Kalau mau katakan tipu musuh itu paling-paling dapat disebut
‘memancing harimau masuk ke sarangnya’.”
“Baiklah, anggap benar tipu ‘memancing harimau masuk sarang’, dan sekarang harimau-harimau kita ini pun
sudah masuk sarangnya, lalu apa mau dikata? Barangkali kawanan kepala gundul itu hendak membikin kita
mati kelaparan di atas Siau-sit-san sini?” ujar Coh Jian-jiu.
“Masakah kita terima mati kelaparan di sini?” teriak Pek-him, Si Beruang Putih yang gemar daging manusia itu.
“Hayolah, siapa yang berani ikut aku menerjang ke bawah?”
Serentak ada ribuan orang bersorak gemuruh menyokong dia.
Bab 93. Setia Kawan Sejati
“Nanti dulu!” cepat Lenghou Tiong mencegah. “Panah musuh terlalu lihai, kita harus mencari jalan yang baik
untuk menghadapi mereka agar tidak jatuh korban cuma-cuma.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Cayhe ada suatu usul,” sela Keh Bu-si. “Di dalam kuil ini tiada terdapat benda apa-apa, tapi poh-toan (bantal
bundar untuk duduk semadi) ada beberapa ribu biji, kita kan dapat manfaatkan benda ini?”
Kata-kata ini menyadarkan orang banyak, serentak mereka berseru, “Benar dapat kita gunakan sebagai
perisai, memang sangat tepat dijadikan tameng.”
Seketika ada beberapa ratus orang menerobos ke dalam Siau-lim-si dan mengusung keluar bantal-bantal itu.
“Gunakan bantal ini sebagai tameng, marilah kita menerjang ke bawah,” seru Lenghou Tiong.
“Bengcu, sesudah itu di mana lagi kita harus berkumpul dan bagaimana tindakan kita selanjutnya, terutama
cara bagaimana harus berdaya menolong Seng-koh, untuk itu sekarang juga mesti diatur lebih dulu,” kata Keh
Bu-si.
“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Aku memang bodoh, segala urusan tak bisa mengatur, mana aku bisa menjadi
bengcu. Kupikir sesudah menerjang ke luar kepungan musuh, untuk sementara kita pencarkan diri saja ke
tempat masing-masing dan berusaha sendiri-sendiri mencari tahu di mana beradanya Seng-koh, lalu saling
memberi kabar, kemudian dapat kita atur tindakan selanjutnya.”
“Baiklah, terpaksa harus demikian,” kata Keh Bu-si. Segera ia meneruskan garis besar keputusan Lenghou
Tiong itu.
“Dan cara bagaimana kita harus menyerbu ke bawah, silakan Keh-heng mengatur sekalian,” kata Lenghou
Tiong lebih jauh.
Melihat Lenghou Tiong benar-benar tidak punya bakat pimpinan, terutama pada saat gawat menghadapi musuh
demikian, maka Keh Bu-si juga tidak sungkan-sungkan lagi, segera ia berseru lantang, “Dengarkan para
kawan, Bengcu memerintahkan agar kawan-kawan membagi diri dalam delapan jurusan dan menerjang ke
bawah serentak. Yang kita harapkan hanya menerjang ke luar kepungan musuh dan tidak perlu banyak
membunuh.”
Begitulah pembagian-pembagian kelompok ke delapan jurusan itu lantas dilakukan, sesudah ditentukan pula
jurusan masing-masing yang terdiri hampir ribuan orang, lalu Lenghou Tiong berkata, “Jurusan selatan adalah
jalan besar, tentu pula paling banyak dan paling kuat dijaga oleh musuh. Marilah Coh-heng, Lo-heng, Kehheng,
kita mendahului menerjang dari jalan utama ini untuk memengaruhi perhatian musuh, dengan demikian
kawan-kawan yang lain akan lebih leluasa menyerbu ke jurusan lain.”
Setelah mengatur seperlunya, segera Lenghou Tiong menghunus pedang, tanpa membawa tameng apa-apa ia
terus bertindak ke bawah gunung dengan langkah lebar. Rombongannya diikuti oleh Keh Bu-si, Na Hong-hong,
dan lain-lain.
Melihat sang bengcu mendahului menerjang ke bawah, semua orang menjadi berani, mereka berteriak-teriak
dan beramai-ramai menerjang ke bawah dari delapan jurusan. Sudah tentu pegunungan itu tiada delapan jalur
jalan, ketika menyerbu maju mula-mula mereka terbagi dalam delapan barisan, tapi setelah bergerak seluruh
gunung menjadi penuh dengan orang tanpa teratur lagi.
Lenghou Tiong berlari satu-dua li ke bawah lantas disambut dengan serangan. Mula-mula terdengar suara
gembreng berbunyi, menyusul dari hutan di depan berhamburan anak panah bagai hujan. Namun ia sudah siap
siaga, ia mainkan “Boh-gi-sik” dari Tokko-kiu-kiam yang lihai, yaitu cara memunahkan serangan senjata
rahasia, pedangnya berputar cepat, semua anak panah yang menyambar tiba kena disampuk atau ditangkis
jatuh, kakinya tidak pernah berhenti, ia terus menerjang ke depan.
Sekonyong-konyong terdengar seorang menjerit di belakangnya, rupanya kaki kiri dan dada kanan Na Honghong
berbareng terkena panah dan roboh. Lekas-lekas Lenghou Tiong putar balik dan memayangnya bangun,
katanya, “Kulindungi kau ke bawah!”
“Jangan kau urus diriku, kau sen ... diri menerjang ke bawah saja!” sahut Na Hong-hong. Sementara hujan
panah masih terus berlangsung, tapi semuanya dapat ditangkis oleh pedang Lenghou Tiong.
Dengan tangan kiri merangkul pinggang Na Hong-hong segera Lenghou Tiong membawanya lari ke bawah
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
gunung pula. Mendadak terdengar bentakan orang, berbareng macam-macam senjata menyerang dari kanan
dan kiri.
Tanpa pikir Lenghou Tiong putar pedangnya, terdengar suara mendering nyaring berulang-ulang, tiga macam
senjata musuh jatuh ke tanah, berbareng Lenghou Tiong telah menerjang belasan meter jauhnya ke bawah.
Pada saat itulah terdengar sambaran angin, tiga tombak musuh menusuk lagi dari belakang dan samping.
Karena sebelah tangan merangkul tubuh Na Hong-hong, gerak-gerik Lenghou Tiong menjadi kurang leluasa,
terpaksa ia menangkis lagi dengan pedang. Tiba-tiba terdengar seruan Lo Thau-cu di belakang, agaknya seperti
terluka. Waktu Lenghou Tiong menoleh, dilihatnya Keh Bu-si, Coh Jian-jiu sedang membalik ke atas untuk
menolong Lo Thau-cu tentunya.
Seketika Lenghou Tiong menjadi ragu-ragu apakah terus menerjang ke bawah atau kembali ke atas membantu
teman-temannya itu. Saat itulah mendadak suara seorang perempuan membentaknya, “Lenghou Tiong, makin
lama kelakuanmu makin tidak genah!”
Lenghou Tiong terkejut mengenali suara perempuan itu, cepat ia berpaling kembali dan benarlah, yang
bersuara itu memang betul siausumoaynya, Gak Leng-sian. Wajah sumoay itu tampak membesi, di sebelahnya
berdiri seorang pemuda cakap, siapa lagi kalau bukan Lim Peng-ci.
Kejut dan girang pula Lenghou Tiong, segera tercetus dari mulutnya, “Siausumoay, kau sehat-sehat saja
bukan? Lim-sute ternyata juga sudah baik.”
“Hm, siapa sudi menjadi sute dan sumoaymu?” jengek Gak Leng-sian. “Kau memimpin pasukan siluman ini
menyerbu Siau-lim-si yang suci, apakah kau ini terhitung manusia?”
Dada Lenghou Tiong serasa digodam oleh cercaan Leng-sian itu, ia pikir urusan hari ini terang sukar dijelaskan,
sebenarnya juga tidak perlu penjelasan, sebab dalam pandangan orang-orang Hoa-san-pay sekarang setiap
perbuatannya sudah dianggap pasti salah.
Dalam pada itu Gak Leng-sian telah membentak lagi sambil mengacungkan pedangnya, “Lenghou Tiong, hari
ini kawan-kawan dari aliran-aliran cing-pay sudah mengadakan pengepungan rapat terhadap Siau-sit-san ini,
kalian kaum siluman ini satu pun jangan harap bisa lolos dengan hidup. Kau sendiri kalau ingin lari, lalui dulu
rintanganku ini.”
Ketika Lenghou Tiong menoleh, dilihatnya pengikut-pengikut di belakangnya hanya 50-60 orang saja, seluruh
gunung bergemuruh dengan suara-suara pertempuran sengit, pihak lawan berombongan atau berkelompok
dalam seragam tertentu, ada warna biru atau warna kuning, ada yang pakai tanda kain merah terbalut di
lengan, barisan mereka teratur. Sebaliknya anak buah pihak sendiri adalah gabungan dari macam-macam
gerombolan yang tidak kompak, masing-masing bertempur sendiri-sendiri, menerjang ke sana kemari
semaunya, tidak perlu dipikir juga jelas terbayang pihak mana yang bakal menang atau kalah.
Sekilas terpikir dalam benak Lenghou Tiong, “Ternyata Siau-lim-si sudah menyiapkan pertahanan yang kuat
dengan menghimpun tenaga dari berbagai golongan dan aliran, tujuannya tentu hendak mengurung dan
menumpas kami di atas Siau-sit-san ini. Jika memang nasib sudah ditakdirkan demikian, biarlah aku mati
bersama para kawan saja.”
Tapi lantas teringat olehnya, “Matiku tidak menjadi soal, tapi Ing-ing belum lagi diselamatkan, betapa pun aku
harus berusaha menyelamatkan dulu Ing-ing yang belum diketahui di mana beradanya itu.”
Dalam pada itu suara pertempuran, suara menderingnya senjata, suara teriakan dan jeritan ngeri terdengar di
mana-mana. Sambil mengertak gigi akhirnya Lenghou Tiong berkata, “Nona Gak, jika kau tetap merintangi aku
terpaksa aku tidak sungkan-sungkan lagi.”
“Apakah kau benar-benar mau bergebrak dengan aku?” tanya Leng-sian dengan gusar.
“Aku hanya mau turun ke bawah dan tidak ingin bergebrak dengan kau,” sahut Lenghou Tiong.
“Tokoh-tokoh terkemuka Ko-san, Thay-san, Heng-san, dan Hoa-san-pay sudah datang semua, ditambah lagi
jago-jago undangan Siau-lim-pay, sukarlah bagimu untuk lolos,” kata Leng-sian. “Lebih baik kau menyerah
saja, nanti akan kumintakan ampun kepada ayah ....”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Pada saat itulah tiba-tiba di belakang Leng-sian sana muncul seorang dan membentak dengan suara bengis,
“Lenghou Tiong, tidak lekas buang senjatamu dan menyerah?”
Siapa lagi dia kalau bukan ketua Hoa-san-pay, Kun-cu-kiam Gak Put-kun.
Tergetar hati Lenghou Tiong melihat sang guru yang berwibawa itu, ia tidak berani bicara lagi. Sembari tetap
merangkul tubuh Na Hong-hong segera ia putar tubuh bermaksud naik ke atas gunung lagi.
Mendadak Gak Put-kun menusuk dengan pedangnya ke punggung Lenghou Tiong. Tapi pemuda itu keburu
mengerahkan tenaga dalam yang kuat dan melompat ke atas. Berulang-ulang Gak Put-kun menusuk tiga kali,
ujung pedangnya selalu berjarak dua-tiga senti di punggung Lenghou Tiong.
Meski sebelah tangannya membawa Na Hong-hong, tapi tenaga dalam Lenghou Tiong sangat kuat sehingga
Gak Put-kun tidak mampu mencandaknya.
Keruan Gak Put-kun menjadi gusar, ia menarik napas panjang-panjang dan mengerahkan Ci-he-sin-kang,
tubuhnya mengapung ke atas, pedangnya sebagai kelebatan sinar kilat terus menusuk pula ke punggung
Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong tidak ingin menangkis dengan pedang, ia pun mengerahkan tenaga murni dan meloncat tinggi
ke atas, dirasakannya angin dingin sudah menyambar tiba di belakangnya, terkilas pikirannya, “Entah dapat
lolos dari tusukan ini atau tidak? Jika memang harus mati, biarlah mati di bawah pedang suhu daripada
dibunuh oleh orang lain.”
Pada saat itulah sebelah kakinya telah menginjak tanah, berbareng terdengar suara “trang” yang nyaring di
belakangnya. Tanpa menoleh Lenghou Tiong juga lantas mengetahui bahwa Na Hong-hong yang berada di
kempitannya itulah yang telah menangkiskan tusukan sang guru itu. Segera Lenghou Tiong menggenjot tubuh
dan meloncat belasan meter lagi ke atas depan, habis itu barulah berpaling.
Tapi Gak Put-kun benar-benar seperti bayangan yang melekat tubuh saja, tahu-tahu sudah menyusul tiba,
ujung pedang tinggal sejengkal lagi di depan dada Lenghou Tiong. Tapi kembali Na Hong-hong memutar
senjatanya yang berbentuk bundar seperti roda dengan bulatan tengah 20-an senti, entah senjata apa
namanya. “Trang”, pedang Gak Put-kun tertangkis lagi.
Waktu Gak Put-kun bermaksud mengejar dan menggempur lagi, tahu-tahu seorang telah mengejeknya di
belakang, “Taruh saja pedangmu!”
Menyusul punggung Put-kun terasa sakit sedikit, ia insaf punggungnya telah terancam di bawah senjata lawan,
keruan ia terkejut dan menyesalnya tak terkatakan.
Hendaklah maklum bahwa tindak tanduk Gak Put-kun selamanya sangat hati-hati, tidak pernah ia berlaku
ceroboh, maka selama hidupnya belum pernah ia dijebak musuh. Sekarang lantaran saking gemasnya
menyaksikan murid didiknya yang pernah disayang itu ternyata berkomplot dengan kaum sia-pay, malahan
sebelah tangannya merangkul seorang perempuan, maka dengan penuh kebencian sekali tusuk ia ingin
membinasakan murid yang dianggapnya murtad itu.
Menurut teori seharusnya tusukan-tusukan pedangnya tadi tak bisa meleset, ia tidak tahu bahwa tenaga dalam
Lenghou Tiong sekarang sudah sukar dibayangkan hebatnya, serangannya selalu berselisih beberapa senti saja
dari sasarannya, betapa pun sukar mengenainya. Karena terburu nafsu itulah ia terus mengejar dan akibatnya
terjebak di tengah kepungan musuh tanpa sadar. Waktu ia mengangkat kepalanya, tertampaklah papan kuil
Siau-lim-si yang terpampang di depan pintu. Baru sekarang ia mengetahui telah berada di depan kuil agung
yang termasyhur itu.
Selagi ia melenggong itulah di sekitarnya sudah mengepung tujuh-delapan orang, semuanya bersenjata, asal
dirinya sedikit bergerak saja bukan mustahil akan dicincang oleh mereka. Terpaksa ia lepas tangan, pedang
dibuangnya ke tanah.
Orang yang mengancamkan senjata di punggung Gak Put-kun itu bukan lain dari “Si Kucing Malam” Keh Bu-si.
Segera ia berseru, “Bengcu, kita tidak mampu menerjang lagi ke bawah, korban kita sudah banyak, lebih baik
suruh kawan-kawan mundur dahulu!”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sekilas pandang Lenghou Tiong juga mengetahui gelagat pertempuran yang tidak menguntungkan itu, kalau
pihak lawan sempat menyerbu ke atas gunung tentu akan lebih runyam lagi. Maka cepat ia berseru lantang,
“Semuanya mundur kembali ke Siau-lim-si!”
Karena tenaga dalamnya yang mahakuat, beberapa kali teriakannya itu dapat didengar oleh beribu-ribu orang
yang sedang bertempur sengit itu. Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, dan lain-lain juga berteriak-teriak, “Bengcu ada
perintah, hendaklah semua kawan mundur kembali ke Siau-lim-si!”
Kemudian Lenghou Tiong mendekati Gak Put-kun, katanya, “Maaf Suhu, banyak mengganggu. Silakan kembali
ke bawah saja!”
Tiba-tiba terdengar suara orang menjerit ngeri, dua-tiga orang tampak roboh terluka. Ternyata dua tojin Thaysan-
pay telah menerjang naik. Cepat Lenghou Tiong memburu ke sana, sinar pedang berkelebat, hampir
berbareng pergelangan kedua tojin itu kena pedang dan senjata terlepas dari cekalan. Keruan kedua tojin itu
ketakutan dan lari kembali ke bawah.
Sementara itu karena seruan mundur tadi, beramai-ramai para jago sudah berlari kembali, orang-orang pihak
cing-pay ada yang berusaha mengejar ke atas, tapi mereka menjadi celaka sendiri, tidak dilabrak oleh Lenghou
Tiong tentu dikerubut oleh jago-jago lain.
Tidak lama kemudian terdengar pula suara gembreng di bawah gunung, pihak cing-pay juga membunyikan
tanda mundur dan mencegah anak buah mengejar ke atas gunung.
Di depan Siau-lim-si tidak menjadi sunyi, sebaliknya masih ramai dengan suara caci maki diseling suara
merintih sakit, di mana-mana berceceran darah. Keh Bu-si memberi perintah 800 orang yang tidak terluka
untuk menjaga delapan jurusan agar tidak disergap pihak musuh.
“Bengcu,” kata Keh Bu-si kepada Lenghou Tiong, “sekali ini walaupun kita gagal menerjang ke bawah, untung
telah berhasil menawan ketua Hoa-san-pay, sedikitnya kita sudah punya sandera ....”
“Apa katamu?” seru Lenghou Tiong kaget. “Suhuku masih belum pergi?”
Ketika ia mendatangi tempat tadi, ternyata Gak Put-kun malah sedang duduk di atas tanah dengan lemas,
agaknya hiat-to tertutuk orang. Cepat Lenghou Tiong berkata, “Keh-toako, harap kau membuka hiat-to guruku
yang tertutuk.”
Dengan suara perlahan Keh Bu-si mengisiki Lenghou Tiong, “Bengcu, keadaan kita sangat berbahaya, padahal
Bengcu sekarang bukan lagi murid Hoa-san-pay, kukira tidak perlu memikirkan urusan guru dan murid segala.”
Mendadak Lenghou Tiong berseru, “Satu hari menjadi guru, selama hidup seperti ayah. Harap Keh-toako
mengingat diriku, janganlah membikin susah kepada guruku.”
“Cis, kalau mau bunuh lekas bunuh, mau gantung boleh lekas gantung, siapa lagi yang sudi menjadi guru
manusia cabul semacam kau?” jengek Gak Put-kun penuh menghina.
“Coba dengarkan?” kata Keh Bu-si. “Dia tidak sudi mengaku kau sebagai murid, buat apa lagi kau mengakui dia
sebagai guru?”
Namun Lenghou Tiong menggeleng, ia menjemput pedang yang terbuang di tanah tadi, dimasukkannya ke
sarung pedang yang tergantung di pinggang Gak Put-kun, lalu berkata, “Dosa murid mahabesar, mohon maaf.”
Rasa gusar dan gemas Gak Put-kun sungguh tak terkatakan, sekali tusuk ia ingin menembusi ulu hati Lenghou
Tiong. Tapi ia tahu kepandaian Lenghou Tiong sekarang teramat lihai, serangannya belum tentu bisa
membinasakan lawan, andaikan bisa membunuhnya tentu dirinya sendiri juga sukar meloloskan diri dari
kepungan musuh yang sedemikian banyak. Maka dengan mata melotot ia menatap Lenghou Tiong, wajahnya
penuh rasa murka.
Melihat sikap sang suhu yang penuh kebencian, jauh lebih benci daripada ketika mereka bertemu di pinggang
gunung tadi, mendadak perasaan Lenghou Tiong terguncang, katanya dengan perlahan, “Suhu, jika engkau
mau membunuh aku silakan laksanakan sekarang, sama sekali aku takkan menghindar.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Namun Gak Put-kun lantas mendengus, lalu putar tubuh dan melangkah pergi.
“Lenghou-kongcu,” kata Coh-Jian-jiu sambil geleng kepala, “engkau berbudi padanya, sebaliknya dia tidak tahu
kebaikanmu. Kulihat dia bertekad akan membunuh kau, kelak bila bertemu lagi engkau harus waspada.”
Lenghou Tiong hanya menghela napas, katanya kemudian, “Marilah kita menolong dulu saudara-saudara yang
terluka.”
Dalam kesibukan memberi obat kepada teman-teman yang luka itu, terpikir oleh Lenghou Tiong, “Sayang anak
murid perempuan Hing-san-pay tidak berada di sini sehingga kurang obat luka yang mujarab. Tapi kalau
orang-orang Hing-san-pay itu berada di sini, apakah mereka akan membantu aku atau membela pihak cing-pay
mereka? Hal ini sukar untuk dipastikan.”
Menghadapi kegaduhan orang banyak, mau tak mau bingung juga pikiran Lenghou Tiong. Kalau dia sendirian
tentu sejak tadi sudah menerjang ke bawah, apakah akibatnya akan mati atau tetap hidup bukan soal lagi
baginya. Beratnya sekarang dia telah diangkat menjadi pemimpin orang-orang Kangouw ini, jiwa beribu-ribu
orang ini tergantung kepada setiap keputusannya, hal inilah yang membuatnya serbasusah.
Sementara itu subuh sudah tiba, mendadak di bawah bergema suara tambur yang bergemuruh disertai suara
teriakan-teriakan gegap gempita. Cepat Lenghou Tiong melolos pedang dan memburu ke ujung jalan. Para jago
juga siap dengan senjatanya untuk bertempur mati-matian dengan musuh. Suara tambur itu makin lama makin
keras dan gencar, tapi musuh ternyata tidak menyerbu ke atas.
Selang sejenak, mendadak suara tambur berhenti serentak. Maka timbul macam-macam pendapat. Ada yang
mengatakan, “Suara tambur sudah berhenti, tentu mereka mulai menyerbu!”
Yang lain menanggapi, “Kebetulan jika mereka berani menyerbu ke sini, kita akan labrak mereka hingga kocarkacir
daripada tetap bercokol di sini.”
“Kurang ajar! Rupanya kawanan kura-kura itu hendak membikin kita mati kehausan dan kelaparan di sini.
Andaikan mereka tidak menyerbu ke sini juga kita akan menerjang ke bawah!” demikian seru yang lain lagi.
Dengan perlahan Keh Bu-si berkata kepada Lenghou Tiong, “Tampaknya musuh memang sengaja pakai tipu
muslihat hendak mengepung kita di sini sehingga mati kutu sendiri. Kalau malam ini kita tidak bisa lolos, bila
kelaparan lagi sehari semalam tentu kita tidak kuat bertempur.”
“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Marilah kita memilih dua-tiga ratus teman yang berkepandaian tinggi sebagai
pembuka jalan, mumpung malam gelap gulita kita serbu ke bawah untuk membikin kacau penjagaan musuh,
kemudian kawan-kawan yang lain lantas ikut menerjang ke bawah.”
“Ya, terpaksa harus demikian,” ujar Keh Bu-si.
Pada saat itu juga suara tambur di bawah gunung mendadak berbunyi lagi, menyusul ada ratusan orang
menyerbu ke atas. Cepat para jago menyambut serbuan itu sambil membentak-bentak. Tapi serbuan itu
ternyata tidak sungguh-sungguh, hanya beberapa kali gebrak saja mereka lantas saling memberi tanda dan
mengundurkan diri ke bawah.
Baru saja para jagoan menaruh senjata, belum ada lima menit mengaso, kembali suara tambur bergema,
kembali suatu rombongan musuh pakai ikat kepala menyerbu ke atas lagi, setelah bertempur sebentar kembali
mereka mundur.
“Bengcu, rupanya musuh sengaja menggunakan ‘Bing-peng-ci-keh’ (tipu melelahkan lawan) untuk
mengganggu kita sehingga tidak bisa istirahat,” kata Keh Bu-si.
“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Silakan Keh-toako mengatur tipu perlawanan.”
Keh Bu-si lantas memberikan perintah bilamana musuh menyerbu lagi ke atas, cukup dilayani saja oleh
barisan-barisan penjaga, yang lain-lain boleh tetap mengaso tanpa gubris.
Coh Jian-jiu mengajukan usul, “Cayhe punya akal begini, dua-tiga ratus orang yang telah kita pilih nanti ikut
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menyerbu ke bawah apabila musuh datang lagi di tengah malam buta.”
“Bagus,” ujar Lenghou Tiong. “Silakan Coh-heng pergi memilih kawan-kawan yang dapat diandalkan. Pesan
pula kawan-kawan lain, bila nanti pertahanan musuh sudah kacau lantas ikut menyerbu serentak.”
Lenghou Tiong coba mengadakan pemeriksaan keliling gunung, dilihatnya pula keadaan luka teman-temannya.
Luka panah Lo Thau-cu dan Na Hong-hong ternyata tidak ringan, untung tidak membahayakan jiwa.
Tidak lama kemudian Coh Jian-jiu kembali lapor bahwa 300 orang pilihan sudah siap, semuanya terdiri dari
jagoan kelas wahid. Dengan tenaga pilihan ini, sekalipun barisan musuh cukup kuat juga tidak sanggup
menahan terjangan hebat 300 ekor harimau lapar.
Semangat Lenghou Tiong terbangkit, ia suruh pasukan penyerbu itu mengaso dulu tunggu perintah untuk
bertempur.
Sementara itu salju turun dengan lebatnya, bunga salju bertebaran laksana kapas, di atas tanah sudah
tertimbun suatu lapis tipis salju. Pakaian dan kepala semua orang juga sudah penuh berhias bunga salju.
Karena seharian tidak minum satu tetes air pun, semua orang menjejal salju ke mulut sekadar penawar
dahaga.
Cuaca makin gelap, lambat laun tambah gelap gulita, sampai dua orang berhadapan saja tak bisa jelas lagi. Di
tengah kegelapan terdengar Coh Jian-jiu berkata, “Untung hujan salju malam ini, kalau tidak, malam tanggal
15 ini tentu terang benderang oleh cahaya rembulan.”
Sekonyong-konyong suasana menjadi sunyi senyap. Di atas gunung, di luar, maupun dalam Siau-lim-si
berkumpul beberapa ribu orang, di pinggang gunung pihak cing-pay sedikitnya juga ada lebih dari lima ribu
orang, tapi kebetulan kedua pihak sama-sama tidak mengeluarkan suara. Hanya terkadang kadang terdengar
suara keresekan perlahan yang aneh, mungkin suara daun pohon atau semak rumput yang kejatuhan bunga
salju.
“Saat ini entah apa yang sedang dilakukan oleh siausumoay?” demikian Lenghou Tiong teringat kepada Gak
Leng-sian.
Tiba-tiba dari pinggang gunung berkumandang suara tiupan trompet, menyusul dari segenap penjuru
bergemuruh dengan suara teriakan serbu. Sekali ini rupanya musuh hendak menyerbu sungguh-sungguh di
tengah malam gelap.
“Kita pun serbu ke bawah!” kata Lenghou Tiong dengan suara tertahan sambil acungkan pedangnya. Segera ia
mendahului lari ke bawah melalui jalanan yang paling terjal di sebelah barat. Segera 300 jago pilihan yang
telah siap itu ikut menerjang ke bawah di belakang Lenghou Tiong.
Sejauh serbuan Lenghou Tiong dan pasukannya ternyata tidak mendapat rintangan. Kira-kira satu-dua li
jauhnya, Coh Jian-jiu menyulut hwe-ci-bau (mercon roket), dengan semburan cahaya api hwe-ci-bau itu
melayang tinggi ke udara, lalu meletus. Inilah kode kepada jago-jago yang masih menunggu di atas gunung
agar segera ikut menerjang ke bawah.
Selagi lari, tiba-tiba Lenghou Tiong merasa tapak kakinya kesakitan, seperti menginjak benda tajam sebangsa
paku. Ia tahu gelagat jelek, cepat ia meloncat ke atas dan hinggap di atas pohon. Pada saat yang sama
terdengar Coh Jian-jiu dan lain-lain juga berteriak kesakitan, tapak kaki mereka juga menginjak paku lancip,
bahkan ada yang tapak kakinya tertembus, keruan sakitnya bukan buatan.
Beberapa puluh orang lagi berusaha menerjang ke bawah dengan gagah berani, tapi mendadak mereka pun
menjerit, semuanya kejeblos ke dalam lubang jebakan, dari semak-semak pohon di samping lantas menjulur
keluar belasan tombak dan menusuk ke dalam liang jebakan itu. Seketika bergemalah jerit ngeri memenuhi
pegunungan itu.
“Lekas Bengcu memberi perintah agar semuanya mundur kembali ke atas!” seru Keh Bu-si.
Melihat gelagat jelek, terang pihak cing-pay telah mengatur penjagaan rapi di bawah gunung, kalau
sembarangan menerjang ke bawah pasti akan kalah habis-habisan, cepat Lenghou Tiong berseru lantang,
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Semua orang mundur kembali ke Siau-lim-si!”
Berbareng itu Lenghou Tiong melompat dari satu pohon ke pohon yang lain untuk mendekati lubang
perangkap, dari atas ia menubruk ke bawah sambil putar pedangnya, kontan ia robohkan tiga orang
bertombak. Ia menancapkan kaki di tempat bekas lawan, ia yakin di situ pasti tiada dipasang paku-paku yang
lancip itu. Menyusul pedangnya bekerja lagi, dalam sekejap belasan orang telah dirobohkan pula. Keruan yang
lain-lain menjadi takut, sambil berteriak-teriak mereka lantas kabur.
Beberapa puluh orang yang kejeblos ke dalam liang itu satu per satu lantas melompat keluar, namun belasan
orang sudah tewas.
Dalam keadaan gelap gulita tiada seorang pun yang mengetahui di mana terpasang lubang perangkap lagi,
maka mereka tidak berani menerjang pula ke bawah, terpaksa mereka kembali ke atas gunung dengan kaki
pincang. Untung musuh tidak mengejar.
Setiba kembali di Siau-lim-si, di bawah cahaya lampu mereka coba memeriksa luka masing-masing, ternyata
sebagian besar tapak kaki berdarah dan ada yang tembus tercocok paku tajam itu. Banyak yang mencaci maki.
Nyata suara-suara tambur yang dibunyikan serta serbuan-serbuan pancingan tadi hanya untuk menutupi suara
galian lubang perangkap serta pemasangan paku di pinggang gunung itu. Paku-paku itu panjangnya belasan
senti, dua pertiga ditanam dan satu pertiga menonjol di permukaan tanah, tajamnya bukan main, kalau seluruh
gunung dipasangi paku demikian, sukarlah untuk lolos. Jelas paku-paku tajam itu sebelumnya sudah disiapkan.
Hal ini membayangkan betapa cermat cara pengaturan pihak musuh.
Bab 94. Lolos dari Lubang Bumi
Keh Bu-si menarik Lenghou Tiong ke samping dan berkata lirih padanya, “Lenghou-kongcu, betapa pun kita
sukar untuk menerjang keluar kepungan. Adapun cita-cita kita yang diharapkan siang dan malam, yaitu
menyelamatkan Seng-koh, tugas mahabesar ini terpaksa mohon Lenghou-kongcu memikulnya sendirian kelak.”
“Ap ... apa maksud ... maksudmu ini?” Lenghou Tiong menegas.
“Kutahu Kongcu sangat berbudi dan punya jiwa setia kawan sejati, betapa pun engkau tidak sudi
menyelamatkan diri sendiri dengan meninggalkan kawan-kawan di sini,” kata Keh Bu-si. “Tapi kalau semuanya
gugur di sini, lalu kelak siapa yang akan menuntut balas bagi kita? Siapa pula yang bertugas menyelamatkan
Seng-koh dari kurungan musuh?”
“Hehe, kiranya Keh-heng suruh aku melarikan diri sendiri,” Lenghou Tiong tertawa ewa. “Sudahlah, soal ini
jangan kau sebut-sebut lagi. Kalau mau mati biarlah kita mati bersama saja. Manusia mana yang takkan mati?
Sekarang kita mati semua, nanti Seng-koh juga akan mati di penjara musuh. Orang-orang cing-pay yang
mendapat kemenangan sekarang, kelak entah setahun entah sepuluh tahun lagi toh satu per satu juga akan
mati? Soal kalah atau menang paling-paling juga cuma soal mati sekarang atau mati kelak saja.”
Melihat sukar membujuknya, Keh Bu-si merasa tiada gunanya banyak omong lagi. Tapi kalau malam gelap ini
tidak berusaha lari, besok pagi bila musuh mulai menyerang secara besar-besaran tentu tidak sempat lolos
lagi. Terpikir demikian, ia menghela napas panjang.
Tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa beberapa orang, makin lama makin gembira suara tawa mereka itu.
Padahal setelah mengalami kekalahan dan terkurung di dalam Siau-lim-si, setiap orang boleh dikata sedang
membayangkan bagaimana mereka akan menerima ajal. Tapi ternyata ada orang sempat tertawa sedemikian
gembira.
Dari suara mereka itu segera Lenghou Tiong dan Keh Bu-si mengenali mereka adalah Tho-kok-lak-sian, pikir
mereka, “Ya, hanya makhluk-makhluk dogol semacam mereka inilah masih bisa tertawa meski kematian sudah
di depan mata.”
Sementara itu gelak tawa Tho-kok-lak-sian bertambah menjadi, rupanya mereka merasa geli melihat orangorang
yang terluka itu. Terdengar Tho-ki-sian berkata, “Hahaha, di dunia ini ternyata ada orang bodoh seperti
kalian ini! Masakah kaki sendiri diinjakkan pada paku. Hahahaha, sungguh menggelikan!”
“Huhuuh! Mungkin kalian kaum tolol ini sengaja mau coba tapak kaki kalian lebih keras daripada paku
barangkali? Hahaha! Enak ya rasanya tapak kaki ditembus paku?” demikian Tho-yap-sian menambahkan.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Kalau mau merasakan enaknya paku, kan lebih baik kalian memukul pakunya dengan palu dari atas tapak kaki
saja? Hehehe, benar-benar geli, hahaaah!” Tho-hoa-sian ikut menggoda.
Begitulah keenam bersaudara itu terus tertawa geli dengan macam-macam ocehan yang mencemoohkan,
seakan-akan tiada sesuatu yang lebih jenaka daripada apa yang mereka lihat sekarang.
Padahal orang-orang yang terluka itu sedang merintih kesakitan, sebaliknya Tho-kok-lak-sian malah
mencemoohkan. Keruan mereka menjadi gusar dan mencaci maki, bahkan ada beberapa orang lantas melolos
senjata hendak melabrak Tho-kok-lak-sian.
Lenghou Tiong khawatir urusan bisa runyam, mendadak ia berteriak, “He, he! Apa, itu? Hahaah, sungguh lucu!
Sungguh aneh!”
Mendengar teriakan itu, Tho-kok-lak-sian ketarik, beramai-ramai mereka lari mendekat dan bertanya, “Apa
yang lucu?”
“Apa yang aneh?”
“Itu dia! Kulihat enam ekor tikus menyeret seekor kucing dan lari ke sana!” sahut Lenghou Tiong.
Tho-kok-lak-sian menjadi senang, seru mereka, “Aha, tikus makan kucing, inilah luar biasa! Ke mana larinya?”
“Ke sana!” kata Lenghou Tiong sambil menuding sekenanya.
“Ayo! Mari kita melihatnya ke sana!” seru Tho-kin-sian sambil menarik tangan Lenghou Tiong.
Semua orang tahu bahwa apa yang dikatakan Lenghou Tiong itu secara tidak langsung hendak mendamprat
Tho-kok-lak-sian sebagai enam ekor tikus, tapi dasar orang dogol, sedikit pun mereka tidak tahu, bahkan
percaya penuh. Keruan semua orang terbahak-bahak geli.
Sebaliknya Tho-kok-lak-sian tetap menyeret Lenghou Tiong berlari ke arah yang ditunjuk tadi untuk melihat
“tikus makan kucing”.
Setiba di ruang belakang, Lenghou Tiong berseru pula dengan tertawa, “Nah, nah! Itu dia!”
“Di mana, di mana? Kenapa aku tidak lihat?” Tho-sit-sian berkaok penasaran.
Lenghou Tiong sengaja hendak memancing Tho-kok-lak-sian berpisah sejauh mungkin dengan orang lain agar
tidak menimbulkan cekcok, maka dia sengaja menuding ke sana ke sini, maka makin jauhlah mereka ke
belakang.
Mendadak Tho-kan-sian menolak sebuah pintu ruangan samping, di dalamnya ternyata gelap gulita. Segera
Lenghou Tiong berseru dengan tertawa, “Itu dia! Kucing itu telah diseret tikus-tikus itu ke dalam liang!”
“Mana ada liang? Kau jangan mengapusi orang!” ujar Tho-kin-sian. Ia lantas menyalakan geretan api, ternyata
di kamar itu kosong melompong, hanya sebuah patung Buddha tampak bersila menghadap dinding.
Tho-kin-sian menyulut pelita minyak yang menempel di dinding, katanya kemudian, “Mana ada liang? Hayolah
kita gebah tikusnya biar keluar!”
Dengan lampu itu ia coba periksa sekeliling kamar, tapi tiada sebuah liang dinding yang diketemukan.
“Mungkin di belakang patung sana?” ujar Tho-ki-sian.
“Di belakang patung adalah kita bertujuh, memangnya kita ini tikus?” kata Tho-kan-sian.
“Patung menghadapi dinding, belakang patung adalah depannya sana,” sahut Tho-kin-sian tak mau menyerah.
“Sudah salah omong masih ngotot! Masakah belakang sama dengan depan?” bantah Tho-kan-sian.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Peduli depan atau belakang, yang penting kita singkirkan patung ini dan periksa saja sebelah sana,” kata Thohoa-
sian.
“Benar!” seru Tho-yap-sian dan Tho-sit-sian berbareng. Segera mereka bertiga memegang patung itu terus
ditarik.
“He, jangan! Itulah patung Tat-mo Loco!” seru Lenghou Tiong.
Tat-mo Loco (Buddhatama) adalah cikal bakal Siau-lim-si, juga cikal bakal ilmu silat aliran yang termasyhur itu.
Tat-mo Loco dahulu pernah bersemadi menghadap dinding selama sembilan tahun dan mencapai
kesempurnaan, makanya patung yang dipuja di dalam kuil agung itu pun menghadapi dinding.
Namun sekali Tho-hoa-sian bertiga sudah bertindak sukar lagi dikendalikan, seruan Lenghou Tiong tidak
digubris, mereka masih terus menarik sekuatnya. Maka terdengarlah suara keriang-keriut yang mengilukan,
patung Buddha itu telah ditarik berputar. Sekonyong-konyong mereka berteriak kaget. Ternyata sepotong
papan besi di depan mereka perlahan-lahan menggeser ke atas dan berwujud sebuah liang lebar.
“Haha, benar ada liang di sini!” seru Tho-ki-sian senang.
“Akan kutangkap tikus-tikus itu!” kata Tho-kin-sian, segera ia mendahului menerobos ke dalam lubang itu.
Tentu saja Tho-kan-sian berlima juga tidak mau ketinggalan, berturut-turut mereka pun menyusup ke dalam.
Rupanya liang itu sangat luas di dalam, masuknya enam orang itu sekejap lantas lenyap, hanya terdengar
suara langkah mereka terus ke depan. Tapi mendadak mereka berkaok-kaok dan berlari keluar lagi.
“Di dalam teramat gelap, dalamnya sukar dijajaki,” kata Tho-ki-sian.
“Katanya gelap, dari mana kau mengetahui dalamnya sukar dijajaki?” bantah Tho-yap-sian. “Bisa jadi beberapa
langkah lagi akan mencapai ujungnya.”
“Jika kau tahu hampir capai ujungnya, kenapa kau tidak melangkah terus tadi?” sahut Tho-ki-sian.
“Aku kan cuma bilang ‘bisa jadi’ dan tidak mengatakan ‘pasti’, bisa jadi dan pasti banyak bedanya,” jawab Thoyap-
sian.
“Jika cuma main-main terka ‘bisa jadi’ saja buat apa banyak omong?” omel Tho-ki-sian.
“Sudahlah, tak perlu ribut. Lekas menyalakan obor dan coba periksa lagi ke dalam,” kata Tho-kin-sian.
Begitulah mereka suka usilan, tapi kerjanya juga cepat. Beramai-ramai mereka lantas mematahkan empat kaki
meja dan dinyalakan sebagai obor. Seperti anak kecil saja mereka berebut obor yang cuma empat itu, lalu
menyusup lagi ke dalam liang tadi.
Lenghou Tiong pikir lubang itu tentulah sebuah jalan rahasia Siau-lim-si seperti dahulu dia juga mengalami hal
yang sama ketika terkurung di Bwe-cheng di tepi danau di Hangciu dahulu. Agaknya di dalam situlah Ing-ing
disekap. Terpikir demikian hatinya lantas berdebar-debar dan cepat ia pun ikut menyusup ke dalam.
Ternyata jalan di bagian dalam lubang itu sangat luas dan tidak lembap, hanya bau apak di dalam gua sangat
menyesak napas dan memuakkan. Dengan langkah lebar sekejap saja ia sudah dapat menyusul Tho-kok-laksian.
Terdengar Tho-sit-sian sedang berkata, “Kenapa tikus-tikus itu tidak tampak? Mungkin tidak lari ke lubang
ini.”
“Jika begitu marilah kita keluar saja dan mencari ke lain tempat,” tukas Tho-ki-sian.
“Kembali nanti saja bila sudah mencapai ujung sana,” ujar Tho-kan-sian.
Mereka melanjutkan pula ke depan, sekonyong-konyong sebuah siantheng (tongkat) mengemplang dari atas.
Tho-hoa-sian berjalan paling depan, untung dia sempat melompat mundur sehingga kemplangan tongkat tadi
meleset. Namun begitu ia telah menumbuk Tho-sit-sian yang jalan di belakangnya. Dilihatnya seorang hwesio
dengan memegang tongkat cepat menghilang ke dinding di sebelah kanan sana.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dengan gusar ia memaki, “Bangsat gundul, kau berani sembunyi di sini dan menyergap tuanmu?”
Berbareng ia terus menubruk maju dan mencengkeram ke dinding itu.
Tapi mendadak dari dinding sebelah kiri kembali sebuah tongkat mengemplang lagi. Serangan ini telah
menutup rapat jalan mundur Tho-hoa-sian. Karena tidak bisa menghindar, terpaksa ia melompat maju. Tapi
baru sebelah kakinya menginjak tanah, lagi-lagi sebuah tongkat menyambar dari sisi kanan.
Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah melihat jelas bahwa hwesio yang memainkan tongkat itu bukanlah
manusia tulen, tapi adalah orang-orangan yang digerakkan dengan pesawat rahasia. Rupanya cara
pemasangannya sangat bagus, asal pesawat yang terpasang di lantai tersentuh orang segera sebuah tongkat
memukul, bahkan maju dan mundur bisa bergiliran secara rapi, setiap serangan tongkat adalah gerakan yang
sangat lihai.
Begitulah Tho-hoa-sian terpaksa mencabut golok untuk menangkis, terdengar suara “trang” yang keras,
goloknya menjadi bengkok, kiranya bobot tongkat itu sangat berat, daya kemplangannya lebih-lebih hebat
pula. Keruan Tho-hoa-sian mati kutu, ia menjerit dan menjatuhkan diri ke lantai terus menggelinding minggir.
Tapi sebuah tongkat lain kembali menghantam pula.
Cepat Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian melolos senjata dan melompat maju untuk menolong saudaranya, dengan
tenaga tangkisan mereka berdua, pula daya kemplang tongkat waktu itu sudah rada kendur, maka dapatlah
mereka menahannya sehingga Tho-hoa-sian tidak sampai remuk kepalanya.
Tapi satu kemplangan selesai kembali kemplangan tongkat yang lain tiba pula. Tho-kan-sian, Tho-yap-sian,
dan Tho-sit-sian tidak bisa tinggal diam lagi, mereka pun memburu maju untuk membantu. Dengan lima golok
mereka menandingi serangan-serangan tongkat dari dinding kanan-kiri itu.
Meski hwesio-hwesio besi yang memainkan tongkat itu adalah benda mati, tapi penciptanya ternyata adalah
ahli teknik yang mahapintar. Agaknya kalau bukan ahli itu sendiri mahir ilmu silat Siau-lim-si tentu juga ada
hwesio agung Siau-lim-si yang memberi petunjuk-petunjuk waktu orang-orangan besi itu dipasang, makanya
setiap gerakan tongkat adalah jurus-jurus serangan yang sangat lihai. Masih ada lagi sesuatu yang luar biasa,
yaitu lengan dan tongkat yang digunakan patung besi itu semuanya terbuat dari baja murni, benda seberat
beberapa ratus kati digerakkan dengan pesawat, keruan daya kemplangannya menjadi jauh lebih kuat daripada
manusia.
Walaupun ilmu silat Tho-kok-lak-sian cukup tinggi, tapi golok mereka sama sekali tidak berdaya bila kebentur
tongkat baja, bahkan terus bengkok. Keruan mereka mengeluh dan gelisah, pikirnya hendak mundur, namun di
belakang mereka sudah tertutup oleh bayangan tongkat yang terus menghantam silih berganti. Sebaliknya
setiap melangkah maju juga mengakibatkan tambahan serangan beberapa hwesio besi yang tadinya belum
bergerak.
Melihat keadaan yang gawat itu, cepat Lenghou Tiong bertindak. Dari jurus-jurus serangan patung-patung besi
itu ia sudah melihat adanya titik-titik kelemahan setiap jurus mereka. Segera pedangnya bekerja, “sret-sret”
dua kali, pergelangan kedua patung ditusuknya. Terdengarlah suara nyaring dua kali, pergelangan patungpatung
yang diincar itu kena dengan tepat dan meletakkan lelatu api, tapi pedangnya sendiri berbalik terpental
balik.
Pada saat itulah mendadak terdengar jeritan Tho-sit-sian dan roboh terkena pukulan tongkat. Memangnya
Lenghou Tiong sudah gelisah, sekarang tambah cemas. Pedangnya bergerak lagi, kembali dua patung tertusuk,
tapi patung-patung besi itu tetap bergeming, sebaliknya sebuah tongkat tahu-tahu menyambar dari atas.
Dengan khawatir, cepat Lenghou Tiong menghindari sambil melangkah maju, tapi kembali sebuah tongkat
mengemplang pula.
Mendadak pandangan menjadi gelap, lalu tidak tampak apa-apa lagi. Kiranya obor-obor yang dibawa Tho-koklak-
sian tadi terpaksa dibuang ke lantai karena harus bertempur melawan robot-robot bertongkat, sekarang
obor-obor itu telah padam semua. Padahal keistimewaan Lenghou Tiong adalah mematahkan setiap serangan
lawan melalui titik kelemahan yang dilihatnya, sekarang keadaan gelap gulita, keruan ia menjadi mati kutu dan
kelabakan. Menyusul bahu kiri terasa sakit, tubuhnya jatuh terjerembap ke depan. Berbareng itu terdengar
pula suara jeritan dan keluhan berulang-ulang, terang Tho-kok-lak-sian juga telah dihantam roboh satu per
satu.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sambil mendekam di lantai Lenghou Tiong mendengar suara angin menderu-deru menyambar lewat di atasnya,
seketika ia merasa dirinya seperti di alam mimpi buruk, tubuh tak bisa berkutik, hatinya merasa ngeri, tapi tak
bisa berbuat apa-apa.
Sambaran tongkat yang membawa deruan angin keras itu lambat laun mulai mereda, lalu terdengar suara
keriang-keriut ramai, agaknya hwesio-hwesio robot tadi telah kembali ke tempatnya semula dan tidak bergerak
lagi.
Tiba-tiba pandangan terbeliak, menyusul ada orang berseru, “Lenghou-kongcu, apakah engkau di sini?”
Lenghou Tiong sangat girang, sahutnya, “Aku ... aku di sini ....” ia merasa suaranya sendiri teramat lemah,
hampir-hampir ia tidak percaya atas telinga sendiri.
Ia tetap mendekam tak berani bergerak. Terdengar suara langkah beberapa orang memasuki gua itu, lalu
terdengar Keh Bu-si berseru kaget dan heran.
“Jang ... jangan maju, pe ... pesawat rahasianya sangat ... sangat lihai,” seru Lenghou Tiong.
Rupanya Keh Bu-si dan lain-lain menjadi tidak sabar terlalu lama menunggu Lenghou Tiong dan Tho-kok-laksian,
kemudian mereka menyusul ke belakang dan di ruang Tat-mo-tong itu menemukan lubang gua di bawah
tanah, cepat mereka mencari ke dalam dan menemukan Lenghou Tiong dan Tho-kok-lak-sian menggeletak di
situ dalam keadaan berlumuran darah, mereka menjadi kaget dan khawatir.
“Bagaimana kau, Lenghou-kongcu?” tanya Coh Jian-jiu.
“Tak apa-apa. Diam saja di situ, jangan maju, nanti menggerakkan pesawat rahasia lagi,” seru Lenghou Tiong.
“Baiklah,” sahut Coh Jian-jiu. “Bagaimana kalau aku menyeret keluar kau dengan cambuk panjang.”
“Ya, bagus,” kata Lenghou Tiong.
Segera Coh Jian-jiu menggunakan cambuk, lebih dulu kaki kiri Tho-hoa-sian dibelitnya dengan ujung cambuk
dan diseret keluar. Maklumlah Tho-hoa-sian menggeletak paling ujung luar, maka habis itu barulah Coh Jian-jiu
menyeret keluar Lenghou Tiong dengan cara yang sama. Berturut-turut Tho-kok-ngo-sian dapat pula ditarik
keluar tanpa menyentuh pesawat rahasia.
Dengan cepat Lenghou Tiong lantas berbangkit, ia coba periksa keadaan Tho-kok-lak-sian. Ternyata pundak
keenam orang itu sama terluka kena hantaman tongkat baja, untung mereka punya kulit tebal dan kuat tenaga
dalamnya, meski lukanya tidak ringan, namun tidak membahayakan jiwanya. Tidak lama kemudian satu per
satu lantas siuman kembali.
Begitu membuka mata dan tidak tampak hwesio robot lagi, segera Tho-kin-sian mengoceh, “Lihai amat hwesio
besi tadi, tapi toh semuanya dihancurkan oleh Tho-kok-lak-sian.”
Rupanya Tho-hoa-sian lebih tahu diri, katanya, “Lenghou-kongcu juga berjasa, cuma jasa kami berenam
saudara lebih besar.”
Dengan menahan rasa sakit bahunya Lenghou Tiong berkata dengan tertawa, “Sudah tentu, siapa mampu
menandingi Tho-kok-lak-sian.”
“Sebenarnya apa yang terjadi, Lenghou-kongcu?” tanya Coh Jian-jiu.
Dengan ringkas Lenghou Tiong menuturkan pengalamannya tadi, lalu sambungnya, “Besar kemungkinan Sengkoh
terkurung di dalam situ, kita harus mencari akal untuk memusnahkan kawanan hwesio robot penjaga ini.”
Coh Jian-jiu melirik sekejap ke arah Tho-kok-lak-sian, katanya, “Kiranya hwesio-hwesio robot itu belum
dihancurkan.”
“Apa sulitnya untuk menghancurkan hwesio-hwesio mati itu? Hanya sementara ini kami tidak mau,” sahut Thokan-
sian.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Entah bagaimana cara bekerja hwesio-hwesio robot itu, harap Tho-kok-lak-sian maju lagi untuk memancing
serangannya, biar kita sama menyaksikan,” kata Keh Bu-si.
Tapi Tho-kok-lak-sian rupanya sudah kapok, mana mau lagi mereka disuruh rasakan kemplangan tongkat baja.
Tho-kan-sian lantas berkata, “He, kucing makan tikus adalah biasa, tapi tikus makan kucing adakah yang
pernah lihat?”
“Baru saja kami bertujuh telah menyaksikan tikus makan kucing, sungguh luar biasa!” sambung Tho-yap-sian.
Ternyata Tho-kok-lak-sian masih mempunyai suatu kepandaian simpanan, yaitu bila kepepet dan tak bisa
menjawab, lalu mereka menyimpangkan pokok pembicaraan ke hal-hal lain.
Lenghou Tiong lantas berkata, “Siapakah salah seorang kawan ambilkan beberapa potong batu besar?”
Segera dua-tiga orang berlari keluar dan membawakan tiga potong batu besar, masing-masing sedikitnya ada
100 kati beratnya.
Segera Lenghou Tiong angkat sepotong batu besar itu terus digelindingkan ke sana. Terdengarlah suara
gemuruh, batu besar itu telah menyentuh pesawat dan terdengar suara keriang-keriut, hwesio-hwesio robot
yang sembunyi di lekukan dinding lantas bergerak, tongkat baja bersambaran dengan kencang. Agak lama
kemudian barulah hwesio-hwesio robot itu menyelinap kembali ke dalam dinding.
Semua orang sama melongo kesima menyaksikan peristiwa ajaib itu.
“Lenghou-kongcu,” kata Keh Bu-si, “hwesio-hwesio robot itu digerakkan oleh pesawat rahasia. Menurut
pendapatku, tenaga pesawat itu adakalanya akan habis, untuk bisa bergerak lagi harus memutar kencang
pegasnya. Maka bila kita pancing dengan beberapa potong batu berulang-ulang, kalau tenaga pegas sekarang
sudah habis, tentu hwesio-hwesio robot itu takkan bergerak lagi.”
Tapi Lenghou Tiong ingin selekasnya menolong Ing-ing, katanya. “Kulihat gerak tongkat robot-robot ini sedikit
pun tidak menjadi kendur, kalau mesti menunggu mungkin bisa sampai besok pagi. Adakah di antara Saudarasaudara
yang membawa senjata pusaka, coba pinjamkan sebentar.”
Segera ada seorang tampil ke muka dan melolos golok, katanya, “Bengcu, senjata Cayhe ini rada tajam.”
Lenghou Tiong mengangguk dan menyatakan terima kasih, lalu melangkah ke depan.
“Hati-hati!” seru Tho-kok-lak-sian.
Ketika Lenghou Tiong melangkah lagi dua-tiga tindak, mendadak sebuah tongkat mengemplang dari atas. Jurus
serangan ini sudah beberapa kali dilihatnya sejak tadi, maka tanpa pikir ia mengayun golok, “trang”, kontan
pergelangan tangan robot itu tertebas kutung bersama tongkatnya jatuh ke tanah.
“Golok bagus!” puji Lenghou Tiong. Semula ia khawatir golok pinjaman itu kurang tajam, sekarang hasilnya
ternyata luar biasa, benar-benar sebuah golok mestika, seketika semangatnya terbangkit, “sret-sret” dua kali,
kembali ia mengutungi pergelangan tangan dua hwesio robot yang menyerang lagi.
Ia gunakan golok sebagai pedang, yang dimainkan adalah jurus serangan Tokko-kiu-kiam. Dari kedua sisi
dinding hwesio-hwesio robot itu berturut-turut menyerang lagi, tapi lantaran pergelangan tangan putus,
tongkat jatuh, dengan sendirinya kedua tangannya yang bergerak naik-turun dan tidak membahayakan.
Lenghou Tiong terus maju ke depan, dilihatnya jurus serangan hwesio-hwesio robot itu bertambah lihai, diamdiam
ia sangat kagum, namun satu per satu kena dipatahkan semua.
Semua orang mengikuti Lenghou Tiong dengan membawa obor, setelah ratusan tangan besi terkutung,
dinding-dinding batu itu tidak muncul lagi robot yang lain. Ada orang menghitungnya, ternyata hwesio-hwesio
robot itu seluruhnya ada 108. Maka bersorak gembiralah para jago di jalanan gua itu.
Karena ingin lekas-lekas menemukan Ing-ing, Lenghou Tiong lantas minta sebuah obor dan mendahului jalan
pula ke depan. Jalanan itu terus menurun ke bawah makin lama makin rendah, namun tiada terdapat
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
perangkap-perangkap lagi walaupun ia berlaku sangat hati-hati. Panjang jalan di bawah tanah itu ada beberapa
li dan menembus beberapa gua alam. Tiba-tiba di depan tampak cahaya remang-remang. Lenghou Tiong
percepat langkahnya, ketika sebelah kakinya menginjak tanah yang lunak, ternyata sudah berada di atas
lapisan salju, berbareng itu hawa dingin terasa merasuk, hawa dingin yang segar. Nyata dia sudah berada di
tempat yang terbuka.
Ia coba memandang sekelilingnya, suasana sunyi di tengah malam gelap, bunga salju masih berhamburan,
terdengar pula suara gemerciknya air, kiranya tempat itu terletak di tepi sebuah kali. Sekejapan itu Lenghou
Tiong sangat kecewa karena jalan di bawah tanah itu tidak menembus ke tempat tahanan Ing-ing.
Tiba-tiba terdengar Keh Bu-si berkata di belakangnya, “Teruskan pesan ini kepada kawan-kawan agar jangan
bersuara, besar kemungkinan kita sudah berada di bawah gunung.”
“Apakah mungkin kita sudah lolos dari kepungan musuh?” pikir Lenghou Tiong.
Dalam pada itu Keh Bu-si sedang berkata padanya, “Kongcu, di musim dingin di atas gunung tidak mungkin
ada aliran air. Tampaknya melalui jalan di bawah tanah tadi kita sekarang sudah berada di kaki gunung.”
“Benar,” tukas Coh Jian-jiu. “Secara tidak sengaja kita telah menemukan jalan rahasia Siau-lim-si yang
menembus ke sini.”
“Jika demikian lekas suruh semua kawan keluar dari jalanan rahasia ini,” kata Lenghou Tiong.
Keh Bu-si meneruskan perintah itu. Ia suruh beberapa orang menyelidiki lagi jalan di sekitar situ, beberapa
puluh orang diperintahkan menjaga ujung jalan rahasia itu agar tidak diserang musuh sehingga jalan keluar
tersumbat.
Tidak lama kemudian datanglah laporan bahwa tempat itu memang betul kaki gunung Siau-sit-san bagian
belakang, kalau mendongak dapat tampak bangunan kuil agung di atas gunung. Karena banyak teman-teman
belum keluar, maka semua orang tidak berani bersuara keras. Sementara itu orang-orang yang keluar dari
jalan rahasia itu makin banyak, menyusul yang luka dan yang mati juga sudah digotong keluar. Bisa lolos dari
ancaman elmaut, meski tidak bersorak gembira, namun ramai juga mereka berbisik-bisik dengan penuh
kegirangan.
“Bengcu,” kata Si Beruang Hitam, satu di antara Boh-pak-siang-him yang gemar makan daging manusia itu,
“tentu kawanan kura-kura itu mengira kita masih terkurung di atas sana. Hayolah kita gempur mereka dari
belakang, putuskan ekor kawanan anjing itu untuk melampiaskan rasa dongkol kita.”
Akan tetapi Lenghou Tiong tidak setuju, katanya, “Tujuan kita ke sini adalah untuk menolong Seng-koh, maka
tidak perlu saling bunuh lebih banyak. Harap Saudara-saudara meneruskan perintah agar kita memencarkan
diri saja, bila ketemukan orang cing-pay sebaiknya menghindari pertarungan. Bilamana ada yang mendapat
kabar tentang Seng-koh harus disiarkan secara cepat dan luas. Selama aku masih bernapas, betapa pun sukar
dan bahaya juga akan kuselamatkan Seng-koh. Apakah semua teman sudah keluar sekarang?”
Keh Bu-si coba mendekati ujung jalan rahasia itu dan berteriak-teriak beberapa kali ke dalam, namun tiada
jawaban seorang pun. Ia memberi lapor bahwa semua kawan sudah keluar.
Tiba-tiba timbul pikiran Lenghou Tiong yang kekanak-kanakan, katanya, “Ayo kita berteriak tiga kali biar
orang-orang cing-pay di atas itu kaget.”
“Bagus!” seru Coh Jian-jiu tertawa. “Marilah kita beramai-ramai ikut Bengcu berteriak.”
Segera Lenghou Tiong mulai, “Hai dengarkan, kami sudah berada di bawah gunung!”
Beberapa ribu orang serentak ikut berteriak, “Hai dengarkan, kami sudah berada di bawah gunung!”
Lalu Lenghou Tiong berteriak pula, “Silakan kalian makan angin di atas gunung!”
Beribu-ribu orang menirukan pula teriakan itu.
Akhirnya Lenghou Tiong berteriak, “Selamat tinggal, sampai berjumpa!”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Marilah kita pergi,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.
Tapi mendadak ada seorang menggembor sekeras-kerasnya, “Kalian kawanan anjing, anak kura-kura, persetan
dengan nenek moyang delapan belas keturunanmu!”
Serentak beribu-ribu orang itu menirukan teriakan itu. Kata-kata makian yang kasar itu diteriakkan oleh orang
sebanyak itu, keruan suaranya menggema ke angkasa dan menggetar lembah.
“Sudahlah, tak perlu berteriak lagi, marilah kita pergi saja,” seru Lenghou Tiong.
Setelah berteriak-teriak, dari atas gunung ternyata tiada reaksi apa-apa. Sementara itu subuh tiba, tapi salju
masih turun dengan lebatnya. Ada beberapa kelompok sudah mulai berangkat pergi.
Lenghou Tiong pikir urusan paling penting sekarang adalah menemukan tempatnya Ing-ing, selanjutnya
menyelidiki siapakah yang membunuh Ting-sian dan Ting-yat Suthay. Untuk menunaikan kedua tugas ini ke
mana harus dituju?
Tiba-tiba terkilas suatu pikiran dalam benaknya, “Bila hwesio-hwesio Siau-lim-pay dan orang-orang cing-pay itu
mengetahui kami sudah lolos, tentu mereka akan kembali ke Siau-lim-si. Bisa jadi Ing-ing dibawa di tengah
mereka. Untuk menyelesaikan dua soal tadi rasanya aku harus kembali ke Siau-lim-si. Untuk ke sana
sebaiknya kulakukan sendirian saja.”
Begitulah ia lantas mengembalikan golok mestika kepada pemiliknya. Lalu katanya kepada Keh Bu-si dan lainlain,
“Marilah kita berusaha mencari Seng-koh menurut kemampuan masing-masing, selekasnya kalau Sengkoh
sudah diketemukan barulah kita berkumpul untuk merayakannya.”
“Engkau sendiri hendak ke mana, Lenghou-kongcu?” tanya Keh Bu-si.
“Maafkan sekarang tak bisa kukatakan, kelak tentu akan kuberi tahu,” sahut Lenghou Tiong.
Semua orang tidak berani banyak tanya lagi, terpaksa mereka memberi hormat dan mohon diri. Lenghou Tiong
sendiri lantas menggunakan ginkangnya yang tinggi menyusup ke tengah hutan terus meloncat ke atas pohon
agar tidak meninggalkan jejak di tanah bersalju. Ia sembunyi di situ sekian lamanya, didengarnya suara berisik
orang banyak tadi makin berkurang dan akhirnya sunyi senyap. Ia menduga semua orang tentu sudah pergi,
lalu perlahan-lahan ia kembali ke ujung jalan rahasia di bawah tanah itu. Memang sudah tiada seorang pun
yang tertinggal di situ.
Ujung jalan itu teraling-aling oleh dua potong batu besar dan tertutup oleh tumbuhan rumput yang tinggi, kalau
tidak tahu seluk-beluknya biarpun berada di depannya juga tidak mengetahui adanya jalan rahasia itu. Karena
tak bersenjata lagi, Lenghou Tiong menjemput sepotong ranting kayu sepanjang satu meteran, lalu ia
memasuki lagi jalan di bawah tanah itu.
Dengan jalan cepat ia kembali ke ruangan patung Buddhatama tadi, ia coba pasang kuping, sayup-sayup di
ruang depan sudah ada suara orang. Sekuatnya Lenghou Tiong mendorong patung itu menggeser kembali ke
tempatnya semula, dalam hati ia menimbang-nimbang, “Aku harus sembunyi di mana agar bisa mendengarkan
pembicaraan-pembicaraan para pemimpin cing-pay itu? Tapi tak terhitungnya ruangan dan kamar di dalam
Siau-lim-si ini, dari mana bisa mengetahui tempat yang akan mereka gunakan untuk bicara?”
Tiba-tiba teringat olehnya kamar semadi Hong-ting Taysu ketika dahulu ia diajak menemuinya oleh Hong-sing
Taysu, samar-samar ia masih ingat letak kamar itu. Segera ia lari ke luar terus menuju ke belakang.
Akan tetapi sudah berlari ke sana ke sini, ruangan dan kamar di Siau-lim-si itu terlalu luas dan banyak, kamar
pribadi ketua Siau-lim-pay tak bisa ditemukan. Dalam pada itu terdengar suara tindakan orang banyak sedang
mendatangi. Waktu itu Lenghou Tiong berada di suatu ruangan samping, di atas ruangan luas itu tergantung
sebuah pigura besar. Karena tiada tempat sembunyi yang cocok, terpaksa ia melompat ke atas dan mendekam
di balik pigura itu.
Suara tindakan orang banyak itu terdengar semakin mendekat, lalu masuklah tujuh atau delapan orang.
Seorang di antaranya sedang berkata, “Kawanan sia-pay itu pun lihai benar, kita telah kepung pegunungan ini
dengan rapat, tapi mereka toh masih bisa lolos.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar